
Sesampainya di rumah, Thalita langsung turun dari dalam mobil. Berjalan ke dalam rumah dengan langkah lebar tanpa menoleh sedikitpun ke arah belakang.
"Eh, Nyonya muda udah pulang?"
Bik Asih, asisten rumah tangga kediaman Evan menyambut Thalita yang masuk ke dalam rumah dengan senyumannya. Namun, Thalita yang sedang marah hanya membalasnya sekilas, sebelum akhirnya berlalu ke dalam kamar.
Tak berapa lama, terlihat Evan juga masuk ke dalam rumah dengan wajahnya yang terlihat lesu.
"Tuan dan Nyonya muda mau makan siang sekarang?" tanya Bik Asih agak ragu, merasa kalau ada suasana yang aneh antara dua majikan mudanya tersebut.
Tampak Evan tidak langsung menjawab. Dia hanya melihat ke arah pintu kamarnya dan Thalita yang tertutup, seakan tengah memikirkan sesuatu yang cukup berat.
"Bik, saya mau minta tolong. Sekitar lima atau sepuluh menit lagi, dia juga nggak keluar untuk makan, tolong Bik Asih antarkan aja makan siangnya ke kamar. Mungkin sekarang dia lagi nggak mau diganggu," pinta Evan pada Bik Asih, membuat wanita yang usianya sama dengan ibu Evan itu menipiskan bibirnya.
Benar yang dia tebak, dua sejoli itu pasti sedang ada masalah sekarang.
"Kalau gitu, apa Tuan Muda mau makan sekarang?" tawar Bik Asih lagi pada Evan, yang kali ini dibalas pria itu dengan sebuah gelengan ringan.
"Saya makan di rumah sakit aja," sahut pria tersebut.
Bik Asih yang mengerti situasi pun hanya bisa mengangguk. Dilihatnya Evan menoleh sekilas ke arah pintu kamar, sebelum akhirnya pamit untuk pergi lagi dari rumah.
Sementara itu, Thalita yang ada di dalam kamar pun, menekuk lututnya di atas ranjang. Wajahnya terlihat merah dengan napas yang sedikit memburu.
Tiba-tiba dia merasa hatinya begitu kacau. Seperti ingin menangis, tapi malu kalau nanti ketahuan oleh Evan. Dia tidak mau terlihat lemah lagi di depan pria itu. Sudah cukup selama ini dia berusaha menarik perhatian laki-laki itu dengan bersikap baik di depannya. Menjadi wanita yang sempurna, tanpa ada cacat cela di sifatnya.
Tapi, ternyata itu semua tidak berguna. Evan punya wanita lain di sisinya. Pantas semua yang dilakukan Thalita selama ini untuk menjadi seorang istri yang baik tidak terbaca oleh pria itu. Satu-satunya hal yang dihitung Evan sebagai tugas Thalita menjadi istrinya adalah melayani pria itu di atas tempat tidur. Sisanya, dia hanya menganggap Thalita sebagai seorang wanita yang punya masalah mental dan perlu dikasihani.
Benar-benar empati yang luar biasa, hingga membuat Evan berpikir untuk bisa menikahinya.
Tanpa pikir panjang, Thalita bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan sebuah koper besar dari dalamnya. Mengangkatnya kasar ke atas tempat tidur dan segera membukanya.
Thalita ingin pergi dari rumah itu. Dia ingin meninggalkan Evan, sebagaimana dulu dia meninggalkan Marlia meskipun sangat mencintainya. Pikirnya, dia mungkin benar-benar akan mati jika terus berada di sisi pria itu.
Saat mulai mengepak bajunya, Thalita tiba-tiba teringat dengan dirinya yang begitu sakit tanpa kehadiran ayah di sampingnya. Bagaimana jika nanti anaknya merasakan hal yang sama?
"Tapi, Kak Evan juga nggak punya ayah. Apa…."
Mendadak, dia juga teringat dengan Evan. Seingatnya, dia tidak pernah mendengar soal ayah Evan sejak menikah. Apakah ayah mertuanya itu masih hidup, atau memang sudah meninggal?
Tanpa sadar, wanita itu menghembuskan napas. Sejarah dia menikah, tidak sekalipun dia mencari tahu tentang Evan lebih dalam. Maksudnya, tentang keluarganya dulu barangkali? Bagaimana bisa dia bilang mencintai pria itu sementara dia tidak cukup mengenal Evan dengan baik?
🍂
"Apa Papa kamu udah meninggal?"
Evan yang baru saja pulang dari rumah sakit dan ingin berganti baju, menghentikan gerak tangannya yang membuka kancing kemeja. Menatap Thalita yang duduk di atas ranjang lewat cermin di depannya, tatkala pertanyaan itu keluar dari mulut Sang Istri.
"Untuk apa kamu nanyain itu?" tanya Evan tidak suka, melihat Thalita sedikit memiringkan kepalanya.
"Karena aku mau tau,"
"Kenapa kamu mau tau?"
"Ya, karena itu mertua aku!" sahut wanita itu cepat, sedikit menegakkan tubuh menatap Evan tajam. "Kenapa? Apa aku udah nggak berhak lagi buat nanya-nanya tentang keluarga kamu?" tuduh Thalita berikutnya, seketika membuat Evan terdiam.
Pria itu lanjut membuka kancing kemeja yang dia pakai dan membuangnya sedikit kasar ke keranjang kain kotor.
Dia tetap bungkam saat berbalik dan mengambil kaos yang ada di dalam lemari. Raut wajahnya sudah terlihat lebih menghitam seperti menggambarkan suasana hatinya yang buruk.
"Kak!"
"Apa?"
"Kamu belum jawab pertanyaan aku."
"Pertanyaan kamu yang mana?!" balas Evan sedikit meninggi, saat berjalan ke arah kamar mandi.
Kalau biasanya Thalita akan menciut mendengar suara Evan yang kuat dan raut wajahnya yang ketat, beda hal dengan sekarang, dimana wanita itu tampak tidak peduli dengan hal tersebut.
"Pertanyaan tentang keberadaan Papa kamu. Apa beliau udah meninggal, atau—"
Thalita diam menggantung kalimatnya saat melihat Evan memijat kepalanya sendiri.
"Udah nggak ada."
"Meninggal, maksudnya?" tanya Thalita memastikan, melihat wajah Evan yang menatap ke arah bawah.
"Mungkin." Sahut Evan pelan, kemudian membuat suasana di antara mereka menjadi sunyi.
Tidak perlu dijelaskan lagi pun, Thalita tahu arti dari kalimat tersebut. Bahwa sebenarnya Evan sendiri pun tidak tahu tentang keberadaan dan kondisi ayahnya sekarang.
"Udah berapa lama?" tanya Thalita pelan, melihat Evan yang menoleh ke arahnya.
"Apanya?"
"Papa pergi,"
Thalita memperhatikan wajah Evan lekat. Samar dia meneliti reaksi pria itu yang seakan menyimpan sebuah kekecewaan yang begitu besar.
"Udah lama. Lupa kapan," jawab pria itu jutek, lantas membuang lagi pandangannya ke arah lain.
Kini, Thalita terdiam. Membuang pandangannya juga ke arah lain, dengan raut wajah seakan memikirkan sesuatu yang cukup berat.
"Sekarang aku tanya, kenapa kamu nanyain hal itu? Apa ada sesuatu yang mengganggu kamu?" tanya Evan gantian, menarik perhatian Thalita ke arahnya.
"Nggak ada,"
"Yakin?"
Evan terus meneliti reaksi istrinya itu. Sampai akhirnya dia melihat Thalita menarik napas panjang, dan membuangnya secara perlahan.
"Aku cuma baru sadar, kalo kita ternyata sama-sama nggak punya ayah," sahut Thalita pelan.
"Terus?"
Wanita itu tidak menjawab. Dia malah menyentuh perutnya samar, yang mana itu bisa diperhatikan oleh Evan yang ada di depannya.
"Kamu takut, aku nggak bisa jadi ayah yang baik buat anak kita?" terka Evan tepat sasaran, sontak membuat Thalita menatap lelaki itu.
Tidak menyangka kalau tebakannya itu benar, membuat Evan langsung mengerutkan dahi tidak percaya.
Jadi, perdebatan ini terjadi karena Thalita tidak percaya kalau Evan akan menjadi ayah yang baik untuk anak mereka?
"Kamu serius mikir kayak gitu?"
"Emangnya, enggak?"
Evan yang sama sekali tidak paham dengan jalan pikiran Thalita, kembali terbengong menatap wanita itu.
Sedikit mengatur pikiran, Evan menarik napas panjang dan membuangnya kembali.
"Dengar ya, Ta…."
Sekarang, Evan mendekat. Duduk di atas tempat tidur tepat di sebelah Thalita, yang mana wanita itu langsung memasang sikap waspada.
"Aku memang dewasa tanpa kehadiran sosok ayah dalam hidupku. Tapi bukan berarti aku nggak tau gimana caranya untuk ayah yang baik. Setidaknya, aku nggak bakal melakukan apa yang dilakukan oleh Papaku dulu. Aku nggak mau anakku kelak merasakan sakit yang pernah aku rasakan."
Evan menyentuh kedua bahu Thalita dan menatap lekat wanita tersebut.
"Kamu ngerti kan?" tanya Evan memandang satu per satu mata Thalita, yang masih juga terlihat ada tembok dalam sikapnya.
"Memangnya…. Apa yang udah Papa kamu lakuin?" tanya Thalita tiba-tiba, membuat Evan mengerjap.
"Ya?"
"Kamu bilang, kamu merasakan sakit karena Papa kamu. Emang, apa yang dia lakuin?" tanya Thalita lebih jelas, pelan namun pasti membuat sikap Evan tampak berubah, hingga wajahnya kembali muram.
...Bersambung...
Mumpung bisa up, aku up malam ini 😅
Terus dukung cerita ini ya, semua....😉
Terima kasih 🌹