Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #44



Rasanya hari ini perasaan Evan sedikit ringan. Meskipun kemarin dia merasa harinya itu sangat berat dan juga memusingkan, tapi perlahan Evan merasa beban itu seperti mengurai dari hatinya. Entah ini karena tadi malam dia merasa puas bermain-main dengan Thalita, atau hatinya merasa nyaman tatkala wanita itu akhirnya mau bercerita pada Evan tentang apa yang selama ini mengganjal di hati pria itu.


"Aku nggak pernah sekalipun disentuh sama laki-laki lain. Cuma Kak Evan aja. Dan soal keperawan itu…"


Evan kembali merasa kesal. Kalau sudah membahas hal satu itu, entah kenapa dia merasa jengkel bukan main. Bukan masalah tentang istrinya yang ternyata sudah tidak perawan lagi saat menikah. Tapi lebih kepada cara wanita itu kehilangan keperawanannya.


"Memang sekalinya brengsek, tetap aja brengsek." Maki Evan sambil menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya dengan cara sedikit kasar.


"Waktu itu, Axel lagi kesal. Jadi, seperti biasa, dia butuh sesuatu yang bisa dia jadikan tempat untuk menyalurkan emosinya. Kebetulan waktu itu, aku lagi di kamar. Kalau nggak salah, aku masih duduk di kelas 2 atau 3 SMP waktu itu, pas Axel tiba-tiba aja masuk ke dalam kamarku dan mulai mukulin aku. Aku yang kesakitan pengen lari. Aku keluar kamar, dan berusaha untuk turun dari tangga. Tapi, ternyata Axel lebih cepat sampai akhirnya di dekat tangga, dia narik aku sebelum akhirnya dia kesal dan malah mendorong aku jatuh dari tangga."


"Apa Mama kamu ngelihat, kejadian waktu itu?"


Kedua mata Evan yang sesaat lalu terpejam, perlahan terbuka tatkala dia ingat dengan pertanyaannya malam itu.


Dengan wajah polos yang sangat jarang Evan lihat, wanita di dalam pelukannya itu mengangguk.


"Ada. Mama dan Papa ngeliat kejadian itu. Pun waktu aku udah ngeluarin banyak darah, bukannya membela aku, mereka malah sibuk memarahi aku karena mencoba lari dari Axel."


Tanpa sadar, Evan tertawa. Tawa kering yang menyimpan rasa pedih dan tidak percaya. Bagaimana bisa, istrinya tumbuh dengan seorang wanita yang seperti itu? Menyebut dirinya sebagai ibu, namun bersikap seolah seperti tyrant yang tidak punya hati.


 


Sesaat kemudian, senyum pedih Evan memudar. Dia ingat dengan perkataan Thalita berikutnya, yang berhasil membuat dia benar-benar tidak habis pikir.


"Maafin aku, Kak. Sebenarnya, waktu itu Mama udah pernah nyuruh aku buat operasi keperawanan. Tapi, aku nggak mau. Aku benar-benar nggak peduli, kalau nanti suamiku marah atau kecewa kalau tahu aku udah nggak perawan lagi. Toh, jaman sekarang banyak kan, perempuan nikahnya udah nggak suci?"


Evan menatap Thalita dengan sorot mata tidak percaya. Lalu, wanita yang tadi malam menatapnya itu dengan mata seorang anak kecil buru-buru menundukkan kepalanya lagi.


"Tapi sekarang aku nyesel. Andaikan aja waktu itu aku nurut sama Mama buat operasi, Kakak pasti nggak bakal kecewa dan marah gini kan?"


"Emang kenapa kalau aku kecewa. Bukannya kamu bilang tadi nggak peduli?"


Dan pertanyaan itu pun tidak mendapatkan jawaban apapun dari Thalita. Wanita itu hanya diam, sambil terus memeluk pinggang Evan hingga akhirnya pagi menjelang.


Sekali lagi, Evan menarik napas panjang. Kerusakan yang pernah dia maksud ada pada diri Thalita itu dia yakin ada dibagian hati. Pikiran, karena cara pandang wanita itu yang jelas sekali berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya.


Bagaimana bisa, dia menyesal tidak menuruti ucapan orang yang sudah menghancurkan kehidupannya? Bagaimana? Bagaimana bisa?


Ingin rasanya Evan berteriak dan memukuli keluarga istrinya tersebut. Tapi dia yakin, istri bodohnya itu pasti akan langsung berlari mencegahnya seperti apa yang sudah terjadi sebelum ini.


Clek!


"Van!"


Evan yang tadi sedang sibuk dengan pikirannya, kaget dengan pintu ruangannya yang terbuka secara tiba-tiba.


Sosok wanita yang berusaha dia hindari beberapa waktu ini muncul di depan sana dan menatapnya dengan sorot mata yang berbeda.


"Bu! Ibu! Bukannya udah saya bilang, untuk tidak masuk sembarangan seperti ini? Anda harus membuat janji dulu kalau ingin bertemu dengan dokter Evan!"


Di belakang wanita itu, Dinda yang sepertinya habis berlari-larian mengejar langkah kaki Mila, tampak kesal sambil menahan lengan wanita itu.


Tapi, bukannya sadar diri, Mila justru tidak mengindahkan teguran dari Dinda dengan terus menatap tajam pada Evan.


Sementara itu, Dinda yang merasa tidak enak pun hanya melirik Evan sejenak sebelum akhirnya pamit undur diri.


Sekarang di ruangan itu, hanya tersisa Mila dan Evan saja. Keduanya saling memandang tajam dengan ekspresi mata yang berbeda.


”Jadi apa yang membuat kamu datang ke sini dan bersikap tidak sopan seperti itu?" tanya Evan memulai, sambil menyandarkan punggung di kursi kerjanya.


Awalnya Mila terlihat ragu. Namun, secara perlahan dia kembali menutup pintu ruangan dan berjalan ke arah kursi yang berseberangan dengan pria itu.


"Sebelumnya aku mau nanya," ucap Mila masih terlihat agak ragu. Nyalinya yang tadi terlihat tinggi, seakan memudar setelah bertemu mata dengan pria yang dulu pernah dicintainya.


Tidak menjawab dan hanya diam memperhatikan wajah wanita itu.


Sedikit menggigit bibir bawahnya, Mila mulai berpikir untuk merangkai pertanyaannya. Pikirnya, apakah dia berhak menanyakan hal tersebut?


"Sebelumnya, apa benar kamu udah nikah?" tanya Mila dengan suara pelan yang terdengar begitu samar di pendengaran Evan.


Lagi-lagi, Evan hanya diam. Menatap datar wajah Mila, yang secara perlahan juga kembali menatap pria itu.


Satu detik, dua detik saling memandang, akhirnya Evan pun menganggukkan kepalanya. Seketika perasaan Mila pun hancur melihat hal itu.


Rasanya dia tidak bisa berkata apapun  lagi, karena tidak berpikir kalau dia akan mendapatkan  jawaban demikian dari Evan. Egonya yang menolak informasi dari Aris membuat Mila tidak menyiapkan pertanyaan berikutnya andai apa yang dikatakan oleh pria itu adalah benar.


"Jadi kamu udah punya istri?" gumam Mila bergetar, bersama dengan tubuhnya yang seperti lunglai tidak terdaya.


"Kenapa?" tanya Mila tidak fokus, dengan lirikan mata liar ke sana dan ke mari. Membuat Evan sedikit bingung, hingga tidak sadar mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Apa?" tanya pria itu akhirnya, kali ini membuat tatapan Mila tertuju padanya.


"Kenapa? Kenapa kamu menikah? Kamu…. Kamu…."


Mila yang jelas terlihat seperti orang kebingungan kembali menatap ke arah lain. Dia seperti memutar otak, tapi tidak menemukan satu kalimat pasti untuk diutarakan pada pria itu.


"Memangnya, kenapa orang lain bisa menikah? Apa itu kelihatan aneh buat kamu?" tanya Evan dingin, dengan sorot matanya yang tidak bersahabat sama sekali.


Seketika, Mila merasa wajahnya seperti disiram oleh air.


"Tapi… tapi…, aku—"


Mila ingin mengatakan kalau dia masih mengharapkan Evan. Demi dirinya, dan demi keluarganya. Tapi, lidahnya terasa kelu hingga dia tidak bisa berkata-kata dan bersikap gagu di depan pria itu.


"Aku nggak tau kamu dengar kabar ini dari mana. Tapi sayangnya, kamu terlalu lambat untuk mendengarkan berita ini,"


Evan pikir, mungkin Mila mendengar kabar pernikahannya itu dari para perawat yang ada di rumah sakit ini. Makanya dia bilang, Mila itu terlalu lama mengetahui kabar pernikahan Evan, mengingat dia tahu wanita itu sudah cukup sering datang ke tempatnya bekerja ini hanya untuk menemui Evan.


Andai dia tahu, kalau kabar pernikahannya itu Mila dapatkan dari Aris, ayahnya Evan, bisa jadi sikapnya tidak akan tenang seperti sekarang.


Masih dengan suasana canggung dan juga kaku, Mila yang sepertinya belum bisa menguasai diri menatap lesu pada Evan yang berdiri dari kursinya. Berjalan tegas menuju pintu ruangan, dan membukanya sambil mengarahkan tangan ke arah luar.


"Silakan pergi, kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi,"


...Bersambung ...