
Gelas kardus bekas susu stroberi hangat yang tadi Evan berikan pada Thalita sudah kosong. Kini, benda itu sudah menjadi bahan mainan tangan Thalita yang resah dengan susunan kalimat yang belum matang di benaknya.
"Eum, begini…."
Thalita membasahi bibirnya dan melihat ke arah lain.
Bagaimana cara memulainya, ya?
"Sebelumnya, aku minta maaf tentang pertemuan kita sebelum ini. Aku rasa, ah, enggak. Maksud aku, setelah aku pikir-pikir, kayaknya sikap aku ke kamu waktu itu benar-benar keterlaluan. Aku pikir—"
"Bukan kayaknya. Tapi, sikap kamu emang benar-benar udah keterlaluan," sambar Evan datar, tanpa mengubah gaya duduknya yang seperti seorang bos sombong menanti permintaan maaf dari bawahannya.
Sejenak, Thalita terdiam. Memandang tidak percaya pada Evan yang seenak jidatnya saja menilai perilaku Thalita.
Mencoba tersenyum seolah tidak keberatan dengan ucapan Evan, Thalita mengerjap beberapa kali sambil mengulum bibir sendiri. Entah kenapa, dia merasa harus menahan kekesalannya demi menjaga perasaan pria di depannya.
"Jadi, berhubung sikap aku itu udah keterlaluan, aku mau minta maaf sama kamu. Aku harap, kamu mau memaafkan aku dan bersikap seolah kejadian itu nggak pernah ada. Kamu… ngerti maksud aku, kan?"
Perlahan, Thalita mengangkat pandangannya menatap Evan. Tetap tersenyum, meskipun di balik senyumannya itu ada perasaan was-was kalau Evan tidak setuju.
"Maksud kamu, aku harus pura-pura lupa tentang kamu yang mencoba untuk bunuh diri itu?" tanya Evan secara gamblang, membuat Thalita tersenyum getir.
"He'um."
"Yang mencoba bunuh diri dua kali itu?" tanya Evan ulang, kali ini sukses menohok perasaan Thalita dengan suaranya yang cukup keras.
Sesaat, Thalita menunduk. Ada perasaan malu, karena beberapa dari pengunjung yang ada di kantin itu tengah memperhatikan ke arah mereka.
"Oke, karena kamu udah bahas ini secara gamblang, maka biar aku juga menjelaskannya secara terbuka sama kamu,"
Thalita sudah memutuskan untuk bicara. Dan sudah kadung malu. Ya mandi saja sekalian.
"Aku nggak mau kamu membahas soal bunuh diri itu sama orang tua kita. Terutama sama Mama aku. Aku harap, kamu bisa melupakan masalah ini dan menganggap kalau itu cuma masa lalu suram yang nggak perlu buat dibahas."
"Nggak perlu buat dibahas?"
Evan menaikkan sebelah alisnya dan menarik napas panjang.
"Pelajaran sejarah aja, tetap harus diingat meskipun itu masa lalu suram,"
"Maksud kamu?"
Evan tidak menjelaskan. Dia justru menaikkan dagunya tinggi, seolah menantang Thalita dengan kalimat, "kalo aku nggak mau lupain, gimana?"
Thalita menatap kedua bola mata Evan secara bergantian. Demi Tuhan, entah kenapa dia merasa kesal bukan main. Ingin memukul dan menjambak pria itu, tapi takut kalau Evan justru akan balas memukulnya juga.
"Dengar, Evan,"
"Nice,"
"Hah?"
Thalita yang baru saja memperbaiki posisi duduknya terbengong sejenak melihat Evan yang mendadak tersenyum ke arahnya.
"Lanjutkan," ucap Evan, tidak menunjukkan alasan pada Thalita kalau dia suka Thalita menyebutnya dengan nama dan tidak ada embel-embel dokter di depannya.
"Kamu mencoba menarik perhatian siapa?" tanya Evan menyerobot, menghentikan penjelasan Thalita yang sontak terdiam mendengarnya.
Gadis itu menaikkan pandangan ke arah Evan yang kini menatap serius padanya.
"Dua kali kamu masuk rumah sakit. Tapi satu orang pun nggak ada yang menjenguk kamu. Jadi, sebenarnya kamu itu lagi narik perhatian siapa?" ulang Evan bertanya, kali ini membuat Thalita sadar akan kesalahannya.
Seharusnya dia tidak membuka sedikitpun celah tentang dirinya yang mencoba untuk bunuh diri.
...🍂...
Akhirnya, setelah menjalani pembicaraan panjang dengan Evan tentang pertemuan mereka di awal, kedua orang itupun akhirnya sepakat untuk tidak membahas apapun lagi perihal Thalita yang masuk rumah sakit akibat menyayat tangannya sendiri.
"Aku diam bukan berarti aku menyerah. Suatu saat, aku pasti bakal mendapatkan jawaban kenapa kamu sampai di rumah sakit dan nggak ada satu orang pun yang menemani kamu," bisik Evan pada Thalita, yang saat ini sedang mencoba sebuah gaun pengantin berwarna putih gading dengan bahu yang terbuka.
Sekarang waktu untuk acara pernikahan mereka pun sudah dekat. Segala sesuatunya sudah diurus sedemikian matang oleh Laila, ibunya Evan dengan bantuan beberapa temannya. Wanita itu tampak begitu antusias menyambut hari pernikahan anak simatawayangnya itu dengan anak dari salah satu teman perkumpulannya.
Laila bahkan memilih sendiri baju pengantin yang akan dipakai oleh Thalita dari salah satu boutique yang dikelolanya bersama salah satu temannya yang lain.
"Nah, benarkan apa yang Mama bilang, gaun ini memang yang paling cocok buat Thalita. Pilihan Mama emang nggak pernah salah,"
Laila yang menepuk tangannya di belakang Evan dan juga Thalita menarik perhatian dua anak muda itu.
Calon pasangan tersebut yang tadinya sibuk beradu pandang lewat bayangan mereka di cermin, menoleh hingga membuat Evan yang tadi merapatkan tubuhnya pada Thalita mundur memberikan ruang.
"Ini, coba pakai,"
Ibunya Evan menaruh sebuah hiasan mahkota ke puncak kepala Thalita dan berdecak kagum melihatnya.
"Sempurna. Dengan make up seadanya aja gini kamu udah keliatan cantik banget. Apalagi kalo dirias pengantin, ehm… Mama yakin orang-orang pasti bakal langsung pangling sama kamu,"
Laila terlihat antusias melihat Thalita. Tidak memperhatikan wajah calon menantunya itu yang hanya tersenyum kikuk seperti merasa janggal di suatu tempat.
"Ma—makasi, Tante," ucap Thalita gugup, kali ini membuat Laila yang heboh dengan penampilan Thalita jadi mengenyit sesaat.
"Kok Tante, sih? Kan udah dibilang Mama!" protes Laila mengerutkan dahi, lantas mengibaskan tangan santai ke depan Thalita. "Jangan bandel deh, kalo dikasi tau,"
Thalita kemudian hanya melirik ke arah Evan yang sudah berpaling menunggunginya. Tampak pria itu mengambil jas yang tersampir di atas bahu sofa di ruangan itu dan mencobanya dengan menghadap sebuah cermin lain yang membelakangi Thalita.
"Mama benar-benar nggak nyangka kalau hari seperti ini bakal benar-benar terjadi dalam hidup Mama. Bayangkan aja, udah berapa banyak perempuan yang Mama kenalin sama anak itu, tapi nggak ada satupun dari mereka yang bisa buat Evan berpikir untuk menikah. Mama benar-benar takjub, pas dia pulang dan bilang kalo dia setuju untuk nikah sama kamu,"
Thalita mengalihkan perhatiannya lagi yang semula ke arah Evan menjadi ke Laila. Calon ibu mertuanya itu masih terlihat begitu semangat, tatkala memperhatikan Thalita yang mengenakan gaun pengantin lengkap dengan mahkota di kepalanya.
"Sayang, Mama kamu nggak liat ini secara langsung," gumam Laila berpikir, tanpa sadar membuat senyum kaku yang tadi muncul di bibir Thalita menjadi mengendur.
"Atau Mama foto aja, ya? Biar bisa Mama kirimkan ke Mama kamu,"
Laila sudah berbaik, hendak mengambil ponselnya dari dalam tas, ketika Evan datang dan menahan kedua bahu wanita paruh baya tersebut.
"Nggak usah, Ma. Biarin aja jadi kejutan sama Mamanya Thalita," cegah Evan datar, lantas menatap ke wajah Thalita di depannya.
Thalita yang tidak menyadari hal itu, sempat terlihat murung, sampai pada akhirnya dia bertemu mata dengan Evan yang seketika membuatnya harus menutupi rasa kecewa dengan tersenyum ke arahnya.
......Bersambung......