Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #43



Di bawah guyuran air shower, Evan tampak merenungi sesuatu. Dengan menyandarkan kedua lengan kokonya ke di dinding, pria itu menunjukkan kepalanya dan menatap kosong pada lantai marmer yang dia pijak. Air yang mengalir di kulit putihnya yang bersih itu pun, seperti tidak bisa menutupi kegundahan yang tercetak di wajah tampannya.


Terkelebat kembali sosok Edwin dalam bayangan Evan. Orang yang secara hukum ini sudah menjadi ayah mertua Evan, tampak begitu santai menemuinya di rumah sakit.


"Saya nggak tau apa yang sebenarnya udah dibilang sama anak itu ke kamu. Tapi, kamu perlu tau satu hal tentang dia,"


Evan memejamkan matanya sesaat. Makin lama makin erat, hingga akhirnya tidak sadar memukul dinding dengan sebelah tangannya yang terkepal.


"Dia itu nggak sepolos yang kamu kira. Kamu pikir, anak saya beneran nyentuh dia atau bahkan memperkosa dia, begitu?"


Tanpa sadar, dada Evan naik turun. Emosinya seakan merangkak naik, sembari terus mengingat pembicaraannya dengan Edwin siang tadi.


"Dia itu cuma dendam sama anak saya! Dia iri sama kebahagiaan keluarga kami selama ini. Apalagi, setelah berpisah  dari ayahnya, Johan, Mamanya Axel lebih memilih saya dan anak kami untuk tinggal bersama. Jadi, dia pasti pakai kesempatan kalau keperawanannya yang hilang itu dengan cara menuduh Axel. Kamu pikir, dia itu benar-benar korban?"


Kedua mata Evan sontak terbuka. Matanya seketika terlihat merah, mendengar kalimat terakhir Edwin yang menyatakan kalau Thalita itu hanya bersandiwara.


Meskipun sampai sekarang Evan masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Thalita, tapi sebagai seorang dokter yang sedikit memahami tentang psikologi dari seorang pasien, dia bisa menilai kalau semua air mata dan ketakutan yang Thalita tunjukkan bukanlah kepalsuan. Melainkan hal yang nyata, dimana sebenarnya Thalita sendiri juga ingin menyembunyikan hal itu darinya.


Tiba-tiba, Evan merasa geram. Tangan terasa resah seakan ingin memukul seseorang. Bagaimana bisa, ada orang yang mengaku dirinya sebagai ayah tapi malah menyakiti anak dan bersikap seolah tidak bersalah sama sekali. Seakan dia melakukan kejahatannya itu semata karena kesalahan dari anak tersebut. 


Ah, apakah nyatanya semua ayah di dunia ini sama? Mencari pembelaan dengan menyakiti anaknya sendiri? Evan juga pernah merasakan yang demikian beberapa tahun yang lalu.


"Kak,"


Di tengah gulungan emosi yang tengah menghantamnya, Evan terkejut dengan tangan halus dan ringkih yang tiba-tiba saja datang melingkari perutnya.


Dengan segera dia berpaling, dan melihat Thalita, istrinya, sudah berdiri di belakang tubuh telanjang Evan dengan kondisi hanya memakai pakaian dalam saja.


"Kamu—"


Tanpa bicara, Thalita yang kini sudah ikut bergabung di bawah shower air, langsung menyambar bibir Evan yang lebih tinggi darinya. Dia berjinjit dan menopang kedua tangannya di atas bahu kokoh Sang Suami.


Merasa aneh, Evan yang sempat terpaku sesaat pun lantas mendorong bahu Thalita. Menatap wajah wanita itu, dimana sorot mata frustrasi langsung bisa dilihat di kemilaunya kornea Thalita.


"Kenapa? Ada masalah lagi?" tanya Evan baik-baik, merasa yakin kalau apa yang dilakukan oleh istrinya itu kali ini bukanlah berasal dari hati.


"Nggak ada. Aku—"


Thalita menundukkan kepalanya. Membuat Evan menaikkan sebelah alisnya sesaat, kemudian kembali memutar otak.


"Aku cuma mau melayani Kakak aja. Aku kan—"


Oh, jadi begitu. Pikir Evan, yang seketika mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


"Kamu dihubungi sama Mama kamu lagi?" terka Evan to the point, entah kenapa seolah menambah bubuk mesiu di hati Evan, setelah sesaat lalu sisa kobaran emosinya masih tertinggal karena memikirkan Edwin.


Tidak menjawab, Thalita malah menggigit bibir bawahnya. Terlihat lebih frustrasi lagi saat dia menaikkan pandangannya seakan memohon pada lelaki itu.


Di bawah suasana dinginnya air, Evan merasa tubuhnya terasa panas. Apalagi dengan penampilan wanita di depannya saat ini. Belum pernah dia merasa tertantang seperti ini, melihat perempuan berpakaian minim di hadapannya.


Tanpa sadar, tangan Evan yang tadi berada di atas kedua bahu Thalita, menjalar turun ke bawah. Masih dengan posisi yang saling berhadapan, pria itu menarik lembut pinggang Thalita hingga tubuh bagian bawah mereka menjadi rapat tidak bercelah.


"Kalau begini terus, kamu bisa hamil," bisik Evan serak dan juga rendah, di telinga Thalita yang berhasil membuat wanita itu merinding seketika.


Keesokan paginya, wajah Evan terlihat lebih cerah dari biasanya. Memang, beberapa hari belakangan ini, wajah pria itu terlihat lebih kusam dari sebelumnya. Eksistensi cahaya kulit Evan memang tidak berkurang. Hanya saja, auranya gelap seperti sesosok malaikat maut yang siap merenggut nyawa seseorang yang lalai.


"Selamat pagi, dokter," sapaan Dinda, perawat yang sering bertugas di dekat ruangan Evan, membuat pria itu menoleh.


"Selamat pagi," sahutnya tanpa senyum, namun masih terbilang sangat ramah.


"Selamat pagi, dokter," sapa petugas resepsionis lain, yang melihat Dinda dibalas sedemikian ramah oleh dokter yang terkenal dingin tersebut.


"Pagi," balas Evan lagi sambil menoleh sekilas, sebelum akhirnya beranjak meninggalkan meja pendaftaran tersebut menuju ruang kerjanya.


Mendadak, meja resepsionis menjadi ribut dengan kehebohan yang mereka buat. Cuaca terasa indah, tatkala sapaan mereka yang biasa dianggap angin lalu oleh Evan, dibalas dengan baik oleh dokter idola mereka itu.


"Eh, kenapa tuh, dokter Evan bisa ramah banget hari ini? Kesambet, apa gimana?" bisik salah satu perawat di sana, setengah berjulid dan setengah senyum lebar.


Tiga dari empat perawat yang bertugas di sana masih memandang kagum pada Evan yang mau membalas sapaan mereka.


"Nggak tau, deh. Yang jelas, gue senang banget, dokter ganteng itu mau ngeliat ke arah gue…." Ujar salah satu dari mereka, menggenggam kedua tangannya di atas dada.


"Iya, biarpun nggak senyum begitu, udah keliatan cakep banget, kok. Apalagi kalau senyum, duh….!" timpal perawat yang satunya lagi, masih serius menatap pintu ruangan Evan yang sudah tertutup.


"Iya, kan? Gimana sama istrinya, ya? Apa jantungnya baik-baik aja, tiap hari disuguhi sama muka gantengnya dokter Evan?" kata yang satu tiba-tiba, sukses membuat perawat yang ada di sana menoleh ke arahnya.


Tidak lagi tersenyum, mereka langsung menatap malas gadis yang terlihat sedikit lebih muda dari mereka tersebut.


"Ngapain bahas itu, sih?! Nggak perlu diingatin juga kali, kalo dokter Evan itu udah punya istri! Ngerusak halusinasi orang aja," semprot perawat pertama, yang tadi ikut menimbrung Dinda yang menegur dokter Evan.


"Iya, nih, Gito! Ngapain juga pake ngingetin kalo dokter Evan itu udah beristri. Kan jadi rusak khayalan gue," timpal perawat yang satunya lagi, memplesetkan nama perawat muda itu dari Gita menjadi Gito.


Sementara itu, orang yang diomeli pun hanya bisa menekuk wajah bingung sambil menggaruk kepala kikuk. Membuat Dinda yang menyaksikan itu semua menjadi tertawa, sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya.


"Emang ya, bibit-bibit pelakor. Udah keliatan sejak dini ya, bund!" ledek Dinda terkekeh, melihat muka asam satu per satu temannya.


Sedang asyik menggoda rekan sejawatnya, tiba-tiba tawa Dinda berhenti saat seorang wanita yang cukup kenal —karena sudah berapa kali datang ke rumah sakit itu untuk mencari Evan— berjalan ke arah meja kerjanya.


"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa dibantu?" sapa Dinda profesional, begitu wanita itu tiba di depan meja resepsionis dengan ekspresi wajah yang ketat.


Seketika, teman-teman Dinda yang merupakan perawat lain juga sudah mengambil sikap profesional dengan tidak saling mengusik.


"Saya mau ketemu sama dokter Evan," ucap Mila, yang hari ini datang lebih pagi dari biasanya.


"Maaf, apa Ibu sudah buat janji?" tanya Dinda, tak ayal melihat Mila hanya diam seribu bahasa.


Seperti biasa, Mila yang tidak membuat janji pasti akan segera pergi dari tempat itu. Bukan sekali dua kali Mila berbicara dengan Dinda dan mengatakan ingin bertemu dengan Evan.


Namun, alih-alih bersikap sebagaimana biasanya, Dinda malah mengerutkan dahinya sedikit tatkala melihat Mila yang menolehkan kepalanya sambil menatap lekat pintu ruangan Evan yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka saat ini.


"Dia ada di ruangannya kan?"


Lantas, tidak menunggu jawaban dari Dinda, Mila sudah lebih dulu melesat dari meja resepsionis menuju pintu ruangan Evan yang bercat putih dengan langkah kakinya yang tegas. Membuat Dinda yang merasa kaget langsung bergegas, memutari meja kerjanya untuk segera mengejar langkah kaki Mila yang sudah hampir sampai di depan ruangan Evan.


...Bersambung ...