Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #65



Aris melirik tajam pada Andre yang duduk di depannya. Sedikit menunduk menyesal, pria yang tengah ditatap itu pura-pura tidak melihat lirikan tersebut dengan membuang pandangannya secara halus.


Alhasil, mau tidak mau, mengingat suara ketukan di jendela Aris itu kian mengeras, membuat si empunya tidak punya pilihan lain untuk keluar.


Saat akan membuka pintu, dia mencoba menenangkan hati dulu, takut terlihat begitu kaku di depan mantan istrinya.


Terlihat wajah Laila kaget ketika mendapati Aris keluar dari dalam mobil. Namun detik berikutnya, wanita itu segera menguasai diri dengan memasang tampang garang pada pria itu.


"Pantas beberapa hari ini saya merasa nggak enak sama mobil ini. Ternyata isinya kamu!" tuding Laila pada wajah Aris, yang sontak membuat pria itu kaget hingga memejamkan matanya sejenak.


Pikirnya, kenapa Laila tiba-tiba jadi kasar begini?


Sedikit tersenyum pedih, Aris menurunkan jari tangan Laila yang masih mengarah padanya.


"Udah lama nggak ketemu, kamu semakin galak, ya?" komentar Aris masam, yang malah dibalas dengusan sinis oleh wanita itu.


"Memangnya saya harus bersikap seperti apa?" tanya Laila dingin, menatap Aris dengan sorot mata permusuhan.


Jelas, ini bukanlah tatapan mata Laila saat terakhir kali mereka bertemu.


"Ya, nggak seperti apa-apa. Cukup seperti Laila yang dulu pernah aku kenal," pancing Aris berusaha santai, yang mana hal itu malah terkesan seperti memancing di air keruh.


"Oh, ya? Maksud Anda, seperti orang bodoh yang cuma bisa menangis saat melihat suaminya selingkuh dengan pacar anaknya sendiri?" ujar Laila to the point, sontak membuat Aris kehilangan kata-kata.


Lama dia memandang wanita itu dalam diam. Sorot matanya kini terlihat lebih serius memperhatikan kedua bola mata Laila yang seperti ditutupi oleh selimut dendam.


"Aku kemari cuma karena mau melihat wajah kamu,"


"Untuk apa? Mau memastikan kalau muka ini masih keliatan seperti orang bodoh atau tidak?"


"Kamu nggak bodoh!"


"Tapi, dungu!" tandas Laila seakan memberi titik pada kalimatnya dan lagi-lagi membuat Aris terdiam memandangnya.


"Untuk apa lagi kamu melihat saya? Apa kamu menyesal, tidak membuat saya lebih sakit dari apa yang terjadi waktu itu?" tanya Laila, yang lebih tepatnya tidak bisa dianggap seperti sebuah pertanyaan.


"Maaf, sebelumnya. Tapi saya baik-baik saja. Saya dan anak saya juga bahkan jauh hidup lebih baik daripada apa yang Anda pikirkan!"


Laila menatap tegas Aris yang tetap memandangnya.


"Jadi, berhenti membuang tenaga Anda untuk mengintai saya seperti ini, atau Saya tidak akan segan-segan untuk melaporkan Anda ke polisi. Paham?!" ancam Laila tegas, yang langsung membuat Aris tertawa tanpa sadar.


"Anda pikir saya bercanda?! Coba saja, kalau Anda tidak percaya!" tuding Laila lagi sangat dongkol, kali ini membuat Aris menghentikan tawanya.


"Pergi dari kehidupan kami dan jangan pernah muncul lagi!" ultimatum wanita itu terakhir, sebelum akhirnya berpaling meninggalkan Aris yang terdiam.


Lama pria itu mengikuti arah bayang Laila yang menjauh. Sampai akhirnya dia menarik napas panjang, dan membuangnya secara perlahan.


"Aku datang kemari juga, karena bakal pergi berapa hari lagi," desah pria itu lesu, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.


🍂


Beberapa hari ini Evan tampak begitu murung. Setiap jam makan siang, dia pasti akan menghabiskan waktunya hanya di dalam ruangan. Tidak seperti biasa, dimana sekarang membuat Jenna terlihat begitu kesepian tanpa hadir teman baiknya itu di kantin.


"Kamu nggak makan siang lagi?"


Jenna tiba-tiba muncul dari luar pintu ruangan kerja Evan yang tertutup. Menyembulkan kepalanya begitu, seakan mengintip Evan yang sedang menyandarkan tubuhnya lesu di atas kursi.


Jenna kemudian masuk dengan membawa sebuah plastik bening berisikan kotak makanan dari bahan styrofoam.


“Nih, aku bawain makanan dari kantin,” ujar Jenna menyerahkan makanannya pada pria itu, yang hanya dilirik Evan dengan malas.


Merasa tidak disambut, Jenna pun meletakkan makanan itu ke atas meja dengan wajah yang sedikit bertekuk.


“Bukannya terima kasih,” keluh gadis itu tampak menyindir.


“Makasih,” ucap Evan enggan, malah membuat Jenna mencebik.


Gadis itu lalu duduk di kursi di hadapan Evan. Melihat pria itu yang sepertinya sedang banyak pikiran dengan menatap jauh ke atas asbes.


“Gimana keadaan istri kamu Lita? Dia baik-baik aja, kan?” tanya Jenna basa-basi, memperhatikan sorot mata Evan yang kian terlihat lesu.


“Baik,” sahutnya singkat, membuat Jenna seperti curiga kepadanya.


“Yakin?”


“Hm,”


Jenna kembali diam. Meski begitu, dia tidak yakin kalau apa yang dikatakan oleh Evan itu benar adanya.


“Kalian lagi ribut, ya?” terka Jenna hati-hati, membuat Evan melirik ke arahnya.


“Enggak,”


“Jangan bohong! Sikap kamu nunjukin kalo kalian itu lagi ribut,” ujar gadis itu lagi, sekarang membuat Evan yang kembali diam.


Untuk sesaat, Evan menundukkan pandangannya seolah merenung.


“Keliatan banget, ya?” gumam pria itu muram, tak ayal langsung mendapat sebuah dengusan sinis dari gadis di depannya.


“Aku tau, kalo aku nggak berhak buat ikut campur urusan rumah tangga kamu. Tapi aku kasih tau ke kamu ya, Van, kondisi fisik Thalita saat memeriksa kandungannya waktu itu lagi nggak baik! Keliatan banget kalo dia itu lagi punya masalah yang cukup berat. Kalo dibiarkan terus kayak gini, bisa-bisa itu mempengaruhi kondisi janinnya. Kamu mau, terjadi hal buruk sama anak kamu?!”


Refleks, Evan menoleh. Menatap tajam Jenna yang ada di depannya.


“Hati-hati, kalau bicara!” peringatkan Evan pada gadis itu, yang mana malah membuat Jenna mendengus.


“Kamu tuh, yang hati-hati dalam bersikap! Jangan gara-gara ulah kamu, istri kamu jadi stress dan bikin anak kalian juga ikutan sakit!” ujar Jenna tegas, menatap malas pada Evan yang terus melihatnya.


“Katanya dokter, tapi gitu aja kok mesti diajarin, sih,” keluh gadis itu mendecak ke arah lain, kemudian melihat ke arah Evan lagi.


Pada titik ini, Evan sudah kembali diam. Melihat jauh ke depan dengan pandar mata kosong seperti orang yang juga sedang banyak pikiran.


🍂


“Akhir-akhir ini, kamu kelihatan sibuk ya, Mil?” 


Rosalin melirik ke arah Mila, yang sejak tadi dia perhatikan makan dalam keheningan.


“Enggak. Biasa aja,” balas Mila terkesan cuek, membuat Rosalin sedikit memutar otak.


“Enggak, biasanya kamu nggak sesibuk ini. Biasanya sebelum tengah malam, kamu udah di rumah. Tapi ini, Mama bahkan nggak tau kapan kamu pulang,” kata Rosalin cepat, memperhatikan Mila yang tampak tenang menikmati makanannya.


Tampak gadis itu tidak bersuara, enggan menjawab pertanyaan Rosalin.


“Engh, kalo boleh Mama tau, kamu kemana aja? Apa kamu ada urusan lain yang nggak belum Mama ketahui?” pancing Rosalin, menatap intens wajah datar Mila yang sedang makan.


“Maksud Mama?”


“Ya…. Urusan ketemu sama orang lain, mungkin?”


Sontak, perkataan itu membuat Mila menghentikan kegiatannya. Dia mengangkat pandangannya ke arah Sang Ibu, yang masih setia memandangnya seolah tidak sabar menunggu jawaban.


"Sebenarnya, Mama mau ngomongin apa?" tanya Mila to the point setelah saling menatap dengan Rosalin beberapa saat.


"Ngomongin apa?"


"Ya, apa yang sebenarnya pengen Mama ketahui, sampai rela ngelakuin ini semua buat aku."


"Ngelakuin apa, sih? Emang Mama nggak boleh, nyiapin makan untuk anak Mama sendiri?" ujar Rosalin membela diri, tampak menutupi maksud hatinya terhadap Si Anak.


Sambil menggeleng, Mila tersenyum tidak percaya. "Kalo Ibu lain, itu nggak aneh. Tapi kalo Mama," Mila meletakkan sendok yang sejak tadi dia pakai dan memajukan sedikit tubuhnya. "Itu bener-bener aneh."


"Maksud kamu apaan?"


Brak!


Rosalin yang kesal, refleks memukul meja makan sekali dan menatap dongkol pada Mila.


"Kamu ini serba salah, ya! Dicuekin, salah, diperhatiin makin salah! Mau kamu itu sebenarnya apa?!" ujar Rosalin marah, bukannya membuat Mila takut, malah kembali tertawa.


"Ini baru Mama yang aku kenal," dengusnya pelan, kemudian melirik pada Rosalin. "Mama lebih nyeremin kalo bersikap lembut. Nggak cocok sama sekali."


"Mila!"


Brak!


Kembali, Rosalin memukul meja di depannya.


Untuk sesaat, sepasang ibu dan anak itu saling memandang. Hingga pada akhirnya Rosalin mengalah dengan menarik napas panjang dan membuangnya.


"Oke, Mama mau jujur sama kamu."


Rosalin mulai menegakkan tubuhnya, dan sedikit condong ke arah Mila.


"Gimana soal hubungan kamu dan Evan?"


"Evan?"


Mila yang kaget mendengar nama itu lagi, sontak memundurkan kepalanya sedikit dan menatap aneh pada Rosalin.


"Mama tau kok, kamu sama anak itu sebenarnya punya hubungan yang spesial sebelum ini. Iya, kan?"


"Nggak usah sok tau!"


"Mama emang tau!" bentak Rosalin membalas kerasnya Mila.


"Mama liat foto kamu sama dia waktu itu. Dia mantan pacar kamu pas SMA kan?"


"Mama liat foto itu?!"


Tanpa sadar, Mila berdiri. Dia terlihat begitu kesal hingga wajahnya memerah.


"Jangan-jangan Mama yang ambil foto itu dari kamar aku? Iya!?" tuduh Mila kemudian, diikuti dengan tatapan mata tajam Rosalin yang memandangnya.


Pantas saat dia mencari foto itu tidak kunjung ketemu dimanapun. Bahkan sampai dia menggeser posisi tempat tidurnya, foto kenangan antara dia dan Evan itu juga tidak bisa dia dapatkan.


"Balikin!"


Mila menadahkan tangannya ke arah Rosalin, yang kali ini menatap remeh tangan tersebut.


"Bener. Balikin," dengus Rosalin sinis, melihat tangan Mila dan berdiri secara perlahan.


"Dia harus balikin apa yang udah jadi milik kamu."


Mila menatap Rosalin dengan dahi berkerut samar. Apa maksud perkataan ibunya itu?


"Evan…."


Dengan suara yang pelan dan juga dalam, Rosalin memajukan tubuhnya ke arah Mila.


"Harus balik ke tangan kamu, gimana pun caranya."


......Bersambung ......


Maaf atas keterlambatan ini.... 😅


Terima kasih sudah menanti 🌹


Dukung terus cerita ini, ya.... 😄