
Setengah jam sudah berlalu sejak pasien terakhir Evan siang ini keluar. Kini waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Dan pria itu masih menikmati teriknya sinar matahari dari jendela ruangannya.
Tok! Tok! Tok!
"Van,"
Suara Jenna terdengar masuk dari pintu ruangan Evan. Namun, pria itu tidak menggunakan energinya sama sekali untuk menoleh. Dia hanya diam, sambil terus memasukkan dua tangannya ke dalam saku celananya.
Langkah kaki Jenna terdengar seperti mendekat. Dari arah belakang, dia memperhatikan Evan yang sepertinya tengah melamun.
"Eh, ada makanan nih. Boleh diicip nggak, ya?" goda Jenna pada Evan, melirik sekilas pada rantang makanan yang kini sudah berada di atas nakas persis di sebelah Evan.
Jenna tahu, itu adalah rantang yang tadi dibawakan Thalita untuk Evan.
Seperti orang tuli, Evan lagi-lagi tidak merespons seakan dia tidak mendengar ucapan wanita itu.
Menyerah, Jenna pun hanya bisa menarik napas panjang. Dia bersandar pada bangkar yang ada di ruangan Evan, dimana posisinya cukup dekat dengan Evan berdiri saat ini.
"Kamu dah makan?" tanya Jenna akhirnya santai, memperhatikan Evan yang masih berdiam diri.
"Jen," panggil Evan, mendapat respons Jenna yang menaikkan kedua alisnya sebentar.
Saat Evan menoleh, Jenna tersenyum kecil menunggu ucapan pria itu.
"Bisa keluar? Aku mau istirahat."
"Apa?"
Tidak menyangka, Jenna malah terpekik, tatkala Evan langsung mendorong tubuh kecilnya turun dari ranjang.
"Eh,"
Jenna berusaha untuk menghindar, tapi Evan yang jelas lebih tinggi dan kuat, menguasai tubuh Jenna menggiring tubuh perempuan itu menuju pintu ruangan.
"Tunggu dulu, Van! Ada yang mau tanyain ke kamu! Ini serius," tegas Jenna pada Evan, sambil menggoyangkan bahunya ke kiri dan kanan.
Karena katanya serius, Evan mau tidak mau, dan dengan ekspresi wajah datar, melepaskan dokter cantik itu dan menatapnya malas.
"Soal Thalita. Istri kamu," kata Jenna, kali ini membuat Evan mengerutkan dahinya samar.
"Tadi aku sempat dengat gosip dari meja resepsionis. Kamu tau sendiri kan, tempat itu udah kayak terminalnya gosip rumah sakit ini. Jadi—"
Jenna menatap ragu pada Evan yang sekarang sudah jelas mengerutkan dahinya dalam.
"Mereka bilang, Thalita itu pasien yang pernah masuk ke rumah sakit ini karena alasan percobaan bunuh diri. Apa itu bener?" tanya Jenna hati-hati, memperhatikan wajah Evan dengan seksama.
Dalam waktu singkat, tidak ada perubahan ekspresi yang terjadi di wajah tampan pria itu. Dia hanya diam, sambil membuang pandangannya ke arah lain.
"Van," panggil Jenna pelan, semakin terlihat ragu untuk bicara. "Jangan bilang… dia perempuan yang waktu itu kamu ceritain," terka Jenna tiba-tiba, membuat Evan terlihat semakin menghindarinya dengan cara membalik badan.
"Van!" tegur Jenna kemudian, melihat Evan yang kini sepenuhnya sudah membelakangi Jenna.
Tidak percaya, perempuan itu hanya mendengus dan mencoba berdiri di depan temannya tersebut.
"Kamu serius, nyari perempuan itu? Aku kira, pas kamu bilang bakal nemuin dia, kamu cuma bercanda, Van! Tapi, ternyata—?"
Jenna tampak tidak percaya melihat wajah cuek Evan. Dipikirnya apa yang sempat Evan katakan beberapa bulan lalu tentang pasien yang mencoba bunuh diri berapa kali, hanya luapan emosi Evan saja terhadap pasien itu. Tapi ternyata, Evan benar-benar mencarinya, dan bahkan sampai menikahi wanita yang dia maksud itu.
"Aku nggak beneran nyari dia. Dia sendiri yang datang ke hadapanku," bantah Evan sesaat, setelah dia melihat Jenna dan mengerutkan dahinya.
Pria itu berjalan menuju kursi kerjanya. Kemudian bersandar dengan ekspresi wajahnya yang masih masam seperti beberapa saat lalu.
"Dia nemuin kamu?" ulang Jenna tidak percaya, terlihat dari cara dia mendenguskan napas.
"Gimana caranya? Dia menyayat tangannya lagi? Dia masuk UGD lagi?" tuntut Jenna, lantas membuat Evan terlihat kesal dan menatap ke arahnya.
"Ngapain kamu nanya? Itu bukan urusan kamu!" kata Evan tidak suka, melihat Jenna yang lagi-lagi mendengus ke arahnya.
"Emang, itu bukan urusan aku, Van! Tapi, apa kamu serius sama perempuan itu? Bukannya kamu bilang, dia itu perempuan yang bermasalah?!" tuntut Jenna, kali ini membuat Evan menatap ke arahnya.
Dengan sedikit emosi, Jenna mendekati meja kerja Evan dan menyandarkan kedua tangan di atas meja.
"Kamu sendiri kan yang bilang, benci sama perempuan itu?"
🍂
Hari sudah menjelang malam. Thalita resah, karena sudah pukul 9 malam, Evan tak kunjung pulang ke rumah. Dia sudah makan malam bersama ibu mertuanya. Tadi, kata Laila, Evan sudah izin untuk pulang sedikit terlambat karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Meskipun Thalita sendiri tidak tahu pekerjaan apa yang membuat suaminya itu harus di rumah sakit lebih dari dua puluh empat jam, dia tetap tersenyum sambil menganggukkan kepala demi menutupi ketidaknyamanannya saat itu.
"Kak Evan!"
Secara refleks, Thalita yang sejak tadi duduk di atas ranjang pun berdiri. Menyambut Evan dengan senyuman lega, dimana ternyata Evan menepati ucapannya untuk pulang ke rumah.
Sejenak, Evan tidak merespons. Dia hanya diam sambil menatap Thalita dengan matanya yang datar.
Lalu, melihat perempuan itu diam saja, Evan pun berpaling menuju kursi kerjanya.
"Kak, ada yang mau aku bicarain," ucap Thalita to the point, menghentikan gerak tangan Evan yang ingin membuka kemeja yang dia pakai.
Dari raut wajahnya saja, sudah kelihatan kalau Evan itu merasa lelah. Bagaimana tidak, siang tadi dia bertengkar dengan teman baiknya yang selama bertahun-tahun ini selalu menjadi teman Evan bercerita di rumah sakit. Karena pembahasan mereka tentang Thalita beberapa bulan lalu, wanita itu menuduh Evan punya niat lain karena sudah menikah dengan Thalita.
Kalau tidak, bagaimana mungkin seorang berhati dingin dan enggan menikah seperti Evan itu memilih perempuan bermasalah yang hobinya bunuh diri seperti Thalita?
Demikianlah tuduhan Jenna terhadap dirinya, yang mana Evan merasa kesulitan untuk meluruskan itu semua.
"Bisa bicaranya nanti? Aku mau mandi,"
Dengan sorot mata yang tidak berubah, Evan menoleh. Menatap Thalita jenuh, hingga membuat wanita tersebut sadar diri akan posisinya.
Sedikit canggung, Thalita kembali tersenyum. Mengangguk dan membiarkan Evan berlalu menuju kamar mandi.
Tiga puluh menit sudah berlalu. Evan yang tak kunjung keluar pun lagi-lagi membuat Thalita menjadi overthinking dan berpikir apakah sebenarnya Evan ingin menghindarinya lagi kali ini?
Kalau boleh jujur, sebenarnya Thalita juga enggan memaksa pria itu untuk bicara. Kalau boleh pun, dia ingin hubungannya dengan Evan hanya sebatas status saja. Tidak ada komunikasi ataupun hubungan layaknya suami istri pada umumnya.
Dia takut, pada sosok Evan yang dia pikir bisa melindunginya, namun ternyata jauh lebih menyeramkan daripada keluarganya sendiri.
Sedang asik merenung, Thalita kembali dikejutkan oleh suara pintu kamar mandi yang terbuka. Evan keluar dengan tubuh basah, yang hanya ditutupi oleh selembar handuk berwarna putih di pinggangnya.
Agak canggung lagi Thalita mengikuti gerakan Evan. Menuju lemari, mengambil sepotong baju dan celana dari dalam sana.
Sempat Thalita membuang pandangan ke arah lain, ketika Evan dengan santainya membuka handuk untuk mengenakan pakaian dalam.
"Kak,"
Merasa sudah selesai, Thalita kembali mengganggu Evan. Kini pria itu sudah duduk di tepi ranjang tempat dia bisa mengistirahatkan diri.
"Apa?"
Suara Evan lagi-lagi terdengar malas. Ada selipan desah napas berat, ketika pria itu menjawab panggilan Thalita.
"Aku… mau bicara," kata Thalita takut, kembali mendapatkan dengus napas bosan dari Evan.
"Kayaknya dari tadi yang aku dengar itu suara kamu," sindir Evan kemudian melirik sinis pada Thalita. "Bukannya dari tadi kamu udah ngomong?"
Sambil mengulum bibir, Thalita yang merasa tidak enak sedikit menundukkan kepalanya. Dia sadar, kalau malam ini Evan terlihat sensitif. Tapi, itu bukan berarti Thalita bisa menyerah membahas apa yang harus dia selesaikan. Mengingat Marlia juga sudah mengekangnya tadi sore, demi memastikan kalau Evan tidak akan mengganggu keluarga mereka.
"Maaf, Kak. Tapi…. Ini soal Mama," ucap Thalita bersalah, tidak mampu mengubah ekspresi keras Evan sama sekali.
"Soal Kakak yang mau ngelaporin Axel… itu nggak bener, kan?" tanya Thalita hati-hati, menatap kembali Evan yang tidak putus memandangnya.
"Kalau aku laporin, kamu mau apa?"
"Kak!"
Evan menarik napas panjang dan membuangnya secara kasar. Dia sempat memejamkan matanya sejenak hingga dahinya berkerut seolah tengah menahan sesuatu.
"Kenapa sih, kamu itu terus bela-belain keluarga kamu yang brengsek itu? Biar aja mereka masuk penjara! Biar mereka tau rasa! Selama ini mereka udah bersikap kurang ajar kan, sama kamu?" tuding Evan keras, membuat Thalita menggelengkan kepalanya.
"Tapi, nggak usah dipenjara beneran! Toh, karena Kakak kemarin juga, mereka nggak berani lagi, kok gangguin aku. Jadi, nggak usah dipermasalahkan lagi,"
"Nggak usah dipermasalahkan lagi?" dengus Evan untuk kesekian kalinya. "Kamu pikir, itu bisa menjamin mereka bakal diam?"
"Dengarnya, Thalita," Evan membenarkan posisi duduknya menghadap Thalita yang kini duduk berseberangan dengannya di atas ranjang.
"Mungkin menurut kamu, mereka nggak pantas dipenjara, karena kamu udah memaafkan mereka. Tapi, itu semua nggak berlaku buat aku. Kamu pikir, korban mereka itu cuma kamu?!" tuding Evan pada Thalita, yang sontak membuat Thalita mengedipkan kedua matanya.
"Karena mereka, aku mendapatkan istri yang udah nggak perawan. Kamu pikir, aku bisa terima dengan hal itu?" kata Evan kemudian, berhasil menohok perasaan Thalita begitu keras.
"Maksud Kakak…."
"Mereka udah membodohi aku, dengan menjodohkan aku sama perempuan rusak seperti kamu!"
......Bersambung......