Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #24



Kedua mata Thalita teras berat. Dia menduga, kalau sekarang matanya pasti terlihat bengkak. Wajahnya pun terasa kaku dengan tubuh yang seperti potongan kayu rapuh yang siap patah kapanpun juga. 


Thalita masih duduk di atas kloset kamar mandi dengan tatapan matanya yang kosong ke arah dinding. 


Pikirannya seperti buntu membayangkan apa yang sudah terjadi pada hidupnya dalam kurun waktu 1 minggu. Semua bagaikan flash yang lewat begitu cepat hingga membuatnya terduduk tidak berdaya seperti ini. 


"Harusnya aku nggak nikah sama dia," gumam Thalita tidak sadar, masih dengan tatapan sayu yang tidak mencerminkan kehidupan. 


Dalam benaknya, andai saja dia tidak menikah dengan Evan saat itu, dia takkan jadi seperti ini. Sekarang, pria itu pasti memandang rendah dirinya. Seperti bagaimana caranya menatap Thalita tadi malam, Evan pasti menganggapnya murahan serta pembohong yang besar. 


"Ternyata kamu lebih liar dari kelihatannya, ya."


Bibir Thalita bergetar mengingat kalimat itu. Dia tahu apa maksud Evan sebenarnya. Hanya saja, dia tidak bisa membantah, karena siapapun yang berada di posisi pria itu pasti akan mengatakan hal yang sama. 


Tapi, kenapa mendengar Evan yang mengatakan itu membuat Thalita menjadi begitu sakit? Dan anehnya, Thalita bahkan sudah merasa takut akan pria itu tahu tentang keadaannya bahkan sebelum mereka menikah. 


Maksudnya, Thalita memang sudah menduga hal ini akan terjadi dalam hidupnya jika dia sudah memutuskan untuk menikah. Hanya saja, dia pikir tidak akan masalah dan bisa bersikap masa bodoh jika orang yang menikahinya nanti akan mengatakan hal buruk tentang kondisi Thalita. Tapi, kenapa rasanya begitu berbeda saat dia tahu kalau Evan yang akan menjadi suaminya? Dan jadi semakin bertambah cemas, tatkala pria itu tampak berusaha menyentuh Thalita bahkan sejak hari pertama mereka menikah. 


"Dia pasti nggak bakal percaya sama kondisi aku,"


Sambil menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan atas lutut, Thalita membuang napas berat dan kasar. Dia seperti menangis, tapi air matanya seperti enggan untuk keluar lagi. Hanya pikirannya saja yang kalut hingga akhirnya dia mengangkat wajah dan mengatur napas panjang. 


"Ini nggak bakal jadi masalah, kalo dia nggak ngomong sama siapa-siapa," gumam Thalita seorang diri, berusaha untuk kuat dengan menangkan pikirannya. 


Kedua tangan Thalita mengepal, Thalita berpikir keras. Haruskah dia berbicara sekali lagi dengan Evan? Tapi, apakah pria itu akan mau mendengarkannya? Dilihat dari caranya marah malam tadi membuat Thalita tidak yakin, kalau Evan akan mendengarkannya kali ini. Tadi saja, saat mengambil baju kerja dari dalam kamar, Evan bersikap abai kepadanya. Seolah tadi malam mereka tidak melakukan hal yang mungkin bisa dikatakan romantis karena saling berbagi kehangatan bersama. 


Setelah berpikir lama, Thalita yang tidak menemukan jalan keluar pun hanya bisa muntah karena mual memikirkan semua permasalahan yang tiba-tiba datang menghampirinya. 


🍂


Matahari masih terlihat terik di luar jendela. Sepertinya, kemarau sudah mulai datang bersamaan dengan angin gersang yang berhembus membawa debu melintasi jendela luar. Evan hanya melenguhkan napas panjang, sebelum membalikkan tubuhnya ke arah pintu, melihat salah seorang perawat masuk ke ruangannya sambil membawa sebuah map kuning di tangannya. 


"Ini rekam medis pasien selanjutnya, dok," ucap perawat itu sopan, memberikan map itu pada Evan yang dibaca singkat oleh pria tersebut. 


"Oke, tolong suruh masuk," pinta Evan sejenak menoleh ke arah suster tersebut, yang dibalas dengan anggukan. 


Evan kembali fokus membaca rekam medis dari pasien yang sepertinya baru kali ini akan dia tangani. Dari jejak medisnya tertera kalau pasien yang ditanganinya ini sudah menderita sakit jantung sejak lama. 


"Selamat siang, dokter,"


Suara wanita muda yang menyapa ramah pada Evan sontak membuat pria itu mendongak dan membalas sapaan tersebut. 


"Selamat siang,"


Namun, tatapannya langsung tertuju pada perempuan yang saat ini berada di depannya dengan jarak beberapa meter. 


"E—Evan?"


Wajah Evan terlihat begitu datar, dengan tatapan mata sayu menatap siapa yang ada di depannya saat ini. 


"Kamu kenal sama dokternya, Mila?" tanya wanita paruh baya yang Evan duga akan menjadi pasiennya di samping perempuan yang Evan tatap. 


Terlihat agak kaku, wanita yang dipanggil Mila itu melihat Evan dan ibunya bergantian. 


"O—oh, i—iya, Ma. D—dia temen aku pas SMA dulu," aku Mila sedikit menunduk, melirik Evan yang hanya diam dengan ekspresi wajah yang sama datarnya. 


"Oiya?!" ujar Ibunya Mila itu kaget juga, kemudian melihat ke arah Evan dan tersenyum. 


"Ibu Rosalin?" sapa Evan tenang, membaca nama pasien yang tertera di berkas kuning itu sambil melirik ke arah Ibunya Mila. 


"Iya, saya Rosalin. Ibunya Mila," sahut Rosalin agak bangga, tersenyum lebar pada Evan yang hanya menganggukkan kepala. 


"Kalau begitu silahkan duduk, Bu," ucap Evan mempersilakan wanita paruh baya itu duduk, yang mana langsung diaminkan dengan cepat oleh wanita tersebut. 


Keduanya seperti tidak sadar dengan Mila yang masih terdiam di tempatnya sambil menatap Evan tanpa berkedip. Matanya terlihat sedih, dengan tangan yang tanpa sadar bergetar hingga membuatnya mencengkram telapak tangannya secara bergantian. 


Beberapa menit berlalu atas sesi konsultasi Rosalin dengan Evan. Bahkan pria itu juga sudah sempat memeriksa kondisi Rosalin menggunakan alat-alat yang ada di ruangannya, sampai akhirnya mereka kembali duduk di tempat mereka semula, masih dengan kondisi yang mengabaikan keberadaan Mila. 


"Saya akan memberikan resep untuk satu minggu ke depan. Kalau memang sampai saat itu kondisi Ibu tidak juga membaik, maka kita akan merujuk Ibu ke spesialis jantung," kata Evan menjelaskan, dengan sikap yang sangat profesional. 


"Kalau sama dokter aja nggak bisa? Kayaknya, saya bakal lebih percaya, kalau dokter yang menangani penyakit saya," ujar Rosalin tersenyum, tapi seperti membujuk juga kepada Evan. 


Pria itu tidak langsung menjawab. Dia hanya diam menatap wajah Rosalin lekat, sampai akhirnya dia mengedip dan melanjutkan kegiatannya menulis sesuatu. 


"Saya bukan dokter spesialis jantung, Bu."


"Tapi, bisa ambil spesialis kan? Kayaknya, kamu orang yang cukup pintar," kata Rosalin kemudian, lagi-lagi membuat Evan melihat ke arahnya. 


Tidak merespons, Evan menyelesaikan apa yang harus ditulis di secarik kertas di tangannya dan memberikannya pada wanita itu. 


"Ibu nggak usah khawatir. Rumah sakit ini punya rekomendasi dokter yang bagus. Asal rutin berkonsultasi dan mengikuti anjuran mereka, penyakit Ibu pasti bisa ditangani."


"Rumah sakit yang kemarin juga ngomongnya begitu. Tapi, lihat! Penyakit saya bukannya sembuh, tapi malah tambah parah kayaknya," gerutu wanita itu pada Evan, masih juga dipandang datar oleh pria itu. 


"Itu karena Ibu mengkonsumsi makanan yang menjadi pantangannya. Dari data hasil pemeriksaan saat di depan tadi, tekanan darah Anda tinggi, yang menunjukkan Anda pasti tidak mengkonsumsi obat tekanan darah tinggi seperti yang sudah dianjurkan. Ibu pasti sudah tahu kan, akibat dari membiarkan tekanan darah selalu tinggi, bisa membuat penyempitan jantung?"


Rosalin hanya cemberut mendengar ucapan Evan. Seperti anak kecil yang sudah sangat dekat dengan Evan, dia melirik ke arah Mila —putrinya— yang berdiri tidak jauh di belakang. 


"Gimana nggak darah tinggi, dok. Orang yang mau dihadapin itu kayak dia!" tunjuk Rosalin pada Mila, yang sontak membuat kedua mata anaknya itu membola. 


"Mama!"


"Umurnya udah segini, tapi belum ada juga laki-laki yang mau datang buat melamar dia. Pusing, deh!"


"Mama!"


Mila yang tidak menyangka Rosalin akan berkata demikian, mendekat dan berdiri tepat di samping Rosalin duduk saat ini. 


"Kenapa? Bukannya kamu bilang dia ini teman kamu? Kali aja kan, dia punya kenalan yang bisa dijodohin ke kamu. Atau…."


Tiba-tiba, Rosalin menoleh ke arah Evan. 


"Dokter udah nikah?"


"Ma!"


Tidak sabar, Mila langsung menarik lengan ibunya kasar hingga wanita itu berdiri. 


"Apaan sih, Mil! Nggak sopan banget sama orang tua! Mama kan lagi ngobrol sama temen kamu!" protes Rosalin kesal pada Mila, yang mana tidak melihat wajah anaknya itu sudah memerah. 


"Udah, nggak usah dibahas! Sekarang kita pulang sekarang!" ujar Mila tegas, menarik paksa Rosalin mengikutinya dari belakang. 


......Bersambung......