Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #19



Di sisi lain, Evan yang baru saja masuk ke dalam kamar langsung melemparkan kunci serta dompetnya ke atas ranjang. Meletakkan koper di sudut kamar, kemudian mengambil sebuah pakaian dari dalam lemari. 


Perdebatannya dengan Thalita saat di bandara tadi terus terngiang dalam benak Evan, yang mana itu sangat mengganggu dan membuatnya semakin kesal. 


"Jujur, kamu pengen keliatan baik di depan Mama itu karena apa? Karena aku, atau karena ada alasan lain?" tanya Evan yang kesal mendengar penuturan Thalita yang memintanya untuk merahasiakan semua kejadian buruk yang telah mereka alami selama beberapa hari ini. 


"Maksud Kakak apa? Aku cuma nggak mau Mama menilai buruk aku. Itu aja! Aku takut—"


"Kamu selalu aja takut! Apa yang kamu takutkan, sih? Mamaku nggak sejahat itu! Kamu tau sendiri, kan?" ujar Evan dongkol, karena lagi-lagi Thalita meminta maaf. Pikirnya, bisa tidak Thalita itu mengganti kata maafnya dengan sebuah penjelasan agar kelak Evan bisa tahu alasan wanita itu bersikap demikian dan mulai belajar memahaminya. 


"Aku nggak bermaksud bilang Mamanya Kak Evan jahat. Aku—"


"Ha, terus sekarang kamu bicara seolah-olah itu Mamaku sendiri. Kamu nggak anggap beliau itu orang tua kamu juga?" sambar Evan tiba-tiba, menatap tajam pada Thalita yang mendadak terlihat kaku. 


Sebenarnya, Evan tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut. Memang, apa salahnya kalau Thalita itu menyebut Laila sebagai ibunya Evan? Toh, nyatanya memang seperti itu, kan? Dia dan Thalita itu bukan saudara kandung, yang bisa menyebut Laila sebagai ibu bersama.


Tapi percayalah, apa yang dilakukan Evan saat ini semata karena dia kesal dan ingin marah saja pada Thalita. Dia ingin mendebat wanita itu, hingga menemukan celah untuk bertanya tentang segala hal yang membuat Thalita seperti dipenjara oleh sesuatu. Karena saat dia bertanya dengan baik-baik, wanita itu tampak menghindar dan tidak menjawab sama sekali. 


"Kak Evan,"


Evan yang kebetulan sedang membuka bajunya, menoleh mendengar suara Thalita yang masuk ke dalam kamar dan mendekat ke arahnya. 


"Aku mau bicara sesuatu sama Kakak," kata Thalita ragu, menghentikan langkah kakinya sekitar dua langkah lagi dari Evan. 


Sambil menghembuskan napas berat, Evan mengalihkan pandangan dari wanita itu. 


"Aku nggak mau ribut sama kamu. Di rumah lagi ada Mama. Aku takut, nanti dia dengar dan berpikir yang enggak-enggak tentang kita."


Lalu, Evan menoleh lagi, menatap Thalita seolah menyindir perempuan itu. 


"Kamu kan takut, Mama mikir hal jelek tentang kamu."


"Kak!" tegur Thalita untuk pertama kali, membuat Evan yang sedang membalikkan baju yang baru dipakainya jadi terhenti seketika. 


Dia melihat Thalita yang sudah mengerutkan dahi dan memandang marah padanya. 


"Kenapa? Bukannya itu yang kamu mau? Aku cuma mengikuti apa yang kamu mau aja kok, biarpun aku nggak tau untuk alasan bodoh apa aku ngelakuin hal itu."


Nada bicara Evan memang naik satu tingkat. Tapi besar suara pria itu tetap ditahan agar tidak sampai terdengar keluar kamar. 


Sesaat, keduanya saling melihat satu sama lain dengan emosi yang berbeda. 


"Aku nggak bermaksud untuk mempermainkan Kakak. Aku cuma—"


Saat akan mendengar apa yang akan Thalita katakan, Evan melihat wanita itu menghentikan ucapannya. 


Ekspresi wajah ragu kembali hadir di wajah tirus itu, yang mana Evan sudah mulai merasa muak melihatnya. 


🍂


Akhirnya, hari pun berganti. Setelah pertengkaran mereka yang berlanjut di kamar kemarin, Evan dan Thalita masih belum saling berbicara satu sama lain. Keduanya memang tampak saling menjaga sikap di depan Laila. Tapi di belakang, keduanya seperti saling menghindar satu sama lain. 


"Lita,"


Thalita sedang termenung di dalam kamar, ketika pintu diketuk dan memperdengarkan suara Laila yang memanggilnya. 


Buru-buru dia turun dari kursi kerja Evan yang ada di kamar itu dan berjalan membukakan pintu. 


"Ya, Ma?" sapa Thalita sopan, pada Laila yang langsung melemparkan senyuman lembut kepadanya. 


"Kamu udah baikan?" tanya Laila agak cemas, melihat Thalita mengerjap. 


"Ya?"


"Mama belanja keperluan dapur?" tanya Thalita melebarkan mata, terlihat agak panik dan menyentuh tangan Laila. "Kenapa Mama nggak bilang sama Lita? Lita bisa kok, pergi belanja! Itu kan tugas—"


Sadar dengan kesalahannya lagi, Thalita mengusap wajahnya dengan sebelah tangan gusar. "Maaf ya, Ma…. Lita nggak bisa menjalankan tugas Lita dengan benar," ucap Thalita menggigit bibir bawahnya resah. Tiba-tiba, dia merasa takut kalau Laila akan mengeluh dan mulai melaporkannya pada Marlia. 


Namun, bukannya marah, Laila malah terlihat tertawa sambil mengusap kepala Thalita. "Nggak papa kok, Sayang. Mama memang suka pergi-pergi belanja untuk keperluan dapur gitu. Apalagi, kan ada Bibi yang bantuin Mama. Jadi, kamu nggak usah ngerasa nggak enak gitu,"


Laila tampak berusaha menenangkan Thalita. Tapi sepertinya, menantunya itu masih juga terlihat panik. 


"Emang sih, tadi niatnya Mama pengen ngajak kamu juga. Sekalian jalan-jalan gitu, biarpun ke pasar. Cuma Mama ingat, tadi Evan titip pesan yang bilang kalo kamu lagi yang enak badan. Jadi, ya mau nggak mau, Mama nggak jadi deh, ngajak kamu. Apa kamu udah ngerasa enakan sekarang?"


Alis Thalita sedikit naik mendengar ucapan Laila. Perasaan, dia baik-baik saja deh, tapi kenapa Evan malah bilang dia sakit? Apa pria itu sengaja agar Thalita terlihat buruk di mata Laila dan menjauh darinya? 


"Kamu nggak lupa minum obat yang disuruh Evan kan?" tanya Laila lagi, menarik pikiran Thalita terfokus padanya. 


"Ya?"


Melihat Thalita yang bingung, Laila sontak terkejut dan mengerjap beberapa kali. 


"Berarti kamu belum minum obatnya, dong? Tadi Evan minta tolong sama Mama, untuk ngecek kamu minum obat yang dia kasi atau enggak. Aduh, kamu ini…."


Di tengah omelan ringan Laila, wanita itu berpaling dia berjalan menuju dapur dengan tergesa dan kembali sambil membawa sebuah gelas berisikan air minum di tangannya. 


"Ayo, kita minum obat dulu!"


Seperti boneka, Thalita ditarik dengan mudahnya saja oleh Laila masuk ke dalam kamar dan mendudukkannya di atas ranjang. 


"Mana ya, katanya obatnya…."


Thalita hanya diam memperhatikan mertuanya yang bercelingak-celinguk sebentar. Pikirnya, kapan Evan memberikannya obat? Dan obat untuk apa juga itu? 


"Ini obat supaya keadaan kamu bisa lebih baik. Aku letak di sini, ya."


Samar, Thalita seperti ingat saat dia tidur tadi, dia seperti mendengar suara Evan di sebelahnya. 


Apa itu bukan halusinasi?  


"Nah, ini dia,"


Laila yang sudah menemukan obatnya menarik perhatian Thalita lagi.


"Kemarin Evan cerita, kalau kamu sempat sakit pas bulan madu. Dia khawatir, makanya kalian cepat pulang. Sekarang, buka mulutnya!"


Thalita refleks mengikuti perintah Laila untuk membuka mulut. Lalu, wanita paruh baya itu dengan sigap memasukkan dua kapsul itu ke dalam mulut si menantu sebelum akhirnya menyuruhnya untuk minum air. 


"Hah, kamu ini. Untung aja Mama sempat ngecek obatnya. Kalo enggak, bisa-bisa Evan ngomel sama kita," keluh Laila meletakkan gelas airnya yang tersisa setengah di atas nakas. 


"Emang, Kak Evan suka ngomel ya, Ma?" tanya Thalita polos, melihat Laila yang sontak terdiam dan menatap wajahnya seakan berpikir. 


"Enggak, sih. Hehe," lantas Laila tertawa sebelum melanjutkan omongannya. "Dia kalo marah, paling cuma diam. Cuma kamu tau sendiri kan gimana seramnya dia kalo lagi diam? Biar kata ganteng juga, tapi kalo liat matanya yang tajam itu…hih! Mama sih, ogah ya…"


Laila bergidik sejenak, seakan merasa ngeri membayangkan wajah Evan yang datar. 


Hal itu sontak membuat Thalita tertawa kecil, karena ekspresi Laila yang lucu. Meskipun ibu dan anak, di mata Thalita keduanya memiliki karakter yang jauh berbeda. 


Tapi, sepertinya keduanya memang sama-sama baik. 


...Bersambung...