Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #29



Di ruang tamu kediaman Marlia, suasana terasa begitu kaku. Bagaimana tidak, mereka belum siap menerima kedatangan tamu kehormatan mereka yaitu Evan, suami Thalita yang sengaja dipilih oleh Marlia sendiri. Namun, suasana semakin tegang ketika Evan mengatakan bahwa ia akan melaporkan anak Marlia dan Edwin, yaitu Axel, ke kantor polisi.


"Saya akan melaporkan anak kalian ke kantor polisi," kata Evan tadi, membuat Marlia dan Edwin saling memandang satu sama lain.


"Maksudnya, Thalita?" pastikan Marlia dengan mengangkat satu alis.


Evan tersenyum. Senyum yang terlihat seperti ejekan. "Saya baru tahu, kalau satu-satunya anak yang kalian anggap adalah Thalita. Saya kira, dia bukan anak dari keluarga ini," sindirnya, juga menaikkan sebelah alis, menatap Marlia yang tampak kaget.


"Yang saya maksud adalah Axel. Saya akan melaporkan dia ke polisi."


Brak! “Apa kamu bilang?!” teriak Edwin sambil menggebrak meja.


Setelah Marlia izin ke dapur sebentar dengan alasan meminta asisten rumah tangga menyiapkan minum untuk Evan, diam-diam wanita yang panik bercampur kesal itu langsung menghubungi Thalita dan memaki anaknya itu. Sekarang, tiga orang itu sudah saling memandang dengan tajam, di mana Marlia masih mencoba bersikap tenang, meskipun sebenarnya dia sudah sangat jengkel saat ini.


"Atas dasar apa kamu mau melaporkan anak kami, hah?! Jangan macam-macam kamu!" seru Edwin marah, sambil menuding ke arah Evan.


Namun, Evan yang terlihat tenang, hanya diam menatap pria itu dan menarik napas pendek. "Atas apa yang sudah dilakukannya terhadap istri saya."


"Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh Axel ke istri kamu?" sambar Marlia cepat, menarik perhatian Evan yang tadinya ke arah Edwin.


"Kayaknya, saya tidak perlu menjelaskan apapun lagi, karena kalian pasti lebih tahu apa yang terjadi," kata Evan santai, kali ini membuat Marlia dan Edwin kembali saling melirik.


Segera Marlia mencoba menenangkan diri. Dia mengedip, kemudian kembali fokus kepada Evan. "Memangnya, apa lagi yang sudah dia bilang sama kamu kali ini? Apa dia memfitnah Axel udah mukul dia lagi?" tanya Marlia, membuat Evan memiringkan kepalanya sejenak.


"Bukannya anak itu memang sudah sering mukul istri saya? Bahkan, dia mungkin sudah melakukan hal yang lebih buruk lagi daripada itu."


"Maksudnya?" tanya Marlia kaget, mencoba menutupi ekspresinya. Dia ingin mencari tahu sejauh mana Evan mengenal keluarga mereka.


"Gue, melakukan hal yang lebih buruk lagi sama cewek itu?"


Belum sempat dia mendengar jawaban dari Sang Menantu, baik Marlia, Edwin maupun Evan segera menoleh tatkala mendengar suara Axel yang muncul dari arah ruang tengah. Dengan gaya pongahnya, pemuda kurus itu berjalan ke ruang tamu dan menghampiri tiga orang dewasa di sana.


"Emang apa yang sudah dibilang cewek itu sama lo? Apa dia bilang, kalau keperawanannya ilang karena gue?"


"Apa?!" teriak Marlia sambil mendelikkan matanya.


Axel yang sebenarnya masih sangat dendam dengan Thalita dan antek-antek wanita itu di restoran kemarin, menyeringai dan berniat untuk menghancurkan perempuan itu lewat suaminya sendiri. "Gue bilang—"


Buk! "AH! AXEL!" tiba-tiba Edwin memukul anaknya, yang membuat Marlia dan Evan saling pandang kaget.


Kalau tadi Edwin yang berteriak marah, kali ini Marlia yang kaget melihat anaknya dipukul, langsung berdiri dan berteriak murka pada Evan. "Heh, kurang ajar! Kenapa kamu pukul anak saya, hah?! Dasar nggak tau diri!"


Dia menghampiri Axel yang sudah mundur beberapa langkah, dengan raut wajah keras dan merah. "Anak kurang ajar! Harusnya saya sadar sejak awal harus menyingkirkan kamu dari hadapan saya."


Axel yang memang tipe anak yang juga emosian, tampak menyeringai sambil menggemeletukkan gigi gerahamnya. "Kenapa? Lo nggak nyangka? Nggak usah pura-pura bodoh, deh. Lo juga pasti dah sering kan, main sama cewek lain di luar sana? Nggak usah sok suci, karena tau istri lo sudah nggak perawan pas baru nikah," ejek Axel dengan senyum menyebalkan, dan membuat emosi Evan semakin tinggi.


"Dasar cowok bego! Gak sadar, kalo ternyata lo cuma dapat cewek sampah kayak dia!" kata Axel dengan gaya yang sangat arogan.


"DIAM!" bentak Marlia pada Axel sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Mungkin maksud saya, Axel harus tutup mulut sebentar dan jangan membesarkan masalah," ujar Marlia pada Axel.


"Kenapa? Biarin aja! Biar dia tau, kalau sikap sok pahlawannya itu nggak dibutuhkan sama sekali! Thalita nggak bakal melaporkan masalah ini ke polisi. Apalagi Mama," kata Axel dengan nada yang merendahkan.


Axel menoleh ke arah Thalita yang juga terlihat kaget. "Kenapa?" tanya Marlia penasaran.


"Kak Axel, nggak usah bicara yang nggak-nggak. Biarin aja masalah ini diselesaikan dengan baik-baik,” ujar Thalita dengan nada lembut.


"Mertua?" ulang Evan langsung mendengus tidak percaya. "Kenapa harus mempermasalahkan hal itu? Dia aja tidak keberatan sama apa yang sudah terjadi. Kenapa harus repot-repot?" katanya dengan ekspresi wajah tegang.


"Aku bakal melapor keluarga kamu ini ke polisi!" teriak Evan dengan suara keras dan tegas.


"Apa?" serentak Marlia dan Edwin mengeluarkan suara kaget mendengar pernyataan Evan.


Thalita mencoba menenangkan situasi dengan mengajak Evan bicara lebih santai. "Kak Evan, nggak perlu sampai seperti ini. Mari bicara baik-baik dan temukan solusinya bersama-sama," ujarnya dengan lembut.


Namun, Evan sudah terlalu emosi untuk mendengar nasehat Thalita. Ia meninggalkan rumah Marlia dengan rasa marah yang tidak terbendung, membuat suasana di ruang tamu menjadi hening dan tegang.


"Kak! Lo tega, melaporkan Mama ke polisi? Lo tega, menjebloskan ibu yang sudah melahirkan lo masuk ke penjara?! Tega?!" protes Thalita dengan suara gemetar.


"Axel, diam!" bentak Evan.


Suasana di rumah menjadi cemas dengan pertengkaran tersebut. Baik Thalita maupun keluarga Marlia khawatir Evan akan bersikap keras dengan melapor ke polisi.


"Kak, ini bukan masalah besar kan? Maksudku—"


"Bukan masalah besar, kamu bilang!?" potong Evan, menghentikan kalimat Thalita.


Sejenak, wanita itu menyadari kata-kata yang baru saja diucapkannya.


"Maksudku, Kak. Itu—"


Evan yang marah, tidak percaya dengan pembelaan Thalita. Emosinya sudah mencapai puncak, dia hanya menggeleng dan mengibaskan tangannya di udara. Entah mengapa, dia merasa malas mendengarkan apapun yang akan dikatakan oleh istrinya itu.


"Memangnya, kamu sama keluargamu…" Evan menatap Thalita dan Marlia.


"Sama gilanya!"


🍂


Evan yang marah, meninggalkan rumah itu dengan tegas tanpa memperdulikan panggilan Thalita yang ada di belakangnya.


Melihat menantunya sudah keluar, Marlia yang tadi berdiri di samping Axel, buru-buru menghampiri Thalita dan menjambak rambutnya.


"Heh, anak sialan!" makinya kasar, membuat Thalita terkejut.


"Apa yang sudah kamu ceritakan pada suamimu yang sinting itu, hah?! Kamu memberitahu dia tentang kecelakaan yang waktu itu?! Iya?! Kamu memberitahunya bahwa gara-gara Axel, selaput dara mu yang masih muda itu jadi robek?! Gitu?!" amuk Marlia pada Thalita sambil menyakitinya dengan menarik-narik rambutnya.


"Aduh, Ma … sakit! Enggak! Aku tidak memberitahu apapun pada Kak Evan! Dia … Dia … "


Tidak dapat menjelaskan apa yang sedang terjadi, karena di sana ada dua orang pria dewasa lainnya, Thalita memilih untuk diam saja sampai akhirnya Marlia melepaskan jambakannya dengan kasar.


"Sebelumnya, saya sudah mengatakan padamu untuk melakukan operasi! Karena kebodohanmu, saya dan keluarga saya terancam! Kamu puas, melihat saya susah terus-terusan, hah?!" bentak Marlia lagi, mendorong dahi Thalita dengan keras sehingga ia mundur satu langkah.


Dengan raut wajah sedih, Thalita hanya bisa menundukkan kepala.


"Jika kamu tidak punya uang, kamu bisa menjual salah satu aset peninggalan Johan! Percuma dia meninggal dan meninggalkan banyak harta bagimu! Masa kamu tidak ngerti, sih?!" tutur Marlia lagi, yang kembali menyakiti hati Thalita. Ia berbicara seolah-olah ayah Thalita tidak memiliki hubungan apa-apa dengan dirinya.


"Singkatnya, aku tidak mau tahu. Jika laki-laki bodoh itu membuang kamu, demi apapun juga, aku tidak akan mau menampungmu lagi. Paham, Kamu!?"


Lalu, sambil menahan sakit hatinya, Thalita hanya mengangguk dan mundur perlahan. Ia berniat untuk mengejar Evan yang pergi meninggalkan kediaman Marlia sejak tadi. ...Bersambung...