Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #30



Begitu sampai di rumah Evan, Thalita turun dari mobil dan memperhatikan sekitar. Dahinya berkerut dalam sambil melangkahkan kakinya menuju pintu rumah. 


Dimana mobil Evan? Apa suaminya itu belum sampai di rumah? Tapi, sepanjang perjalanan tadi, dia tidak merasa papasan dengan kendaraan pria itu. Apa Evan mengambil jalan pulang yang berbeda dengan Thalita? 


"Ma,"


Thalita yang masuk rumah, melihat Laila yang sedang berbicara pada asisten rumah tangga mereka. 


Saat menoleh, wanita paruh baya itu langsung tersenyum padanya dan datang menghampiri. 


"Kak Evan belum nyampek?" tanya Thalita bingung, pada Laila yang sepertinya juga ikut bingung sampai memundurkan kepalanya. 


"Emang, kamu udah jadi ketemu sama dia?" tanya Laila balik, dibalas anggukan ragu oleh Thalita. 


"Dia nggak bilang, mau langsung berangkat ke rumah sakit?" tanya Laila lagi, kali ini membuat Thalita mengerjap. 


"Ya?"


"Tadi, sebelum berangkat, dia bilang mau langsung ke rumah sakit, kalau urusannya udah selesai. Dia nggak ada bilang ke kamu?" beritahu Laila, seketika membuat Thalita terdiam. 


Jangankan bilang kalau akan pergi langsung ke rumah sakit. Evan bahkan seperti enggan berbicara pada Thalita saat meninggalkan wanita itu di rumah keluarnya tadi. 


"Mungkin, Kak Evan lupa kali, ya…?" 


Membesarkan hati, sambil berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya dari Laila, Thalita tersenyum. Senyum palsu yang sudah sering dia tunjukkan ke siapapun dan dimanapun. 


"Ini kunci mobil Mama. Makasih ya, Ma," ucap Thalita pada Laila, sambil menyerahkan kunci mobil ibu mertuanya itu. 


"Kamu nggak kerja kan, hari ini?" tanya Laila, sambil menerima kuncinya yang diangsurkan oleh Thalita ke tangannya. 


"Kerja, Ma. Baru juga Lita masuk kemarin," sahut Thalita, tak ayal membuat Laila mengerutkan dahi. 


"Tapi, katanya kamu nggak enak badan. Kemarin juga, kamu pulangnya larut banget. Itu pasti kamu emang kecapekan banget, deh. Jadi, istirahat aja hari ini di rumah," kata Laila, hanya dibalas dengan gelengan kepala ringan oleh Thalita. 


"Nggak papa, Ma. Lita baik-baik aja, kok. Hari ini Lita menyelesaikan kerjaan Lita yang kemarin belum beres. Lita janji, bakal pulang tepat waktu hari ini," ujar Lita  meyakinkan Laila. 


Lagipula, andai kata tubuh Thalita sekarang dalam kondisi buruk sekalipun, dia akan tetap memilih untuk bekerja. Pikirnya, untuk apa dia satu harian berada di kamar, yang justru membuat pikirannya semakin penuh dengan masalah-masalah yang saat ini dia alami. 


Lebih baik dia pergi bekerja, demi membunuh waktu untuk bertemu Evan lagi nanti malam. 


"Yaudah, kalau gitu, kamu perginya bareng Mama aja, ya. Biar nanti mobil kamu dijemput sama sopir. Terus, pulangnya juga bisa dijemput," ajak Laila pada Thalita, mengingat mobil menantunya itu masih tertinggal di apartemen Thalita tadi malam. 


"Nggak usah, Ma. Lita minta tolong antar ke apartemen aja. Biar Lita bawa mobil sendiri ke restoran. Takut ntar malam malah ngerepotin harus jemput-jemput Lita segala," tolak Thalita segan, mengingat lagi kalau sopir pribadi Laila itu bekerja hanya sampai sore hari. Sedangkan Thalita, kadang harus pulang di saat restoran sudah tutup. Ya, meskipun sebenarnya dia bisa pulang kapanpun dia mau. 


"Oh, gitu. Ya udah. Siap-siap, ya. Biar Mama nyiapin sarapan kamu dulu. Kamu pasti belum makan, kan?"


Sedikit tersenyum, Laila menepuk pelan sebelah lengan Thalita. Kemudian meninggalkan menantunya itu menuju dapur, yang mana saat hendak masuk ke dalam kamar, Thalita menoleh karena dia ingat akan sesuatu. 


Kenapa Laila tidak bertanya apapun tentang kepergian Thalita pagi ini? Biasanya, wanita itu sangat cerewet dan ingin tahu berbagai hal tentang apapun yang sedang atau akan Thalita lakukan. Tapi, kenapa dia malah diam saja dan seolah tidak penasaran sama sekali? 


"Apa sebenarnya Kak Evan udah ngasi tau Mama, ya?"


🍂


Sementara itu, Evan yang baru saja sampai di rumah sakit, langsung dicegat oleh salah satu perawat yang sudah berjaga di sana, saat dia baru akan masuk ke dalam ruang kerjanya. 


"Dokter!"


Dinda, perawat yang menjaga meja resepsionis di samping ruangan Evan, memanggil pria itu cukup keras. 


"Ada yang nyariin dokter," beritahu Dinda, membuat Evan menoleh ke arah mata Dinda saat ini. 


Di sana, tepat di sisi kanan Evan yang berseberangan dengan Dinda, Mila —wanita yang kemarin datang mengantarkan ibunya berobat— sedang menatap ke arahnya. 


"Dia pasien pertama saya pagi ini?" tanya Evan pura-pura bodoh, atau lebih tepatnya pura-pura tidak mengenal wanita itu dan menoleh ke arah Dinda. 


Terlihat bingung, Dinda menaikkan kedua alisnya, kemudian mengerutkan dahinya samar. 


Sadar dengan situasi yang agak janggal, Mila yang tadi hanya duduk melihat pria itu, kini berdiri dan menghampiri Evan. 


"Van," panggilnya ragu, melihat Evan yang masih menoleh ke arah Dinda. 


Pelan tapi pasti, Evan pun menoleh dan menatap datar wanita itu. 


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu," ujar wanita itu sedikit menundukkan wajah, menghindari tatapan Evan yang menyiramnya. 


"Saya lagi kerja,"


"Bentar aja, Van." Kata Mila cepat, melihat Evan yang sepertinya hendak pergi meninggalkannya. 


Evan yang sadar kalau dia tidak bisa menolak wanita itu, atau lebih tepatnya lagi, tidak ingin memancing perhatian orang-orang sekitarnya, mau tidak mau berbalik dan mengisyaratkan Mila untuk ikut di belakangnya. 


Tidak begitu lama, mereka berdua sampai di taman kecil yang ada di sebelah lobby rumah sakit. 


"Bicara yang cepat. Saya banyak kerjaan," ujar Evan datar dengan posisi membelakangi Mila. 


Masih tampak ragu, Mila mulai bertanya mengenai kabar pria itu. 


"Aku rasa itu bukan hal yang penting,"


"Van!"


Evan sudah hendak meninggalkan Mila. Tapi, dengan segera wanita itu menahan lengan Evan hingga membuat keduanya terdiam. 


Evan memandang tajam tangan Mila yang menyentuh lengannya. Sadar dengan hal itu, Mila pun dengan cepat melepaskan tangan pegangannya. 


"Maaf," ucapnya kikuk, kemudian menundukkan kepalanya. 


Evan pun bersikap dingin. Dia membenahi sedikit lengan bajunya yang sempat ditarik oleh Mila seakan itu adalah sesuatu hal yang sangat dia benci. 


Melihat itu, Mila meringis. Dalam hati, dia menduga kalau Evan pasti benar-benar masih sangat membencinya. 


"Sebaiknya kamu pulang sekarang. Ibu kamu pasti sangat membutuhkan kamu saat ini,"


"Van!"


Evan yang sudah melewati Mila, sontak berhenti. Dengan posisi membelakangi wanita itu, Evan menarik napas panjang, dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. 


Dalam hitungan detik, terdengar suara bahwa pria itu tertawa. Tawa yang sinis dan cenderung terdengar seperti nada ejekan. 


"Aku pikir, kemarin kamu datang sambil bawa ibu-ibu dari mana. Ternyata, itu ibu kamu, ya?"


Evan berbalik, lantas menyeringai pada Mila yang masih terdiam di belakangnya. 


"Apa ibu kamu bangkit lagi dari kuburnya?"


"EVAN!"


"APA?!"


Mila refleks mundur, saat mendengar Evan balas membentak dirinya. Mendadak, mereka menjadi pusat perhatian dengan Evan yang terlihat begitu emosi. 


Sadar dengan situasinya sendiri, pelan Evan memejamkan mata, tatkala sayup-sayup dia mendengar suara bisikan beberapa orang di sekitarnya. 


"Sebaiknya kamu pulang sekarang. Jangan pernah muncul lagi di depanku seperti ini. Kalaupun memang perlu, aku bakal merujuk ibu kamu untuk berobat ke dokter lain,"


Setelah mengatakan itu, Mila yang takut dengan Evan pun hanya diam melihat kepergian pria itu. Niatnya yang ingin menyapa Evan dan berbicara kembali dengannya, mendadak sirna seiring dengan kilat emosi yang terpancar di kedua mata lelaki itu. 


Dia jadi ingat, teriakan Evan beberapa tahun lalu saat mendapati dirinya dan ayah dari mantan kekasihnya tersebut. 


......Bersambung......