
Evan terdiam di posisi sambil terus menatap Thalita yang membuang pandangan ke arah lain. Dia merasa, ada yang aneh dengan perempuan itu. Maksudnya, walaupun ini kali pertama Evan berhubungan intim dengan seorang perempuan, dia masih tahu membedakan mana yang masih perawan ataupun tidak lagi.
"Kamu…."
Evan menggantung kalimatnya, melihat ekspresi Thalita. Kecemasan kian jelas di wajah wanita itu, seiring dengan matanya yang semakin terpejam rapat.
Evan yang merasa kecewa seakan tidak bisa berkata apa-apa. Ingin marah, tapi hatinya terasa lemah, ingin berhenti tapi tubuh bagian bawahnya seakan enggan untuk menolaknya.
"Brengsek," maki Evan pada diri sendiri sebenarnya, karena sudah terlihat seperti seorang pria munafik yang menginginkan tubuh perempuan yang ada di bawahnya.
Sementara itu, Thalita yang mengira Evan memaki dirinya, hanya bisa pasrah dengan raut wajah sedih yang dia tahan menyembunyikan rasa sakit di hatinya.
"Woah…. Liar juga kamu rupanya. Aku kira polos," ejek Evan pun menyembunyikan perasaan, dengan mempersiapkan lagi posisi untuk mengayunkan tubuh ke depan.
"Oke, kalau gitu. Jadi, nggak perlu ada yang dijaga-jaga, kan?"
Menahan kekesalan, Evan menyentuh pinggul Thalita dengan kedua tangannya. Meremasnya cukup keras, seakan hendak menyalurkan emosi yang saat ini dia rasakan.
Lalu, tanpa ada kelembutan lagi seperti di awal Evan menggoda tubuh Thalita hingga pada tahap penyatuan tubuh, pria itu mulai memacu tubuhnya di atas Sang Istri dengan gerakan yang kasar.
Suara desah dan erangan yang tidak sengaja keluar dari mulut keduanya meningkahi kerasnya suara benturan tubuh mereka.
Tampak Thalita seperti kesakitan saat Evan menghentakkan tubuhnya berulang-ulang. Ciuman yang diberikan pria itu juga terkesan buru-buru dan sama kasarnya. Seakan dia ingin merobek semua inchi kulit Thalita dengan seluruh bagian tubuhnya.
Rasanya, Thalita ingin berteriak. Menangis dalam diam seperti ini tidak bisa mengurangi rasa pedih di tubuhnya.
"A—ah, a—mpt!"
"Coba aja teriak, kalau kamu mau Mama tau apa yang lagi kita lakuin sekarang," bisik Evan membungkam mulut Thalita dengan telapak tangannya yang lebar.
Dia melakukan itu, karena dia melihat wanita yang sedang digaulinya itu seperti akan berteriak.
"Sssh, sakit, Kak…. Pelan-pelan, aduh…." rintih Thalita akhir meneteskan air mata, meremas pinggang Evan yang terus saja bergerak liar menghantamnya.
Namun, seolah ditutupi oleh rasa marah yang luar biasa, Evan justru semakin mengencangkan gerakannya dan menutup mata Thalita menggunakan sebelah tangan.
Tiba-tiba, dadanya terasa panas. Panas yang seperti akan mendidih, dan membuat Evan jadi ingat akan sesuatu yang sangat menyakiti hatinya sendiri.
"Akh! Akh! Om, sakit! Sakit! Akh, pelan-pelan—"
Evan semakin mengencangkan gerakannya, memejamkan mata rapat ketika bayangan itu kembali naik ke permukaan ingatannya..
"Nikmatin aja, enakkan? Nggak usah takut, di rumah ini nggak ada orang. Jadi, aman kalo kita main-main bentar,"
Tubuh Evan bergetar hebat. Suara pekikan Thalita yang perlahan terdengar keras tidak menyadari pria itu sama sekali. Pikirannya seakan mendengar suara ******* laknat yang pernah masuk dalam telinganya beberapa belasan, atau bahkan puluhan tahun yang lalu.
"Akh! Kak Evan! Kak! Sakit, Kak! Kak Evan!"
Evan seperti tuli, tubuhnya pun semakin bergerak cepat sambil menenggelamkan wajahnya di leher Sang Istri.
"Kak! Sakit, Kak! Kak! Berhenti! Plis! Plis! Plis! Berhenti, Kak! Kaaaaaak—!"
"Argh!"
Dalam satu lolongan panjang, dua orang itu langsung terkulai dengan Evan yang menimpa tubuh Thalita.
Keduanya tampak begitu lemas, dengan napas memburu serta degup jantung yang keras.
"Sialan…." gumam Evan begitu pelan, lantas memukul tempat tidur tepat di sisi kepala Thalita dengan keras.
"Perempuan sialan!"
🍂
Evan memakai celana pendek yang tadi dia lemparkan secara asal ke atas lantai kamar. Wajahnya terlihat begitu datar dan juga ketat, memunggungi Thalita yang masih berbaring tidak berdaya di atas tempat tidur.
"Kemarin aku tanya, apa kamu pernah ciuman sama pacar kamu atau enggak, dan kamu jawab belum. Tapi, apa kenyataannya sekarang?"
"Kamu langsung ngasih keperawanan kamu sama dia, rupanya,"
Thalita yang mendengar hal itu, sontak menolehkan kepalanya dengan cepat. Susah payah dia bangkit dari posisinya menahan pinggang yang seakan retak, sambil menahan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya hingga batas dada.
"Enggak. Aku nggak pernah tidur sama siapapun, Kak!" jawab Thalita tegas, tidak di respons sedikitpun oleh Evan.
Pria itu malah diam menatap Thalita seakan tidak percaya sama sekali.
"Bener. Aku…"
Seperti tersedak, Thalita yang tiba-tiba merasa takut menundukkan sedikit kepalanya untuk menelan ludah susah payah. Setelah itu, dia kembali mendongak dan menatap Evan sambil memelas.
"Aku beneran nggak pernah tidur sama cowok lain," ucap Thalita, lantas suaranya bergetar. "Percaya sama aku,"
Sementara itu, Evan yang masih juga tidak percaya, tanpa sadar mendengus dengan sinisnya.
"Terus, itu apa buktinya? Kamu pikir, aku bodoh sampai nggak bisa bedain mana yang masih utuh, dan mana yang udah robek?" ujar pria itu, membuat Thalita hanya bisa mengulum bibirnya saja.
"Aku kira, kamu itu cuma perempuan yang punya masalah sama keluarganya. Tapi, kayaknya kamu juga punya masalah sama kepribadian kamu sendiri, ya?" tuding Evan dengan kata-katanya, membuat Thalita kembali menatap ke arahnya.
"Maksud Kakak apa?" tanya Thalita bergetar melihat Evan dengan matanya yang sudah berlinang.
"Kamu…!"
Evan yang sudah terlihat sangat geram, maju ke arah Thalita dan mencengkram kedua pipi wanita itu menggunakan sebelah tangannya.
Pasangan suami istri itu lalu saling menatap. Evan yang tampak begitu marah seakan tengah menahan emosi melihat satu per satu kedua mata Thalita. Wajah polos yang ternyata memang menyimpan duri beracun itu mengingatkan Evan akan sesuatu yang sangat menyakitkan.
"Ah, udahlah!" ujar pria itu tiba-tiba, melepaskan tangannya dari Thalita dan kembali menegakkan tubuhnya.
Dia menyugar rambut setengah basahnya yang diakibatkan oleh aktivitas sesaat lalu.
"Kayaknya, apa yang dibilang sama istri dokter Bayu itu bener. Kamu itu, perempuan yang nggak bisa dipercaya,"
"Kak!"
"Apa?!" bentak Evan tak kalah keras, kali ini membuat Thalita meneteskan air matanya.
"Apa… itu penting buat Kakak?"
Entah darimana datangnya pertanyaan konyol itu. Yang jelas, Evan langsung menatap ke arah Thalita dengan pandangannya yang tidak percaya.
"Setidaknya, itu cukup membuktikan bagaimana kelakuan kamu sebelum ketemu sama aku! Kamu pikir, itu nggak penting?"
"Tapi, itu nggak bener!"
"Apanya yang nggak bener, Lita!?" balas Evan lagi, mengagetkan perempuan itu.
"Kalau itu memang salah, terus apa alasannya kamu udah nggak perawan sekarang? Apa kamu bisa jawab?"
Dengan wajah emosi, Evan kembali mendekatkan wajahnya pada Thalita. Saling memandang, dimana Thalita hanya diam dengan mulutnya yang gemetar.
Sebenarnya, Thalita itu adalah tipe wanita yang kuat. Maksudnya, dia tidak mudah sedih ataupun menangis jika menghadapi orang lain. Bahkan, dia siap berkelahi kalau memang itu diperlukan untuk mempertahankan egonya. Hanya pada keluarganya saja dia bisa bersikap lemah. Pada orang-orang yang dia sayangi dan pedulikan, Thalita tidak mengeluarkan sikap angkuhnya yang luar biasa.
Apa tanpa sadar dia sudah menganggap Evan itu istimewa?
Geram dengan sikap Thalita yang menurutnya mudah sekali menangis, Evan hanya mengerang tanda kesal. Sikap tenang dan datar yang biasa dia tunjukkan tidak terlihat sama sekali dengan tumpukan emosi yang ada di wajahnya.
Dalam hatinya, semua wanita yang mendekatinya itu ternyata sama saja. Ada yang terlihat polos dan lugu seakan memerlukan bantuan, dimana pada kenyataannya hanya mempermainkan Evan saja.
Lalu, tanpa bicara sama sekali, dia pergi keluar kamar membawa serta kaos yang belum sempat dia kenakan.
......Bersambung......