
Plak!
Evan terkejut dengan apa yang baru saja Thalita lakukan terhadap Mila. Tanpa aba-aba, sebuah tamparan mentah dilayangkan wanita itu ke wajah Mila yang masih terlihat ada luka.
"Saya adalah istri dari laki-laki ini," ucap Thalita tenang, namun terdengar tegas di telinganya.
"A—apa?"
Mila yang kaget, menyentuh pipinya dan melihat Evan seakan meminta penjelasan.
Evan yang sadar dengan situasi sekitar, langsung menyeret dua orang itu untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Tha, aku bisa menjelaskan semuanya." Kata Evan, yang justru terdengar sangat klise bagi Thalita.
"Apa? Kamu mau bilang, kalau ini semua nggak seperti apa yang aku pikirkan?" terka Thalita malas, kemudian mendengus sinis.
"Kalau memang gitu, kenapa nggak kamu suruh perempuan gila ini untuk keluar sekarang? Kenapa kamu justru narik dia juga untuk masuk ke sini? Kamu mau menjelaskan apa juga ke dia?!" tuntut Thalita marah, menatap Evan yang seketika merasa bodoh dengan tindakan.
"Apa? Lo bilang gue gila?!" pekik Mila tidak terima, menurunkan tangannya dari pipi.
"Heh! Lo nggak ngaca?! Lo tuh, yang gila! Lo maksa Evan buat nikah sama lo dengan cara kotor kayak gitu! Lo pikir, gue nggak tau lo siapa?!" tuding Mila ke wajah Thalita, yang mana itu membuat istri dari Evan tersebut mengernyit.
"Apa maksud kamu?" tanya Thalita, yang ingin sekali langsung dijawab oleh Mila.
"Mila!"
Namun, baru juga buka mulut, Evan sudah menegurnya dan memberikan tatapan peringatan pada wanita tersebut.
"Kenapa? Biar dia tau, kalo kamu nikah sama dia itu juga karena kamu kasian! Jadi, dia bisa nyadar diri dikit!"
Mila melirik sinis pada Thalita mengatupkan rahangnya.
"Aku tau, jadi kamu nggak perlu ngasih tau aku." Kata Thalita, kontan membuat Evan langsung menoleh ke arahnya.
"Oh, udah tau? Bagus deh! Berarti emang dasar lo tipe orang yang nggak tau malu!" cerca Mila lagi, kali ini dengan sikap yang angkuh.
Plak!
Sekali lagi, tidak ada yang menyangka kalau Thalita akan melayangkan pukulan kembali ke wajah Mila. Membuat dua orang di depannya kaget, dan menatap lekat wajah Thalita yang begitu datar.
"HEH, LO BRENGSEK—!"
"Mila, cukup!"
Mila yang mengamuk karena sudah ditampar dia kali oleh Thalita, hendak menyerang wanita itu. Tapi, Evan lebih cepat menghalanginya, dengan menarik Thalita mundur beberapa langkah dan melindungi wanita tersebut.
"Heh! Dasar cewek kurang ajar! Nggak tau malu! Bisa-bisanya lo mukul gue, ya?! Lo pikir lo siapa?! Dasar cewek nggak tau diri! Cewek gilaaaak!" maki Mila masih ingin menyerang Thalita, meskipun sudah jelas dihalangi oleh Evan yang memunggunginya.
"Mila! Cukup! Aku bilang berhenti! Kamu bisa dengar, nggak?!" bentak Evan pada Mila, yang mulai menahan tangan perempuan itu.
"Dia duluan yang mulai, Van! Cewek nggak tau diri itu yang mukul aku duluan! Kamu nggak liat?! Dia—"
Buk!
Buk!
Buk!
Buk!
Buk!
Mila masih terlihat begitu berapi-api di depan Evan, ketika Thalita memukulkan tas jinjingnya yang kecil—namun berbahan kulit yang tebal— ke punggung Evan beberapa kali.
"Ta! Lita! Apa-apa, sih?! Ta!"
Evan yang tidak siap dengan reaksi Thalita, mencoba untuk melindungi kepalanya. Namun, bukannya berhenti, perempuan itu terus saja memukul tubuh dan kepala Evan dengan kekuatan yang penuh.
"Lita! Berhenti! Dengerin aku!"
Tidak sabar, Evan yang memang bukan tipe orang penyabar, langsung menangkap tangan wanita itu. Menahan Thalita yang terus meronta tanpa membuka mulutnya sama sekali.
Mila yang tidak paham dengan karakter Thalita, tidak sadar mundur satu langkah. Dilihatnya wajah wanita itu terlihat begitu tenang, untuk ukuran orang dengan tenaga yang cukup besar.
"Thalita! Udah! Cukup! Kamu—akh!"
Evan sontak terpekik, saat Thalita maju dan menggigit lengannya. Sekuat tenaga Evan menahan gigitan itu, hingga akhirnya Thalita sendiri yang lelah dan menjauh darinya.
Suasana di ruangan mendadak terasa begitu aneh. Ada Mila yang tampak menjaga jarak, Evan yang menatap Thalita tajam, dan Thalita yang tampak begitu kelelahan.
"Udah? Udah siap marahnya? Sekarang dengarin aku."
Pelan, Evan melepaskan cengkramannya dari Thalita yang dikira sudah tenang.
Namun, belum juga tangan Evan turun sepenuhnya, tangan sang istri sudah kembali terangkat dan melayangkan sebuah pukulan ke wajahnya.
Plak!
"Harusnya aku tau, kalo kamu itu juga sama brengseknya."
Sejak tadi diam, Thalita berbicara dengan suara yang serak.
"Mau menjelaskan semuanya sama aku?" dengus Thalita, kemudian tertawa lemah.
"Emang kamu bisa? Bukannya kamu harus ngarang cerita dulu?"
Evan menoleh kemudian melihat Thalita dengan sorot mata tidak terbaca.
"Aku udah dengar semua apa yang kamu bilang. Selama ini aku bertanya, apa yang membuat laki-laki hebat seperti kamu mau nikah sama aku? Dan ternyata cuma karena kasihan, ya?"
Lagi, Thalita tertawa kecil. Terlihat gemetar sih, bibirnya saat dia membuang pandangan ke arah lain.
"Aku kira cuma karena iseng," tambahnya lagi begitu pelan, seakan enggan menatap Evan.
"Mila, tolong keluar dari sini sekarang."
Tanpa melepaskan pandangannya dari Thalita, Evan berbicara pada Mila dengan suara yang begitu dingin.
🍂
"Kenapa kamu nyuruh dia keluar? Bukannya perempuan itu harus ada di sini, biar kamu bisa bicara jujur?"
Baik Evan dan juga Thalita kini sudah berhadapan layaknya musuh yang siap menyerang satu sama lain.
"Kejujuran apa yang kamu mau?" tanya Evan datar, entah kenapa terkesan seolah tidak ingin menjelaskan apapun.
"Entah. Soal apa yang belum aku dengar lagi, mungkin?"
"Emang kalo aku bilang, kamu bakal percaya? Bukannya kamu lagi ngeluarin isi kepala kamu sendiri?"
"Itu karena aku nggak pernah tau apa yang sebenarnya kamu pikirin! Kamu juga kayak gitu, kan?! Jadi, kenapa sekarang kamu malah nyalahin aku?"
"Terus, kamu mau aku gimana?! Selalu bilang aku cinta sama kamu, gitu?! Kamu nggak berpikir, kalau mungkin itu semua cuma omong kosong?!"
"Berarti benar apa yang aku dengar! Kamu nikah sama aku cuma karena kamu kasihan sama aku kan?!" bentak Thalita, menatap tajam wajah Evan yang begitu datar.
"Kenapa kamu ngelakuin itu?! Kenapa?! Aku nggak butuh simpati dari kamu! Aku nggak butuh! Aku cuma pengen melakukan apa yang aku anggap benar saat itu! Aku nggak perlu bantuan dari siapapun! Aku—"
"Kamu anggap itu benar?!"
Evan yang tidak terima dengan kalimat itu, sontak merasa marah dan langsung mencengkram bahu wanita itu.
"Itulah kasihannya kamu, Lita! Kamu nggak tau apa yang sebenarnya dibutuhkan sama hati kamu! Pikiran kamu udah kacau! Kamu anggap mati adalah jalan terbaik buat kamu! Kamu tanya, kenapa aku kasihan sama kamu?!" Evan menatap Thalita dengan tatapan yang begitu tajam dan cengkraman yang kian mengeras.
"Itu karena kondisi kamu yang benar-benar menyedihkan! Kalau kamu nggak mau dikasihani, jangan bersikap melas kayak gitu!" bentak Evan keras, kemudian melanjutkan ucapannya. "Andai kamu ngeliat gimana keadaan kamu waktu itu, mungkin kamu juga bakal berpikir kalau itu adalah hal paling memprihatinkan dalam hidup seseorang!"
Evan yang tengah dengan kalimatnya, menatap satu per satu mata Thalita yang biasa sebening kaca, terlihat bergetar.
"Jadi bener. Kamu menikahi aku karena kasihan? Terus…. Gimana soal…."
Tanpa sadar Thalita menyentuh perutnya sendiri. Menggunakan satu tangan, yang sejak tadi meremas kertas hasil pemeriksaan kandungan yang dilakukan oleh Jenna.
Mendengar itu, membuat Evan semakin muak dan mengusap rambunya kesal.
"Iya! Kenapa?! Kamu mau bilang kalau itu semua karena cinta?!" dengusnya frustrasi ke arah lain. "Kamu nggak bercanda, kan?! Kamu tau sendiri kalau nggak ada cinta di antara kita! Bukan cuma aku! Kamu juga ngelakuin itu karena mau ngelindungin keluarga kamu yang brengsek itu, kan?! Bukan karena kamu mau aku sentuh!" tuding Evan kemudian, semakin membuat nyari hati Thalita.
"Sekarang, kamu mau nyalahin aku karena hal ini?" tanya Evan kemudian, menatap dalam wajah Thalita yang membeku.
Seakan sadar dengan kenyataan, Thalita menggelengkan kepalanya. Mengangkat wajah yang tadi sempat menunduk, dan menatap Evan dengan kedua matanya yang memerah.
"Enggak. Itu bukan salah Kak Evan," geleng Thalita lemah, seperti menahan tangis.
"Ini salahku." Lirihnya serak, kemudian menunduk.
"Harusnya aku nggak percaya sama siapapun. Harusnya…."
Thalita tersedak oleh tangis yang dia tahan sendiri.
Tidak melanjutkan ucapannya, Thalita kembali menggelengkan kepala.
"Maaf, udah mengganggu waktu Kakak."
Setelah mengatakan itu, Thalita yang goyah pun segera berlari dari ruangan Evan.
...Bersambung ...
Mohon untuk terus dukung cerita ini, ya.... 😊
Klik suka (👍🏻) dan silakan jejak komentarnya (💬) 😉
Terima kasih 🌹