Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #54



Evan masuk ke dalam kamar mandi dengan raut wajah yang begitu kesal. Dia menopang tangannya di pinggir wastafel dan mengacak rambutnya sebal menggunakan sebelah tangan.


Rasanya hari ini berjalan dengan begitu berat. Setelah apa yang terjadi di rumah sakit tadi, pikirannya menjadi tidak tenang.


Pasalnya, saat hendak makan siang tadi, Evan dikejutkan dengan kabar seorang wanita yang dilarikan ke rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Pikirnya yang saat itu tertuju pada Thalita —yang beberapa bulan lalu juga pernah melakukan hal yang sama sampai berapa kali—, membuat Evan langsung berlari ke arah UGD rumah sakit tersebut. Tiba-tiba dia merasa cemas, karena mengira mungkin Thalita akan mengulangi perbuatannya yang sama mengingat sekarang mereka sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Teguran yang Evan dapatkan dari beberapa orang yang kaget di ruang UGD dengan kehadirannya, tidak diindahkan oleh pria itu. Dengan napas tersengal, dia mendekat ke arah bangkar rumah sakit dimana seorang dokter yang Evan kenal baru keluar dari balik tirai tersebut.


"Dokter Evan?"


Kembali Evan mengabaikan sapaan ataupun teguran itu. Dia menyingkap tirai pembatas yang menutupi pasien dan sedikit terkejut melihat wanita yang kini tengah terbaring di sana.


"Kamu?"


Dahi Evan seketika mengernyit heran melihat siapa yang saat ini ada di depannya.


Dengan gerakan kaku, Mila —wanita yang katanya baru melakukan percobaan bunuh diri itu— pun menoleh ke arah Evan. Kedua matanya melebar, tatkala pandangannya langsung berserobok dengan Evan di depannya.


"Van…."


Evan mendesahkan napas berat. Mengusap rambutnya lagi kuat, kemudian menatap bayangannya yang ada di cermin.


"Kenapa Mila bisa ada di rumah sakit? Dan kenapa perempuan itu bisa melakukan hal nekad dengan mengiris nadi di pergelangannya?"


Tidak menutup peluang, Evan penasaran. Dia membalikkan badannya untuk bersandar pada wastafel sambil membayangkan kembali keadaan Mila yang dia lihat di UGD.


Seingatnya, Mila itu bukanlah sosok wanita dengan mental yang lemah seperti itu. Maksudnya, ketimbang Thalita yang awal berjumpa dengan Evan sudah melakukan percobaan bunuh diri berapa kali, tidak pernah sekalipun Evan memandang Mila sebagai wanita rapuh seperti Thalita. Malah, kalau boleh dikatakan, wanita yang pernah sangat Evan cintai itu lebih cenderung keras dan juga manipulatif. Bersikap lemah, padahal sebenarnya begitu kuat dan gigih untuk mendapatkan apa yang dia mau. Tidak serupa dengan Thalita, yang hanya terlihat sok keras di luar, padahal nyatanya begitu rapuh di dalam.


"Apa tujuan dia ngelakuin itu? Apa ada sesuatu yang nggak aku ketahui?" batin Evan berpikir, sambil melipat kedua tangannya di dada.


Mungkinkah selama ini, tanpa sepengetahuan Evan, wanita itu sudah mengalami hal yang sulit? Atau, mungkinkah semua ini hanya cara baru Mila untuk bertemu dengan Evan saja, mengingat Evan tahu kalau beberapa waktu belakangan ini dia sering melihat bayangan Mila di sekitarnya.


🍂


Tangan Thalita bergetar menatap alat tes kehamilan ketiga yang sudah dia gunakan. Matanya berulang kali mengerjap, memastikan kalau apa yang dia lihat saat ini bukanlah semu atau khayalan semata. Dua garis merah muda yang ditunjukkan alat itu mengidentifikasi sebuah janin yang bersemayam di rahimnya.


Antara bingung dan bahagia, Thalita sampai tidak bisa menutup mulutnya. Dia duduk di atas kloset sambil terus memperhatikan benda pipih itu berulang kali.


Benarkah sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu?


Mendadak, jantungnya berdebar. Seperti ingin teriak, namun dia tahan sekuat tenaga. Dia ingin memastikan dulu tentang kehamilan ini sebelum mengumbarkan hal tersebut pada suami dan ibu mertuanya. Thalita ingin mempunyai bukti kuat, agar dia bisa memastikan dengan bangga kalau sebentar lagi dia akan memiliki sebuah keluarga yang utuh.


Dengan hati yang berbunga-bunga, Thalita bangkit dari posisi duduknya. Mencuci hasil tes kehamilan itu dengan air di wastafel, sebelum menyimpannya ke atas kabinet handuk yang ada di sudut kamar mandi.


Cepat-cepat dia membasuh tangan dan wajahnya. Kemudian dia keluar, dan menatap Evan yang ternyata sudah siap dengan pakaian kerjanya di depan cermin.


"Kakak udah mau berangkat?"


"Kenapa lagi kamu?" tanya Evan heran, menatap Thalita dengan dahinya yang berkerut dalam.


"Apanya yang kenapa? Aku baik-baik aja," sahut Thalita enteng, namun semakin melebarkan senyumnya pada pria itu hingga kedua matanya menyipit.


Tidak ingin ambil pusing, karena dia memang sudah pusing akibat susah tidur, Evan membiarkan Thalita membantunya. Berulang kali dia memijat kepalanya yang berdenyut, sampai akhirnya dia sadar dengan tepukan Thalita yang pelan di dada Evan.


"Dah siap. Suami aku ganteng," puji Thalita tidak biasanya, masih juga tersenyum lebar sambil menggoyangkan tubuhnya ringan ke kiri dan kanan. Persis anak kecil yang terlihat manja di mata Evan.


Agak ragu, Evan mengangkat sebelah tangannya. Menepuk pelan puncak kepala wanita itu, sembari berkata, "Makasi, ya." Yang langsung dibalas anggukan sekali oleh istrinya tersebut.


"Sama-sama,"


Lalu, suasana terasa sedikit canggung bagi Evan. Thalita masih juga tersenyum, tanpa Evan ketahui apa penyebabnya.


"Yuk, kita sarapan! Mama pasti udah nungguin di ruang makan,"


Sekali lagi, Evan terlihat kaget dengan sikap istrinya itu. Setelah bolak-balik tersenyum manis, sekarang dia malah merangkul lengan Evan dengan sangat erat dan menyeret pria itu untuk keluar dari kamar.


"Kalian udah siap?"


Laila yang biasanya menyiapkan sarapan dengan bantuan Bik Asih —asisten rumah tangga yang selalu datang di pagi hari—, tampak mengerutkan dahinya melihat Thalita dan Evan yang datang bersamaan.


Tidak biasanya dua orang itu datang bersama ke meja makan. Meskipun terkadang Evan terlihat sedikit memanjakan Thalita, belum pernah Laila melihat pasangan itu datang berbarengan seperti itu. Apalagi dengan cara berangkulan seperti yang dia lihat saat ini. Ditambah Thalita masih mengenakan pakaian tidur, membuat Laila semakin mengerutkan dahi dan bertanya pada menantunya itu.


"Kamu nggak kerja, Ta? Kok masih pake baju tidur?"


Laila melihat Thalita yang sudah menyuruh Evan untuk duduk di kursi yang dia tarik, sebelum mendapati wanita itu sibuk melayani Evan dengan menyiapkan sarapannya.


"Kerja kok, Ma. Cuma mau berangkat agak siangan aja," jawab Thalita, yang hanya dibalas Laila dengan anggukan kepala ringan.


Apapun itu, entah kenapa Laila merasa kalau dia tidak boleh bertanya lagi. Sangat jarang dia melihat menantunya bersikap demikian terhadap Evan. Dan dia ingin membiarkan Thalita nyaman dulu, tanpa ada pertanyaan yang mungkin akan mengganggu sikapnya itu.


"Ya udah, kalo gitu. Terserah kamu aja," ucap Laila tersenyum lembut, kemudian memberikan segelas susu yang masih hangat ke depan Thalita duduk.


"Ini, susu buat kamu. Mama liat, akhir-akhir ini kamu sering kecapekan. Jadi, Mama beliin susu yang bisa jaga kesehatan kamu," kata wanita itu lagi, sekarang membuat Thalita terdiam di tempat. Menatap wajah hangat Laila yang masih tersenyum, sebelum akhirnya mengangguk beberapa kali.


"Makasi, Ma," ucap Thalita, melanjutkan dalam hati, kalau dia benar-benar harus memeriksa kandungannya setelah ini.


...Bersambung...


...Mohon untuk terus dukung cerita ini, ya....😊...


klik suka (👍🏻) kalau memang suka. Dan tinggalkan jejak komentarnya (💬).


Terima kasih 🌹