Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #27



Sekali lagi, Evan melirik wajah Thalita yang terlihat pucat. Gurat wajahnya datar dan mata yang sendu membuat Evan merasa sulit untuk mengabaikan perempuan itu. 


"Aku dengar, tadi siang adik kamu datang ke restoran, ya?" tanya Evan mencoba memulai pembicaraan, yang dia tahu hanya dibalas lirikan mata singkat oleh Thalita. 


"Ngapain?" tanya Evan lagi, kali ini tidak mendapat jawaban apapun dari Thalita. 


Diam-diam, Evan melihat Thalita meremas pelan lengan kirinya. 


"Masih sakit?" tanya Evan seakan peduli, kali ini membuat Thalita menoleh. 


Bersamaan dengan itu, mereka saling memandang. Hanya sekejap, karena setelah itu, Evan harus kembali fokus pada jalanan yang saat ini mereka lewati. 


"Aku dengar dari asisten kamu, katanya tadi siang anak kurang ajar itu bikin masalah di restoran. Apa yang dia lakuin? Bener, dia melintir tangan kamu?" tanya Evan panjang, tanpa sadar membuat Thalita bergumam. 


"Anak kurang ajar?" bisiknya seorang diri. 


"Apa aja yang udah dia lakuin ke kamu? Apa dia marahin kamu? Bentak-bentak kamu juga? Apa perlu kita datangin dia sekarang buat hajar dia balik?" ujar Evan mengomel, tentu saja membuat Thalita tidak sengaja tersenyum. 


"Kenapa? Ada yang lucu?" cecar Evan tiba-tiba, sontak membuat Thalita menggeleng dan menundukkan kepalanya. 


Tangan Thalita memang masih terasa sakit. Nyeri, lebih tepatnya. Tapi, kemarahan Evan yang mengutuk Axel dan mengatainya kurang ajar serta brengsek, tak ayal membuat sakit hati Thalita sedikit terobati. 


Dia merasa, baru kali ini ada orang yang marah karena telah melukai Thalita. Meskipun dia sendiri juga sadar kalau pegawai di restorannya itu juga peduli terhadap Thalita, dia merasa itu hanya sekedar Thalita itu atasan mereka. Coba kalau bukan, mungkin mereka juga bisa bersikap masa bodoh dengan apa yang tengah Thalita alami. 


Lalu, bagaimana dengan Evan? Apa pria itu benar-benar marah karena peduli pada Thalita, atau hanya sekedar butuh tempat pelampiasan emosinya yang sudah terlalu banyak karena Thalita? 


"Besok aku bakal ke rumah orang tua kamu. Anak itu harus dikasi pelajaran. Dia—"


"Enggak!"


Belum selesai Evan bicara, Thalita sudah memotongnya dengan cepat. 


Sadar dengan tatapan kaget bercampur heran suaminya saat ini, Thalita buru-buru mencari kata, dan membuang pandangannya ke arah lain. 


"I—ini bukan masalah besar. Mungkin, tadi dia nggak sengaja. Kadang, kakak adik itu emang sering bertengkar, kan? Jadi—"


"Jadi, kalau bertengkar, boleh main tangan, gitu?" serobot Evan sinis, menghentikan mobilnya tepat di pertigaan lampu merah. 


"Kita juga pernah bertengkar. Tapi, apa pernah aku main tangan sama kamu?" tekan Evan tampak emosi, membuat Thalita menciut ketakutan. 


Jangankan main tangan, dipelototi begitu saja, Thalita sudah sangat takut padanya. 


"Jangan jadikan itu sebagai alasan. Keluarga kamu itu memang aneh! Jadi nggak usah sok-sokan membela mereka lagi!"  ujar Evan masih emosi saja, menegakkan tubuhnya ke arah depan. 


"Aku jadi curiga, apa sebenarnya alasan mereka menjodohkan kamu ke aku," kata pria itu tiba-tiba, berhasil menarik perhatian wanita di sampingnya. 


Dalam diam, Thalita merasa kaget. Apa Evan tahu alasan kenapa Marlia menikahkan Thalita dengannya? 


"Me—memangnya, perlu alasan apa? Ka—Kakak udah dewasa. D—dan aku juga. Kita sama-sama udah cukup matang untuk menikah. Cuma belum punya pasangan aja. Makanya, mereka coba menjodohkan aku sama Kakak," jelas Thalita pelan, mencoba menggiring pikiran Evan kalau mereka hanya sekedar dijodohkan semata. 


"Oh, ya? Bukannya karena mereka mau membuang kamu ke aku?"


Jleb! 


Seperti ada pisau yang menusuk hatinya, Thalita tersedak oleh air liurnya sendiri. Sementara itu, Evan hanya melirik sekilas, dan menjalankan kembali kendaraan roda empatnya begitu melihat lampu lalu lintas yang sudah bertukar menjadi hijau. 


Sedikit menyeringai, Evan bisa mendapatkan jawabannya. 


"Jadi gitu," desah pria itu tersenyum sinis, kali ini benar-benar membuat Thalita mati kutu. 


Detik ini juga, Thalita merasa harapannya sudah putus. Evan sudah tahu semua keburukan yang terjadi pada diri Thalita maupun keluarganya. Bisa saja setelah ini dia akan mencampakkan Thalita kembali ke depan Marlia dan mengatakan apa yang kemarin Evan katakan padanya. 


"Apa Kakak mau mulangin aku sekarang?" tanya Thalita terdengar samar, seperti udara yang tidak punya bobot sama sekali. 


Beberapa detik tidak menjawab, Evan yang hanya diam saja seperti berbikir. Membuat Thalita yang tidak mampu lagi membela diri, hanya bisa pasrah menanti keputusan Evan setelah ini. 


"Kamu maunya gimana? Balik sama mereka… atau tetap sama aku?"


Di jalan sunyi, Evan mengurangi kecepatan kendaraannya. Menatap Thalita yang ada di sebelah, dengan sorot mata yang mampu membuat wanita itu seakan merasakan duri di setiap sudut. 


Dia tahu, wanita itu pasti paham dengan arti pertanyaan Evan sekarang. Ingin kembali ke sarang buaya, atau bertahan di dalam kandang harimau seperti Evan. 


...🍂...


"Tentu aja kamu boleh nggak memilih salah satu dari pilihan itu. Tapi, perlu kamu ingat, kalau harimau tidak akan melepaskan mangsanya begitu aja."


Thalita ingat jelas bagaimana sorot mata Evan yang melirik ke arahnya saat mobil pria itu baru sampai di beranda rumah. 


"Aku bakal kejar kamu kemana pun kamu pergi. Setelah dapat, aku pasti bakal kasi kamu hukuman yang berat."


"Astaga, Lita! Kamu abis dari mana aja? Kok baru pulang sekarang?! Mama udah cemas mikirin kamu dari tadi tau, nggak!"


Thalita yang rasanya sudah hampir melayang karena pijakan kakinya yang terasa hampa, tersadar tatkala suara keras Laila menyambut kehadirannya di ruang tamu. 


"Ha?"


Tidak begitu fokus, Thalita hanya mampu menampilkan wajah bodohnya menatap Laila. 


"Kamu dari mana aja? Mama teleponin dari tadi, nggak diangkat. Mama chat juga nggak dibalas. Bikin khawatir orang tua aja tau, nggak!" omel Laila pada menantunya itu, memang jelas sekali terlihat kesal. 


Namun, dibalik ekspresi sebalnya itu, siapapun yang melihatnya pasti tahu kalau Laila memang sangat mencemaskan istri dari anaknya itu, karena tak kunjung pulang ataupun memberi kabar sampai larut malam. 


"Tadi, Lita singgah di apartemen, terus ketiduran. Bangun-bangun, ternyata udah malam," jelas Thalita pelan, melihat Laila yang masih juga menampilkan wajah tidak senang. 


"Maaf," ucap Thalita kemudian, kali ini membuat Laila menghembuskan napas berat dan membuang pandangan ke arah lain. 


Tampaknya wanita itu masih ingin mengomel. Tapi, dia tahan karena melihat wajah Thalita yang pucat sekarang. 


Sementara itu, Evan yang sejak tadi mengekor di belakang Thalita, sudah menyelonong begitu saja menuju kamar tidur. 


"Kamu ini benar-benar, ya…." Desah Laila pasrah, "Lain kali jangan begitu! Mama bener-bener khawatir sama kamu. Gimana kalau terjadi hal buruk sama kamu pas lagi nggak di rumah. Mana kamu nggak ada ngasih kabar, lagi. Mama bisa sakit jantung, tau!" ujar Laila terakhir, memperhatikan penampilan Thalita dari ujung kepala hingga kaki. 


Walaupun terlihat seperti tadi pagi, entah kenapa rasanya penampilan Thalita saat ini terlihat tidak nyaman. Seperti agak berantakan, meskipun pakaian dan atribut yang dipakai wanita itu sejak pagi tetap sama. 


"Kamu udah makan?" tanya Laila memperhatikan wajah Thalita, yang hanya tersenyum tipis menjawabnya. 


"Kalau belum, Mama bisa siapkan sekarang. Kebetulan makan malam tadi masih ada. Kamu makan sekarang, ya?" tawar Laila peduli, yang langsung dijawab lagi oleh Thalita dengan senyuman tanda sungkan. 


"Nggak usah, Ma. Lita… udah makan kok, tadi." Dusta wanita itu, sesaat membuat Laila menaikkan sebelah alisnya. 


"Bener?" tanya wanita paruh baya itu. 


Dengan sebuah anggukan pasti, Thalita berhasil membodohi ibu mertuanya yang baik itu dengan mengatakan kalau dia sudah makan. Padahal sebenarnya, wanita itu belum ada makan sejak siang tadi. Hanya saja pikiran-pikiran yang saat ini menyelimutinya membuat perut Thalita terasa penuh hingga nyaris memuntahkan sesuatu dari mulutnya. 


......Bersambung......