Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #40



Semakin hari, hubungan Thalita dan Rosalin kian terlihat dekat. Sudah hampir dua minggu ini Rosalin rutin menemui Thalita di restoran. 


Sambil membawakan makan siang yang dimasak sendiri, keduanya saling bertukar cerita yang menurut mereka cukup seru.


"Jadi, sekarang kamu udah bersuami, ya? Wah, Tante baru tau," ucap Rosalin, di tengah kegiatan makan siangnya bersama Thalita di ruang kerja.


Selama ini, yang dia tahu kalau hubungan Thalita dan Marlia itu tidak akrab. Membuatnya berinisiatif untuk mengambil posisi Marlia bagi Thalita dengan cara memperlakukan anak itu selayaknya seorang putri.


"Iya, cuma hubungan suami istri biasa kok, Tante. Nggak ada yang spesial," sahut Thalita agak menundukkan kepalanya.


"Loh, nggak ada yang spesial gimana, maksudnya? Kalo nggak spesial, gimana bisa menikah?" gurau Rosalin santai, sambil tertawa.


Thalita tidak meresponnya. Dia hanya diam, sambil terus menikmati makan siang buatan Rosalin yang mendadak terasa hambar.


Perasaan, tadi suasananya terlihat baik-baik saja. Sampai akhirnya Rosalin bertanya dan mulai membahas tentang pernikahan Thalita.


"Kamu nggak boleh begitu. Terkadang dalam hubungan suami istri itu ya begitu. Ada aja masalah yang bakal dilalui. Orang bilang mah, 10 tahun pertama pernikahan itu adalah yang terberat. Kalo bisa melewatinya, berarti hebat."


Thalita melirik ke arah Rosalin yang menyentuh tangan kirinya dan tersenyum.


"Hal yang wajar, kalo punya masalah sama suami. Tapi, nggak boleh dibiarkan berlarut-larut. Takutnya, nanti kalian sama-sama nyaman dengan masalah itu dan nggak ada niat buat menyelesaikannya,"


Rosalin pun melepaskan tangan Thalita yang dia sentuh dan menarik napas panjang.


"Bukan maksud Tante buat ngajarin kamu. Cuma, Tante nggak mau aja, kamu mengalami apa yang pernah Tante alami dulu. Kehilangan orang yang Tante sayangi, cuma karena ego Tante yang maunya cuma menunggu aja."


Setelah mengatakan hal itu, Rosalin tampak terdiam. Seperti merenung dengan tatapan yang kosong.


Pikir Thalita, mungkinkah sekarang Rosalin sedang mengingat sosok suaminya yang sudah pergi? Kalau tidak salah, Rosalin pernah bercerita kalau wanita itu dan suaminya sudah berpisah sejak beberapa tahun yang lalu.


Sementara itu, berbeda dengan Thalita yang mengira Rosalin mengingat mantan suaminya, wanita itu justru sedang mengingat Johan saat ini. Ayah Thalita, yang waktu itu pernah memintanya untuk menunggu. Karena keegoisan Rosalin yang ingin menekan Johan dan melukai pria itu, dia memilih untuk pergi dengan pria lain. Seorang pria kaya raya, yang sayangnya sudah memiliki istri di tempat lain.


Rosalin yang awalnya ingin memanfaatkan pernikahan itu untuk membuat Johan sakit hati, malah terlihat seperti pedang bermata dua. Johan pergi meninggalkannya, dan pernikahan Rosalin pun jadi hancur berantakan.


🍂


Di apartemen yang sebelumnya sudah dia beli, Aris tampak berjalan santai dengan hanya mengenakan celana pendek berwarna kakki. Dia baru saja selesai mandi, yang mana perempuan yang sudah dia nantikan akhirnya tiba dan berdiri dengan raut wajah datar di dekat mini barnya.


"Kamu udah datang?" tanya Aris basa-basi, melewati Mila yang terus menatapnya dengan tatapan bosan bercampur kesal.


"Kalau aku belum datang, kamu pasti udah nyuruh bawahan kamu buat nyeret aku kan?" ujar Mila setengah emosi, yang mana Aris langsung tertawa mendengarnya.


"Astaga, kamu ini. Mana mungkin aku bersikap kasar begitu sama kamu," kekeh Aris, mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas dan berjalan mendekati Mila.


"Bukannya kamu bilang kamu itu nggak suka dikasarin?" bisik Aris dengan posisi rapat dengan Mila, dan mengusapkan botol dingin itu ke leher wanita tersebut.


Mila yang terkejut, sontak mundur beberapa langkah. Sedangkan Aris, pelaku dari botol dingin itu hanya tertawa renyah melihatnya.


Kemudian, dengan raut wajah tidak bersalah, dia membuka botol minum itu dan meneguk air mineral tersebut sampai setengahnya.


"Ah…. Tempat ini panas juga, ya. Ternyata sekarang udah masuk ke musim kemarau," komentar Aris, menatap ke arah luar jendelanya.


Memang, sore ini cuaca terlihat cukup terik. Seperti beberapa hari belakangan, yang membuat kulit seperti tergigit oleh panasnya.


"Mau apa kamu datang ke mari? Bukannya kamu bilang, kali nggak bakal datang lagi?" tuntut Mila tiba-tiba, menarik perhatian Aris untuk menoleh lagi ke arahnya.


"Kapan aku bilang begitu? Kamu itu suka banget ngarang cerita, ya?" kekeh Aris santai, menyandarkan punggung kokohnya di mini bar.


Thalita hanya terdiam mendengar ledekan tersebut. Dahinya berkerut dalam menatap Aris seolah tengah memikirkan sesuatu yang berat.


"Jangan bilang, kamu mengira aku datang ke sini untuk kamu lagi," kata Aris santai, menatap pupil mata Mila yang samar melebar.


Tak kuasa menahan perasaan, Aris pun kembali tertawa. Tawa yang lebih keras dari sebelumnya, hingga semua giginya terlihat.


"Kamu itu udah dewasa. Bukan gadis polos lagi yang seperti waktu itu," sindir Aris di sela tawanya, membuat wajah Mila bertekuk.


Dia terlihat kesal saat pria paruh baya di depannya itu sudah mulai mengungkit kembali bagaimana sikap Mila di masa lalu.


Sambil menggelengkan kepala, Aris membalikkan tubuhnya lagi. Kali ini, dia menyandarkan kedua sikunya di atas meja bar, sambil terus membelakangi Mila.


"Kamu udah tau, kalo Evan itu udah menikah?" tanya Aris tiba-tiba, sontak membuat Mila yang tadinya diam menahan sebal kembali menoleh ke arahnya.


Dahinya berkerut dalam menatap punggung lebar Aris di depannya.


"Evan… menikah?" beo Mila seperti tidak percaya, kemudian berpikir sejenak.


Untuk beberapa saat, Aris merasa tidak mendengar apapun dari balik punggungnya.


"Nggak. Itu nggak mungkin. Evan pasti belum menikah," ujar Mila kemudian, seakan tengah meyakinkan dirinya sendiri.


Aris yang mendengar itu pun secara perlahan membalikkan badan. Menatap Mila tak kalah aneh, saat wanita itu kembali menatap Aris dengan tajam.


"Evan pasti belum menikah. Kamu sengaja bikin cerita itu biar aku nggak ngejar dia lagi, kan?" tuduh Mila tiba-tiba, membuat Aris mengerutkan dahinya.


"Kamu pasti nggak suka, kalau aku balikan lagi sama Evan. Kamu pasti berniat buat jauhin aku dari dia!" ujar Mila lagi, semakin membuat Aris terbengong.


Dengan itu, Mila tersenyum. Mendengus sinis, lebih tepatnya. Berjalan ke arah Aris, yang kini sudah meliriknya dengan sorot mata penasaran.


"Dengarnya, meskipun kamu itu ayahnya Evan, bukan berarti kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau terhadap dia. Ingat, kalo dia itu udah nggak menganggap kamu sama sekali. Ngerti?" tunjuk Mila di dada Aris, yang seketika membuat Aris menghembuskan napas tidak percaya.


Demi apa, dia mendapat ultimatum tidak berguna seperti ini dari seorang wanita yang jauh lebih muda darinya?


"Nggak usah bersikap selayaknya ayah yang peduli sama anaknya. Karena kenyataan, kamu yang udah bikin Evan hancur berkeping-keping."


Aris tampak kehilangan senyumnya. Dia menatap Mila datar, yang telah mengingatkannya tentang kebodohan Aris di masa lalu.


"Atau jangan-jangan, kamu melakukan ini bukan karena peduli sama Evan. Tapi, karena kamu nggak mau aja aku balikan dia. Kenapa? Kamu masih berharap sama aku?" ujar Mila percaya diri, memberikan seringai tipis yang terkesan mengejek pada Aris.


Perlu beberapa waktu bagi dua orang itu untuk saling memandang. Sampai pada akhirnya, pria paruh baya itu meraih tangan Mila yang masih bertengger di dadanya.


"Kuhargai kepercayaan diri kamu itu, Mila," kata Aris berat, sarat akan perasaan genggamannya yang erat. "Tapi sayang sekali, ya…."


Dalam sekali gerak, dia menghempaskan tangan Mila dengan kasar, hingga wanita itu sedikit terhuyung.


"Aku nggak punya selera sama barang bekas."


......Bersambung ......