
Thalita masih memikirkan tentang pembicaraannya dengan Rosalin siang tadi. Selama seminggu ini, dia memang tampak sedikit menghindar dari Evan. Terlebih, jika pria itu sudah mendekatinya, Thalita pasti akan segera menghindar dan memilih menjauh dari pria itu.
Thalita takut kalau sampai pria itu berbicara padanya dan pembahasan mereka kembali menyinggung soal Axel yang masih ditahan karena aduan Evan, mereka akan bertengkar dan berakhir dengan perjanjian Thalita yang harus memuaskan Evan. Bagaimanapun juga, setelah mereka melakukan hubungan badan kemarin, Evan telah dengan tegas mengatakan kalau Thalita gagal dalam melakukan tugasnya. Padahal, apa yang dilakukan oleh Thalita kemarin adalah bentuk usaha paling keras yang dia lakukan malam itu.
Bukan apa-apa. Kalau dilihat dari bentuk fisik dan paras pria itu, Thalita yakin akan banyak wanita diluar sana yang bersedia melayani suaminya itu. Hanya saja, setiap kali Evan mulai menyentuh Thalita, dia tidak bisa menghindari bayangan-bayangan tipis tangan seseorang yang dulu juga pernah ingin menyentuhnya berulang kali.
Thalita tengah merenung di atas ranjang, tatkala pintu kamar tidurnya dan Evan dibuka oleh seseorang.
Terlihat, suami dari Thalita yang tadi sibuk dia pikirkan, masuk ke dalam kamar dengan ekspresi wajah sedikit keheranan.
Namun, dengan ekspresi santai yang bisa dikendalikan, Thalita memperhatikan Evan yang berjalan ke arah meja rias sambil membuka jam tangan hitam yang dikenakannya.
"Tumben kamu udah pulang. Restoran lagi sepi?" tanya Evan terlihat membelakangi Thalita, namun tetap melihat sesekali dari pantulan wajah istrinya itu di cermin rias.
"Nggak. Restoran masih rame kok, karena mau masuk makan malam," sahut Thalita agak pelan, gugup ketika Evan masih menatapnya dari cermin.
"Aku lagi pengen pulang cepat aja," sambung wanita itu, seakan merasakan arti tatapan Evan kepadanya.
"Oh," gumam Evan seperti acuh tak acuh, kemudian berjalan ke arah lemari baju sambil membuka kemeja putihnya.
Pria itu tampak tidak bicara sama sekali. Sepertinya dia sedang melihat baju mana yang akan dia pakai sore ini.
Kemudian, tanpa bicara lagi, pria itu melenggang masuk ke dalam kamar mandi. Membawa serta pakaian santainya ke dalam, dan membiarkan Thalita terus memperhatikannya dalam diam.
Melihat itu, Thalita seperti sadar akan sesuatu. Sejak menikah, belum pernah sekalipun Thalita melayani Evan secara lahir. Dari mulai mengambilkan pria itu makan, ataupun menyiapkan pakaiannya setelah mandi, tidak pernah Thalita lakukan. Pantas pria itu terlihat dingin terhadapnya.
Rupanya Thalita itu memang tipe wanita yang tidak sadar diri.
Ting!
Sedang sibuk memaki diri sendiri, Thalita diganggu oleh denting notifikasi yang masuk ke ponselnya. Sedikit memijat kening, dia mengambil ponsel yang tadi dia letakkan di atas meja.
Saat membawa id pengirim pesan itu adalah ibunya, sontak Thalita kembali merasa mual. Tanpa membukanya pun, Thalita tahu apa isi dari pesan tersebut.
🍂
Saat matahari sudah tenggelam beberapa saat lalu, Mila masuk ke dalam rumahnya yang terlihat terang. Meski dalam hati Mila merasa aneh kenapa rumahnya yang biasa gelap mendadak terang, dia tetap berjalan tanpa mengindahkan apapun yang ada di sekelilingnya.
"Baru pulang kamu?" tanya Rosalin, menghentikan langkah kaki Mila menuju kamar tidurnya.
Dengan ekspresi wajah lelah yang tidak bisa disembunyikan, Mila menoleh dan melihat Rosalin tengah berdiri di balik meja dapur yang jaraknya hanya berapa meter di belakang kamar Mila.
"Mama lagi apa?" tanya Mila berjalan ke arah Rosalin, yang tampak sibuk tengah membuat sesuatu.
"Buat cemilan," sahut Rosalin enteng, tak ayal membuat Mila jadi memperhatikan sekitar meja.
Pelan, Mila menggeser pandangannya ke wajah serius Rosalin. Ibunya itu kini terlihat sangat fokus membuat sesuatu yang sebenarnya belum Mila ketahui wujud akhirnya. Namun, dia juga ingat kalau beberapa hari ini dia sering mendapati Rosalin berkutat di dapur yang notabenenya juga cukup jarang dia sentuh.
"Beberapa hari ini Mama kayaknya buat cemilan terus. Emang, makanannya kemana? Kok, aku nggak pernah liat dan makan?" tanya Mila memperhatikan wajah Rosalin, yang tadi terlihat fokus, kini seperti setengah kaget.
Dalam diam, Mila menatap perubahan ekspresi Rosalin yang seperti tengah menutupi sesuatu.
"Masa sih? Padahal makanannya selalu Mama taro di atas meja dek. Masa nggak pernah kamu liat," jawab Rosalin, lantas menaikkan pandangannya ke arah Mila.
"Kamu aja kali tuh, nggak nggak peduli sama masakan Mama sama sekali. Buktinya, makanan sering basi karena nggak kamu makan," kilah Rosalin santai, tak urung langsung membuat dahi Mila mengerut.
"Oiya? Di mana? Perasaan dari dulu Mama nggak pernah bikinin aku makanan, deh! Tapi, kok tiba-tiba sekarang Mama bilang bikinin makanan buat aku?!" tuntut Mila menaikkan nada suaranya.
Rosalin hanya diam, menatap anaknya tersebut.
"Jujur aja deh, Mama bikin makanan ini tuh, buat siapa? Apa Mama lagi dekat sama cowok lain? Siapa? Kok Mama nggak kasi tau aku? Jangan bilang, itu suami orang lain lagi ya, Ma!"
"Heh, Mila! Jaga omongan kamu itu, ya! Jangan sembarang bicara! Emangnya, Mama itu kamu, yang suka pacaran sama suami orang!?" tuding Rosalin ke wajah Mila, mulai ikut meninggikan suaranya juga.
Mila tidak langsung menjawab. Dengan wajah bertekuknya, dia menatap Rosalin, sebelum akhirnya tersenyum sinis.
"Nggak usah sok polos, deh. Mama kira, aku nggak tau?" ujar Mila remeh. "Mama mau bilang apa soal Papa? Mama lupa, kalau Papa itu suami orang, yang sialnya lebih milih keluarga sahnya ketimbang Mama dan aku?"
Gantian, kini Rosalin yang terdiam mendengar ucapan Mila.
"Setelah itu, Mama juga sering kan, pergi ke luar negeri untuk liburan sama suami orang lain? Terus, Mama mau mojokin aku gara-gara kebiasaan Mama itu turun ke aku, gitu?!"
"Mila!"
"Apa?!" bentak Mila balik, sekarang membuat suasana di antara mereka jadi hening.
Rosalin memperhatikan detil wajah anaknya itu, sampai akhirnya menarik napas panjang dan membuangnya sedikit keras.
"Kayaknya kamu terlalu capek sama kerjaan kamu hari ini. Jadi, lebih baik—"
"Iya! Aku capek! Aku capek banget! Aku capek sampek rasanya aku mau mati! Aku capek, dan aku juga nggak mau berdiri lagi! Aku capek, Ma! Aku capek sama semua yang terjadi sama hidup aku!"
Tiba-tiba, Mila meledak. Dia marah dengan ekspresi wajahnya yang memerah. Dia berhasil membuat Rosalin terdiam di tempat dan memandang kaget dengan teriakan kerasnya yang memenuhi seisi rumah.
Lalu, tanpa mempedulikan lagi keterkejutan di wajah Sang Ibu, Mila lantas berbalik dan berjalan dengan langkah keras sepatunya menuju pintu kamar. Meninggalkan Rosalin yang masih terdiam, dengan dahinya yang cukup berkerut dalam.
"Anak itu kenapa lagi, sih?"
...Bersambung ...