
Panasnya siang ini, membuat Evan teringat dengan cuaca waktu itu. Saat itu, Evan baru menginjak usia 18 tahun. Dan dia sudah memiliki seorang gadis, yang menjadi kekasihnya selama lebih kurang satu tahun ini.
Namanya Carmila, teman satu sekolah Evan di Sekolah Menengah Atas. Dia adalah cinta pertama Evan. Seorang gadis cantik dan juga lembut. Sikapnya yang manis serta senyuman manjanya membuat Evan semakin hari semakin cinta padanya.
Bahkan dia juga sampai membawa Mila —sapaan kekasihnya tersebut— ke rumahnya, di perayaan satu tahun hubungan mereka.
Di sana, Evan mengenalkan Mila sebagai temannya. Meskipun Laila dan Aris —ayahnya Evan— sudah tahu dan menggodanya habis-habisan, Evan yang masih polos pun hanya tersenyum malu menanggapinya.
Evan pikir, semua akan berjalan dengan lancar. Kehidupan SMA yang indah dengan kekasih yang sangat dia sayangi, dan keluarga harmonis dimana Aris selalu memberikan Laila bunga dan bersikap manis pada ibunya tersebut, membuat Evan lupa, kalau kehidupan ini, dia tidak akan selamanya berada di atas.
Suatu hari, Evan yang saat itu harusnya pergi bimbel, pulang ke rumah karena tutor yang seharusnya mengajar, mendadak menggantikan hari.
Awalnya, Evan ingin mengajak Mila pergi jalan-jalan bersamanya. Namun, saat dia mencoba mendatangi gadis itu, Mila tidak ada. Rumahnya kosong dan membuat Evan akhirnya pasrah dan memutuskan untuk istirahat saja di rumah.
Pikir-pikir, Evan pasti bosan. Sebagai anak tunggal, dia cukup sering merasa kesepian di rumah. Ayah dan ibunya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Laila dengan butiknya, sedangkan Aris dengan perusahaan tekstilnya. Bahkan asisten rumah tangga saja, hanya berada di rumah mereka sampai siang hari. Sisanya, rumah yang megah itu akan terasa kosong, sampai salah satu dari penghuni rumah itu pulang.
Beruntung, di antara kesepian itu, Evan bertemu Mila. Dia sering menghabiskan banyak waktu dengan kekasihnya itu. Sayang, saat itu Mila bilang ibunya sedang sakit-sakitan dan dirawat di sebuah rumah sakit luar negeri. Meninggalkannya sendirian di rumah, hanya dengan beberapa asisten rumah tangga.
Masih terekam dengan jelas di ingatan Evan, apa yang dia lihat siang itu di rumah orang tuanya. Mila yang sedang duduk di pangkuan Aris, serta godaan-godaan bernada mesum yang keluar dari mulut ayahnya itu untuk Mila, berhasil membuat Evan memuntahkan semua makan siangnya saat akan pergi ke tempat bimbel tadi.
"Evan?! Kenapa kamu ada di situ?! Sejak kapan kamu ada di sana?!"
Evan menarik napas panjang. Memejamkan matanya, dan mengambil sebotol air mineral yang tadi sempat dibeli di kantin sebelum masuk ke ruang kerja. Meneguk airnya hingga setengah, kemudian mencoba mengatur napas berulang kali.
Sampah! Dasar Mila sampah! Bisa-bisanya dia tidur dengan ayahnya Evan hanya karena membutuhkan uang. Dia sudah seperti pelacur yang menjual tubuhnya pada seorang pria hidung belang yang tak lain adalah ayah dari kekasihnya sendiri.
Ah, mungkinkah sebenarnya Mila tidak pernah menganggap Evan sebagai kekasihnya?
Tiba-tiba, tubuh Evan merasa merinding. Bagaimana bisa dia mencintai dan menyayangi wanita rubah itu sedemikian rupa? Dia bahkan percaya kalau Mila itu sendirian dan butuh perlindungan karena ibunya yang sedang sakit di luar negeri. Padahal sebenarnya, mungkin saja Mila membutuhkan uang hanya untuk bersenang-senang seperti kebanyakan wanita munafik di luar sana.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Evan merasa hidupnya berubah 180 derajat. Senyum hangat yang biasa dia lihat, kini terlihat begitu memuakkan.
Aris, yang harusnya merasa bersalah, malah bersikap santai seolah tidak terjadi apapun sebelumnya di rumah mereka. Dia memeluk Laila, ibunya Evan, selayaknya suami romantis dan memberikan kecupan-kecupan ringan pada wanita cantik itu menggunakan bibir yang dia pakai untuk mencumbu wanita lain.
Benar-benar menjijikkan.
Tidak tahan melihat kepalsuan itu, Evan yang tidak ingin melihat ibunya terus menerus dibodohi oleh Aris, mengambil langkah yang terbilang cukup berani. Dia datang ke perusahaan tempat Aris bekerja, dan mengancam orang yang merupakan ayah kandungnya itu dengan tegas.
"Cerai Mamaku. Atau kamu akan menyesal!" tekan Evan ketika itu, menarik leher kemeja Aris dengan kasar.
Kedua lelaki itu sempat beradu mulut, yang mana akhirnya Aris kalah, dan melayangkan surat gugatan cerai pada Laila, istrinya polosnya, yang tidak tahu apa-apa.
Mendengar hal itu, Laila yang mengira kehidupan rumah tangganya sedang baik-baik saja, tentu seperti disambar petir. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba pria yang dia cintai justru memberikan sebuah surat gugatan cerai, yang mana Aris sudah membubuhkan tanda tangannya di sana.
"Kenapa ini sebenarnya? Ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba kamu menceraikan aku?"
Evan yang diam-diam menguping pembicaraan kedua orang tuanya dari luar kamar, mendengar suara Laila yang menangis.
Evan tahu, kalau ini adalah tindakan yang sangat kejam bagi orangtuanya. Hanya saja, rasa benci Evan melihat Aris yang terus-menerus membohongi Laila dengan sikap palsunya membuat Evan tidak tahan. Dia muak dengan senyum palsu Aris yang mengingatkannya bagaimana wajah pria itu saat menikmati tubuh Mila, kekasih Evan kemarin.
Pikirnya, biarlah Laila sakit hati pada alasan Aris yang bosan dengan hubungan rumah tangga mereka, ketimbang Laila tahu hal sebenarnya yang jauh lebih buruk. Bisa saja, Laila bukan hanya kecewa berat karena sudah dikhianati, wanita itu pasti juga akan merasa sedih dan bersalah andai tahu kalau hubungan gelap Aris juga sudah mengkhianati Evan mentah-mentah.
Tok! Tok! Tok!
"Dokter,"
Kedua mata Evan yang tadi terpejam rapat, kini terbuka seiiring dengan kehadiran seorang perawat ke ruangannya.
Dengan membawa sebuah map, perawat tersebut memberitahu Evan kalau pasien terakhirnya siang ini sudah datang.
"Oke, silakan masuk, ya," ujar Evan mulai membenahi dirinya lagi, untuk fokus lagi pada pekerjaannya. Setidaknya dengan bekerja, dia bisa mengurangi rasa sakit di hati dan pikirannya atas pengkhianatan besar yang pernah dialami di waktu dulu.
Mila masuk ke dalam rumahnya dengan kondisi wajah yang sedikit sembab. Sepanjang perjalanan tadi, air matanya terus saja mengalir. Wajah Evan yang dia lihat di rumah sakit tadi, terus saja membayang di benak Mila dan membuat tidak bisa berhenti menangis.
Bahkan sopir taksi yang membawa wanita itu pulang pun, hanya bisa melirik sesekali melalui kaca spion tengahnya, karena mengira Mila telah kehilangan seseorang —alias meninggal— saat kembali dari rumah sakit tadi.
Dengan langkah kaki yang menyeret, Mila berjalan menuju dapur. Tenggorokan yang kering, serta cuaca yang terasa begitu panas, membuat wanita itu begitu haus. Pikirnya, dia ingin minum air es yang mungkin bisa ikut mendinginkan perasaannya yang panas saat ini.
"Dari mana aja kamu?"
Baru saja membuka kulkas, Mila terkejut mendengar suara ibunya yang cukup keras, berasal dari ruang TV.
Terlihat, wanita itu memang sedang duduk di atas sofa, sambil mengkonsumsi sesuatu yang menurut pandangan Mila adalah kacang.
"Dari ketemu temen," sahut Mila mengerutkan dahi samar, mencoba mengabaikan tatapan curiga Rosalin terhadapnya.
"Temen? Temen yang mana? Kayak kamu punya aja," kata wanita paruh baya itu, menghentikan gerakan tangan Mila yang akan mengambil sebuah botol air dari dalam kulkas.
Sesaat, Rosalin yang terlihat begitu santai menikmati kacang kulit di tangannya, tersadar dan kembali menatap ke arah Mila yang tengah memunggunginya.
"Temen kamu yang dokter kemarin?" tanya Rosalin semangat, tidak segera dijawab oleh Mila.
Wanita itu justru terlihat begitu tenang, tidak peduli sama sekali dengan pertanyaan Rosalin dengan meneguk air es yang dia ambil langsung dari botolnya.
"Mil!"
"Apa sih, Ma?" ujar Mila terdengar agak kesal, membuat Rosalin terdiam untuk beberapa saat.
"Kamu abis dari mana? Nemuin teman kamu itu, atau dari mana?" tuntut Rosalin, semakin membuat Mila terlihat kesal.
"Mama ini kenapa, sih? Dibilang abis ketemu teman, ya abis ketemu teman! Kenapa pake acara ditanya-tanyain segala? Kayak Mama pernah peduli aja," sewot Mila mengembalikan botol minumnya ke kulkas, memandang masam Rosalin yang terlihat dongkol mendengarnya.
"Heh! Jangan kurang ajar kalo ngomong, ya! Mama itu emang selalu peduli sama kamu! Dasar kamunya aja yang nggak tau diri!" ujar Rosalin kesal, lalu mendengus membelakangi Mila. "Udah diperhatikan, tapi tetap aja nggak ngerasa," sungut wanita itu lagi, melipat sebentar kedua tangannya di dada, lalu mengambil segelas minuman yang ada di atas meja.
Melihat itu, Mila langsung melebarkan mata. Dari warna serta botol yang ada di samping minuman itu, Mila tahu apa yang sedang dikonsumsi oleh Rosalin saat ini.
"Mama!" teriak Mila heboh, menghentikan gerak tangan Rosalin yang memegang minuman tersebut.
Dengan raut wajah cemas, Mila memeriksa minuman itu dengan mencium aromanya.
"Kenapa masih minum ini, sih?! Kan udah dilarang sama dokter!" ujar Mila marah, pada Rosalin yang malah terlihat santai mendengarnya.
"Loh, kenapa? Toh, Mama kan juga minum obat yang dikasih sama dokter."
Rosalin hendak mengambil minuman itu dari tangan Mila. Tapi, dengan cepat wanita itu menjauhkannya dari Rosalin, hingga membuatnya menjadi marah.
"Mila!" seru Rosalin, memukul meja yang ada di dekatnya.
Sesaat, pasangan ibu dan anak itu saling menatap, hingga akhirnya Rosalin mendengus, dan membuang pandangan ke arah lain.
"Mama harus ketemu lagi sama dokter teman kamu itu," ucap Rosalin tiba-tiba, menarik perhatian Mila lagi yang sempat melihat ke arah lain.
"Setidaknya, dia harus jadi menantu Mama," kata Rosalin kemudian, kali ini membuat Mila tak sanggup untuk tidak mengerutkan dahi.
"Maksud Mama?" tanya wanita itu penasaran.
Sambil melihat Mila kembali, Rosalin menyentuh kedua lengan anaknya itu sedikit kuat.
"Demi mengangkat derajat keluarga kita…." Kata Rosalin, melihat satu per satu kedua mata Mila. "Kamu harus bisa mendapatkan dia."
......Bersambung......