Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #25



Di sisi lain, Thalita masih menyandarkan kepalanya di atas meja. Pikirannya yang suntuk membuatnya tidak fokus dalam bekerja. Padahal, ini adalah hari pertamanya kembali ke restoran. Tapi, bukannya sibuk menyelesaikan tugas yang menumpuk, dia malah sibuk memikirkan hal-hal yang justru membuatnya semakin overthinking dan pusing. 


Tok! Tok! Tok! 


Cklek! 


"Maaf, Bu Lita."


Thalita agak kaget menegakkan kepalanya, mendengar pintu ruangannya diketuk dan dibuka dengan cara sedikit kasar. 


"Sekar?" 


Thalita yang sedang dalam mood tidak baik, menatap asistennya  yang tampak resah itu dengan dahi yang berkerut dalam. 


"Itu, di luar ada Pak Axel. Katanya—"


"Harus berapa kali, sih, gue bilang, kalau gue itu cuma mau ketemu sama Kakak gue! Apa lo semua bego' sampai nggak ngerti sama semua perkataan gue?"


Thalita tampak terkejut, dengan kehadiran Axel yang juga ikut masuk ke ruangannya. Tanpa sadar, Thalita jadi memasang sikap siaga di kursinya. 


"Pak Axel, kan udah saya bilang untuk tunggu sebentar di luar! Kenapa—"


"Berisik banget si lo!"


"Axel!"


Tangan Axel yang sudah terangkat seperti ingin memukul Sekar, segera dihentikan oleh Thalita.


Wanita itu bangkit dari kursinya dan menggebrak meja kerjanya sekali. 


Sedikit menenangkan hati, Thalita menarik napas panjang dan memijat pelan dahinya. 


"Biarin dia masuk. Kamu bisa keluar," ucap Thalita pada Sekar, yang mana entah kenapa raut wajah keberatan muncul di muka perempuan itu. 


Dia melirik Thalita dan Axel bergantian seakan menunjukkan kekhawatirannya pada Thalita. 


"Lo budek? Dia nyuruh lo keluar!"


Belum sempat memahami situasi, Sekar sudah lebih dulu didorong kasar oleh Axel keluar dari ruangan dan membanting pintunya dengan kuat. 


Setelah itu, adik tiri Thalita itu lantas berbalik. Menyeringai sinis pada Thalita, yang diam-diam menelan ludahnya susah payah. 


"Mau apa lo kemari? Bukannya udah gue bilang, untuk nggak datang lagi ke tempat ini?" ujar Thalita berusaha terlihat kuat, meski sebenarnya dia sedikit gemetar. 


"Emang, sejak kapan gue pernah dengerin omongan lo, hm?" ledek Axel santai, kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan Thalita. 


"Di ruangan ini ada CCTV. Lo nggak takut bersikap kasar kayak tadi? Mau berapa kali lagi lo masuk penjara biar sadar?!" kata Thalita lagi, geram dengan sikap tak acuhnya Axel. 


Anak itu terlihat tidak peduli. Dia memperhatikan ruangan Thalita sekilas, dan berhenti pada jendela ruang kerja Thalita yang tembus pandang ke dalam restoran. 


"Lo ganti jendela ruangannya, ya?" tanya Axel pada Thalita dengan raut wajah dingin dan juga menyeramkan. 


Thalita tidak langsung menjawab. Dia membuang pandangan sekilas ke arah lain dan menelan ludahnya susah payah. 


"Terserah gue. Ini ruangan gue," jawab Thalita tanpa melihat Axel, yang dia tahu kini telah menatapnya tidak berkedip. 


Beberapa bulan sebelum ini, ruangan itu memiliki kaca yang berukuran kecil dan tidak tembus pandang. Namun, karena insiden pemukulan yang dilakukan Axel waktu itu terhadap Thalita dan menyebabkan beberapa kerusakan, jendela itu pun diganti. Meski Thalita tidak tahu siapa yang memilih ukuran jendela menjadi lebih besar dan tembus pandang ke arah luar, Thalita sedikitnya bersyukur kalau-kalau Axel akan datang lagi ke ruangannya seperti saat ini. 


Apalagi, kondisi jendela itu sekarang sedang dalam keadaan terbuka. Alias  tirai penutup yang biasanya Thalita gerai di sana untuk menutupi privasinya sedang terbuka dan membuat siapapun dari arah luar tahu apa yang terjadi di ruangan Thalita saat ini. 


"Lo itu cuma ngelakuin hal yang sia-sia. Karena gimana pun juga, gue nggak pernah bakal bisa di penjara,"


Dengan begitu santai, Axel berbicara pada Thalita. Membuat wanita itu terlihat geram dan mengepalkan kedua tangannya sampai memutih. 


"Apa tujuan lo datang ke mari? Kalau cuma buat cari ribut, mending lo pulang aja, sana! Gue banyak kerjaan!" usir Thalita hendak duduk, tapi langsung mendengar tawa sinis dari Axel. 


"Emang nggak boleh ya, seorang adik mengunjungi Kakaknya yang baru aja nikah?" tanya Axel, jelas sekali seperti mengandung makna yang lain. 


"Gue kangen sama lo," bisik Axel dengan ekspresi gemas yang dibuat-buat, membuat Thalita seketika merasa takut. 


"Sejak lo menikah, gue jadi susah menyalurkan emosi gue. Lo tau sendiri kan, di dunia ini, cuma lo doang yang bisa bikin emosi gue tersalurkan dengan benar. Jadi, wajar kan, kalo gue datang buat ngeliat Kakak kesayangan gue ini karena kangen?"


"Lo nggak pernah anggap gue sebagai Kakak! Lo cuma anggap gue samsak lo aja! Gitu kan, maksud lo?!" bentak Thalita emosi, kontan membuat Axel tertawa begitu keras. 


Suaranya yang renyah seperti mendengar lelucon yang sangat lucu dari Kakaknya itu. 


"Kok lo makin pinter aja, sih? Gue jadi makin sayang sama lo," goda Axel terkekeh, menatap geli wajah Thalita yang memerah. 


"Gimana soal malam pertama lo sama suami lo itu? Apa dia tau, lo udah nggak perawan lagi pas malam pertama?" ujar Axel tiba-tiba, membalas tatapan mata Thalita yang menyalang dengan begitu enteng. 


"Kalo biasa aja, sih. Berarti bener, dia itu emang udah sering celap-celup di luar sana. Nggak mungkin juga, kan dia mikirnya lo itu masih suci? Apalagi, kalau sampai dia tau, kalau yang buat lo udah nggak perawan itu—"


"Diam lo!"


Plak! 


Thalita yang sudah kepalang emosi, tanpa sadar memukul pipi Axel. 


"Pergi dari tempat ini!"


Marah, Thalita yang tidak berpikir panjang, malah berjalan ke arah laki-laki itu dan menarik tangannya dengan kasar. Tujuannya, ingin menyeret dan melemparkan bocah itu keluar dari ruangannya. Namun, dia yang bagaimana perangainya Axel, menjadi lengah hingga membuat pria itu dengan mudah menangkapnya. 


Greb! 


"AAAAARGH!"


Tidak siap dengan sikap kasar Axel, Thalita terpekik keras, tatkala laki-laki itu dengan cepat menarik lengan Thalita dan memelintirnya ke arah belakang. 


"Dasar cewek sialan! Sombong banget lo, pake ngusir-ngusir gue segala! Lo pikir lo siapa?!" maki Axel di telinga Thalita, tidak peduli kalau wanita itu sedang merintih kesakitan. 


Dengan menahan emosi, Axel mengusap pelan sebelah pipinya yang tadi dipukul oleh Thalita dan semakin memelintir lengan ringkih kakaknya itu. 


"AAAARG! AXEL! SAKIT! SAKIT, AXEL! LEPASIN TANGAN GUE! SAKIT!" teriak Thalita keras, tidak digubris sama sekali oleh Axel. 


"Ini hukuman buat lo! Karena udah berani buat ngusir gue," geram Axel di telinga Thalita, kemudian mencengkram pergelangan tangan kakaknya itu menggunakan tangannya yang lain. 


"Dan yang ini…." Tekan Axel menarik pergelangan tangan Thalita pelan, dan menatapnya begitu dingin. 


"Karena lo udah berani mukul gue,"


Meski posisinya sekarang tengah membelakangi Axel, Thalita bisa merasakan punggungnya seperti tersiram dengan air es. Dingin, seakan ada angin kutub yang berhembus di belakangnya. 


Thalita berusaha meronta, saat Axel memberi jarak antara pegangan tangan pria itu di lengan dan juga pergelangan tangan Thalita. Entah kenapa, wanita itu curiga kalau Axel mungkin akan membuat tangannya patah seperti apa yang pernah dia coba lakukan beberapa tahun yang lalu. 


"Axel, lepasin, Axel! Axel!" teriak Thalita panik, kala adik kurang ajarnya itu bukannya menurut, malah terdengar mendecih di belakangnya. 


"Kayaknya lo emang nggak pernah ngerti, ya, gimana caranya buat memohon,"


"Axel!"


Kedua mata Thalita sudah tertutup rapat, membayangkan mungkin kedua tangannya akan patah kali ini. 


Namun, setelah berusaha untuk bersiap, tiba-tiba dia mendengar lagi suara gebrakan pintu ruangannya yang terbuka dengan keras. 


Kali ini, Sekar datang tidak sendiri. Dia bersama dengan seorang satpam yang biasanya berjaga di depan restoran, serta seorang pemuda lain yang merupakan salah satu waiters yang bekerja di restorannya. 


"Bu Lita!" pekik Sekar dan dua orang itu, kemudian bergegas mendekati Thalita yang tengah dicekal oleh Axel. 


"Heh! Apa-apaan kalian ini, hah?! Nggak sopan banget masuk ruangan orang tanpa permisi! Hei!"


Axel terlihat marah, saat petugas keamanan  restoran Thalita itu maju dan menarik lengannya untuk melepaskan Thalita secara paksa. 


Dan tanpa bisa melawan, Axel diseret menjauh oleh petugas yang bertubuh lebih kekar itu darinya, menjauh dari Thalita. 


"Pak Axel, sebaiknya Bapak pergi dari tempat ini. Atau, kami akan melaporkan Bapak lagi ke polisi," ancam Sekar tegas, pada Axel yang tentu saja langsung memakinya habis-habisan. 


"Heh! Cewek tolol! Lo pikir, lo siapa bisa ngancam-ngancam gue, hah!? Lo pikir gue takut sama lo?! Dia itu Kakak gue, bego'! Pake otak kalo ngomong! Lo mau gue pecat, hah?!"


Teriakan Axel yang begitu keras tentu membuat suasana restoran menjadi begitu ricuh. Namun, bukannya gentar, Sekar yang memang sudah berapa kali mendapat perlakukan demikian dari Axel hanya menggeleng sambil menunjuk kamera pengawas yang ada di pojok kanan atas ruangan Thalita. 


"Silakan, tapi sebelum itu, Bapak akan lebih dulu masuk penjara,"


Seolah tidak bisa berkata-kata lagi, Axel hanya bisa mendengus menahan emosinya saat digelandang petugas keamanan restoran ke luar. 


Setelah itu, Sekar yang melihat Thalita meringis memegangi lengannya, menjadi cemas dan mendekati wanita itu. 


"Bu, Ibu nggak papa?" tanya Sekar pada Thalita, yang hanya dibalas gelengan saja oleh wanita itu. 


"Apa perlu kita bawa ke rumah sakit, Bu Lita?" tanya waiters laki-laki yang tadi mengikuti Sekar, terlihat sama khawatirnya sama perempuan itu. 


Tapi, bukannya menjawab, Thalita yang merasa urat tangannya seperti terjepit semua, hanya bisa berjalan tertatih mengambil tas tangannya yang ada di atas meja. 


"Tolong rapikan ruangan saya, ya. Saya mau pulang sekarang,"


...^^^Bersambung^^^...