Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #14



Setelah mengantri panjang, akhirnya Thalita dan Evan segera pun bisa berjalan dengan lapang sambil membawa koper mereka ke arah luar bandara. 


Tidak butuh waktu lama, keduanya pun segera menaiki sebuah taksi yang akan membawa mereka ke sebuah hotel yang sudah direservasi oleh Evan sebelumnya. 


Saat hari menjelang malam, taksi yang mereka tumpangi akhirnya tiba di depan lobi hotel tujuan mereka. Begitu turun, Thalita sempat terpana dengan bangunan yang ada di depannya. Ukuran lobi yang terlihat cukup luas, dengan pantulan cahaya keemasan yang langsung menyiram wajah Thalita saat dia menghadap pintu kaca bangunan tersebut. 


Dari penampilannya, Thalita menduga kalau hotel tempat mereka akan menginap lebih kurang lima hari itu pasti memiliki biaya sewa yang cukup mahal. 


"Kenapa diam? Ayo!"


Terdasar dengan aksi hitung-hitungan mendadak Thalita, wanita itu segera mengikuti Evan yang sudah menarik serta koper Thalita di tangan kirinya. 


Masih dengan mengagumi bangunan bernuansa coklat keemasan itu, Thalita membiarkan Evan berbicara dengan pihak resepsionis. 


Jujur, meskipun Thalita itu memiliki sebuah restoran dan tinggal di apartemen yang cukup bagus, bukan berarti Thalita memiliki uang lebih untuk bisa menikmati hotel mewah seperti tempat yang dia pijak ini. Walaupun disebut sebagai seorang pengusaha, Thalita itu masih berada jauh di bawah nama-nama pengusaha terkenal, yang namanya bisa muncul di majalah-majalah bisnis biasanya. Dia hanyalah orang yang syukurnya berada di atas garis kemiskinan, namun masih berada di bawah garis kelas atas. 


Di tengah aksi bengongnya, lagi-lagi Thalita tersentak saat Evan tiba-tiba meraih tangannya dan menarik lembut meninggalkan lobi tersebut. 


Tanpa bicara, Evan tampak begitu santai berjalan di depan Thalita, sambil tetap memegang sebelah tangan wanita itu, mengikuti seorang bell boy yang sudah membawa koper mereka menuju lift. 


Dengan suasana sepi, akhirnya pasangan suami istri itu beserta pihak hotel sampai di lantai 20 tempat mereka menginap. Di lantai yang mereka datangi, terdapat beberapa pintu unit lain. Tapi, bell boy yang membimbing mereka membawa mereka menuju pintu yang berada di paling sudut lantai tersebut.


"Ini kamar Bapak dan Ibu," ujar bell boy tersebut menggunakan bahasa Inggris, yang tentu saja dapat dimengerti dengan baik oleh keduanya. 


"Terima kasih," ucap Evan pada pekerja tersebut. 


Saat pintu terbuka, situasi ruangan masih gelap gulita. Dan setelah Evan menekan saklar lampu, barulah kedua mata Thalita membola melihat luasnya ruangan tersebut. 


Buru-buru Thalita menyingkap tirai yang menghalangi jendela. Dan begitu terbuka, pemandangan indah dari landscape yang ada di bawah sungguh sangat memanjakan mata. Binar-binar keceriaan langsung tergambar di kedua mata kilau Thalita dengan senyum yang tanpa sadar berukir dengan manis. 


"Cantik banget," gumam wanita itu pelan, mengagumi pemandangan di bawahnya. 


Di barat hotel, ada kolam renang berbentuk persegi panjang yang memantulkan cahaya birunya di bawah kilauan sinar emas dari lampu taman. Sementara di sisi timur, ada beberapa jenis tanaman hias yang juga bermandi kemilau emas dari berbagai sisi. Belum lagi tampilan kota yang ada di luar hotel yang sedikit menanjak, terlihat seperti bintang-bintang yang bertaburan di bumi. 


Benar-benar luar biasa. 


"Kamu nggak mau mandi dulu?" 


Thalita menolehkan kepalanya ke belakang, melihat Evan yang ternyata sudah berdiri di dekat ranjang sambil memegang ponsel di tangannya. 


"Kamu mau makan di kamar, atau di restorannya aja?" tanya Evan kemudian, mengangkat pandangannya ke arah Thalita yang masih diam di tempat. 


"Terserah Kakak aja," sahut Thalita menutup tirai jendela lagi, kemudian berjalan pelan ke arah ranjang. 


Saat masuk tadi, dia benar-benar tidak sadar dengan jenis ranjang yang ada di kamar itu. Satu ranjang, dengan ukuran yang Thalita tebak sedikit lebih besar dari ranjang king size miliknya ataupun Evan. 


"Ya udah, kamu mau makan apa? Biar kita makan di kamar aja. Aku agak capek soalnya," kata Evan menarik perhatian Thalita lagi, sampai menoleh ke arahnya. 


"Mau nasi goreng," sahut Thalita, malah membuat Evan menaikkan sebelah alisnya. 


"Aku pesenin lamb chop aja, ya? Kemarin pas kamu di rumah sakit, aku sempat nemuin sedikit masalah di lambung kamu. Dan nasi goreng itu, eman nggak baik buat kamu yang punya penyakit sakit maag," ujar Evan tegas, langsung melangkah ke arah telepon yang ada di atas nakas dan menghubungi pihak resepsionis. 


Bahkan dia seperti tidak peduli dengan reaksi Thalita yang kaget, karena mengetahui dirinya yang punya riwayat penyakit maag. 


Lalu, tanpa bisa berkomentar apapun lagi, Thalita yang hanya bisa cemberut mengangkat kopernya ke atas ranjang dan hendak menyusun pakaiannya ke dalam lemari. 


Tahu begitu, kenapa Evan malah bertanya pada Thalita yang ingin makan apa, sih? Sok ganteng sekali. 


🍂


Pagi harinya, matahari terlihat begitu cerah. Tidak seperti kemarin, kali ini Thalita yang sudah memasang alarm di ponselnya bangun lebih cepat dari biasanya. Ya, meskipun kecepatannya itu masih tetap kalah dari Evan yang ternyata sudah kembali dari kegiatan lari pagi, tetap saja dia bisa merasa sedikit bangga karena tidak memamerkan lagi raut muka bantalnya yang pasti sangat buruk rupa itu seperti kemarin. 


"Kamu mau mandi dulu, atau mau langsung sarapan?" tanya Evan santai pada Thalita sambil memeriksa ponselnya yang tadi dia tinggalkan saat berolahraga. 


Sedikit bingung, Thalita mengernyit mendengar pertanyaan itu. 


"Emang, kita mau sarapannya dimana?" tanya wanita itu penasaran. 


"Kita bisa pakai layanan hotel. Tapi, kalau mau lebih puas milih menu, kita bisa ke restorannya yang ada di lantai bawah," beritahu Evan masih mengutak-atik ponsel, tanpa melihat istrinya itu sama sekali. 


Tidak berpikir lama, Thalita pun memutuskan untuk pergi mandi lebih dulu. 


Sudah siap dengan handuk dan baju ganti, Thalita yang sudah sampai di ambang pintu kamar mandi terperanjat kaget saat Evan menahan pintu kamar mandinya tetap terbuka. 


"Eh? Kenapa?" tanya Thalita bingung, dengan Evan yang tidak ada bicara apapun malah main masuk saja ke kamar mandi. 


"Kita mandi bareng aja," jawab pria itu santai, kontan membuat kedua mata Thalita membola. 


"Apa?!"


Sedikit berdecak, Evan mendorong pintu kamar mandi yang tadi nyaris ditutup oleh Thalita dari dalam dengan kekuatan yang sangat mudah. 


"Aku gerah, dan juga pengen cepat mandi. Jadi, kita mandi bareng aja," putus pria itu enteng, lagi-lagi membuat Thalita terpaku, terbodoh tidak berdaya. 


Rasanya ada satu ember penuh es yang tersiram dari ujung kepalanya hingga kaki saat mendengar kalimat petaka itu dari mulut Sang Suami. 


"Ka—kalau gitu, Kak Evan mandi duluan aja. Aku—"


Thalita sudah bersikap kabur keluar dari kamar mandi itu, tatkala Evan lebih cepat menahannya dengan menarik handuk yang melilit di sekitar bahu dan tangan Thalita. 


"Kenapa gitu? Kalo mandi berdua kan bisa jadi lebih cepat. Kebetulan, aku udah lapar banget," kata Evan masih juga tenang dan juga datar, hingga membuat Thalita berpikir buruk tentang laki-laki itu. 


Ini Evan memang tidak ada pikiran menjurus kotor, atau bagaimana sih?


...Bersambung...