
Thalita mengerutkan dahinya dalam begitu mendengar nama wanita yang sudah cukup lama tidak dia lihat. Orang yang sempat dekat dengannya, namun pada akhirnya dia ketahui sebagai orang yang pernah menyakiti keluarganya.
"Hai, Lita, apa kabar?"
Rosalin tersenyum seperti tidak ada masalah di antara mereka. Dia masuk dengan membawa sebuah rantang biru mudanya yang waktu itu selalu dia bawa.
"Mau apa lagi Anda ke mari?" tanya Thalita dingin, sudah tidak bersahabat seperti dulu.
Terlihat Rosalin tidak terpengaruh. Mungkin, dia sadar kalau apa yang terjadi dengan mereka terakhir kali membuat anak itu bersikap demikian.
"Tante bawain makan siang buat kamu. Tante tebak, kamu pasti belum makan, kan?"
Dengan entengnya, Rosalin mendekati meja kerja Thalita. Membuka satu per satu rantang itu di sana, tanpa mengindahkan wajah malas Thalita yang melihatnya.
"Singkirkan itu sekarang, atau saya akan membuangnya."
Refleks, tangan Rosalin berhenti mengeluarkan rantang itu dari posisinya. Dia menatap wajah datar Thalita tidak percaya seperti ada rasa sedih di matanya.
"Tante masak ini spesial untuk kamu. Sejak terakhir kali Tante ke mari, Tante benar-benar merasa nggak tenang, Lita. Tante mau minta maaf, sama kamu," ungkap Rosalin akhirnya, kehilangan senyum yang sejak tadi dia pertahankan.
Thalita kembali memutar bola matanya. Terlihat bosan, dan malas juga untuk menanggapi Rosalin sekarang.
"Minta maaf untuk apa? Karena sudah membohongi saya, atau karena dulu menghancurkan rumah tangga orang tua saya?" tanya Thalita acuh tak acuh, menyandarkan punggungnya di kursi kerja.
Dia menatap Rosalin yang balas menatapnya dengan sorot mata seakan tidak percaya.
"Tante minta maaf, kalau kamu merasa udah dibohongi sama Tante. Tapi satu yang harus kamu tau! Rumah tangga orang tua kamu itu memang udah hancur sejak awal. Bukan Tante yang merusaknya, tapi Mama kamu sendiri! Marlia!"
Brak!
Tanpa sadar, Thalita menggebrak meja yang ada di depannya. Menegakkan kembali punggung yang belum lima menit bersandar dan menatap tajam pada sosok wanita paruh baya di depannya.
"Saya rasa, Anda tidak berhak untuk membela diri sekarang, mengingat apa yang Anda dan Mama saya katakan di ruangan ini waktu itu. Karena kalau demikian, Anda benar-benar terlihat seperti seorang pengecut."
Rosalin terdiam mendengar kalimat itu. Di bawah tatapan mata Thalita yang bak seekor elang, dia menahan emosi. Marlia pasti benar-benar sudah mencuci otak anaknya hingga berpikir kalau semua masalah rumah tangga mereka itu adalah kesalahan dari Rosalin.
"Yang pengecut itu Mama kamu. Bukan Tante," gumam Rosalin sejenak, lalu menyusun kembali rantang makanan yang sudah sempat dia buka.
"Tante akan maafin ucapan kamu kali ini. Tante anggap, kamu bersikap kayak gini cuma karena nggak tau apa yang sebenarnya terjadi di masa itu. Dan Tante harap, suatu hari kamu bisa sadar dan bersikap hangat lagi seperti waktu itu."
Rosalin kembali tersenyum. Membalas tatapan jenuh Thalita yang samar mengangkat sebelah alisnya.
"Apa Anda sudah selesai bicara? Sebentar lagi ibu mertua saya datang. Rasanya sangat tidak pantas, kalau beliau tau di ruangan ini ada perempuan yang dulu pernah menjadi selingkuhan ayah saya. Alias almarhum besannya."
Ada kata dari ucapan Thalita yang membuat Rosalin merasa sedih. Pertama soal dirinya yang dianggap sebagai seorang selingkuhan. Dan anggapan remeh Thalita tentang dirinya yang begitu rendah hingga tidak pantas untuk berada di ruangan kerja tersebut.
Namun, berusaha untuk terlihat kuat, Rosalin tersenyum. Dia menyodorkan rantang makanannya yang sudah rapi lagi ke arah Thalita, sebelum akhirnya dia pamit untuk undur diri.
🍂
Evan tiba di depan restoran Thalita tepat pukul 12 siang. Tadi, Laila —Mamanya Evan— sempat menghubungi pria itu dan memintanya untuk menjemput Thalita dari restoran pada waktu makan siang.
Meskipun awalnya Evan bingung, kenapa ibunya meminta untuk menjemput Thalita, sementara dia tahu kalau tadi pagi Thalita itu tidak berangkat bekerja, dia tetap diam dan melakukan apa yang diminta oleh wanita tersebut.
Dia tidak ingin memberikan banyak pertanyaan, mengingat itu akan membuat ibunya curiga kalau Evan dan Thalita pasti sedang ada masalah saat ini.
Setelah memarkirkan rapi mobilnya, Evan pun turun dan berjalan menuju pintu utama restoran. Sebelum itu, dia sempat mengirimkan pesan pada Thalita kalau dia sudah berada di depan restoran milik wanita tersebut.
Saat menjejaki beberapa anak tangga menuju pintu, tidak sengaja Evan bersinggungan dengan seorang wanita paruh baya yang membuat wanita itu seketika merintih setelah menabrak bahu kokoh Evan di depannya.
"Loh, dokter Evan, bukan?" tunjuk Rosalin pada wajah Evan, yang sesaat membuat pria itu berpikir melihatnya.
"Benar," angguk Evan datar, mengenal wajah itu sebagai sosok ibunya Mila.
"Masih ingat saya? Saya pasien dokter Evan! Mamanya Mila, teman dokter!" ingatkan Rosalin pada Evan, yang sebenarnya sudah Evan sadari sesaat lalu.
"Ah, ya. Apa kabar?" sapa Evan berbasa-basi, berusaha bersikap profesional sebagai seorang dokter tempat Rosalin pernah berobat.
"Baik, dokter apa kabar? Sehat?" tanya Rosalin lagi ramah, dengan senyuman lebarnya yang tampak lebih lebar daripada saat dia bertemu dengan Thalita sesaat lalu.
"Sehat."
"Oh, ya. Dokter sedang apa di sini? Dokter mau makan siang, ya?" tanya Rosalin, dengan melihat ke arah restoran sejenak.
Tidak menjawab, Evan hanya tersenyum.
"Dokter mau makan siang sama siapa? Temennya, ya?" tanya Rosalin lagi, seperti ingin tahu.
"Saya mau—"
"Kenapa kamu yang datang? Bukannya katanya Mama yang bakal jemput?"
Belum selesai Evan menjawab, tiba-tiba Thalita keluar dari dalam restoran dan berjalan menghampiri Evan dengan raut wajahnya yang kusut.
"Eh, Li—Lita?"
Terlihat kaget, Rosalin menunjuk wajah jutek Thalita yang kini melihatnya.
"Anda belum pergi juga?" tanya wanita itu dingin, melihat Rosalin yang seperti orang kebingungan menunjuk dirinya.
"Engh, dok—dokter Evan…. Kenal sama Lita?" tanya Rosalin ragu, masih menunjuk wajah dongkol Thalita dengan jarinya.
"Iya, dia istri saya." Sahut Evan mantap, sontak membuat kedua mata Rosalin membola.
"I—istri?"
Rosalin yang tidak percaya, kembali menoleh ke arah Evan. Selama ini, dia tidak pernah penasaran dengan wajah suami Thalita. Meskipun dia tahu kalau namanya Evan, tapi dia tidak menyangka kalau itu adalah orang yang sama dengan pria yang dia minta direbut oleh putrinya, Mila.
"Kamu ada urusan sama Ibu ini?" tanya Thalita datar, menoleh pada Evan yang langsung melihat ke arahnya.
"Jadi, kamu kemari karena emang ada janji?" tuduh Thalita tiba-tiba, terlihat lebih kesal dari sebelumnya. "Kirain karena disuruh jemput!"
Sedikit menghentakkan kaki, Thalita membalikkan badannya lagi ke arah restoran. Pikirnya, Evan mengirimkan pesan karena datang untuk menjemputnya. Tapi, ternyata dia salah, dimana Evan datang karena sudah ada janji dengan wanita yang tidak ingin Thalita lihat itu.
"Eh, tunggu! Apaan, sih…."
Belum sampai dua langkah Thalita meninggalkan Evan, pria itu dengan sigap menahan lengan istrinya.
"Aku memang datang buat jemput kamu. Nggak ada janji lain," kata Evan memegang kedua bahu Thalita, dimana dengan ekspresi wajah dongkolnya wanita itu melirik ke arah Rosalin.
Seperti paham, Evan tersenyum kecil dan beralih menyentuh kedua tangan Thalita yang menggantung.
"Ibu ini salah satu pasien di rumah sakit. Nggak sengaja ketemu. Cuma itu kok," jelas Evan lembut, yang tanpa disadari juga membuat Rosalin merasa kaget.
Sejarah dia bertemu dengan pria itu, baru kali ini Rosalin melihat sikap lembut Evan di depannya. Pikirnya, pria itu memang memiliki pribadi yang dingin dan juga datar seperti apa yang sering dia lihat dan diperlihatkan pria itu di depan orang lain.
...Bersambung ...