
Hari ini Laila tampak lebih semangat dari biasanya. Pasalnya pagi ini dia berencana untuk bertemu dengan sepasang kekasih, yang tempo hari datang ke boutiquenya untuk memesan sebuah gaun pengantin dan juga jas.
Mereka adalah pasangan muda yang Laila kenal sebagai anak dari salah satu teman baiknya di perkumpulan. Meskipun masih terlihat cukup muda, Laila bisa melihat sikap dewasa yang terpancar dari keduanya. Mengingatkannya pada Evan dan juga Thalita yang kini sudah menjadi sepasang suami istri.
Laila tampak begitu tekun merapikan gaun yang saat ini sudah terpasang di salah satu manekin di tokonya. Senyuman tidak pernah hilang dari wajah cantik Laila, sejak dia datang berdiri tepat di depan patung wanita tersebut.
Laila menolehkan kepalanya ke arah jam dinding di tokonya. Beberapa menit lagi adalah waktu janjian dia dengan calon pasangan tersebut.
Rasanya Thalita sedikit tidak sabar, karena gaun yang saat ini dia sentuh adalah gaun yang lumayan mirip dengan milik Thalita yang beberapa waktu lalu dia rancang.
"Maaf, permisi Bu."
Laila menolehkan kepalanya ke arah belakang tatkala mendengar suara seorang wanita yang memanggilnya.
"Tamunya sudah datang, Bu," beritahu wanita itu pada Laila, sambil menunjuk sopan ke arah belakang di mana terdapat sepasang pria dan wanita tengah berdiri dan melihat ke arah mereka.
Sambil tersenyum lebar namun terkesan ramah Laila langsung menyapa dua orang tersebut. Namun, ketika Laila ingin menghampirinya tiba-tiba kedua kakinya berhenti. Entah kenapa, mendadak Laila merasa jantungnya seperti berdetak dengan cepat. Sekali memang, tapi cukup membuat Laila merasa sedikit aneh.
Dengan pikiran kosong dan perasaan yang gamang, Laila menolehkan kepalanya ke arah luar jendela yang tepat di sebelahnya. Dia tidak tahu kenapa, tapi hatinya mengatakan ada seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Perlu beberapa waktu bagi Laila untuk berdiam diri seperti itu sampai akhirnya wanita yang merupakan karyawan toko Laila itu kembali menegurnya dengan sopan.
Sadar dengan kebingungannya sendiri, Laila mencoba untuk mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Kemudian tersenyum, sebelum akhirnya meninggalkan sudut toko dan berjalan ke arah pasangan muda yang ada di depannya saat ini.
Sementara itu, yang tidak Laila ketahui adalah tentang sebuah mobil yang saat ini tengah terparkir tidak jauh di seberang boutique miliknya. Adalah sebuah mobil jenis sedan berwarna hitam dimana Aris sudah duduk selama beberapa menit di dalamnya.
Sejak beberapa waktu yang lalu, Aris memang sudah berada di tempat itu. Memperhatikan sekeliling toko milik Laila, sampai akhirnya pandangannya tertuju pada satu wanita yang dulu sempat mengisi hari-harinya.
Dia adalah Laila, wanita dengan sikap seteduh malam yang sudah Aris patahkan beberapa tahun lalu. Bayangan mata cerah Laila yang mendung terus menghantuinya hingga sampai detik ini. Membuat tidak bisa tidur nyenyak, ataupun lahap saat membayangkan wajah kecewa dari mantan istrinya tersebut.
"Kupikir, aku bakal siap, kalau kamu cuma mengkhianati aku dalam masalah ini. Tapi, apa yang harus aku lakuin, kalau ternyata kamu juga menyakiti perasaan Evan dan membutnya lebih parah?"
Dari kaca spion tengah mobilnya, tampak tatapan Aris begitu datar memandang luar. Sepertinya penyesalan memang sudah tidak berguna lagi untuk dia ungkapkan. Seperti sudah menjelma sebagai batu, Aris bahkan tidak mampu lagi untuk menangis, ataupun mengutuk dirinya sendiri.
Dari posisinya sekarang, Aris bisa melihat wajah damai Laila di dalam toko. Berbicara sambil sesekali tertawa, seakan dia tidak pernah terluka sama sekali.
🍂
Thalita menggigit kukunya dengan resah. Matanya bergerak liar ke kiri dan kanan memperhatikan apa yang saat ini tengah disaksikan di layar laptopnya. Sebuah adegan dewasa dari potongan drama yang tadi sempat dia download sebelum pulang dari restoran, kini berputar bebas di layar beberapa inci itu dan mengotori pandangan Thalita yang —anehnya— masih terus memperhatikan.
Samar, Thalita menggigit bibir bawahnya saat mendengar suara desah sensual wanita yang ada di dalam layar tersebut. Menyentuh dadanya canggung beberapa kali, sambil mencoba menirukan apa yang dilakukan oleh bintang film dewasa di depannya.
Ah, ternyata beginilah nasib dari seorang wanita yang hanya pasif di atas ranjang. Tiba disuruh untuk menggoda suami sendiri, rasanya sangat sulit minta ampun.
Sempat Thalita berpikir untuk menyerah saja dalam menggoda Evan. Tapi, gangguan yang terus dia terima sejak kemarin, rasanya seperti mengungkung perasaannya. Terlebih, saat membaca pesan dari Marlia yang mengancam akan menemuinya besok jika adik tiri Thalita —Axel— belum juga dibebaskan dari penjara, sukses membuat Thalita mengerang ingin menyerah.
Sebenarnya, dia akan sangat senang jika Marlia mau datang untuk menemuinya. Tapi, jika alasannya datang hanya untuk membela Axel, rasanya sangat berat. Thalita lebih memilih untuk diabaikan oleh ibunya itu dan berjalan sendiri seperti hari sebelumnya.
Sambil melenguhkan napas berat, Thalita kembali meletakkan tangannya di belakang kepala. Berlenggak-lenggok di depan cermin, hingga tidak menyadari kalau orang yang akan menjadi targetnya sudah berdiri di dekat pintu.
"Kamu lagi ngapain?"
Pertanyaan dengan nada suara berat itu sukses membuat Thalita kaget setengah mati. Dia menoleh dengan matanya yang lebar menatap Evan yang justru memandangnya dengan sorot mata yang aneh.
"Ka—Kakak udah pulang?" tanya Thalita gugup, melihat Evan yang masuk ke dalam kamar.
Tidak menjawab, Evan kembali menutup pintu dan berjalan ke arah wanita itu.
Dengan raut wajah cemas, Evan menyentuh kening Thalita dengan punggung tangan. Mencoba merasakan panas wanita itu, sebelum kembali bertanya.
"Apa ada yang nyakiti kamu lagi hari ini?" tanya Evan khawatir, memandang kedua mata Thalita satu per satu.
"Ya?"
Thalita yang bingung, justru mengerutkan dahinya ke atas.
Sesaat Evan hanya diam sambil terus memandangi wanita itu. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, yang jelas dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.
"Kak?"
Evan mengejap sedikit kaget mendengar Thalita yang memanggilnya. Dengan lembut tangan wanita itu menyentuh sebelah bahu pria itu, yang mana sempat membuat Evan mematung beberapa saat.
Sambil menarik napas panjang, Evan yang sepertinya memang sedang memiliki pikiran berat, lantas dengan segera menurunkan tangan Thalita dari bahunya.
"Aku nggak papa," ujar pria itu, dengan wajah yang tampak sedikit lelah.
"Aku cuma capek. Kamu sebaiknya istirahat. Aku mau mandi dulu,"
Lalu tanpa berbicara apapun lagi, pria itu lantas berjalan ke arah lemari dan mengambil satu set pakaian rumah yang ditarik secara asal, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi.
......Bersambung ......