Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #32



Hari masih juga sama. Cuaca yang begitu terik, membuat kulit rasanya seperti hampir terbakar. Setelah memarkirkan kendaraan roda empatnya di samping gedung, Thalita pun buru-buru berjalan memasuki lobby. 


Di tangan kanannya, sudah ada sebuah rantang berukuran sedang dengan warna pastel yang lucu. Tadi, saat di restoran, dia sempat meminta salah Saras menyiapkan beberapa pie susu yang ada di restoran miliknya, untuk dia bawa beberapa menemui Evan siang ini. 


Karena resah, Thalita yang tadi malam tidak menemukan Evan di rumah, memutuskan untuk mendatangi pria itu di rumah sakit. Alasannya sih, dia lembur jaga di ruang UGD tadi malam. Tapi, entah kenapa, insting Thalita sebagai seorang istri mengatakan, kalau Evan sedang menjaga jarak darinya. 


Maksudnya, bisa saja kan pria itu menjadikan jaga malam di UGD sebagai alasan untuk tidak menemui Thalita? Mungkin saja dia masih sangat marah dan enggan untuk bertemu ataupun bicara dengan Thalita, mengingat saat berpisah dari rumah keluarga Thalita kemarin pagi, Evan tampak begitu emosi terhadapnya.


Namun, walaupun begitu, Thalita tetap harus memberanikan diri untuk berbicara dengan Evan. Meski hatinya pun masih ragu, jika harus mendatanginya seperti ini, mengingat pria itu sudah secara terang-terangan menolak panggilan ataupun pesan yang dikirimkan olehnya. 


"Pokoknya saya nggak mau tau! Kalau sampai dia melaporkan keluarga saya, saya benar-benar nggak akan memaafkan kamu! Apalagi, kalau sampai dia membuang kamu! Jangan harap, saya bakal memungut kamu lagi ke rumah ini!"


Thalita mencoba menarik napas. Meskipun nanti Evan akan mengusirnya dari ruangan, setidaknya dia sudah menunjukkan itikad baik pada pria itu. Dan dia harap, Evan mau mendengarkan ucapannya, walaupun hanya sekedar beberapa patah kata. 


Di tengah jantungnya yang tidak bisa tenang, tepat di depan meja resepsionis, Thalita tidak sengaja bertemu dengan Ricka. Orang yang tempo hari sempat berdebat dengannya, bahkan membuat keributan di rumah sakit tersebut. 


Berbeda dengan apa yang terjadi sebelumnya, kali ini kedua wanita itu terlihat sama kagetnya. Namun, alih-alih bertegur sapa, keduanya hanya saling memandang dalam diam, dengan langkah kaki yang terkesan cukup pelan, sampai akhirnya keduanya pun saling melewati tanpa ada hal berarti yang terjadi. 


Namun, kendati demikian, orang-orang di meja resepsionis itu tidaklah buta. Beberapa dari mereka yang bertugas di sana, secara kebetulan juga bertugas saat pertengkaran antara Ricka dan Thalita terjadi. 


"Eh, eh, itu istrinya dokter Bayu sama dokter Evan yang kemarin ribut itu, kan?"


Bisik salah satu perawat yang berjaga, menyenggol lengan temannya yang saat ini tengah menulis sesuatu di atas kertas. 


"Hm, kayaknya iya. Kenapa?" sahut perempuan itu agak masa bodoh, yang mana langsung disambar oleh temannya yang lain. 


"Eh, aku baru tau deh, kalo ternyata istrinya dokter Evan itu, pasien yang udah dua kali ditangani sama dokter Evan karena masalah bunuh diri," kata perawat itu pada dua temannya, yang mana perawat yang tadi sedang menulis langsung menoleh ke arahnya. 


"Ha? Apaan, sih?! Nggak mungkinlah," sanggah perempuan itu, tak ayal mendapat decakan tidak suka oleh temannya si pembawa berita. 


"Iya, loh! Itu si Dinda sendiri yang cerita! Berapa bulan lalu kan, dia sering tuh, gantiin Ira yang lagi cuti masuk jaga malam. Kebetulan dokter Evan cukup sering jaga juga, karena gantiin dokter Vika cuti nikah. Nah, di situ dia pertama ketemu sama istrinya dokter Evan. Bukan cuma sekali. Tapi, sampai dua kali, untuk kasus percobaan bunuh diri."


Sontak, cerita itu mengagetkan dua perawat yang saat ini tengah bergosip dengannya. 


"Ah, yang bener? Kok bisa, sih?" bisik perawat pertama, yang mana perawat kedua hanya mengedipkan kedua matanya saja berulang kali, mencerna cerita yang baru saja dia dengar. 


"Ya, nggak tau juga alasannya apa. Cuma, si Dinda nya sendiri juga kemarin sempat lupa gitu, sampai akhirnya pas ribut-ribut kemarin, dia ingat lagi sama perempuan yang waktu itu masuk UGD." Ujar perempuan itu kembali, kali ini membuat dua temannya mendesis dan menatap tidak percaya pada punggung Thalita yang menjauh. 


"Apa sih, masalah hidupnya? Kok sampai segitunya? Padahal cantik dan katanya pengusaha gitu, kan?" keluh perawat kedua, yang kini bukannya fokus melanjutkan tulisannya, malah ikut menatap punggung Thalita yang kini sudah berada di depan ruangan Evan. 


"Ya nggak tau, mungkin ada masalah lain lagi, kali. Cerita hidup orang kan beda-beda," komentar perawat pertama, kontan membuat dua kepala temannya yang lain ikut mengangguk pelan sambil melihat Thalita yang kini sudah masuk ke ruangan dokter Evan. 


Ngomong-ngomong, kenapa wanita itu main langsung ke ruangan Evan tanpa bertanya ke resepsionis terlebih dahulu, ya? Apa karena dia sudah lebih dulu janji dengan si pemilik ruangan, ya? 


Terlepas dari itu, Jenna, yang ternyata ada di sisi meja resepsionis, tidak sengaja mendengar pembicaraan tiga perawat itu. Tanpa sadar, dia juga melihat ke arah pintu ruangan Evan, yang kini sudah tertutup dengan pikiran yang kini sudah melayang. 


Sementara itu, Thalita yang sejak tadi berusaha menenangkan diri di depan ruangan Evan, akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Setelah mengetuk pintu, dia tersenyum ke arah Evan yang tengah menundukkan kepalanya ke arah meja. 


"Apa pasien terakhir udah datang? Gimana dengan pemeriksaan awalnya?"


Evan berbicara tanpa melihat ke arah pintu. Mungkin pikirnya, yang masuk ke ruangan itu adalah perawat yang sedang membawakan rekam medis dari pasien yang akan diperiksa Evan siang ini. 


"Kak Evan," panggil Thalita nyaris mendecit, saking pelannya suara wanita itu memanggil. Membuat Evan yang tadi fokus membaca sesuatu di atas meja, sontak menoleh kemudian menatap tajam ke arahnya. 


Agak gemetaran, Thalita mendekat ke arah meja kerja Evan dan meletakkan rantang bawaanya di sana. 


"Aku bawa cemilan untuk Kakak," ucap Thalita takut, melihat Evan yang tidak berkedip sama sekali memandangnya. 


"Sama…. Ada yang mau aku bicarain juga," aku Thalita menyerah, dibawah pengawasan Evan yang begitu tajam. 


"Aku lagi kerja," kata Evan mulai menundukkan wajahnya lagi, melihat bekas yang ada di atas meja. 


"Tapi, ini penting, Kak."


"Kita bicara di rumah,"


"Apa nanti Kakak bakal pulang?" sambar Thalita cepat, kali ini kembali membuat Evan melihat ke arahnya. 


Sekarang, dahi pria itu tampak berkerut, semakin memandang tajam istrinya itu. 


"A—aku cuma takut Kakak menghindar lagi," ucap Thalita gagu, menundukkan kepalanya takut. 


Astaga, kenapa sih dia terus menerus merasa takut pada Evan? Padahal sebelumnya dia sudah bertekad untuk berani di depan pria itu. 


"Aku bukan menghindar. Aku memang ada kerjaan tadi malam."


"Bener?"


Kembali, Evan yang semula ingin mengalihkan pandangannya, kembali melihat ke arah Thalita. 


Apa wanita itu sadar kalau Evan sedang berbohong? 


Tidak tahan dengan tatapan Evan yang seakan mengulitinya, Thalita pun akhirnya pelan-pelan mengangguk. Mundur satu langkah, dan tersenyum kaku pada Suami Galaknya itu. 


"Kalau gitu, aku tunggu Kakak di rumah, ya? Jangan lupa makan siang, nanti Kakak bisa sakit,"


Setelah mengatakan itu, Thalita buru-buru kabur dari ruangan Evan. Menyisakan pria itu seorang diri, yang mana langsung memukul meja kerjanya sekali dan mengusap wajahnya sedikit kasar. 


...Bersambung...