
Thalita menundukkan kepalanya dalam. Tanpa sadar, dia menghindari Edwin yang sekarang berada di depannya sambil tersenyum merentangkan kedua tangannya.
"Sekali lagi, Papa ucapin selamat, Thalita. Sekarang, kamu sudah menjadi seorang istri,"
Tubuh Thalita gemetar merasakan tangan Edwin yang menyentuh tubuhnya. Dia takut, tapi tidak bisa berkata apa-apa.
"Papa nggak nyangka, bakal kehilangan kamu secepat ini," ucap Edwin di telinga Thalita, yang mana itu rasanya membuat Thalita semakin tidak tahan.
Ingin sekali dia mendorong tubuh Edwin dengan kencang untuk menjauhinya. Tapi, dia tidak ingin membuat keributan dengan mengatakan hal tersebut. Meskipun itu kalimat menjijikkan itu masuk ke dalam telinga Thalita, bukan berarti orang lain yang mendengarnya juga akan menganggap demikian. Di luar, orang-orang hanya tahu kalau Edwin itu adalah ayah Thalita. Dan rasanya wajar jika seorang ayah merasa kehilangan putrinya yang baru saja menikah.
"Kenapa merasa kehilangan? Kalian kan masih bisa ketemu Lita meskipun dia udah menikah? Hal yang wajar, kalau anak itu mengunjungi orang tuanya kalau kangen,"
Laila yang tidak tahu apa-apa, hanya tersenyum menyentuh punggung Thalita. Dia tidak sadar, kalau kalimatnya barusan terdengar seperti memberi angin segar bagi Edwin yang pasti sudah menyusun rencana bodoh.
"Sebaiknya tidak usah terlalu sering datang. Maksudnya, dia juga harus bisa belajar mandiri dengan jauh dari orang tua," kata Marlia pada Laila, samar melirik Edwin yang sudah melepaskan pelukannya.
"Bukan begitu, Thalita?"
Kali ini, Thalita yang menjadi sasaran tatapan dingin dari Marlia. Perasaan sedih yang biasa dia rasakan kini seperti kalah dengan rasa takut yang lebih mendominasi hari-hari Thalita bersama keluarganya.
"Kalau orang lain mendengar ucapan Ibu ini, bisa jadi orang itu berpikir kalau Ibu nggak suka kalau Thalita datang ke rumah kalian,"
Seperti mewakili Thalita yang enggan menjawab, Evan seenaknya saja membuka mulut dan membuat kaget para orang tua yang ada di sana.
"Evan!" tegur Laila dengan wajah kesal, kemudian tertawa kaku pada Marlia yang sekarang menatap Evan dengan sorot mata tidak suka.
"Maaf ya, Mbak. Anak saya memang seperti itu. Jarang ngomong. Tapi, sekalinya buka mulut, kadang suka nggak bener," kata Laila mencoba merayu Marlia agar tidak marah pada anaknya.
"Ehm, nggak papa, Mbak. Saya juga sudah tau dia itu seperti apa. Cuma, saya agak kaget aja, karena ternyata saya harus merasakan langsung ketajaman lidah menantu saya ini,"
Meskipun tersenyum, tapi baik Thalita ataupun Evan tahu, kalau Marlia itu sedang menyindir Evan di balik kalimatnya.
"Selamat ya, Kak, atas pernikahannya,"
Di sela adu pandang Marlia dan Evan, Axel menyusup di tengah-tengah dengan memberikan senyum serupa persis ibunya pada Thalita.
"Dan… semoga bahagia,"
Thalita hanya menarik napas panjang dan membuangnya sebelum menaikkan pandangan ke arah Axel yang memang sedikit lebih tinggi darinya.
"Makasih," ucap Thalita enggan, mengabaikan tatapan mengejek Axel yang jelas tengah menyumpahinya dalam hati.
"Kamu…."
Melepas pandangan Axel dari Thalita, Evan menarik perhatian dengan raut wajahnya yang mengerutkan dahi menatap adik Thalita itu.
"Ah…."
Seperti ingat akan sesuatu, Axel mendesah panjang dan tersenyum sambil menolehkan tubuhnya ke arah Evan.
"Saya adiknya Kak Lita. Pasti Kak Lita udah ngasi tau sebelumnya, kan?" ujar Axel enteng, seolah dia dan Thalita itu sangat akrab tanpa peduli kalau orang yang tengah dirangkulnya tengah kaget setengah mati.
Tidak langsung menjawab, Evan justru memandang pasangan kakak adik itu dengan dahi yang semakin berkerut dalam.
"Oh, kalian udah pernah ketemu? Kok nggak pernah cerita,"
Laila yang masih dalam posisi tidak tahu apa-apa, malah bertanya ringan tanpa sadar dengan situasi yang ada.
"Iya, Tante. Waktu itu di apartemen Kak Lita. Cuma, karena udah tengah malam jadi saya buru-buru balik dan nggak sempat saling sapa," jelas Axel pada Laila, yang kontan saja membuat wanita paruh baya itu ikut mengerutkan dahi mendengar hal tersebut.
"Di apartemen Lita?" ulangnya, lantas menatap kaget pada Evan. "Tengah malam?!"
Seakan tahu dengan isi kepala ibunya yang menatap Evan dengan sorot mata menuduh, pria itu langsung meluruskan permasalah tersebut dengan cara yang sangat tenang.
"Cuma nganterin vitamin yang kemarin Mama titip buat dia. Abis itu langsung pulang kok," jawab Evan, membuat Laila tersenyum kaku dan menggeretakkan giginya.
"Kenapa harus tengah malam?" geram wanita itu lagi, tak ayal membuat Evan lagi-lagi langsung menjawab.
"Kan Mama bilang harus di antar hari itu juga. Dari pagi sampai malam, Evan sibuk. Jadi, baru bisa antar pas udah pulang dari rumah sakit," jelasnya lagi, kali ini membuat Laila sontak menatap tajam padanya.
Lagi-lagi, seolah mengerti, Evan menarik napas panjang dan berkata, "Abis itu langsung pulang, kok. Tanya aja dia, kalo nggak percaya," tunjuk pria itu pada Thalita, dengan menelengkan sedikit kepalanya hingga membuat Thalita kini menjadi pusat perhatian.
Tidak siap dengan tatapan itu, Thalita yang awalnya sudah merasa tidak nyaman pun langsung tergagap dan menggerak-gerakkan tangannya di udara.
"Ki—kita nggak ngapain-ngapain kok, Ma. A—abis nganter vitamin, Kak Evan nyuruh aku buat masuk ke apartemen karena dia mau langsung pulang," jelas Thalita panik, menatap cemas pada orang-orang di depannya. Terumata Marlia, yang langsung memasang tatapan intimidasi padanya. Dalam hati, Thalita mengira kalau Marlia mungkin akan menuduhnya sebagai perempuan binal yang kerjaannya mencoreng nama baik keluarga.
"Bener begitu?" selidik Laila masih agak curiga, yang mana Evan langsung melirik santai ke arahnya tanpa berbicara apapun.
"Ya udah, lain kali jangan gitu! Kamu bikin Mama ngerasa nggak enak, tau!" ujar Laila mendesah panjang, kali ini membuat Evan mendengus dan menarik senyum separo.
"Ngapain lagi? Orang udah sah gini," balas pria itu mengedikkan bahu sekali, lantas membuang pandangannya ke arah lain.
"Oh, iya… Mama lupa," kekeh Laila sekilas, lantas kembali melihat ke arah Marlia dan keluarganya yang diam saja di tempat dengan ekspresi yang sulit di definisikan.
"Kalau begitu, kami juga bakal pulang sekarang. Kasian, kayaknya Lita udah kecapekan banget dari siang. Belum lagi tadi dia bolak-balik ke toilet, pasti dia ngerasa udah nggak nyaman banget sama badannya," ujar Laila pada Marlia, yang hanya dibalas senyuman singkat dan anggukan seolah tidak begitu peduli.
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati. Kami permisi dulu," ucap Marlia sekali lagi pamit pada Laila, dan memboyong anak serta suaminya menjauhi keluarga baru Thalita itu.
Namun, masih juga dua langkah meninggalkan tiga orang itu, tiba-tiba saja Axel membalikkan tubuhnya lagi dan menatap ke arah Thalita. Dia tersenyum dan memandang kakaknya itu seolah tengah menyampaikan sesuatu, dimana Thalita merasa itu bukanlah sebuah kalimat yang baik.
"Semoga bahagia," ucap Axel kemudian, dimana Laila hanya tersenyum mendengar ucapan anak muda itu terhadap Thalita, tapi tidak dengan orang yang bersangkutan.
Meskipun itu kalimat positif, demi Tuhan, Thalita tahu kalau arti kalimat itu bagi Axel untuk dirinya adalah ejekan dimana Axel tengah mengatainya kalau Thalita pasti tidak akan mungkin bahagia.
......Bersambung......