Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab#12



Pagi hari, Thalita tampak begitu damai dalam tidurnya. Dia memiringkan tubuhnya ke kanan, semakin memeluk selimut tebal yang sudah ditimpa dengan sebelah kakinya. 


"...Ta,"


Samar, Thalita seperti mendengar suara sesuatu di telinganya. 


"Thalita,"


Untuk kedua kali, Thalita mendengar suara itu. Namun, belum mampu membuatnya sadar dan tetap bergeming di tempatnya. 


Suasana terasa tenang. Hampir saja Thalita kian tenggelam dalam mimpinya, saat merasa tangannya disentuh oleh sesuatu yang cukup hangat. 


"Tha," panggil suara itu lagi pelan, mengusik tidur Thalita hingga berdecak. 


"Siapa sih, pagi-pagi gini gangguin gue?" rutuk Thalita mengeluh dalam hati, namun tetap masih dalam posisi yang nyaman. 


"Thalita," kali ini suara itu terdengar cukup jelas. Agak berat, hingga menyadarkan Thalita kalau suara itu pasti dimiliki oleh seorang pria.


"Kenapa di apartemen gue ada suara cowok? Apa gue masuk UGD lagi?" pikir Thalita masih memejamkan mata, namun masih enggan membukanya. 


"Ah, bisa jadi kali, ya? Kemarin kan gue ketemu Mama. Apalagi kemarin Mama sama yang lain…."


Sadar akan sesuatu, Thalita sontak membuka kedua matanya dan duduk dengan gerakan yang begitu cepat. 


Benar, kemarin dia baru saja menikah. Dan dia juga ingat, kalau tadi malam dia sudah dibawa oleh suaminya untuk tinggal bersama di rumah pria itu. 


"K—Kak Evan?"


Dengan rambut panjang lurus yang acak-acakan, Thalita menatap ngeri sosok Evan yang sudah berdiri tenang di sisi ranjang tidur. 


Tidak seperti dirinya yang masih mengenakan kaos tidur yang longgar serta celana tidur yang panjang, Evan terlihat begitu rapi dengan kaos lengan panjangnya yang digulung sampai siku serta celana bahan berwarna krem yang membalut kaki jenjangnya. 


Tidak lupa kulit putih bersih Evan tampak begitu indah di leher panjang yang dimiliki oleh pria itu. 


"Tidur kamu cukup berantakan juga, ya…." Komentar Evan begitu tenang, menyadarkan Thalita dengan posisinya saat ini. 


Berada di tengah ranjang, dengan letak selimut yang setengah sudah berada di bawah jepitan pahanya dan setengah lagi bergulung bebas di atas ranjang. Oh, belum lagi rambut berantakan serta leher kaos yang miring hingga menampakkan sebelah bahu mulus Thalita, sukses membuat wanita itu merasa malu bukan main. 


Dengan wajah menahan perasaan, Thalita bergerak samar memperbaiki posisi kakinya serta menarik selimut agar tidak terlalu kusut untuk dilihat. Ya, meskipun kenyataannya itu sia-sia, karena Evan tidak melihatnya sebagai bentuk kerapian sama sekali. 


"Sebenarnya aku masih mau biarin kamu tidur sebentar lagi. Cuma Mama udah sibuk buat ngajak kita sarapan bareng," ujar Evan masih dengan gaya tenangnya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana bahan yang saat ini dia kenakan. 


"Sarapan?" ulang Thalita, dibalas Evan dengan sebuah anggukan kepala. 


Lalu, sekilas pria itu menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamar itu dan kembali berkata. "Udah setengah sembilan soalnya,"


Kaget dengan ucapan Evan, Thalita juga cepat menolehkan kepala dan melihat ke arah jam dinding yang sama. 


"Sebaiknya kamu cuci muka aja dulu. Kalo mau lanjut tidur, itu bisa nanti."


Setelah mengatakan itu, Evan segera berlalu meninggalkan Thalita. Tidak tahu kalau perempuan itu sudah merasa kacau, bahkan belum sampai lima menit setelah dia bangun pagi. 


Mau melanjutkan tidur? Dengus Thalita tidak percaya. Evan itu sedang menghinanya atau bagaimana? Mana mungkin dia bisa melanjutkan tidurnya lagi atas apa yang sudah terjadi sekarang. Jangankan membantu mertuanya masak di dapur. Thalita bahkan lupa kalau dia sudah menikah sampai harus membawa kebiasaan tidurnya yang selalu bangun kesiangan itu. 


Bisa-bisa habis ini, dia akan segera mendapatkan keluhan dari orang yang baru satu hari menjadi mertuanya. 


"Kamu harus banyak makan sayur dan juga daging. Perempuan seperti kamu itu, nggak cocok kalo tinggal tulang berlapis kulit,"


Thalita sedikit kaget dengan sikap Laila yang terkesan begitu perhatian kepadanya. Sejak mendaratkan bokong di atas kursi makan, Laila tidak berhenti sekalipun memberikan perhatian pada Thalita terkait beberapa hal. 


Sekarang, wanita itu sudah meletakkan tambahan beberapa potong daging sapi dari sup yang katanya sudah disiapkan Laila pagi tadi ke atas piring Thalita. 


"Kurus itu boleh, tapi jangan kebangetan. Ntar kamu jadi gampang sakit," ujar Laila pada Thalita membuat wanita itu sekilas menoleh ke arah Evan tanpa sadar. 


Sedang yang diperhatikan, hanya diam menyantap sarapannya dengan tenang. 


"Jadi, kapan kalian berangkat bulan madunya?" tanya Laila tiba-tiba, kembali mengagetkan Thalita yang baru saja memasukkan sepotong daging sapi ke dalam mulutnya. 


"Hm?" responnya tanpa sadar, menatap Laila dengan alis yang terangkat. 


"Kalian… nggak ada rencana buat bulan madu?" tanya Laila penasaran, balas menatap Thalita heran yang juga melihatnya dengan sorot mata tidak mengerti. 


Saling menatap namun tidak mendapat jawaban, kedua wanita itu pun kemudian beralih pada Evan yang masih diam menikmati makanannya. 


"Van," panggil Laila, menarik perhatian pria itu untuk menoleh ke arahnya. 


Melihat ibu dan istrinya kini kompak menatapnya heran, Evan tampak bingung sendiri. 


"Bulan madu?" ulang pria itu agak linglung, kemudian melanjutkan makannya. "Ke mana?"


"Ya, ke mana aja! Yang pengantin baru itu kan kalian berdua. Masa nanya ke Mama lagi, sih?!" omel Laila tampak sedikit jengkel, karena sepertinya putranya, Evan, belum memikirkan apapun soal bulan madu. 


"Yang ngurus acara pernikahannya kan Mama. Aku kira itu udah sepaket sama acara bulan madu," kilah Evan, sontak membuat Laila mendengus mendengarnya. 


"Enak banget kamu, ya…." desis wanita paruh baya itu, menatap tajam pada Evan yang diam-diam menghindari pandangan Mamanya dengan melihat ke arah lain. 


Suasana ruang makan terasa sedikit mencekam. Bagi Thalita, maksudnya. Karena jangankan melihat aksi tatapan ibu dan anak di depannya, untuk bersikap nyaman saja, Thalita belum bisa.


Terdengar helaan napas berat yang dilakukan oleh Laila. Tampak Thalita berusaha abai akan hal itu, dengan menundukkan kepalanya dan pura-pura fokus dengan nasi di hadapannya. 


"Kamu bisa cuti menikah berapa hari, Lita?" tanya Laila tiba-tiba, sontak membuat Thalita mengangkat kepala dan melirik singkat pada Evan. 


"Biasanya restoran cuma ngasih cuti menikah satu minggu, Ma," sahut wanita itu cepat. 


"Meskipun kamu yang punya restoran?" pancing Laila menaikkan kedua alisnya, langsung dijawab berupa anggukan oleh Thalita. 


Sesaat lagi, Laila melirik ke arah Evan. Anaknya satu itu masih juga terlihat tenang dengan menyantap sarapannya yang kini tinggal satu suap itu. 


"Yaudah, deh. Kayaknya bisa. Evan juga cuti menikah nya cuma satu minggu, kok," kata Laila santai, kontak membuat Evan menoleh dan menatap kaget padanya. 


"Emang Mama pikir, bisa cuti berapa lama?" serang anaknya itu, tak ayal hanya dibalas kekehan ringan saja oleh Sang Ibu. 


"Pokoknya habis ini, kamu packing barang-barang kalian yang mau dibawa bulan madu. Biar Evan yang nyari tempat sama yang ngurus semua keperluan keberangkatan. Mama mau, kalian bisa berangkat hari ini juga," tunjuk Laila pada Thalita, sontak membuat anak dan menantunya itu mendelik tidak percaya. 


"Apa? Hari ini?" pekik keduanya, sempat saling melihat satu sama lain. 


"Iya. Kenapa? Kalian mau menunda kehadiran cucu Mama?"


......Bersambung......