
Jenna membetulkan letak kacamatanya sambil menaikkan pandangannya yang sejak tadi menunduk pada kertas yang saat ini dia pegang. Bibirnya tersenyum, ke arah Thalita yang juga menatapnya dengan sorot mata yang cemas.
"Selamat ya, Bu Lita. Sebentar lagi, Anda akan menjadi seorang Ibu,"
Jenna mengulurkan tangannya ke arah Thalita, yang langsung melebarkan kedua matanya tidak percaya.
"Saya…."
Seakan tidak bisa melanjutkan, Thalita lebih intens lagi menatap Jenna yang langsung paham dengan maksud ucapannya.
"Iya, usia kandungan Ibu sudah memasuki minggu ke tujuh."
Tidak disangka, Thalita seperti menghembuskan napas berat yang membuatnya begitu lega. Perasaan seperti penuh hingga ingin menangis dan juga tidak bisa berkata-kata.
Sambil menggigit bibir bawahnya, Thalita mengangguk beberapa kali.
"Aku beneran hamil. Aku beneran hamil!"
Bagaimanapun senangnya Thalita sekarang, nyatanya dia hanya bisa berteriak dalam hati.
"Apa dokter Evan udah tau soal ini?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Jenna tersebut, tiba-tiba menyadarkan Thalita hingga mengangkat kembali pandangannya.
Sedikit menggeleng, Thalita menahan senyum. "Belum. Rencananya baru nanti," ucap wanita itu pelan, entah kenapa wajahnya terlihat merah.
Seakan mengerti, Jenna pun ikut tersenyum. "Mau kasih kejutan, ya?" goda gadis berkacamata tersebut, sontak membuat wajah Thalita kian memerah.
Jenna tidak berkata apa-apa lagi. Dia sudah cukup terkejut dengan kehadiran Thalita sebagai pasien ketiganya lagi. Dan rasanya sangat tidak etis jika dia ikut campur dengan kabar bahagia tersebut, sekalipun ayah dari janin yang dikandung Thalita adalah sahabat Jenna sendiri.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih. Saya permisi dulu," ucap Thalita setelah menguasai diri, bangkit dari posisinya dan sedikit mengangguk pada Jenna.
Sementara itu, Jenna yang berusaha bersikap profesional juga berdiri, kemudian menyalami Thalita lagi yang sepertinya sudah bersiap akan pergi.
"Sama-sama. Ingat, usia kandungan kamu masih sangat muda. Kamu nggak boleh terlalu capek, apalagi sampai terlambat makan. Vitaminnya harus tetap rutin dikonsumsi," pesan Jenna pada Thalita, kini sudah terdengar santai, layaknya seorang teman yang sedang menasehati.
Tidak begitu ambil pusing dengan cara bicara Jenna, Thalita pun mengangguk lagi sambil membalas uluran tangan gadis di depannya. "Iya, terima kasih," ucapnya lagi, kembali membuat Jenna mengangguk.
"Sekali lagi, selamat." Kata Jenna, sebelum akhirnya Thalita pamit dan keluar dari ruangan itu.
Sama seperti Thalita, Jenna juga merasa senang dengan kabar kehamilan perempuan itu. Pikirnya, sekarang temannya yang dingin, akan menjadi seorang ayah. Rasanya Jenna sudah tidak sabar ingin bertemu dan mengganggu Evan.
Jenna yang tersenyum kembali duduk di kursinya. Saat melihat ke arah meja, wajah sumringah Jenna seketika berubah menjadi kaget, tatkala kertas hasil pemeriksaan Thalita ternyata tertinggal di atas mejanya.
"Aduh...!" pekik Jenna sendiri, hendak keluar dari ruangannya demi mengejar Thalita yang mungkin sedang berjalan menuju ruangan Evan.
Namun, baru saja Jenna akan mencapai pintu ruangannya, daun pintu tersebut sudah terbuka dan menampilkan seorang perawat yang bertugas membawa berkas pasien berikutnya.
"Loh, dokter mau kemana?" tanya perawat itu, tak sengaja menahan Jenna di depan pintu.
"Ah, itu…."
"Ini, dokter, data pasien selanjutnya," perawat itu memberikan sebuah map ke arah Jenna. Membuat gadis itu terlihat bingung, dimana dia melihat lembar pemeriksaan Thalita dan berkas itu secara bergantian.
"Ah, suster, bisa tolong bantu saya buat anterin surat ini ke ruangannya dokter Evan? Hasil pemeriksaan istrinya ketinggalan," pinta Jenna pada perawat itu, yang seketika disanggupi oleh perempuan muda tersebut.
"Makasi ya, suster Mita," ucap Jenna, yang langsung dibalas perawat tersebut dengan anggukan.
"Sama-sama, dokter." Katanya, sebelum akhirnya mempersilakan pasien berikutnya masuk ke ruangan Jenna untuk diperiksa.
🍂
Di sisi lain, Thalita yang tidak sabar ingin menyampaikan kabar gembiranya pada Evan, benar-benar sedang dalam perjalanan menuju ruangan pria itu.
Langkahnya terasa begitu ringan, hingga rasanya seperti ingin menari dalam setiap langkah kakinya.
"Kak Evan pasti senang. Dia pasti senang!"
Thalita sudah sangat berpikiran positif terhadap suaminya. Meskipun akhir-akhir ini hubungannya dengan Evan terkesan dingin dan cenderung bermusuhan —dari pria itu—, dia seperti tidak mengingatnya lagi. Dalam pikirannya hanya mereka yang sebentar lagi akan menjadi pasangan ibu dan ayah.
"Kamu bohong! Aku nggak percaya kamu benar-benar cinta sama perempuan itu! Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau selain Mama kamu, nggak ada satu perempuan pun di dunia ini yang bisa bikin kamu percaya! Jadi, kamu nggak perlu ngelak dan bohongin aku cuma untuk bikin aku sakit hati!"
Thalita tidak tahu sejak kapan dia terdiam di depan pintu yang setengah terbuka itu. Beberapa orang tampak berlalu-lalang di sekitar sambil terus berbisik memenuhi telinga Thalita.
Benarkah itu suara Evan?
"Berarti benar. Kamu nggak bener-bener cinta sama dia. Kamu cuma jadiin dia pelampiasan kamu aja, kan?!"
Brak!
"Kamu…!"
Sayup-sayup, Thalita dengar ada orang yang berbisik di belakangnya. Meskipun tidak melihat, Thalita bisa mengenali suara orang di belakangnya adalah perawat yang bertugas di dekat ruangan Evan.
"Itu orang kenapa ganggu dokter Evan terus, sih? Dia kan harus dirawat sekarang,"
"Duh, nggak tau. Mana pasien lain lagi nunggu lagi. Kamu bilang, gih sana!"
"Ah, nggak berani…. Kayaknya mereka lagi berantem, deh. Terus…."
Thalita tidak mendengar lagi suara bisik-bisik tersebut. Telinganya kembali fokus pada keributan yang terjadi di dalam ruangan, dimana secara tiba-tiba pintunya terbuka dengan lebar.
"T—Tha?"
Ah, Thalita baru sadar kalau dia masih terpaku seperti orang bodoh di depan ruangan suaminya.
"Kamu…. Kenapa kamu disini?" tanya Evan terlihat kaku, melihat Thalita dengan tatapan mata yang menyalang.
"Dokter Evan!"
Belum selesai Evan terkejut melihat kehadiran istrinya di sana, perawat utusan Jenna datang menginterupsi di sebelahnya.
"Maaf, ini ada titipan dari dokter Jenna. Katanya, hasil pemeriksaan istri dokter ketinggalan," ujar perawat itu tanpa memperhatikan wajah datar Thalita di depan Evan, karena hanya terfokus pada tugasnya mengantarkan pesan.
"Pemeriksaan?" beo Evan bingung, lantas mengerutkan dahinya dalam. "Dokter Jenna?" katanya lagi, dibalas anggukan kepala dari perawat itu.
Terlihat sekali tangan Evan seperti melayang mengambil surat tersebut. Sedangkan itu, perawat yang baru saja mengantarkan pesan langsung pamit meninggalkan keduanya.
Entah sejak kapan suasana menjadi sepi. Dua orang yang tadi berbisik di belakang Thalita pun seakan menghilang dan meninggalkan dirinya bersama Evan saja di sana.
"Kamu…."
Pats!
Belum selesai Evan bicara, Thalita sudah lebih dulu merampas surat pemeriksaannya dari genggaman Evan.
"Siapa dia, Van?"
Wanita yang tadi ribut dengan suaminya, Thalita lihat keluar dari ruangan. Dia mengenakan pakaian pasien rumah sakit itu, dengan botol infus yang mendampingi dirinya di sebelah.
"Seharusnya, saya yang bertanya. Siapa kamu?" tanya Thalita dingin, sebelumnya tidak pernah Evan lihat selama ini.
Mila yang tidak mengerti, balik mengerutkan dahinya dalam.
"Saya duluan nanya kamu. Kamu siapa?" tanya Mila dengan nada suara yang naik, dimana Thalita langsung menarik sudut bibirnya tajam, terlihat begitu sinis.
"Saya?" ulang wanita itu, kemudian mengangkat tangannya tinggi dan memberikan sebuah tamparan pada wajah Mila.
Plak!
"Saya adalah istri dari laki-laki ini!"
...Bersambung...
Mohon ****dukungannya**** terus ya, semua....
Klik tombol suka (👍🏻) dan silakan jejak komentarnya (💬) .... 😊
Terima kasih ,🌹