Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #20



Pasien terakhir siang ini baru saja keluar. Evan menyandarkan bahunya di punggung, sambil menatap ke arah jendela ruangannya yang besar.


Akhir-akhir ini, cuaca cukup ekstrem. Kalau sedang siang, teriknya akan sangat menyengat hingga membuat kulit seperti tergigit. Dan kalau malam, cuaca akan mendung dan terkadang hujan di beberapa tempat. Tidak heran sekarang banyak orang jatuh sakit karena cuaca yang seperti itu. 


Tok! Tok! Tok! 


Evan menolehkan kepalanya ke arah pintu ruangan yang diketuk. Di sana, seorang perempuan berjas dokter seperti dirinya tengah berdiri dan tersenyum lebar namun manis hingga kedua matanya menyipit. 


"Suster Desi bilang, siang ini kamu nggak ada pasien. Mau makan siang di luar?"


Dia adalah dokter Jenna. Teman sejawat Evan yang juga lumayan akrab dengannya. 


Sedikit mendesah, Evan menegakkan tubuhnya. 


"Sebaiknya kita kurangi kegiatan di luar rumah. Cuaca lagi nggak baik," pesan Evan pada dokter muda tersebut, membuat Jenna tertawa. 


"Loh, memangnya kita mau makan di mana? Aku kan mau ajak kamu makan di kantin," kata perempuan itu, kemudian terkekeh. "Jangan bilang, kamu pengen aku ajak keluar?"


Jenna memperhatikan wajah Evan yang datar. Lagi-lagi, pria itu menanggapi ucapannya dengan biasa saja tanpa ada ekspresi yang berarti. 


"Aku belum lapar," tolak Evan halus, kemudian menyandarkan bahunya lagi di kursi. 


Jenna yang melihat itu, sekedar menyipit. Lalu, berjalan menghampiri Evan dan duduk di kursi depan pria itu, tempat dimana biasa pasien Evan berada. 


"Kenapa? Ini udah waktunya makan siang, loh. Seorang yang hampir nggak pernah telat makan, bilang nggak lapar di jam segini?" ujar Jenna, lagi-lagi menyipitkan kedua matanya curiga. 


"Kamu beneran dokter Evan?" kata wanita itu, sukses membuat Evan melirik ke arahnya. Melirik malas, maksudnya. 


Malas merespons, Evan hanya diam sambil membuang kembali pandangannya ke arah luar.


"Come on, Van! Kamu ini kenapa, sih? Pulang honeymoon bukannya keliatan seger, malah kelihatan lesu. Kayak orang yang nggak pernah dapat jatah, tau nggak!" ledek Jenna semangat, membuat Evan kian cemberut mendengarnya. 


Penasaran, Jenna mencondongkan sedikit tubuhnya menimpa meja yang ada di antara dirinya dan juga Evan. 


"Serius, deh. Kamu itu kenapa, sih? Kok keliatannya aneh banget. Apa ada masalah?" tanya Jenna sedikit berbisik, berusaha membujuk Evan untuk bercerita. 


"Nggak ada."


"Bohong!"


"Beneran."


"Huuuuu,"


Evan menoleh malas pada Jenna dengan ekspresi sedikit jengkel. 


"Kamu itu diutus sama mereka buat cari info tentang aku, kan?" tuduh Evan tiba-tiba, pada Jenna yang sontak menaikkan kedua alisnya. 


"Dih, siapa? Enggak!"


"Bohong!"


"Benar."


"Masak?"


Kali ini, giliran Jenna yang terlihat sedikit kesal. Wajah datar Evan serta gayanya yang sangat santai itu berhasil membuat Jenna merasa dipojokkan. 


"Sebenarnya, aku sendiri juga penasaran, sih. Kamu yang katanya cuti seminggu, kok udah masuk kerja aja hari ini? Padahal kamu tau sendiri kan, jangankan ngeliat kamu masuk kerja sebelum cuti kamu abis, dengar kabar kamu nikah kemarin aja, udah bikin seisi rumah sakit heboh! Apalagi ini? Orang mikirnya, kamu itu lebih cinta sama kerjaan ketimbang sama istri kamu sendiri!" ujar Jenna panjang, menunjuk diri Evan dengan sebelah tangannya yang terbuka. 


Tampak perempuan itu begitu semangat mengutarakan rasa penasaran yang sudah dia tahan sejak tadi pagi. 


"Lebay,"


Jenna semakin terlihat berapi-api, di bawah tatapan tenang Evan yang menatapnya sambil mengerutkan dahi. 


"Apalagi dokter Bayu. Dia sampai nggak habis pikir pas ngeliat kamu masuk kerja pas masa cuti kamu itu masih ada. Kamu tau sendiri kan, dia sebagai dokter yang paling sibuk di rumah sakit ini aja pengen dapat cuti lagi. Masa kamu nggak bisa menikmati waktu gitu, sih?"


Melihat Jenna yang mengomel seperti itu, Evan hanya diam memandangnya. Dahinya masih mengerut dalam, sebelum akhirnya dia mendesahkan napas panjang dan membuang pandangannya lagi. Dia tidak menyangka kalau keputusannya untuk masuk bekerja di hari itu akan menimbulkan keributan seperti ini. Namanya saja yang dokter. Tapi kalau sudah berkumpul, jiwa-jiwa ingin tahu dan tukang bergosip mereka pun secara alami keluar. 


Benar-benar menyebalkan. 


Sebenarnya, alasan Evan masuk kerja hari ini adalah karena ingin memenuhi alibinya terhadap Sang Mama yang kemarin terus mempertanyakan alasannya dan Thalita pulang lebih cepat dari Singapura. Demi menghindari kecurigaan dan pertanyaan lain tentang alasan mereka cepat kembali —yang sebenarnya adalah karena masalah yang berkaitan dengan kesehatan Thalita— Evan pun memutuskan untuk bekerja, yang mana hal itu malah membuatnya terjebak dalam kehebohan warga rumah sakit yang terdiri dari dokter, perawat dan semua jajarannya. 


Mendadak, Evan merasa dirinya sudah seperti selebritis di rumah sakit tersebut. 


"Selamat siang, Kak Evan…."


🍂


Pandangan Thalita tidak putus menatap dua orang yang tengah berdiri berdampingan di depannya. Ada Evan, dan satu lagi seorang wanita berpakaian dokter yang tidak Thalita kenal sama sekali. 


"Ini dokter Jenna. Dia ini dokter spesialis kandungan di rumah sakit ini. Beliau juga datang ke acara pernikahan kita kemarin,"


Evan memperkenalkan Jenna yang berdiri tepat di sampingnya. Melihat Thalita yang sejak tadi diam, sambil terus memperhatikan mereka satu per satu. 


Mata Thalita berkedip beberapa kali, sambil berusaha tersenyum dan mengulurkan tangan tangannya. 


"Halo, dokter. Saya… Thalita," ucap Thalita berusaha terlihat ramah, yang langsung dibalas tak kalah ramah oleh dokter muda itu. 


"Jenna. Salam kenal, Thalita," balas Jenna tersenyum lantas melepaskan tautan tangan mereka berdua. 


Kemudian, Thalita kembali memperhatikan Evan dan Jenna. Tadi, sesaat bertanya ke beberapa perawat yang ada di dekat ruangan Evan, dia mendengar salah satu dari mereka mengatakan kalau Evan sedang bersama dengan dokter Jenna di ruangannya. 


Awalnya, Thalita tidak menaruh perhatian dengan informasi itu. Tapi, setelah melihat wujud orang yang bernama 'dokter Jenna' itu, entah kenapa Thalita menjadi sedikit terusik. 


Dari segi penampilan, rasanya Jenna begitu mirip dengan Evan. Maksudnya aura mereka terlihat sama. Seperti putih, dan terasa agak bersinar. Tinggi badannya pun sepadan. Walaupun mungkin tinggi Jenna ini sama seperti Thalita yang memang termasuk dalam kategori tinggi, tapi yang terlihat sekarang Jenna tampak lebih pantas berdiri di samping Evan. 


"Kenapa kamu ke mari? Cuaca lagi nggak bagus. Bukannya aku nyuruh kamu buat istirahat hari ini?"


Evan berjalan satu langkah mendekati Thalita. Berdiri di depan wanita itu dengan wajah datarnya, kemudian menyentuh kening Thalita menggunakan punggung tangannya. 


"Kamu udah minum obat yang aku kasih?" tanya Evan lagi, tetap diperhatikan oleh Thalita sejak mereka berdiri dengan jarak satu jengkal. 


"Udah. Mama yang ngasih obatnya tadi," jawab Thalita, dibalas Evan dengan anggukan. 


"Mama minta aku buat anterin makan siang sekalian kue kesukaan kamu. Kata Mama, kamu suka pie susu yang dibuat sama Mama," 


Thalita mengangkat rantang susun berbahan stainless yang sejak tadi dia pegang ke depan wajah Evan. 


"Harusnya kamu nggak usah repot-repot datang ke sini. Di sini ada kantin, kok," kata Evan, membuat Thalita menurunkan lagi rantangnya dengan ekspresi wajah yang datar. 


"Ini Mama yang suruh,"


"Kalo gitu, lain kali nggak usah."


Entah kenapa, Jenna —yang sejak tadi masih ada disitu— merasa aura antara suami istri itu mendadak berasa dingin. Baik Thalita maupun Evan memang saling menatap, tapi ekspresi mereka seperti saling berperang satu sama lain. 


"Eum, oke. Kalo gitu…."


Sedikit kaku, Jenna mencoba menarik perhatian dua orang itu. Tapi sayang, yang mempedulikannya hanya Thalita yang mungkin juga melihat karena batas menghargai. 


"Saya permisi dulu."


...Bersambung...