
Thalita tiba di basement apartemennya saat waktu menunjukkan hampir tengah malam.
Setelah menyalakan alarm mobilnya, Thalita bergegas menuju ruangan lift yang ada di dekat tempat dia parkir. Menekan tombol lantainya berada, dan bersiap akan masuk, ketika pintu lift itu terbuka.
"Wow, baru pulang, nih?"
Tubuh Thalita seketika membeku mendengar suara yang cukup familiar di telinganya. Saat dia menoleh, dia terlihat kaget dengan kehadiran Axel yang masuk ke ruangan tempat lift, dimana Thalita berada saat ini.
"Lo biasa pulang tengah malam gini?"
Tidak ingin merespons pertanyaan Axel, Thalita buru-buru masuk ke dalam lift yang sudah sejak tadi terbuka. Dengan cepat menekan tombol unitnya berada, sampai akhirnya dia terkejut dan membatu dengan Axel yang langsung berlari mengikutinya masuk ke dalam lift.
Suasana lift mendadak hening. Hanya dengung mesin pengangkut saja yang terdengar dengan deru napas Axel yang terdengar berat di sisi Thalita.
Saat merasa Axel bergerak, Thalita maju satu langkah sedikit ke arah pintu lift.
"Di sini ada CCTV. Kalo lo mau macam-macam, gue bisa dengan mudah nuntut lo," ancam Thalita datar, tidak melihat ke arah Axel yang sejenak terdiam dan menoleh ke arah kanan atas.
Melihat lampu CCTV yang merah tanda menyala, cowok yang lebih muda tiga tahun dari Thalita itu tampak menyeringai.
"Lo itu kenapa, sih? Ya kali gue mau macam-macam sama Kakak gue sendiri,"
Seketika Thalita merasa merinding di sekujur tubuh belakangnya. Tangan Axel terasa seperti mengintimidasi Thalita dengan mengusap kepala gadis itu dari atas hingga bawah.
"Mau apa lo kemari?" tanya Thalita memejamkan matanya, tidak melihat bayangan Axel di pintu lift yang terlihat begitu menyeramkan sambil tersenyum.
"Gue dengar… lo mau nikah,"
Rasanya napas Thalita sulit untuk dikeluarkan tatkala Axel semakin memajukan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Thalita.
"Bisa banget lo ya, nikah tanpa sepengetahuan gue," katanya berbisik, membuat tubuh Thalita mulai bergetar hebat.
"Gu—gue," Thalita menelan ludahnya susah payah karena tercekat saking gugupnya.
"Gue nggak punya kewajiban buat ngelapor sama lo. Gue—"
"Nggak punya?" geram Axel tertahan, membuat Thalita yang merasakan emosi pemuda itu semakin takut sampai memejamkan matanya kuat.
Tangan Axel sudah terangkat, hendak menampar wajah Thalita bersamaan dengan pintu liftnya yang terbuka.
Satu detik, dua detik, Thalita tidak merasakan pukulan Axel di tubuhnya, perlahan membuka mata.
Dan apa yang dilihatnya pertama kali adalah, sesosok tubuh semampai tengah berdiri cukup gagah di depannya.
"Do—dokter Evan?" gumam Thalita begitu pelan, nyaris tidak terdengar.
"Lama banget. Hampir aja aku balik, kalo kamu nggak muncul dari lift ini," kata Evan menolehkan kepalanya lagi pada Thalita.
"Nggak mau keluar?" tanya Evan kemudian, sontak menyadarkan Thalita yang terbengong di dalam lift untuk keluar.
Axel yang menyadari hal itu hanya menaikkan sebelah alisnya melihat Thalita yang masih memunggunginya.
Tanpa bicara, Axel yang tampaknya masih kesal dan semakin bertambah kesal dengan keberadaan Evan di sana, memutuskan untuk tetap berada di dalam lift, kemudian menekan tombol lantai basement pada dinding mesin pengangkut tersebut.
Sedangkan Evan yang melihat itu, tampak merasa aneh sambil melirik lagi ke arah Thalita.
"Siapa?" tanya pria itu pada Thalita, yang jelas terlihat pucat dan napas yang sedikit memburu.
"Hah?"
Tidak fokus dengan pertanyaan Evan, Thalita terlihat linglung hingga lagi-lagi membuat Evan merasa bingung.
"Udah malam. Sebaiknya kamu cepat masuk dan istirahat. Aku cuma mau antar titipan ini untuk kamu. Itu vitamin dari Mama. Katanya, jangan terlalu capek dan harus banyak istirahat," pesan Evan cukup panjang, memberikan sebuah paper bag berukuran sedang pada Thalita yang masih terlihat melongo menerimanya.
Setelah mengantarkan gadis itu ke depan unit apartementnya —yang memang sudah Evan ketahui dari Thalita sendiri— pria itu pun segera berlalu meninggalkan Thalita yang terpaku.
🍂
Axel mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Sambil mengumpat, dia sesekali memukul kemudi mobil cukup keras.
Wajahnya terlihat menyimpan kekesalan yang amat luar biasa. Sambil membayangkan wajah Evan, dia terus menggumamkan kata-kata kasar seperti sumpah serapah.
"Jadi itu, cowok yang dipilihkan Mama untuk Thalita?" ujar pria itu di salah satu gumamannya.
Meskipun baru pertama kali melihat, Axel bisa menilai kalau Evan itu bukanlah orang yang bisa dilawan dengan seenaknya. Walaupun tubuh Evan itu kurus, tapi dari lengannya yang ditunjukkan di sela lipatan lengan kemeja putihnya itu, Axel yakin kalau Evan lumayan mahir dalam hal bertinju. Bisa jadi, kalau tadi Axel tidak menyadari Evan dengan segera, satu pukulan mungkin sudah melayang di wajah Axel saat ini.
"Mama nggak peduli, cowok itu suka sama Thalita atau enggak. Mama juga nggak mau tau, gimana dia nanti memperlakukan anak itu ke depannya. Yang penting buat Mama, anak itu menikah dan keluar dari keluarga kita. Mama udah muak sama anak itu yang terus aja nempel sama Mama. Kayak lintah, tau nggak! Keluar dari rumah ini aja nggak cukup buat anak itu berhenti muncul di depan kita. Tipe anak nggak tau diri itu emang harus dilemparkan ke tempat yang baru. Atau kalau perlu ke kandang yang baru, biar nggak bisa kelayapan seenaknya."
Axel menyeringai mengingat apa yang dikatakan oleh Marlia sore tadi. Saat Axel bertanya tentang pendapat Marlia, andai saja orang yang dijodohkan oleh ibunya itu adalah tipikal pria yang tempramental ataupun kasar, Marlia tampak sangat tidak peduli sama sekali. Bahkan dari beberapa kalimatnya, Axel yakin mendengar kalau calon suami Thalita itu adalah bukanlah tipe laki-laki hangat ataupun ramah pada orang lain. Beberapa dikenalkan pada wanita, tampaknya tidak seorang wanita pun yang bisa bertahan dengan model pria semacam itu.
Berpikir sedikit lama, raut wajah Axel yang tadinya seperti diselimuti kabut hitam, perlahan mulai mengendur. Senyum tipis pelan-pelan mulai terukir di sudut bibirnya yang berubah menjadi tawa. Bagus sekali, kalau misalnya Evan itu merupakan sosok yang tidak jauh berbeda dengan Axel. Malah, dia berharap Evan itu lebih kejam lagi hingga membuat Thalita berpikir kalau apa yang dilakukan Axel selama ini terhadap memang tidak ada apa-apanya.
"Oke, Thalita. Untuk sekarang, gue mundur dulu. Kita lihat, tipikal kayak apa orang yang bakal jadi suami lo itu. Semoga, dia emang lebih gila lagi daripada gue," gumam Axel terlihat senang, melihat kiri kanan dengan raut wajah berbinar layaknya orang yang tidak sabar menunggu kejutan yang sangat menggembirakan.
"Gue benar-benar nggak sabar, ngeliat kehidupan lo setelah ini," tambah Axel lagi, lantas tidak bisa menahan gurat kebahagiaannya sampai harus tertawa terbahak-bahak.
......Bersambung......