Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #62



Rosalin masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tidak menentu. Dia membanting tubuhnya di atas sofa sedikit kasar, dan menajamkan mata mengingat apa yang tadi dia saksikan di restoran milik Thalita.


"Ternyata anak itu istrinya dokter Evan," gumam Rosalin masih tidak menyangka, hingga membuatnya sedikit merinding.


Rosalin menegakkan tubuhnya di sofa. Menumpukan kedua sikunya di lutut, dan menggigit ujung kukunya dengan resah. Dia tahu kalau Thalita itu bukanlah tipe wanita yang mudah untuk dilawan. 


Walaupun terlihat lemah, sebenarnya dia sadar kalau Thalita itu adalah tipe wanita kuat yang bisa melakukan apapun selayaknya seorang tyrant. Karena kurangnya kasih sayang, Rosalin bisa merasakan aura gelap pada sisi Thalita yang sedang marah.


Bagaimana ini? Bagaimana cara Mila merebut Evan kalau ternyata pria itu adalah milik Thalita? Apa Mila bisa merebutnya? Apa Mila mampu mengalahkan Thalita yang bahkan dilihat dari sekilas saja sudah jauh lebih segalanya dari perempuan itu?


Pusing, Rosalin mengacak rambutnya kesal. Dia melihat sekeliling rumah yang terasa begitu sepi. Kemana anaknya itu? Apa dia sudah pergi kerja? Sudah beberapa hari ini Rosalin tidak melihat batang hidungnya. Apa dia masih hidup? Atau dia sedang bersenang-senang dengan salah satu sumber uangnya?


Tidak berpikir panjang, Rosalin bangkit dari sofa. Dia berjalan ke arah kamar tidur Mila yang beberapa hari ini terasa sepi tanpa suara dan membukanya.


"Mila?"


Rosalin yang membuka pintu kamar itu secara tiba-tiba pun, sontak mengagetkan Mila yang ternyata berada di sana. Duduk atas tempat tidurnya dengan beberapa peralatan untuk mengobati luka.


"Mama?"


Mila tidak sempat menyembunyikan perban yang ada di depannya, ketika Rosalin datang dengan langkah lebar menghampirinya.


"Kenapa kamu?"


Terlihat kaget, Rosalin melihat pergelangan tangan Mila yang dibalut dengan perban. Matanya tampak begitu tajam, menatap Mila yang seperti bingung harus menjawab apa.


"Engh, itu…."


"Kamu diserang lagi?!"


Belum selesai menjawab, Mila justru kembali terperanjat mendengar suara Rosalin yang menggema. 


Sedikit mengerjap, dia menarik tangannya dari Rosalin dan mengangguk dengan pelan sambil membuang pandangan ke arah lain.


Mila tidak melihat bagaimana ekspresi Rosalin saat ini. Hanya desah napas wanita itu yang terdengar kasar memenuhi suasana di antara mereka.


"Kemarin muka. Sekarang tangan. Yang kamu pacarin itu pengusaha atau suaminya mafia, sih? Bar-bar banget!"


Rosalin mengeluh dongkol. Lalu, menghempaskan tubuhnya untuk duduk di atas ranjang persis di sisi Mila saat ini.


Terlihat anaknya itu tidak menjawab. Hanya diam sambil memegang balutan perban tangannya dan menundukkan kepala sejenak.


Dalam diam, Rosalin memperhatikan. Tidak sengaja matanya melirik ke arah belakang tubuh Mila dimana ada selembar foto berukuran kecil tergeletak di atas ranjang.


Pelan, Rosalin mengambil gambar itu. Memperhatikannya dengan seksama, dimana ada potret dua remaja yang sedang berangkulan di sana. Satu adalah Mila saat masih SMA, dan satunya lagi seorang pemuda berkulit dengan tubuh kurus nan tinggi.


Dari perawakannya, mengingatkan Rosalin pada Evan yang dia lihat siang ini.


Diam-diam, Rosalin kembali memperhatikan wajah Mila. Sekarang anaknya itu tampak sedang mengobati tangannya yang lain. Terlihat sangat fokus, sampai tidak sadar kalau sedang ditatap begitu dalam oleh ibunya.


Apa anaknya itu sebenarnya pernah punya suatu hubungan dengan Evan?


🍂


"Kenapa jadi kamu yang datang buat jemput aku? Bukannya seharusnya Mama, ya?"


Thalita masih juga mempertanyakan hal yang sama, meskipun sekarang dia sudah berada di dalam mobil Evan yang tengah berjalan menuju kediaman mereka.


Sedikit melirik, Evan yang tidak percaya kalau Thalita masih begitu kukuh menanyakan hal tersebut hanya bisa menggeleng sebentar.


"Mama bilang, ada urusan mendadak. Jadi, minta tolong aku buat jemput kamu."


Untuk kesekian kalinya, Evan menjawab. Meskipun sudah lebih dari tiga kali, tapi dia masih sabar untuk meladeni wanita itu andai pertanyaan tersebut keluar lagi.


"Harusnya Mama bilang kalau nggak bisa jemput. Aku kan bisa pulang sendiri," keluh Thalita pelan, sekarang memancing perhatian Evan lebih dalam.


Thalita tidak langsung menjawab. Dia hanya diam sambil terus memperhatikan jalan raya dari kaca yang ada di sampingnya.


"Biarpun susah, tapi aku udah terbiasa sendiri,"


Saking halusnya suara Thalita, Evan hampir tidak yakin kalau yang berbicara barusan itu adalah wanita tersebut.


Dari pantulan kacanya, Evan bisa melihat raut wajah bosan dan sedih wanita itu yang bersandar pintu mobil.


Cepat Evan mencari akal. Dia tahu kalau kejadian kemarin mungkin benar-benar sudah membuat Thalita kecewa seperti ini. Merasa sendiri, dan tidak ada satupun yang menginginkan dia untuk bersama.


"Kamu mau kita makan siang dimana?" tanya Evan berusaha memecahkan keheningan, yang mana Thalita ternyata lebih mahir dalam membunuh percakapan.


"Di rumah aja," katanya, benar membuat Evan terdiam untuk sesaat.


"Di restoran dekat sini gimana? Kayaknya—"


"Aku sendiri punya restoran. Ngapain harus ke tempat lain?"


Dengan cepat lagi, Thalita menjawab. Kembali membuat Evan bungkam, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah lampu merah.


"Mau sampai kapan kamu kayak gini sama aku?" 


Setelah diam beberapa saat, tiba-tiba Evan berbicara dengan nada suara yang begitu serius.


"Sikap kamu itu bukan untuk menyelesaikan masalah. Tapi malah bikin hubungan kita masih jauh!"


Evan menoleh dan melihat Thalita yang masih setia dengan posisinya.


"Kamu mau, kita kayak gini aja sampai nanti kita tua?"


"Emang, kita bakal bersama sampai tua?"


Dalam hitungan detik, Thalita menoleh. Menatap tajam Evan yang mengerjap melihatnya.


"Kamu ngomong seolah-olah kita akan terus bersama selamanya. Tapi pada kenyataannya, kamu sama sekali nggak niat buat hidup sama aku. Jangankan untuk bersama, alasan kamu mau nikah sama aku aja kan karena kasihan!" ujar Thalita emosi, membuang pandangannya ke arah lain.


"Nggak usah bersikap sok baik. Aku tau kok, batasanku untuk nggak terlalu jauh mencintai kamu. Kalau emang kamu nggak bisa membuka hati buat aku, ya udah! Aku juga nggak masalah! Aku nggak akan maksa kamu buat membuka hati."


Kemudian, Thalita menolehkan kepalanya lagi ke arah luar jendela di sebelahnya.


"Lagian aku dah terbiasa kok, ditolak sama orang lain," keluh wanita itu pelan, namun cukup mampu didengar oleh Evan.


Untuk beberapa saat, Evan tidak bisa berkata-kata. Dia hanya terbengong, sebelum akhirnya mendengus tidak percaya dengan kalimat itu.


Lampu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau. Mau tidak mau, Evan pun kembali melajukan kendaraannya membelah jalan raya.


"Kamu boleh nggak percaya sama omongan aku. Tapi tolong, kamu bisa mempertimbangkan sikap kamu yang sekarang. Di rahim kamu saat ini ada calon anak kita. Kalau kamu terus-terusan kayak gini, kamu bisa stress dan buat anak kita jadi sakit."


"Apa benar cuma karena dia? Apa dokter Jenna bilang kalau aku ini stress?" tuntut Thalita tiba-tiba, tak ayal langsung membuat Evan melirik dan mengerutkan dahi bingung mendengarnya.


"Emang Jenna mendiagnosa kamu apa?" tanya Evan balik, sekarang membuat Thalita yang terdiam.


Tadi, wanita itu sempat berpikir kalau Jenna sudah memberitahukan sesuatu terhadap Evan tentang kondisi tubuhnya.


"Kamu nggak ada nanya sama dokter Jenna?" tanya Thalita mengerutkan dahi samar, tanpa sadar seperti bom balik untuk Evan. "Padahal, kalian kan temenan,"  keluh wanita itu pelan, sebelum kembali bersuara. "Masa kamu nggak nanya sedikitpun tentang anak kamu."


Satu detik, dua detik, Evan tidak menjawab hingga membuat Thalita tertawa. Tawa yang rendah dan sarat akan kekecewaan.


Sepertinya dia memang tidak bisa hidup lama dengan pria itu.


...Bersambung...