Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #18



Evan melirik ke arah kirinya dimana Thalita tengah memejamkan matanya sekarang. Saat ini, mereka sedang dalam penerbangan kembali ke tanah air. Setelah kejadian Thalita sakit di tengah liburan mereka, Evan memutuskan untuk membawa istrinya itu pulang sehari setelah Thalita keluar dari rumah sakit. 


Menurutnya, situasi mereka saat ini sudah tidak dalam kondisi yang ingin menikmati liburan. Terlebih, sejak Evan mengatakan kalau kemarin Thalita menamparnya di depan umum, sikap wanita itu langsung berubah menjadi lebih aneh. Maksudnya, dia memang sudah aneh sejak awal. Kebiasaan ingin bunuh diri dan sikap yang angkuh namun penuh dengan keangkuhan, cukup membuat Evan sadar kalau istrinya itu memang tidak sama seperti wanita lain pada umumnya. 


"Tolong, jangan bunuh aku,"


Evan meluruskan kembali pandangannya dan memejamkan mata. Tangannya terangkat memijat kepalanya yang berdenyut, ketika ingat kalimat yang sudah tiga atau empat kali dia dengar dari bibir tipis istrinya. Tentu, Thalita mengatakan itu saat dia dalam keadaan tidak sadar. Yang pertama saat Evan memeluknya kencang di tepi kolam, dan sisanya dia dengar di tengah igauan Thalita saat tubuh wanita itu masih terasa begitu panas. 


Siapa yang ingin membunuh wanita itu? Apakah itu igauan tentang masa lalunya, atau hanya halusinasi karena terjebak di alam bawah sadar saja? Kenapa dia terlihat begitu menderita dengan kerutan halus di dahinya itu? 


Tuk! 


Di tengah pikirannya yang berat, Evan menoleh tatkala tangan Thalita yang tengah tertidur tiba-tiba jatuh menyentuh jari Evan. Dilihatnyaa wanita itu  bergerak resah ke kiri dan kanan. Seperti tidak nyaman dengan posisinya yang sekarang. 


Perlahan, Evan menggeser posisi duduknya sedikit ke tengah dan meraih kepala wanita itu untuk dia sandarkan di bahunya. Menepuk-nepuk pelan kepala Thalita, yang secara perlahan membuat kerutan di wajah istrinya itu mengendur dan sejenak kembali tenang. 


Kalau dilihat-lihat lagi, Evan juga sadar dengan sikap Thalita yang sekarang. Setelah tahu kalau dia bersikap kasar pada Evan kemarin, Thalita buru-buru meminta maaf dan sedikit menjaga jarak pada pria itu. Meski sudah berapa kali Evan mencoba mendekati, tapi sepertinya Thalita yang —mungkin— masih merasa tidak enak akan segera menjauh darinya. Bahkan dia rela mengangkat dan mendorong kopernya yang berat itu seorang diri tanpa menerima tawaran Evan ataupun menunggu suaminya itu melakukan hal tersebut. 


Tahu begitu, Evan pasti tidak akan mengatakan soal penamparan itu pada Thalita. 


Duk! 


"Engh! Engh!"


Guncangan yang terjadi di pesawat sedikit keras hingga tidak sadar membangunkan Thalita dari tidurnya. Dia seperti terkejut dengan refleks membuka kedua matanya. 


"Kamu nggak papa?" tanya Evan cemas, namun tetap dengan raut wajahnya yang datar. 


Thalita yang seperti baru sadar penuh, terlihat panik saat tau kepalanya sudah bersandar di bahu Evan. 


"Ma—maaf, Kak," ucap Thalita kaku, membenahi rambutnya sedikit panik. 


Sebenarnya, rambut wanita itu tidak berantakan. Hanya saja, dia salah tingkah karena tiba-tiba saja mendapati dirinya —dengan tidak tahu malu— menyusahkan Evan lagi. Kalau nanti bahu Evan sakit karena menahan kepalanya bagaimana? 


"Maaf, kenapa lagi? Hobi kamu udah ganti, jadi bilang maaf terus?"


Sedikit mendecak, Evan membuang pandangan. Mengambil air minum yang sudah disediakan dan meneguknya dengan kesal. 


Entah kenapa, sekarang dia merasa Thalita itu seperti bersikap asing padanya. Padahal kalau diingat pertama kali, wanita itu sangat sombong hingga membuat Evan ingin terus melawannya. 


Pengumuman yang terdengar dari arah depan sempat mengalihkan perhatian keduanya. Mereka tampak bersiap karena sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan segera mendarat. 


"K— Kak Evan," panggil Thalita pelan, tidak digubris sama sekali oleh pria itu. 


Namun, meski begitu Thalita tahu kalau Evan mendengarnya. 


"A—aku mau minta tolong sesuatu sama Kakak, boleh?"


Kali ini, Thalita menoleh bersamaan dengan Evan yang juga melihat ke arahnya. 


Walau terlihat ragu, Thalita tampak berusaha menyusun kalimatnya. 


"Nanti… kalau ada yang tanya…." Terlihat semakin ragu, Thalita mengulum bibirnya sendiri dan berpikir. "Tolong bilang aku nggak ada bikin masalah apapun, ya?"


Kalau ada yang mengatakan Thalita itu tidak tahu diri, maka sudah pasti kalau orang itu sangat benar. Lihat saja, belum juga sembuh kekesalan Evan tentang dirinya yang sembarangan melakukan kekerasan terhadap pria itu, kini dia sudah kembali membuat Evan marah hingga wajahnya memerah. 


Mereka tiba di depan rumah Evan menggunakan sebuah taksi. Setelah membayar dan membantu mengeluarkan koper dari bagasi taksi, pria itu langsung masuk ke dalam rumah dengan menyeret kopernya serta milik Thalita ke dalam. 


Sempat Thalita ingin membawa kopernya sendiri. Namun, seolah tidak mendengar ataupun menganggap Thalita itu ada, Evan justru pergi begitu saja dan mengabaikan tangan wanita itu yang terulur hendak mengambil kopernya. 


"Loh, Evan? Kalian udah pulang? Bukannya katanya kalian pulang besok lusa?"


Laila yang kebetulan ada di rumah, tampak kaget dengan kepulangan anak dan menantunya. Seingatnya, dua orang itu kemarin pamitnya untuk pergi selama 5 atau 6 hari. Tapi, kok baru empat hari begini sudah muncul di rumah? 


Tidak berapa lama, Laila melihat Thalita muncul dari arah belakang Evan. 


"Lita? Kok kalian pulangnya cepat? Nggak jadi 6 hari di Singapur?" tanya Laila pada Thalita, dimana wanita itu langsung tampak bingung dengan melirik ke arah Evan. 


"Enggak, Ma. Aku mutusin buat pulang hari ini," sahut Evan biasa, khas dirinya yang datar dan juga dingin, hingga membuat ibunya tidak tahu kalau tadi anak kesayangannya itu telah bertengkar dengan Thalita. 


"Kamu? Kenapa?" tanya Laila lagi penasaran, fokus pada Evan yang seperti mengatur napas. 


Bisa Thalita rasakan Evan kembali kesal sekarang. Terlihat dari deru napasnya yang mulai terdengar berat, hingga membuat Laila sadar dan menoleh pada Thalita. 


Seolah berbicara melalui tatapan, Thalita merasa kalau Laila tengah bertanya apakah mereka berdua sedang bertengkar? 


"Nggak papa. Aku ngerasa udah kelamaan libur aja," kata Evan tanpa disadari dua wanita di depannya sudah bisa menguasai diri. 


"Kelamaan apanya? Itu kan emang udah jatah libur kamu," kata Laila tidak setuju, tak ayal membuat Evan hanya bisa mencebikkan bibir. 


"Pokoknya liburan udah selesai. Besok aku bakal masuk kerja dan aku pengen istirahat sekarang," kilah Evan cepat, kembali berpamitan pada ibunya untuk masuk ke dalam kamar. 


Tanpa mengindahkan Thalita yang terus melihatnya dari arah belakang, dimana wanita itu langsung mendapatkan interogasi dari ibunya. 


"Kalian ribut, ya?" terka Laila langsung, setengah berbisik pada Thalita yang sontak terkejut mendengarnya. 


"Hah? E—enggak kok, Ma!" bantah Thalita menggerakkan tangan, mengikuti arah pandang Laila yang menunjuk pintu kamar Evan. 


"Terus, kenapa dia gitu? Apa dia telepon sama rumah sakit buat cepat masuk kerja?" tanya Laila lagi penasaran, tidak mampu membuat Thalita menjawabnya. 


"Bener-bener ya, mereka. Apa nggak bisa mereka menangani pasien yang ada di rumah sakit itu? Percuma dong, rumah sakit besar, kalo satu dokter aja cuti udah langsung kelimpungan. Bener-bener nggak habis pikir,"


Laila mulai mengomel khas wanita tua. Dia pikir, diamnya Thalita itu adalah karena apa yang dituduhkannya pada rumah sakit tempat Evan bekerja itu benar. Padahal nyatanya, diamnya Thalita itu karena dia takut mengakui kalau Evan marah karena dirinya. 


"Ya sudah, kamu istirahat aja sekarang. Muka kamu kelihatan pucat itu. Kamu pasti kecapekan. Biar nanti Mama siapin makanan buat kalian,"


Laila hendak beranjak meninggalkan Thalita tatkala wanita itu langsung menahannya. 


"Biar Lita bantu, Ma," ujar Thalita menawarkan diri, yang mana mertuanya tersebut langsung tersenyum dan mengusap sisi kepalanya dengan lembut. 


"Nggak usah. Kamu istirahat aja. Ada Bibi kok, yang bisa bantuin Mama," kata Thalita menolak halus permintaan menantunya. 


"Lagian, daripada bantuin Mama, mending kamu bujuk itu suami kamu. Kasian, belum ada seminggu udah diganggu aja liburannya," kata Laila masih tersenyum, sebelum akhirnya meninggalkan Thalita menuju dapur. 


...Bersambung...