Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #15



Suasana restoran di hotel ini cukup tenang. Kondisinya tidak ramai, namun tidak juga sepi. Ada beberapa meja yang diisi oleh beberapa orang yang tampak pasangan ataupun keluarga. Semua tampak begitu menikmati sarapan mereka yang indah dari lantai dua bangunan yang langsung menyajikan pemandangan kota di tepi laut yang tidak jauh dari bangunan hotel berada. 


Mungkin, karena kemarin sudah malam dan juga lelah, Thalita tidak sadar dengan keberadaan laut lepas yang ada di hadapannya. Dan setelah matahari menyinari sempurna begini pun, tampaknya Thalita juga belum sempat menikmati keindahan panorama itu dengan baik karena sosok pria yang ada di depannya. 


Setelah kejadian kamar mandi, baik Evan dan juga Thalita pun tampak diam seribu bahasa. Evan dengan pikirannya, dan Thalita dengan perasaan tidak enak yang menyerangnya. 


Tadi, saat Evan meminta mereka untuk mandi bersama di kamar hotel, Thalita berusaha memberikan alasan untuk menolak ide tersebut. Dari mulai dia yang ingin buang air besar, sampai ponsel yang katanya berbunyi, sudah Thalita lakukan untuk mengelabui suaminya, Evan. Tapi, bukannya menyerah, Evan malah berkata bahwa dia tidak masalah sekalipun melihat Thalita sedang membuang air di depannya, dan juga rela menunggu Thalita di pintu kamar mandi andai ponsel Thalita memang lebih penting saat itu. 


Dan sebagai orang yang sudah panik sejak awal, Thalita tentu terlihat gelisah dan mulai banyak tingkah. Dia yang gemetaran mencoba menjauh dari tubuh polos Evan yang sudah berdiri di belakangnya, sambil menahan diri di balik wajah pucatnya yang membelakangi pria tersebut. 


Pikir Thalita, semua akan baik-baik saja, kalau dia menekan hati seolah dia tengah sendirian di kamar mandi itu. Tapi Evan yang sejak kemarin selalu bertingkah lugas dalam menyentuh sesuatu, membuat Thalita kaget hingga tanpa sadar berbalik dan menampar pipi Evan dengan keras. 


Sontak saja, adegan mandi yang diharapkan mereka bisa menyingkat waktu agar lebih cepat pergi ke restoran, berakhir dengan aksi yang kacau. 


Thalita yang tadinya panik, seketika terbodoh melihat Evan yang diam dengan posisi kepala menoleh sehabis ditampar. 


Alhasil, Evan yang sepertinya sudah selesai mandi pun langsung pergi meninggalkan Thalita dalam diam. Seorang diri, dan tubuh polos yang disiram air shower. 


Beberapa saat menenangkan diri, Thalita yang sudah menemukan kesadarannya pun langsung menangis merutuki nasib. Apa yang harusnya dia sembunyikan dari Evan, sekarang malah dengan jelasnya dia tunjukkan di depan hidung pria itu. Lantas, apa yang akan Evan pikirkan sekarang tentang dirinya? 


Begitulah desah napas berat Thalita mengakhiri ingatannya tentang kejadian kamar mandi pagi ini. Dan sekarang bibirnya bergetar seolah dia ingin bicara. Namun dirundung oleh rasa takut, lagi-lagi membuat Thalita terdiam dan hanya bisa membuang napas gusar. 


"Katanya, Papa kamu sekarang itu, bukan ayah kandung kamu, ya?"


Sibuk dengan kegundahannya yang dia rasakan sendiri, Thalita mengangkat pandangan ke arah Evan yang duduk tepat di depannya. 


Masih dengan gaya khas yang sama, menyantap sarapan dengan tenang dan datar seolah dia tidak sedang membicarakan apapun. 


"Iya,"


"Sejak umur berapa, kamu tinggal sama mereka?" tanya Evan lagi, membuat Thalita sedikit mengerjap. 


"Pas masih SD,"


"Papa kandung kamu katanya meninggal. Kalau boleh tau, penyebabnya apa?" tanya Evan kembali, kali ini tidak langsung dijawab oleh wanita yang menjadi istrinya itu. 


Dia hanya diam, memandang Evan dengan sorot mata yang sendu, namun terkesan cukup dalam. Seolah dia tidak suka Evan membahas apa yang tidak ingin disimpan oleh Thalita. 


Namun, bukannya sadar diri, Evan justru balas menaikkan pandangan dan menatap Thalita tak kalah datar. 


"Mereka bilang, serangan jantung," sahut Thalita pelan, mulai menundukkan kepala lemah. 


"Mamamu bilang, cuma kamu yang tau soal kejadian itu. Jadi, katanya aku cuma bisa nanya ke kamu. Aku pikir, beliau emang lagi sedih aja, kalau aku mulai bahas tentang almarhum Papa kamu," kata Evan agak panjang, cukup menyadari perubahan sikap Thalita yang mendengus meskipun tidak menunjukkan wajahnya. 


Sementara itu, Thalita yang tidak sadar Evan memperhatikannya, hanya bisa meringis dan tersenyum kecut mendengar kalimat itu. 


"Kenapa? Apa aku salah?" tanya Evan tiba-tiba, menyadarkan Thalita hingga refleks mengangkat pandangannya lagi. 


"Aku punya feeling kalau kamu dan Mamamu punya masalah terkait dengan hal itu. Dari cara beliau ngomong, bisa aja Mamamu menuduh kamu sebagai penyebab kematian Papa Johan," terka Evan santai, menelungkupkan sendok dan garpunya di atas piring, dan meneguk segelas air mineral yang ada di sisi kanannya. 


Thalita hanya diam memandang setiap gerak pria itu, hingga akhirnya orang yang baru menjadi suaminya kemarin lusa itu bersandar dan menatap ke arahnya. 


"Bukan aku yang menyebabkan Papa meninggal! Waktu itu, tiba-tiba aja mereka bilang Papa jatuh, terus pingsan. Karena pesawat yang kami tumpangi belum mendarat, nggak ada satu orang pun yang bisa nolongin Papa sampai akhirnya Papa meninggal dalam perjalanan liburan kami ke Singapura," ujar Thalita cukup keras, seperti tengah memarahi Evan hingga tidak sadar mengundang beberapa perhatian orang. 


Sedang pria yang ada di depannya, hanya diam tidak terpengaruh sama sekali. 


"Apa karena itu, kamu keliatan pucat pas dengar ada orang yang pingsan dalam pesawat kemarin?" tebak Evan lagi, tidak dijawab sama sekali oleh wanita itu. 


Dalam hatinya, Thalita berpikir, mungkinkah Evan menyadari hal itu? 


"Kamu cemas, kalau sempat terjadi apa-apa sama Bapak itu?" tanya Evan enteng, mengambil minumnya lagi yang sudah tersisa setengah di dalam gelas miliknya. 


"Apa aku kelihatan cocok untuk mencemaskan orang lain?" sambar Thalita terdengar datar, melihat Evan dengan kedua matanya yang sayu. 


"Enggak. Karena hidup kamu sendiripun udah sangat mencemaskan," timpa pria itu terkekeh kecil, meletakkan gelasnya dan tersenyum dengan bibirnya yang basah.


Dalam posisi ini, Thalita lebih terfokus kepada bibir suaminya yang jadi kelihatan lebih segar dan begitu mencolok. 


"Hobi kamu itu mencoba untuk bunuh diri. Kamu pikir, itu nggak mencemaskan sama sekali?" kata Evan santai, kini memangku sebelah pahanya di paha yang lain, dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Thalita dengan tatapan yang fokus padanya. 


Seketika, Thalita merasa tubuhnya menjadi kaku. Pandangan Evan seperti membelenggunya dari kepala hingga ujung kaki. Bahkan setiap sel dalam tubuhnya pun ikut membeku melihat senyuman penuh makna yang Evan berikan padanya. 


"Daripada mencemaskan orang lain, akan lebih masuk akal lagi kalau kamu mencemaskan dirimu sendiri, kan?" Evan menatap dalam mata Thalita yang tidak berkedip sekalipun. 


"Kamu harus mulai mengobati luka kamu," ujar pria itu kemudian dengan nada yang rendah, namun cukup mampu menembus telinga Thalita hingga masuk ke pikiran. 


Lama Thalita memandang Evan. Sampai akhirnya memutus tatapan itu dan menarik napas panjang serta membuangnya perlahan. 


"Aku baik-baik aja kok. Kalo pun terluka, aku bisa ke rumah sakit sendiri. Jadi,"


Derai tawa Evan yang kecil namun sarat akan sindiran menghentikan kata-kata serta gerakan Thalita yang ingin melanjutkan sarapannya yang tertunda. 


"Aku tau kamu itu bukan tipe cewek yang bodoh. Biarpun agak pemalas dan berantakan, tapi kamu cukup mengerti sama apa yang aku bilang sekarang, kan?"


Dalam momen ini, Thalita menatap Evan dengan seksama dan membuatnya bisa menyadari sesuatu. 


Apa Evan sebenarnya pria yang banyak bicara seperti ini? 


...^^^Bersambung^^^...