Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #60



Pagi hari, Evan yang sudah siap dengan kemeja putihnya melirik ke arah ranjang tidurnya bersama Thalita. Di sana, dia melihat istri yang biasanya sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja, malah bersantai dengan sebuah majalah di tangannya.


Piyama tidur yang cukup jarang dia pakai —karena lebih sering menggunakan gaun tidur yang tipis— masih melekat di tubuhnya yang ramping. Rambutnya yang agak kusut, dia gulung secara acak di kepalanya. Terlihat berantakan memang, namun sekaligus seksi karena leher putihnya yang terlihat jenjang.


"Kamu nggak siap-siap ke restoran?" tanya Evan heran, melihat Thalita dari cermin di depannya sedang melirik ke arah jam dinding kamar mereka.


"Bentar lagi."


"Bentar lagi?"


"Hm, jam 10," sahut Thalita masa bodoh, masih sibuk dengan majalah —entah apa di tangannya.


Evan melihat ke arah dinding. Tepatnya pada jam yang kini sudah menunjukkan pukul delapan kurang kurang lima belas menit.


"Tumben kamu pergi lama,"


"Emang kenapa? Nggak boleh?"


"Bukan, cuma tumben aja."


Di tengah kegiatannya yang berselonjoran kaki di atas ranjang, dia melirik ke arah Evan sejenak.


"Itu restoran aku. Suka-suka aku, dong." Sahut Thalita 


Evan terpaku sesaat mendengar kalimat itu. Dia berhenti memperhatikan Thalita yang tampak masa bodoh dari cermin yang ada di depannya.


Tidak ingin cari ribut, Evan pun hanya mampu menggeleng. Membalikkan tubuhnya dari cermin dan berjalan menuju pintu kamar mereka.


Melihat gelagat suaminya yang akan keluar, Thalita pun turut bergegas. Dia menutup majalahnya, kemudian mengikuti langkah suaminya keluar dari dalam kamar.


Sampai di meja makan, mereka langsung disambut oleh suara denting alat makan yang tengah disiapkan oleh asisten rumah tangga mereka yang mana Laila juga sudah pasti ada di sana.


"Kalian udah siap?" tanya Laila tersenyum sambil meletakkan semangkuk sup yang masih mengeluarkan asap, sebelum menoleh ke arah Thalita yang muncul di belakang Evan.


"Loh, Lita nggak kerja?" tanya Laila persis pertanyaan Evan, saat melihat Thalita yang masih mengenakan pakaian tidur.


Sama seperti responsnya terhadap Evan, Thalita yang tadinya sibuk memperhatikan makanan di atas meja, menolehkan kepala ke arah Laila, dan melirik ke arah Evan.


"Enggak." Sahut wanita itu datar, namun terlihat tidak senang dari ekspresi wajahnya.


Pikirnya, mungkin Laila merasa terganggu jika dia tidak bekerja hari ini.


"Oh, bagus deh. Kamu emang harus banyak-banyak istirahat."


Bukannya seperti apa yang Thalita pikirkan, Laila justru tersenyum dengan wajah sumringahnya memberikan segelas susu pada Thalita.


"Duduk. Biar Mama yang nyiapin sarapan buat kalian,"


Laila terlihat seperti ibu-ibu cekatan pada umumnya. Dia tampak begitu terlatih dengan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Meski kenyataannya dia itu termasuk seorang pengusaha. Tapi dia tidak gagap dalam mengurus hal di meja makan.


Evan dan Thalita sempat saling melirik dengan sikap Laila. Tapi, bukannya mengalah, Thalita justru membuang pandangan lebih dulu dari Evan.


🍂


"Loh, tadi kamu bilang nggak pergi kerja hari ini. Kok kamu udah rapi aja?"


Laila yang sudah siap ingin berangkat bekerja, tampak kaget dengan Thalita yang juga keluar dari kamar tidurnya dengan penampilan rapi khas wanita itu saat akan pergi kerja.


"Iya, aku bukannya nggak kerja, Ma. Cuma masuk agak siangan aja," kata Thalita menutup pintunya, kemudian berjalan dekat ke arah Laila.


"Kenapa nggak istirahat di rumah aja, sih? Kamu nggak boleh terlalu capek, loh."


Laila menatap Thalita dengan raut wajah membujuk. Namun menantunya itu, seperti tidak terpengaruh dan tetap berwajah datar.


"Aku juga nggak bakalan capek-capek banget kok, Ma. Ada Saras yang bakal bantuin kerjaan aku di restoran," sahut wanita itu, seakan tidak menunggu balasan dari Laila yang masih menatapnya.


"Kalo gitu, aku duluan ya, Ma."


Thalita ingin segera pamit. Namun, dengan cepat pula Laila menahan tangannya dan berkata, "Tunggu!" hingga wanita itu berhenti.


"Nggak usah, Ma. Aku bisa bawa mobil sendiri."


"Tapi, Mama khawatir," ujar Laila, masih menahan lengan Thalita yang seperti tidak sabaran untuk pergi dari hadapannya.


"Mama antar aja. Kamu pulangnya jam berapa?" tanya Laila pada menantinya itu, dimana Thalita seperti memutar matanya untuk berpikir.


"Mungkin makan siang nanti. Aku nggak bakal lama-lama juga kok, di restoran. Jadi, Mama nggak usah khawatir."


Thalita menyentuh pergelangan Laila yang berada di tangan kirinya. Hendak melepaskan pegangan tersebut, sebelum akhirnya Laila sedikit mengeratkan tangannya.


"Kebetulan. Mama juga rencananya nggak bakal lama di butik. Jadi, pas pulang nanti, Mama bisa jemput kamu sekalian. Gimana?"


Seakan tidak mau kalah, Laila kembali membujuk Thalita. Kali ini dengan senyuman penuh makna, yang mana Thalita jelas tidak bisa melihatnya.


Merasa segan dengan niat Laila yang entah dipikirnya baik atau hanya pura-pura, Thalita yang pada dasarnya tidak bisa menolak perhatian dari seorang ibu, pun akhirnya luluh juga. Meskipun dengan terpaksa karena tidak ingin melihat Laila kecewa, Thalita tetap memaksakan senyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Bagus, gitu dong. Itu baru namanya menantu Mama," Laila yang tersenyum senang, tiba-tiba mengangkat sebelah tangannya. Membuat Thalita kaget, hingga refleks menunduk yang mana ternyata wanita itu hanya ingin menyentuh puncak kepala Thalita dan mengusapnya hingga ke pangkal leher belakang wanita itu.


"Mama sayang sama Thalita,"


Entah ini efek dari kata-kata Laila atau bukan, tapi Thalita merasakan sebuah aliran yang hangat meluncur di sekujur tubuhnya. Membuatnya merasa tenang, dan bergetar di bagian hati.


Apa Laila benar-benar tulus menyayangi Thalita, atau hanya sekedar sandiwara saja seperti apa yang sering Thalita lihat selama ini?


🍂


Beberapa jam lagi, waktunya makan siang tiba. Beberapa pekerjaan yang harus Thalita siapkan hari ini selesai lebih cepat dari yang dia perkirakan. Saras benar-benar cekatakan dalam membantu Thalita membereskan pekerjaannya. Tidak sia-sia wanita itu mengangkat gadis yang lebih muda darinya itu menjadi seorang asisten. 


Sekarang, tinggal menunggu Laila saja yang katanya akan datang menjemputnya pulang pada saat jam makan siang.


Tok! Tok! Tok!


"Bu Lita, maaf,"


Thalita baru saja akan menyandarkan punggungnya di kursi kerja, ketika pintu ruangannya diketuk dan menampilkan sosok Saras yang muncul dari arah luar.


"Ya? Ada apa?"


Thalita melihat Saras masuk ke ruangannya dengan raut wajah yang cemas.


"Kenapa? Apa ada yang mau kita selesaikan lagi?" tanya Thalita bingung, karena Saras benar-benar terlihat seperti orang yang sedang ada masalah.


"Enggak, Bu. Cuma itu, diluar ada…."


Entah kenapa, perasaan Thalita jadi tidak enak. Biasanya, kalau sudah begini pasti ada salah satu dari anggota keluarganya yang datang mencarinya.


Sontak, pikiran itu membuat Thalita bersikap waspada dengan menegakkan punggungnya.


"Siapa?"


Dalam pikiran Thalita saat ini, apakah yang datang itu ibunya, ayah tirinya, atau yang lebih parah lagi Axel?


"Bukan mereka, Bu…. Tapi—"


Seakan tahu dengan isi pikiran Thalita, Saras segera membantahnya. Membuat atasannya itu mengerjap dan mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Bu Rosalin, beliau…. Mencari Bu Lita."


...Bersambung...


Terima kasih atas dukungannya terhadap cerita ini. 🌹


Saya akan lebih berusaha lagi untuk meningkatkan kualitas penulisan saya, biar lebih nyaman untuk dibaca oleh kalian semua.


Maaf, kalau bab ini sedikit lebih pendek 😅