Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #50



"Heh! Anak kurang ajar!"


Sambil menahan sakit dan denyut, Edwin menarik kaki Thalita hingga terjatuh. Kemudian dengan cepat mencengkram sebelah kaki wanita itu dengan satu tangannya, sambil mendengar Thalita berteriak ketakutan.


"Heh! Perempuan brengse—"


Buk!


"Ugh!"


Edwin belum selesai dengan makiannya, Thalita sudah lebih dulu menendang batang hidung pria itu hingga kakinya yang lain. Setelah itu dia berdiri, berlari ke arah pintu yang bersamaan dengan seseorang yang masuk ke sana.


"Bu Lita!"


Sekar yang terlihat panik, melihat ke arah belakang wanita itu, tepat ke arah balik meja kerja Thalita dimana Edwin muncul dengan terhuyung.


"Sekar, dia—"


"Lita—!"


Thalita yang tertengah dan bingung ingin mengadu apa pada Sekar, tampak kaget dengan kehadiran Evan yang tiba-tiba muncul di belakang asisten pribadinya Thalita.


Dengan wajah pucat dan sama terengah-engahnya, Evan menghampiri Thalita yang sudah keringat dingin.


"Tha,"


Saat Evan menyentuh kedua pipi Thalita, dengan segera wanita itu berhambur ke dalam pelukan Evan.


"Kak…."


Air mata pun tidak bisa Thalita tahan. Dia menangis dengan tubuh bergetar hebat di dalam pelukan laki-laki itu.


Melihat kondisi Sang Istri yang demikian, Evan refleks menoleh ke arah Edwin berdiri saat ini. Wajah pria itu menunjukkan ekspresi dingin seakan ingin membunuh seseorang.


"Heh! Berhenti nangis, ANAK BODOH!"


Suara Edwin yang menggelegar membentak Thalita kembali membuat tubuh wanita itu tersentak mendengarnya. Membuat Evan marah, dan melepaskan pelukannya dari Thalita secara paksa. Berjalan ke arah Edwin dengan rahang mengetat, lalu memberikan sebuah pukulan keras di wajah merah pria itu.


"Harusnya saya ikut memasukkan Anda ke dalam penjara. Bukannya Anda bilang, mau ketemu sama anak Anda yang brengsek itu?" suara Evan masih terdengar dingin. Pun saat dia menatap murka wajah Edwin yang sudah tersungkur di atas lantai.


Merasa kalau mulutnya mengeluarkan darah, Edwin berdecih dan membuang ludahnya di lantai ruangan itu.


"Kamu pasti udah dibodohi sama perempuan itu," ucap Edwin pelan, seakan dia tengah bergumam.


Sambil menarik napas panjang namun berat, Edwin berdiri dan tersenyum miring pada orang yang statusnya menantu dari laki-laki itu.


"Kamu kira, ini kali pertamanya hal ini terjadi?" tanya Edwin santai, menaikkan dagunya begitu angkuh.


Sementara itu, di belakang Evan, Thalita yang sudah tidak begitu fokus hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri dengan erat.


"Saya udah sering nyentuh istri kamu itu. Bahkan sebelum kamu menikah sama dia!"


"Apa?"


"Enggak!"


Refleks, baik Evan ataupun Edwin kini melihat ke arah wanita itu.


Dengan tampang memelas, Thalita menatap Evan sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Hah! Kamu mau bohong? Bukannya waktu itu setiap Mama kamu keluar sama temen-temennya kamu sama Papa selalu bersama? Para pembantu juga bahkan tau—"


Buk!


Buk!


Buk!


Buk!


Buk!


Edwin sudah tersungkur di atas lantai dengan posisi Evan yang mengangkangi dirinya. Wajahnya sudah banyak mengeluarkan darah, tatkala suami dari Thalita itu marah dan langsung memukuli wajahnya dengan cara membabi buta.


"Ka—kamu—"


Buk!


Sekali lagi, Evan memukul wajah Edwin hingga terdiam dan tersedak oleh ludahnya sendiri.


"Tutup mulut kamu, atau Saya akan merobeknya," ancam Evan dingin, lantas berdiri dari posisinya. Berjalan tegas ke arah Thalita yang memasang ekspresi ngeri di samping Sekar yang juga terperangah dengan apa yang dia saksikan di tempat itu.


Lalu, tanpa bicara, dia menarik tangan Thalita untuk ikut bersamanya keluar dari ruangan. Membelah kerumunan orang yang penasaran dengan apa yang terjadi di tempat itu, dan pergi dari restoran menggunakan mobil yang dikendarai oleh Evan sendiri.


🍂


Sepanjang perjalanan, Evan hanya diam saja membawa kendaraannya. Tujuan mereka sekarang adalah pulang ke rumah. Di sampingnya, ada Thalita yang seperti berusaha menenangkan diri sendiri. Membuat suasana di antara mereka kian senyap dan seakan tidak bersama satu sama lain.


Setibanya sampai, Evan langsung membawa Thalita masuk ke dalam rumah. Disambut oleh Laila, yang sepertinya baru akan pergi dari rumah tersebut.


"Loh, kalian kok udah pulang?" tanya Laila heran, melihat anak dan menantunya secara bergantian.


"Thalita lagi nggak enak badan. Jadi dia aku jemput dari restoran," dusta Evan, yang sepertinya tidak ingin ibunya tahu dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi sesaat lalu.


Terkejut mendengar hal itu, Laila yang semula sudah bersiap akan pergi, meletakkan tasnya kembali di atas sofa ruang TV dan berjalan mendekati menantunya.


"Kamu sakit?" tanya Laila memastikan, menyentuh kening Thalita dan merasakan kalau keringat wanita itu begitu dingin.


Wajah pucat yang Laila lihat juga menunjukkan kalau dia tidak perlu jawaban dari Thalita yang masih melipat kedua tangannya di dada seakan tengah memeluk diri sendiri.


"Sebaiknya kamu makan siang sekarang. Abis itu, istirahat. Aku mau balik lagi ke rumah sakit," pesan Evan pada Thalita tampak berbeda dari sikap hangat Evan beberapa hari ini.


"Ma, aku titip dia, ya? Kalo perlu apa-apa, tolong Mama telepon aku lagi. Obat ada di kotak biasa," ujar Evan lagi pada Laila, seakan tidak memikirkan kalau ibunya itu akan pergi atau tidak.


"Ah, iya. Kamu serahin aja dia sama Mama. Mama bakal jagain dia dengan baik, kok," sahut Laila masih menyentuh wajah Thalita, sembari melihat anaknya itu mengangguk dan pergi meninggalkan rumah mereka.


"Ma,"


Setelah Evan tidak terlihat, Thalita mencoba melepaskan tangan Laila dari wajahnya.


"Aku nggak papa. Cuma agak pusing aja tadi. Mama nggak perlu repot urusin aku," ucap wanita itu sungkan, pada Laila yang disadarinya tampak lebih rapi dari biasanya.


"Mama mau pergi kan?" tanya Thalita kemudian, melihat raut wajah Laila yang terlihat agak kebingungan.


"Mama mau ke butik. Cuma kalo keadaan kamu kayak gini, Mama bisa nyuruh anggota Mama aja nanti yang antar berkasnya ke rumah. Jadi, kamu nggak perlu khawatir," kata Laila, dibalas oleh Thalita dengan sebuah gelengan kepala.


"Nggak, Ma. Aku nggak papa kok, cuma perlu istirahat aja sebentar. Abis itu—"


"Kata Evan, kamu belum makan kan? Ayo, masuk ke kamar, biar Mama minta Bi Asih untuk siapin makan siang buat kamu."


Seakan tidak mendengarkan alasan Thalita, wanita paruh baya itu mendorong pelan tubuh menantunya itu masuk ke dalam kamar.


"Nah, kamu tunggu di sini, dan jangan kemana-mana. Mama mau cari obat dulu sebentar," titah Laila pada Thalita, setelah mendaratkan tubuh ringkih wanita itu di atas ranjang tidur.


"Tapi, Ma—"


Lagi-lagi, seakan tidak mendengarkan ucapan Thalita, Laila pergi begitu saja. Dengan raut wajah datar, meninggalkan Thalita yang merasa pusing luar biasa.


Entah kenapa, wanita itu merasa ada perubahan sikap antara Evan dan juga Laila. Setelah kejadian di restoran tadi, bukan Thalita tidak tahu kalau Evan seperti menahan marah di wajahnya. Hanya saja, Thalita seperti tidak punya tenaga untuk menjelaskan apapun pada pria itu. Dia hanya berharap, kalau nanti Evan akan segera tenang dan kembali bersikap hangat kepadanya, seperti apa yang dilakukan tadi pagi oleh pria itu terhadapnya.


...Bersambung ...