
Evan melirik sekilas ke arah Thalita duduk saat ini. Sejak dia menjemput istrinya itu dari restoran, belum ada sepatah katapun yang keluar dari bibir wanita itu. Keduanya hanya bungkam, yang mana Evan kembali teringat dengan panggilan Sekar terhadapnya, ketika akan meninggal pintu restoran.
“Maaf, Pak Evan. Tadi sebelum datang, Pak Axel ada di sini.”
Untuk apa bocah itu datang ke tempat istrinya lagi? Bukankah Evan sudah memperingatkannya kemarin untuk tidak datang mengganggu Thalita lagi? Apa hukuman yang diberikan Evan pada bocah itu masih kurang?
Andai bukan karena janjinya pada Thalita untuk segera melepaskan anak itu, sudah Evan pastikan mereka hanya akan bertemu jika Evan menginjakkan kakinya ke penjara.
“Tadi, kamu makan siang apa?”
Mencoba basa-basi, Evan kembali melirik Thalita. Tadi, dia sudah menawarkan wanita itu untuk makan siang bersama di rumah atau di tempat lain. Namun, wanita itu menolak. Katanya dia lebih suka makanan yang dia masak sendiri. Bahan-bahannya terjamin dan bisa dipastikan kualitas bumbunya. Membuat Evan tidak bisa berkata-kata, dan malah membenarkan alasan wanita itu dalam hati.
Alhasil, sampai mereka tiba di rumah pun, tidak ada percakapan berarti yang terjadi. Keduanya hanya saling diam, dimana Evan lebih memilih untuk menghargai perasaan Thalita saat ini. Pikirnya, mungkin wanita itu sedang tidak mood pasca pertemuannya dengan Axel di restoran tadi.
“Kalian udah pulang?”
Melangkah kaki ke dalam rumah, dua insan itu disambut oleh Laila yang muncul dari arah dapur.
“Mama nggak ke butik?” tanya Evan basa-basi, melihat ibunya itu menggeleng dan berjalan ke arah Thalita berdiri saat ini.
“Udah Mama bilang kan, sebisa mungkin Mama yang bakal nyiapin makan untuk menantu sama calon cucu Mama,“
Laila berdiri di depan Thalita dan mengusap rambut perempuan itu sekilas.
“Kalian belum makan, kan?” tanya Laila, sekilas melirik ke arah Evan di belakang Thalita.
“Belum. Katanya Lita mau makan di rumah aja,” sahut Evan, mewakili istrinya yang masih tampak diam tempat.
Sambil tersenyum, Laila yang tampak senang pun bertepuk tangan sekilas.
“Itu baru menantu Mama!” seru wanita itu seperti anak kecil, lantas segera menggandeng lengan Thalita untuk pergi ke ruang makan.
Seolah baru sadar dengan Evan, wanita itu sedikit tersentak dan menoleh ke arah putranya yang masih berdiri di belakang mereka.
“Kamu juga makan di rumah kan?” tanya Laila, yang hanya dibalas anggukan oleh anaknya itu.
Dalam diam, Evan kembali memandang Thalita. Meskipun wanita itu hanya meliriknya sekilas, dia merasa kalau ada yang aneh dengan sikap istrinya saat ini.
Atau, mungkinkah sebenarnya dia tidak pernah memahami karakter Thalita selama ini?
🍂
Sudah sekitar dua hari ini Evan merasa istrinya berdiam diri. Baik saat mereka berdua di dalam kamar, ataupun sedang mengantar jemput Thalita di restoran, wanita itu tampak menjaga diri darinya. Tidak banyak bicara, dan wajahnya pun terlihat murung.
Pernah satu kali Evan bertanya pada Thalita tentang apa yang terjadi padanya. Mungkin, dia sudah sangat penasaran dengan percakapan wanita itu dengan Axel tempo hari, yang membuat Thalita mendiamkannya dua hari ini, hingga dia pun memberanikan diri untuk bertanya.
“Nggak papa. Aku cuma capek aja. Dan nggak ada hal penting yang bisa aku bahas soal anak itu.”
Bukannya memberikan jawaban yang memuaskan, Thalita justru berkata dengan nada dan ekspresi wajah yang dingin. Dimana sialnya, setelah mengabaikan wajah bengong Evan yang menatapnya, wanita itu malah menangis di balik selimutnya yang tebal.
Jujur, Thalita sendiri pun sebenarnya bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Seumur hidup, baru kali ini dia merasakan perasaan yang demikian menyiksa. Ingin mengakhiri hidupnya lagi, tapi dia sadar kalau ada nyawa lain yang harus dia jaga dalam di dirinya.
Hari ini, Thalita datang ke restoran sedikit lebih lambat dari biasanya. Tadi, dia berpura-pura tidak ingin berangkat kerja. Tapi, entah kenapa, Evan malah seperti tahu niat hati Thalita yang ingin menghindar. Bukannya pergi meninggalkan wanita itu lebih dulu menuju rumah sakit, Evan justru menunggu Thalita di mobil yang sudah diparkirkan pria itu di luar garasi.
Alhasil, mau tidak mau Thalita pun mengikuti perintah Evan. Dengan enggan melihat wajah pria itu, Thalita terus menutup matanya selama perjalanan mereka menuju restoran.
“Sebenarnya apa yang kamu harapkan? Bukannya kamu bilang, kamu nggak keberatan, meskipun dia nggak mencintai kamu?”
Seperti ada bisikan lain dalam dirinya, Thalita yang semula memejamkan matanya di atas kursi kerja, tiba-tiba membuka mata. Menatap langit-langit ruangannya yang didesain seperti awan keemasan, sambil memikirkan kembali sudut hatinya yang masih terluka.
“Dia nggak mencintai lo sama sekali. Nggak ada tempat buat orang kayak lo! Cuma gue, yang bisa lo jadikan tempat buat kembali,”
Sedikit menarik napas panjang, Thalita mengusap perutnya. Dalam hati, dia menimbang. Apakah dia sangat egois, jika pada kenyataannya dia mengharapkan cinta dari Evan?
Bahkan setitik saja, dia benar-benar berharap ada seseorang yang bisa dia jadikan sandaran buat dirinya yang sedang lelah.
Tok! Tok! Tok!
“Thalita!”
Saat sedang asyik melamun, Thalita tiba-tiba saja dikagetkan dengan suara pintu ruangannya yang terbuka. Seluet wajah Rosalin yang muncul dari arah luar ruangan, membuat Thalita sontak memasang sikap siaga memandangnya.
“Kenapa Anda bisa ada di sini?” tanya Thalita langsung, jelas dengan sikap yang tidak bersahabat.
“Tante bawain kamu makanan. Hari ini, Tante buat menu baru buat kamu. Kamu pasti suka, deh!”
Rosalin sudah mendekat ke arah meja Thalita. Meletakkan rantang makanan itu disana, dan saling pandang dengan wanita itu dengan ekspresi wajah yang bertolak belakang.
“Kenapa? Mau Tante bukain?”
Tangan Rosalin sudah bersiap ingin membuka rantang makanannya. Namun, cepat Thalita berdiri dan berjalan ke arah pintu ruangannya dengan langkah yang lebar.
“Kayaknya saya udah pernah bilang kalo Anda itu dilarang masuk ke ruangan ini. Tapi kenapa sekarang Anda malah ada di sini?”
Sambil berjalan tegas ke arah pintu, Thalita mengoceh. Melewati Rosalin yang melirik ke arahnya dengan pandangan yang diam-diam tidak terbaca.
“Kayaknya orang-orang di restoran ini mulai membangkang ucapan saya. Atau,“
Thalita berbalik sebentar ke arah Rosalin, ketika dia sudah mencapai ambang pintu dan menyentuh gagangnya.
“Anda aja yang terlalu lancang?”
Thalita menatap sinis Rosalin yang hanya diam di tempatnya. Sedikit diperhatikan, dia melihat wanita itu menurunkan pandangan ke arah lantai dan memutuskan pandangannya dari Thalita.
“Emh? Apa itu?”
Masih memandang wanita itu tajam, Thalita melihat Rosalin menunduk dan mengambil sesuatu yang berada di atas lantai.
Sepertinya selembar kertas. Atau, sejenisnya.
“Eh? Bukannya ini Evan? Sama siapa ini?”
Thalita mengernyit, melihat Rosalin yang seperti bergumam juga mengernyit melihat kertas di tangannya.
Dengan cepat Thalita maju ke arah wanita itu, dan merampas lembar foto yang tengah dipegang Rosalin dengan kasar.
“Kayaknya itu beneran suami kamu? Evan. Tapi, siapa perempuan yang ada di sampingnya? Apa itu pacar Evan dulu?”
Sontak, Thalita menaikkan pandangannya ke arah Rosalin yang ada di depannya. Menatap lebih tajam wanita itu, dan meremas lembar foto usang yang ada di tangannya.
“Apa Anda yang membawa kertas ini ke mari?” tanya Thalita kali ini dingin, membuat Rosalin terlihat kaget dengan menggerakkan tangannya ke udara.
“Enggak! Apaan, sih? Tante juga baru datang! Ngapain juga Tante bawa foto beginian. Emangnya Tante siapa, sampek bisa punya foto Evan gitu,” kilah Rosalin cepat, membuat Thalita yang memang tidak mengetahui hubungan Rosalin dengan teman wanita Evan di foto itu sedikit percaya.
Saat Thalita menundukkan pandangannya lagi, Rosalin diam-diam menaikkan kedua alis dan tersenyum tipis.
“Tapi, kayaknya itu mantan pacar Evan, deh? Maksudnya, senyumnya itu loh….“
Rosalin menaikkan pandangannya melirik Thalita yang kian intens menatap gambar Evan saat ini.
“Siapapun yang ngeliat senyuman dia, pasti tau, kalau mereka itu saling cinta,”
Seketika, Thalita kembali menaikkan pandangan. Menatap marah pada Rosalin yang ternyata sudah mendekatkan diri padanya, dan menatap kaget ke arahnya.
“Keluar,” ujar Thalita, membuat Rosalin mengerjapkan matanya.
“Hah?”
“Saya bilang, keluar!”
Seperti lupa dengan tata krama pada orang tua, Thalita yang tanpa tadeng aling-aling pun langsung menangkap sebelah lengan Rosalin dan mencengkramnya kuat. Membuat wanita paruh baya itu tersentak, bersamaan dengan Thalita yang menyeretnya kasar ke arah pintu.
“Saras! Anthony!”
Saat pintu kamar terbuka, Thalita pun dengan keras memanggil nama dua orang yang sudah cukup Rosalin kenal. Membuatnya dua orang itu tergopoh-gopoh datang ke depan ruangan Thalita, sambil menatap kaget dengan Rosalin yang dicengkeram oleh bos mereka.
“Mulai detik ini, siapapun dilarang masuk ke ruangan saya! Kalau sampai hal ini terjadi lagi, kalian semua akan saya pecat!”
Sambil membentak dua orang itu yang tentu langsung memancing semua perhatian orang, Thalita pun langsung mendorong kasar tubuh Rosalin hingga membentur tubuh Saras.
Lalu, dengan emosi yang masih begitu terlihat, dia pun langsung menutup pintu ruangannya dengan cara dibanting hingga membuat siapapun yang ada di depan ruangan tersebut tersentak mendengarnya.
...Bersambung ...
Maaf, atas keterlambatannya lagi..., 😓