Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #28



Selesai menangani masalah kecurigaan Laila, Thalita pun akhirnya masuk ke dalam kamar. Di sana, dia melihat Evan yang sedang sibuk mencari sesuatu dari dalam sebuah lemari kecil yang ada di sudut kamar. 


Tidak ambil pusing, wanita itu hanya diam berjalan ke arah lemari pakaian. Mengambil satu set piyama, kemudian berlalu menuju kamar mandi. 


Sebenarnya, Thalita sudah sangat ingin tidur sekarang. Meskipun dia sudah menghabiskan banyak waktu dari siang dengan tidur, entah kenapa rasanya tubuh Thalita tidak merasa puas. Hatinya yang lelah, membuat tubuhnya pun terasa begitu lemas.


Dia ingin tidur. Tapi, dia takut Evan akan langsung mengusirnya detik itu juga karena dianggap sudah membawa kotoran ke kamarnya. 


Tidak sampai sepuluh menit, Thalita yang hanya mandi sekedarnya saja pun keluar. Sebenarnya, dia sudah selesai mandi sekitar lima menit lalu. Hanya saja, karena tangannya yang masih terasa sakit dan tubuhnya yang terasa lelah, membuat dia bergerak memakai pakaian dengan begitu lambat. Bahkan dia sempat berpikir untuk tidur di atas kloset kamar mandi saja. 


Tapi, tentu itu akan membuat masalah juga, andai Evan ingin menggunakan toilet dan malah menemukan Thalita berada di atasnya. Bisa-bisa pria itu akan lebih mengatainya lagi dengan kalimat kejam seperti sakit jiwa. 


Thalita yang baru keluar dari kamar mandi, lurus mendapati Evan sudah duduk di atas ranjang dengan memegang sebuah botol plastik di tangannya. 


Pura-pura tidak melihat —padahal mereka sudah sempat saling menatap—, Thalita berjalan ke arah sisi ranjang yang satunya lagi, tempat Evan biasa tidur selama ini. 


"Duduk sini!" perintah pria itu datar, sontak menghentikan kaki Thalita yang hendak mengitari ranjang. 


Tidak butuh waktu satu menit, Thalita sudah langsung mundur dan duduk di atas ranjang sisi tempat dia biasa tidur. 


Dalam diam, Evan menarik pelan tangan Thalita yang sakit. Meski begitu, tetap saja Thalita yang mungkin sedikit trauma, langsung tersentak hendak menarik lengan kirinya. 


Dengan telaten, Evan pun mulai membaluri tangan Thalita yang sepertinya terkilir itu dengan sebuah minyak yang tadi dia pegang. 


"Kadang, obat tradisional begini jauh lebih efektif daripada harus dibawa ke rumah sakit. Kakeknya temenku juga dulu sering pakai minyak ini untuk olesin kalau badannya lagi sakit,"


Tanpa diminta, Evan bercerita asal muasal kenapa dia membaluri tangan Thalita dengan minyak, ketimbang membawa wanita itu ke rumah sakit dan memberikan gips di lengannya. 


Thalita hanya diam menahan nyeri, membiarkan Evan memijat-mijat pelan lengannya. 


"Adik kamu itu harus dihukum. Kayaknya dia udah kebiasaan banget nyerang kamu kayak gini," kata Evan masih dengan aktifitasnya, tidak begitu dipedulikan oleh Thalita. 


"Aku bakal laporin dia ke polisi."


"Apa?!"


Krek! 


"Aaaah!"


Tiba-tiba, Thalita menjerit seiring dengan Evan memutar sendiri tangannya hingga berbunyi. 


"Gimana? Udah enakan?" tanya Evan tenang, menatap datar wajah Thalita yang masih begitu kaget dengan apa yang barusan pria itu lakukan pada lengannya. 


Agak ragu, Thalita menggerakkan lengannya memutar. Saat tidak merasakan apapun, dia mulai memutar lengannya sedikit kuat. 


Secara ajaib, wanita itu merasa kalau sakit yang tadi dia rasakan sudah menghilang. Meski masih ada jejak-jejak nyerinya, tapi ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. 


Sambil mengangguk, Thalita tidak sadar kalau dia tersenyum. 


"Udah," jawabnya polos, menyentuh lengannya sendiri. "Makasih, Kak."


Evan hanya diam saja melihat perempuan itu. Tidak membalas ataupun meresponsnya. Melainkan hanya menatap wajah lega Thalita yang terlihat seperti sosok wanita yang rapuh. 


"Jangan nunjukin muka kayak gitu. Kamu nggak pantes," kata Evan tiba-tiba, menghilangkan senyum tipis yang tadi sempat muncul di bibir Thalita. 


Tatapan matanya yang kecewa itu kembali muncul, menatap Evan yang berdiri sambil membawa minyak yang tadi dia gunakan. 


"Kamu udah jadi milik aku sekarang. Nggak ada yang boleh nyentuh kamu lagi selain aku. Termasuk keluarga kamu yang brengsek itu," 


Setelah mengatakan hal itu, Evan langsung berpaling. Meninggalkan Thalita yang terdiam, mencoba mencerna musibah baru yang mungkin saja akan semakin berat ke depannya. 


Keesokan paginya, Thalita terbangun dengan suara dering ponselnya di nakas. Sedikit malas, dia mengucek matanya yang masih terasa berat dan mengambil ponsel tersebut. 


Sambil menarik napas panjang, dia melihat layar ponselnya membaca id pemanggil yang tertera di sana. 


"Mama?"


Melihat nama Sang Ibu, mendadak rasa kantuk Thalita pun menghilang. Dia buru-buru bangkit dari posisi tidurnya dan menjawab panggilan itu dengan segera. 


"Halo, Ma," sapa Thalita semangat. 


"Heh, anak sialan! Apa yang sebenarnya udah kamu bilang sama suami brengsek kamu ini, hah? Kenapa dia datang-datang ke rumah kami dan mengancam akan melaporkan Axel ke polisi?!"


Tidak membalas sapaan Thalita seperti apa yang diharapkan oleh wanita itu, Marlia justru langsung memaki Thalita dengan deretan kalimat kasar dan juga keras. 


"Apa? A—apa maksud Mama? Kak Evan—"


Kalimat Thalita terputus, tatkala melihat ranjang di sebelahnya sudah kosong dan juga rapi. 


Kemana Evan?


"Suami kamu datang ke rumah kami, dan ngancam bakal melaporkan Axel ke kantor polisi. Sebenarnya, masalah apa lagi yang udah kamu buat untuk keluarga kami, hah?! Bisa nggak, sekali aja kamu itu nggak menyusahkan saya dan keluarga saya?!" bentak Marlia emosi, membuat Thalita tanpa sadar menjauhkan ponselnya dari telinga. 


Seketika, Thalita ingat dengan perkataan Evan tadi malam. Bahwa pria itu berencana melaporkan Axel ke polisi. 


Panik, Thalita pun langsung turun dari tempat tidur. 


"I—iya, Ma. Li—Lita segera ke sana. Ben—bentar, ya…."


Kemudian, dia yang sudah seperti orang linglung langsung memutuskan panggilan tersebut, meskipun masih terdengar suara teriakan Marlia di sana. Dia celingak-celinguk sebentar seperti orang kebingungan, sebelum akhirnya berlari keluar kamar. 


"Lita, kamu udah bangun?"


Baru saja keluar, Laila yang berada di ruang TV langsung menyapanya. 


"Ma, Kak Evan…. Kak Evan mana?" tanya Thalita panik, pada Laila yang seperti bingung melihatnya. 


"Dia tadi bilang ada urusan sebentar," sahut Laila tenang, memperhatikan wajah Thalita yang mengerutkan dahinya dalam. 


"Dia bilang, kamu nggak enak badan. Makanya nggak dibangunin. Jadi, sarapan kamu masih Mama simpan. Kamu mau makan sekarang?" tawar Laila, yang sontak saja mendapat gelengan kepala dari Thalita. 


"Lita boleh minjam mobil Mama? Mobil Lita masih di apartemen kemarin," pinta Thalita memelas, menyentuh tangan Laila. 


"Kamu mau kemana? Kata Evan, kamu harus istirahat."


"Lita mau nemuin Kak Evan. Ada yang mau Lita omongin sama dia, Ma. Tolong pinjemin Lita mobil Mama," pinta Thalita lagi, kali ini lebih memohon, hingga membuat Laila seperti berpikir panjang. 


Butuh beberapa waktu bagi Laila untuk menjawab permintaan itu. Dia diam memperhatikan wajah Thalita lekat, sampai akhirnya dia mengangguk dan berjalan menuju sebuah nakas yang ada di dekat TV. 


"Kamu mau Mama anterin?" tawar Laila lagi, sebelum menyerahkan kunci itu pada Thalita. 


"Enggak usah, Ma. Lita bisa sendiri," tolak Thalita setengah tersenyum, kemudian mengambil kunci mobil itu dari tangan Laila. 


"Ya udah, kalau begitu hati-hati, ya…." Pesan Laila, melihat Thalita yang langsung berlari menuju pintu garasi. 


"Apa dia bakal baik-baik aja, ya?" desah Laila merasa cemas, dengan keadaan menantunya itu akhir-akhir ini. 


......Bersambung......