Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #17



Mendengar suara air dan pekikan seseorang dari arah belakang, Evan sontak menoleh dan melihat ke arah kolam. Sempat dia mencari keberadaan Thalita di sampingnya, sebelum akhirnya dia sadar, kalau orang yang tercebur ke dalam kolam itu bisa jadi istri yang dia pikir tengah mengikutinya dari arah belakang. 


Tanpa berpikir panjang, Evan langsung berlari ke arah kolam. Melompat tanpa ragu, kemudian mencari sosok Thalita yang ternyata tengah meronta-ronta di dalam kolam. 


Segera Evan menarik tangan wanita itu. Meskipun aneh karena Thalita seperti menghempas tangannya, Evan tetap berusaha menarik wanita itu untuk naik ke atas kolam dan melemparkan tubuh itu sedikit keras agar keluar dari sana. 


"AAAAAGH! AAAAAGH! PERGI! PERGI! AAAAJH!"


"Ta! Ta! Kamu kenapa?!"


Evan yang melihat Thalita masih berteriak histeris, mencoba untuk menenangkan wanita itu. Tapi, bukannya sadar, Thalita justru terlihat seperti orang kesurupan dengan menghentakkan kaki serta tangannya ke udara menepis tangan Evan yang berusaha menyentuhnya. 


"AAAAGH! AAAAGH! PERGI! PERGI! PERGI SANA! AAAAAAAAAGH!"


Thalita memejamkan kedua matanya dan mengacak-acak rambutnya. Tak ayak Evan melihat pipi wanita itu berdarah karena mungkin tidak sengaja tercakar oleh tangannya sendiri. 


"Ta, ini aku, Evan. Suami kamu, Ta. Thalita!"


"Kenapa perempuan itu? Apakah dia kerasukan hantu kolam?"


"Stt! Hati-hati kalau bicara. Tadi, dia terlihat normal. Mungkin, dia terkejut karena tiba-tiba tercebur."


"Tapi, bukankah itu reaksi yang sangat berlebihan, untuk ukuran orang yang nyaris tenggelam?"


Berbagai macam respon orang sekitar yang Evan dengar tentang Thalita, membuat Evan merasa resah dan berusaha kembali untuk menenangkan wanita itu.  


"THALITA! TENANG DULU! KAMU—"


Plak! 


Belum selesai Evan bicara, sebuah tamparan justru mendarat mulus di pipinya. Membuat kulitnya yang semula terlihat putih bersih, memiliki cap tangan istrinya yang memerah di sana. 


"AAAAAAGH! PERGI! PERGI! PERGI!!!"


Evan menatap nanar wajah frustrasi Thalita yang mengacak rambutnya. Saat berhasil menyentuh lengan wanita itu yang bergetar hebat, Evan langsung sadar kalau ada yang tidak beres dengan istrinya saat ini. 


Berusaha memahami situasi, Evan pun menarik napas panjang dan langsung memeluk tubuh Thalita begitu erat. 


"AAAAAGH! AWAS! SANA! PERGI! PERGI! AWAS! AWAS!" 


Thalita masih berusaha memberontak. Tapi Evan yang lebih pintar, menekuk tangan wanita itu ke bawah lengannya dan menjepitnya dengan kedua paha Evan di lengan Thalita. Kini posisinya, Evan berada antara jongkok dan berdiri dengan begitu rapat di tubuh istrinya dan memeluknya erat. Sangat erat, hingga perlahan getaran di tubuh Thalita itu berangsur reda, dan akhirnya Thalita menggumamkan kalimat pelan sebelum akhirnya dia jatuh pingsan. 


"Pergi. Jangan bunuh aku,"


...🍂...


"Ahaha…"


"Hahahahahah…."


Jari Thalita bergerak ketika tubuhnya melayang di dalam air. Kenangan masa lalu yang suram mendadak hadir dalam gelapnya kolam renang yang menenggelamkan dirinya saat ini. 


Derai tawa yang sangat dia benci terngiang jauh lebih jelas bak berada di ruang hampa. Kakinya yang bebas, seakan kembali dicengkeram oleh tangan yang tidak kasat mata. Bahunya yang mengambang, seakan ditahan oleh sesuatu untuk tetap berada di dalam air. Membuat napasnya terputus, dengan sisa oksigen yang tersisa di antara tubuhnya. 


"Hahaha! Gimana sih, masak bokap lo yang kata banyak uang itu nggak bisa ngajarin lo berenang? Bego' apa gimana?!"


Dahi Thalita bergerak mengerut, saat bayangan wajah Axel yang tertawa penuh ejekan itu berkelebat di matanya yang terpejam. 


"Lo itu nggak pantas hidup, tau nggak! Lo cuma pantasnya mati! Di sini nggak butuh sama lo! Kalo pun lo mati, nggak bakal ada yang ngerasa kehilangan! Apalagi Mama!"


Tawa itu kembali terdengar begitu keras. Membuat kepala Thalita terasa sakit, dengan tekanan otak yang membuatnya seperti akan meledak. 


"Kalo lo mati tenggelam di kolam ini, percaya deh, nggak bakal ada juga orang yang sadar. Jadi, diam dan telen aja tuh air kolam sebanyak-banyaknya,"


Thalita ingat, waktu itu, dia masih duduk di bangku SMP. Entah kelas 1 atau kelas 2, saat Axel memukulnya habis-habisan sebagai bentuk pelampiasan anak itu yang kesal karena dimarahi saat berkelahi di sekolah. 


Dengan kasar, Axel menyeret rambut lurus dan tebal Thalita ke belakang rumah mereka. Menamparnya berulang kali, kemudian memukuli wajah serta perut Thalita dengan kedua tangannya yang kuat.


Segala macam umpatan dan makian dari anak itu harus Thalita dengar sering dengan kepala tangannya yang menghantam tubuh kecil Thalita. Menyeretnya ke pinggir kolam, hingga menjatuhkannya secara asal ke dalam sana, tanpa peduli berapa kedalaman kolam tersebut. 


Kala itu, Thalita masih bisa mencecahkan ujung ibu jarinya untuk berdiri dan berteriak minta tolong. Namun, karena terlalu panik dan lama, kakinya menjadi kram, hingga akhirnya dia tercebur dan hanya bisa mendengar tawa Axel yang menggelegar di taman tersebut. 


"Hah, gila! Lo nggak bisa berenang? Yang bener aja, dong!" ujar Axel terkekeh, melihat perjuangan Thalita yang mengepakkan tangannya ke atas kolam. 


Thalita mengusap dahinya yang terasa pusing. Bayangan dirinya tadi di kolam masih begitu menghantui hingga membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak. 


Dasar Axel brengsek. Andai kata pun Thalita menjadi hantu, rasanya dia tidak sudi mendatangi bocah sialan yang satu itu. Decak Thalita dalam hati. 


"Gimana keadaan kamu siang ini? Udah mendingan?" 


Thalita menurunkan tangannya dari dahi, melihat Evan duduk di kursi yang ada di sebelah ranjangnya. 


Ya, Tuhan. Entah kenapa rasanya sekarang Thalita ingin menenggelamkan dirinya lagi sampai mati. Bisa-bisanya dia terus membuat masalah dengan Evan yang mana seharusnya bisa mengambil hati pria itu. 


Belum selesai perkara dirinya menampar Evan kemarin di kamar mandi, sekarang dia sudah menambah kecanggungan lagi dengan berada di rumah sakit akibat demam yang menderanya. 


Alasannya juga konyol. Hanya karena tenggelam, yang mungkin kurang dari satu menit, dia sudah berakhir tidak berdaya di rumah sakit seperti ini. 


"Udah lumayan baikan kok, Kak. Terima kasih," ucap Thalita pelan, tersenyum kaku pada Evan yang menyentuh dahinya. 


"Kata dokter yang ngerawat kamu, kalau sampai nanti malam keadaan kamu udah membaik, besok pagi kamu udah bisa balik," beritahu Evan, menjauhkan tangannya dari dahi Thalita, yang entah kenapa malah langsung ditangkap oleh wanita itu. 


Evan dan Thalita saling memandang satu sama lain tanpa bicara. Hingga akhirnya Thalita tersadar dengan tatapan bertanya Evan melihat tangannya ditahan oleh wanita itu. 


"E—eh,"


Refleks, Thalita melepaskan cengkeramannya, lalu membuang pandangan ke sana dan ke mari. 


Evan hanya diam saja melihat gelagat aneh istrinya. Duduk di kursi itu sambil terus memperhatikan tingkah Thalita yang sepertinya sedang resah. 


"Kenapa? Ada yang nggak nyaman sama badan kamu?" tanya Evan peduli, akhirnya mengeluarkan tenaga untuk bicara. 


Terlihat kaget, Thalita bergidik dan menaikkan alis ke arah Evan. 


"Hah?" respons perempuan itu bingung, turut membuat Evan menaikkan sebelah alisnya. 


"O—oh, itu…."


Sadar dengan kelakuan anehnya, lagi-lagi Thalita terlihat semakin resah. Meremas kedua tangannya bergantian, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bicara. 


"Se—sebenarnya, aku mau minta maaf sama Kakak. Dan juga…. Terima kasih," ucap Thalita menundukkan kepala, tidak melihat reaksi Evan sama sekali. 


"Maaf untuk hal apa?" tanya pria itu terdengar datar. 


"Y—ya maaf, karena udah mengacaukan rencana bulan madu Kak Evan. Pa—pasti, rumah sakit ini nggak masuk dalam list kunjungan kita, kan? Tapi, aku malah buat kita harus nginap di rumah sakit ini untuk dua hari," aku Thalita lesu, menampilkan mimik wajah sedih, meskipun dengan keadaan yang setengah menyembunyikan wajah. 


"Oh, itu," desah Evan sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya. "Kirain apa. Ternyata maaf untuk yang itu,"


Perlahan, Thalita mengangkat wajahnya. Dari cara bicara dan kalimat Evan, kok dia merasa ada hal lain lagi yang harus dia minta maafkan? 


"Emang… aku ada bikin salah lain?" tanya Thalita bingung, terkejut saat Evan balas menatapnya dengan cepat. 


"Kamu nggak ingat, ada nampar aku kemarin?" pancing pria itu, tak sadar membuat Thalita melebarkan matanya. 


"Y—yang di kamar mandi itu? I—itu…."


"Bukan. Kamu ada nampar aku lagi pas di dekat kolam renang," timpal Evan, seketika membuat kedua mata Thalita semakin lebar dan menatapnya dengan ngeri. 


"A—aku? Na—nampar Kakak lagi?!" ulang Thalita menunjuk hidungnya sendiri, tak ayal membuat Evan kembali menaikkan sebelah alisnya. 


Fix! Istrinya itu pasti tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya kemarin. 


"Iya, kamu nampar aku di depan banyak orang."


...Bersambung...