Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #35



Sesampainya di rumah, Marlia yang masih sangat emosi pun meletakkan bungkus makanannya ke atas meja ruang santai. Dimana Edwin dan Axel saat ini tengah berada, menonton TV sebagaimana sering mereka lakukan bersama. 


"Ma?"


Marlia tidak mengindahkan panggilan dari Axel. Dia tetap berjalan menuju tangga, yang membawanya menuju lantai dua dimana kamarnya berada. 


Di sana, Marlia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh wajahnya berulang kali, sambil membayangkan tragedi masa lalu yang membuatnya menjadi seperti ini. 


Dulu, dia dan Johan, ayah kandung dari Thalita, menikah karena perjodohan. Sebelumnya, Johan yang masih memiliki Rosalin sebagai kekasihnya menolak perjodohan tersebut. Namun, karena keinginan keras dari orang tua Johan, mau tidak mau Johan pun akhirnya memilih untuk menikah dengan Marlia dan meninggalkan Rosalin yang kala itu masih sangat mencintai Johan. 


Sebenarnya, tidak hanya Johan. Marlia pun memiliki kekasih yaitu Edwin, yang mana sudah menjadi suaminya saat ini. Meskipun Edwin itu memiliki banyak kekurangan, Marlia tetap sangat mencintai pria itu dan tidak ingin mengkhianatinya. 


Alhasil, dengan keinginan keras Marlia, Johan setuju untuk tidak menyentuh Marlia dan menerima permintaan wanita itu untuk bercerai di usia pernikahan mereka sudah menginjak 1 tahun. 


Waktu berjalan begitu lambat, dengan Marlia yang juga menjalin hubungan dengan Edwin di belakang keluarga mereka. Sampai akhirnya, satu malam yang tak terlupakan pun terjadi. 


Johan melanggar janjinya untuk tidak menyentuh Marlia, dimana kejadian itu malah menghadirkan sebuah janin yang ada di kandungan wanita itu. 


Kala itu, Marlia bersikeras untuk menggugurkannya. Tapi, karena Johan yang terus menerus memohon pada wanita itu untuk melahirkan anaknya, mau tidak mau Marlia mempertahankannya janin yang tidak diharapkan tersebut. Dengan syarat, Johan harus langsung menceraikan Marlia sesaat setelah dia melahirkan anak yang diinginkan oleh Johan tersebut. 


Marlia tidak menyangka, dia yang waktu itu berpikir sudah terbebas dari belenggu kehidupan bersama Johan dan anak perempuannya, malah kembali terseret ketika mendengar kabar kalau pria brengsek itu meninggal dunia. Menitipkan kembali anak yang tidak ingin Marlia miliki, yang mana wajah Thalita selalu mengingatkan Marlia pada sosok Johan yang sangat dia benci. 


"Ma,"


Sibuk dengan pikiran-pikiran dan emosi yang berantakan, Marlia dikejutkan dengan kehadiran Edwin yang membuka pintu kamar mandi.


"Kamu kenapa?" tanya Edwin, melihat wajah Marlia yang sudah basah kuyup hingga baju bagian leher wanita itu pun ikut basah. 


Marlia yang tidak ingin diketahui oleh Edwin, mencoba untuk bersikap seperti biasanya. 


"Nggak papa. Tadi, cuma kelilipan aja. Jadi, mau dibersihkan pake air," kilah Marlia tenang, yang mana Edwin langsung menaikkan sebelah alisnya tidak percaya. 


"Sampai basah gitu?" tanya pria itu tidak yakin. 


Malas berdebat, Marlia hanya mengibaskan tangannya saja dan menarik lengan suaminya itu untuk keluar dari kamar mandi. 


"Ada apa?" tanya Marlia sekarang, mencoba mengalihkan perhatian Edwin sambil mencoba berganti baju. 


"Ah, ya. Itu tadi Axel nanya. Gimana soal masalah suami Thalita kemarin? Dia nggak beneran mau ngelaporin Axel ke polisi kan?" tanya Edwin serius, mengikuti langkah Marlia yang menuju lemari pakaian. 


Mendengar hal itu, lagi-lagi Marlia terdiam di tempat. Dia yang tadi sempat lupa dengan masalah anaknya, kembali kesal dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Edwin. 


Benar-benar. Harusnya dia tidak menuruti keinginan Johan untuk melahirkan anak itu. 


🍂


Jam di ruang kerja Thalita kini sudah menunjukkan angka 2 siang. Setelah makan tadi, wanita itu kembali menyibukkan diri dengan beberapa berkas yang ada di depannya.


Dahinya yang berkerut samar menandakan kalau dia sedang fokus saat ini. Mencoba tidak memikirkan hal lain, selain pekerjaan yang harus segera dia selesaikan. 


Tok! Tok! Tok! 


Suara pintu yang diketuk dan dibuka pun tidak mampu menarik perhatian Thalita dari apa yang ada di tangannya saat ini. 


"Bu Lita,"


"Hm,"


"Ada tamu yang mau ketemu sama Bu Lita,"


"Siapa?"


"Eum… itu—"


"Saya,"


Mendengar suara orang yang dia kenal. Thalita sontak terkejut. Pena yang dia pegang saat ini pun sontak terlepas, seiring dengan tubuh Thalita yang berdiri dari kursinya. 


Sepertinya, itu adalah bentuk refleks tubuh Thalita saat mendengar suara tersebut. 


"Mama?"


Marlia, dengan wajah tegas nan ketatnya sudah berdiri di depan pintu. Diikuti oleh Edwin dari belakang, yang kali ini tidak tersenyum manis seperti biasanya. 


Saras, yang tadi membukakan pintu untuk dua orang tamu tersebut pun hanya bisa mengangguk canggung. Seumur-umur, baru kali ini dia melihat orang tua dari atasanya itu datang ke restoran tersebut. Karena setahu Saras dan karyawan restoran lainnya, hubungan Thalita dan keluarganya itu tidak akrab. Terlihat dari Axel yang sering membuat onar dan menyakiti Thalita, juga beberapa kejadian saat orang tua Thalita itu lebih melindungi Axel ketimbang Thalita saat para karyawan dengan lancang melaporkan Axel ke kantor polisi akibat penyerangan yang dilakukan pemuda itu di masa lalu. 


"Ma, ada apa Mama kemari? Apa—"


Plak! 


"Dasar anak nggak tau diri!"


Saras baru saja akan keluar ruangan, ketika dia mendengar langkah kaki Marlia yang berjalan tegas dan suara tamparan yang terdengar begitu nyaring di belakangnya. 


Saat menoleh, Saras seakan tidak percaya dengan Thalita yang sudah menyentuh sebelah pipinya dan Marlia —ibu Thalita— berdiri dengan penuh emosi di seberang meja. 


"Apa kamu lihat-lihat?! Keluar sana!"


Belum selesai keterkejutan Saras, Edwin, yang dia ketahui sebagai ayahnya Thalita, langsung mendorongnya keluar dari ruangan dan menutup pintu ruangan tersebut. 


"Ma, kenapa—"


Greb! 


"Kamu tau apa yang udah kamu lakuin sama keluarga saya, hah?! Kamu tau?!"


Tanpa tadeng aling-aling, Marlia langsung menjambak rambut panjang Thalita hingga anaknya itu mendongak. 


"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, hah?! Kamu mau balas dendam sama saya, iya?!" tuding Marlia menarik kasar jambakannya, membuat Thalita meringis beberapa kali. 


"Ma, Mama ini ngomongin apa, sih? Siapa yang balas dendam? Lita nggak ngerti,"


Terlihat Thalita mencoba menahan. Pelan-pelan seolah ingin melepaskan pegangan Marlia dari rambutnya. 


"Halah, gak usah pura-pura bodoh, kamu! Kamu itu memang brengsek! Pembawa sial! Pembawa masalah di keluarga saya! Kamu sengaja kan, nyuruh suami kamu yang kurang ajar itu untuk menahan Axel!? Iya, kan?! Jawab!?" bentak Marlia terus memaki Thalita, yang mana wanita itu sendiri pun jadi agak kesulitan untuk memahami situasinya. 


"Apa? Apaan sih, Ma!? Thalita nggak ngerti! Lepasin rambut Lita, Ma. Sakit," pinta Thalita memohon, yang mana Marlia sudah cukup marah hingga menghempaskan rambut perempuan itu kasar. 


Di sisi lain, Thalita yang tidak siap dengan dorongan Marlia pun terhuyung ke belakang, hingga menabrak kursi kerja Thalita yang ada di belakangnya. 


Marlia terlihat mencoba menenangkan diri. Dia menarik napas beberapa kali dengan posisi kedua tangan berkacak di pinggang. 


Sesaat, dia menatap Thalita tajam. Seakan-akan ingin menghabisi perempuan itu andai dia tidak ingat dengan ancaman yang dia terima sesaat lalu. 


"Saya nggak pernah meminta hal banyak sama kamu. Tapi, kali ini, saya mohon, kamu untuk memenuhi keinginan saya," kata Marlia menahan geram, terus menatap Thalita dengan mata tajamnya. 


Agak bingung, karena sebelumnya Marlia tidak pernah bersikap demikian, Thalita hanya menatap ibunya itu dengan dahi yang berkerut samar. 


"Tadi pagi, suami kamu datang bersama polisi ke rumah kami,"


"Apa?!"


Brak! 


Thalita tersentak, ketika Marlia tiba-tiba saja menggebrak meja yang ada di antara mereka dan menatap benci kepadanya. 


"Nggak usah pura-pura bodoh! Tampang kamu itu udah keliatan tolol!" maki Marlia lagi kasar, membuat Thalita menciut sejenak. 


"Kamu kan, yang nyuruh suami kamu itu buat nangkap Axel? Kamu cuma pura-pura nurut, waktu saya suruh buat bujuk Evan membatalkan rencana bodohnya. Iya, kan? Kamu pasti sengaja karena mau balas dendam sama saya dan keluarga saya!" tuduh Marlia sekonyong-konyong, membuat Thalita yang mendengarnya menjadi tidak terima. 


Demi apapun, dia sudah berusaha untuk membujuk Evan. Bahkan dia rela untuk bertengkar dengan pria itu, yang mana hasilnya malah membuat Evan semakin melaporkan Axel ke polisi. 


"Enggak! Lita nggak bermaksud kayak gitu. Lita udah coba ngomong sama Kak Evan buat nggak ikut campur sama urusan keluarga kita. Tapi—"


"Tapi, apa buktinya sekarang?!" 


Tiba-tiba, Marlia berteriak. Matanya merah, bahkan sampai meneteskan air mata. 


"Kamu…." Rahang Marlia pun bergetar saat menunjuk wajah Thalita yang terkejut. 


"Benar-benar selalu membuat saya susah."


...Bersambung...