
Thalita duduk di dalam mobilnya sambil menggigit kuku jarinya yang sedikit panjang dan berukir indah. Di layar ponsel yang sedang dia pegang di tangan kirinya, ada foto dirinya yang tadi tengah mengenakan pakaian pengantin yang dipilihkan oleh Laila.
Tadi, tanpa sepengetahuan Evan dan juga siapapun, Thalita yang diminta untuk mengganti bajunya kembali pun buru-buru mengambil ponsel dan memotret dirinya sendiri lewat cermin besar yang ada di depannya. Tiba-tiba, dia penasaran, andai dia mengirimkan foto itu pada Marlia, yang katanya tidak bisa hadir menemani kegiatan fitting baju pengantin Thalita dan Evan siang ini.
Saat sudah berpisah dengan Evan dan ibunya, Thalita masuk ke dalam mobilnya sendiri dan merenung hingga detik ini. Tiba-tiba, niat yang tadinya mengirim gambar dirinya pada Marlia luntur begitu saja. Ada perasaan ragu, takut kalau respon yang diterimanya dari Sang Mama nanti tidak akan memberikan kepuasan seperti apa yang Thalita harapkan saat ini.
"Kayaknya emang nggak usah, deh," gumam Thalita menggeleng, lantas meletakkan ponselnya di atas dashboard dan hendak menyalakan mesin mobilnya.
Saat akan memasukkan persneling, tiba-tiba sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke ponsel pintar gadis itu dan langsung menarik perhatian si empunya. Begitu melihat nama Mamanya yang tampil di layar ponsel, Thalita pun buru-buru menyambar benda pipih itu dan membuka isi dari pesan singkatnya.
"Gimana hari ini? Lancar, kan?"
Thalita tidak bisa menahan senyum. Begini rasanya diperhatikan oleh ibu sendiri? Pikir Thalita.
Dengan semangat, Thalita membalas pesan itu dengan kalimat, "Lancar, Ma." bersamaan dengan emoticon senyum di akhir kalimatnya.
Lalu, dia seperti tidak berpikir panjang, ketika membuka galeri ponselnya dan mengirimkan fotonya yang tadi sempat ragu untuk dia kirimkan pada Sang Mama yang sudah membaca pesan singkat Thalita sebelumnya dari centang biru yang Thalita lihat.
Setelah merasa puas, Thalita tidak menunggu respon dari Mamanya dan segera pergi meninggalkan halaman boutique dengan perasaannya yang bahagia.
Sementara itu, di sisi lain, Marlia yang tengah bersantai ruang TV rumahnya, tampak meletakkan kembali ponsel pintarnya ke atas buffett kecil di sampingnya. Dia seperti tidak ada niatan untuk membalas pesan dari Thalita dengan mengambil majalah yang sesaat lalu sedang menjadi pusat perhatiannya.
"Ma…! Ma…! Ma…!"
Di tengah ketenangan Marlia melihat-lihat isi majalah, suara derap kaki serta teriakan heboh seorang laki-laki yang menuruni tangga mengganggu konsentrasinya.
Sedikit mengernyit, Marlia menoleh dan melihat anaknya, Axel, tengah berlari ke arahnya dan duduk di sofa panjang yang sama dengannya.
"Ma! Ma! Aku dengar… aku dengar…."
Axel berbicara dengan napas tersengal dan menelan ludahnya susah payah.
"Aku dengar, Thalita mau nikah? Iya?"
Axel tampak begitu terkejut dan menanti jawaban dari ibunya yang sangat santai, masih dengan ekspresi wajah mengerutkan dahi.
"Iya. Emang kenapa?" tanya wanita itu tenang, mengabaikan raut wajah Axel yang lebih kaget lagi hingga menahan napas dan menutup mulutnya.
"Serius, Ma?!" tanya cowok itu kemudian, hanya dibalas Marlia dengan gumaman tidak peduli.
"Sama siapa? Maksudnya…. Bukannya kemarin pertunangan dia udah sempat batal, ya? Sama siapa tuh, namanya? Ricko-Ricko itu? Terus, kok sekarang udah mau nikah aja? Mereka balikan lagi, apa gimana?"
"Nggak, ini beda orang. Dia anaknya temen Mama," sahut Marlia masih tenang, tanpa melihat ekspresi anaknya yang mengerjap.
"Baru dikenalin?" tanya anaknya itu lagi, kembali mendapat balasan berupa deheman dari Marlia.
"Wah, gila! Keren juga si Lita, ya. Baru dikenalin, udah langsung nikah aja," gumam Axel berdecak kagum, namun sarat akan senyuman sinis yang dia lempar ke arah lain.
Marlia yang menyadari hal itu, langsung menutup majalahnya dan menatap serius pemuda tersebut.
"Dengar ya, Axel. Mama peringatkan sama kamu, untuk jangan mengacaukan perjodohan mereka. Mama pusing, kalo harus ngeliat anak itu terus menerus lalu lalang di keluarga kita. Mama stres! Jadi, Mama minta sama kamu untuk diam dan jangan mencari masalah! Biarkan anak itu menikah sebagaimana harusnya udah dia lakuin berapa tahun lalu. Ngerti!?" ujar Marlia tegas, pada Axel yang semula terbengong, sebelum akhirnya tertawa kecil melihatnya.
"Lah, emang Axel ngapain, dah! Perasaan Axel nggak ada pernah—"
"Kamu pikir, Mama nggak tau, kalo kamu gebukin anak itu pas acara pernikahannya udah dekat? Kamu ngancam dia kan, Makanya anak bodoh itu kabur dari calon suaminya?" tuding Marlia dongkol, kali ini membuat Axel mengerutkan dahi tidak suka.
"Dia ngadu sama Mama?!"
"Berarti apa yang Mama bilang ini bener, kan?" tandas Marlia menyerang Axel, sukses membuat anak itu terdiam seketika.
Axel yang tidak bisa membantah, hanya bisa membuang pandangannya ke arah lain tanpa berani membalas tatapan ibunya.
"Mama tau, kamu itu orangnya emosian. Tapi, kamu lihat-lihat kondisinya juga, dong! Udah tau anak itu kerjaannya bikin repot! Karena ulah kamu itu, dia jadi gagal nikah dan nggak hanya bikin malu keluarga kita!" omel Marlia pada Axel, yang entah kenapa malah dibalas dengan cepat oleh anaknya itu.
"Emang dia keluarga kita?" cibir pemuda itu, hanya bisa membuat Marlia mendecak tanda kesal.
"Biarpun Mama benci sama dia, dia tetap anak yang Mama lahirkan dari rahim Mama sendiri. Sama seperti kamu. Paham?!" ujar Marlia, melihat Axel yang kini berwajah masam.
"Tapi, Mama nggak bakal memperlakukan Axel kayak Mama memperlakukan dia, kan? Ingat loh, Ma, Axel ini anak Mama sama orang yang Mama cintai. Nggak kayak dia—"
"Axel yakin, Mama pasti lebih sayang sama Axel. Selama ini kan emang begitu," ujar anak itu, ternyata berhasil membuat Marlia menghembuskan napas panjang.
"Pokoknya, kali ini dia harus menikah. Dan Mama harap, kamu bisa dengerin omongan Mama kali ini," tandas Marlia bangkit dari posisi duduknya, dan meninggalkan Axel yang hanya tersenyum datar menyambutnya.
Saat ibunya sudah menjauh, senyum palsu yang tadi Axel lemparkan seketika menghilangkan. Berganti dengan raut wajah sinis, dan decakan lidah yang jengkel.
"Sialan! Lolos juga itu cewek,"
🍂
Detik-detik pesta pernikahan Thalita pun sudah mendekat. Tidak ada yang istimewa dengan acara sakralnya kali ini. Tidak ada izin bolos kerja untuk mengurus segala keperluan, Thalita justru berada di dalam ruangannya yang ada di restoran.
Bisik-bisik karyawan restoran Thalita pun sering terdengar samar di belakang. Mereka membahas tentang kabar Thalita yang mereka ketahui sebentar lagi akan menikah. Namun, alih-alih terlihat sumringah dan bahagia, Thalita malah terlihat begitu datar dengan terus bekerja layaknya kehidupan seorang gadis yang monoton.
"Maaf, Bu Lita. Anak-anak udah mau pulang,"
Sekar, asisten Thalita di restoran masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu beberapa kali. Menarik perhatian Thalita yang tadi sempat terfokus pada nota-nota belanja di depannya, untuk melihat ke arahnya.
"Oh, udah waktunya pulang, ya?"
Thalita melihat jam yang ada di ruangan tersebut sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Yaudah, kalo gitu kita keluar bareng-bareng aja,"
Thalita kemudian membereskan berkas-berkas kecil yang berserakan di atas mejanya. Melihat itu, Sekar pun berinisiatif untuk membantu Thalita meskipun tidak diminta.
"Eumh, Bu Lita," panggil Sekar ragu, melihat Thalita yang sibuk menyusun kertas-kertas bon satu per satu hanya membalas panggilannya dengan gumaman.
Tidak mendengar kalimat apapun, Thalita yang merasakan aneh pun melihat ke arah Sekar yang justru terdiam seperti melamun.
"Kenapa, Sekar? Ada masalah?" tanya Thalita serius, mengira kalau Sekar sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.
"Ah, enggak, Bu! Nggak papa, nggak jadi," kata Sekar menyengir, terlihat agak canggung di bawah tatapan bingung Thalita.
Gadis itu tidak langsung percaya dengan sikap Sekar. Namun, saat kegiatan membereskan meja kerja sudah selesai, dan Sekar pun segera undur diri dari ruangan, membuat Thalita akhirnya mau tak mau jadi mengambil tas kerjanya yang ada di atas meja. Lalu meninggalkan ruangan tersebut, setelah mematikan lampu di ruangannya.
Thalita yang memang biasa terlihat datar dan cenderung angkuh dari sikapnya itu tidak menyadari, kalau ada beberapa pasang mata terus saja memperhatikannya dari belakang sambil berbicara berbisik satu sama lain.
"Gimana? Udah jadi kamu tanya?" tanya salah satu perempuan, dari empat orang gadis yang ada di sekitar Sekar berdiri saat ini.
"Belum. Nggak berani," aku Sekar lemas, tak ayal membuat teman-teman perempuannya pun berdecak tanda kesal.
"Lah, gimana, sih?! Percuma dong kamu lebih dekat sama Bu Thalita daripada kita-kita! Masa nanya itu aja kamu nggak berani!" ujar salah satu teman Sekar yang lainnya, dimana dia adalah salah satu waitress yang bekerja di restoran milik Thalita tersebut.
"Eh, dekat yang dimaksud itu untuk urusan kerjaan kali! Kalo urusan pribadi gini mah, tetap aja nggak berani! Takut mengganggu privasi," kilah Sekar mengerutkan dahi, memang merasa tidak enak jika harus membicarakan hal pribadi dengan Thalita, meskipun notabennya dia itu asisten perempuan itu.
"Kayaknya sih, itu nggak termasuk melanggar privasi, deh! Kita kan cuma nanya, apa bener Bu Thalita itu mau nikah? Kalo emang iya, terus kita sebagai karyawan-karyawannya ini bakal diundang, nggak? Gitu aja, kok,"
"He'eh, kita cuma mau nanya itu aja, kok! Soalnya kan, agak aneh aja gitu, masa bosnya nikah, kita sebagai karyawan nggak tau, ya paling enggak dengar kabarnya secara langsung, gitu!"
"Iya, bener…. Kalo emang nggak diundang sih, ya gak papa juga. Namanya mungkin pesta orang kalangan atas yang nggak mau orang kayak kita ini masuk. Tapi, ya setidaknya kan kita bisa dengar kabar itu pasti dari orangnya langsung. Secara, kalo emang mau nikah, masa Bu Thalita kayak santai banget gitu. Alias, nggak ada vibes orang mau nikahan, gitu."
"Iya! Jangankan sibuk ngurus ini itu ke luar! Malah beberapa hari ini, Bu Thalita keliatan betah banget gitu, di ruangannya. Jangankan izin keluar restoran. Makan siang aja, Bu Thalita di ruangannya,"
"Iya,"
"Iya,"
"Ho'oh,"
Sekar yang sejak tadi mendengar ocehan teman-temannya hanya bisa diam di tempat. Menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan.
Sebenarnya, dia ingin mengakui kalau apa yang dikatakan oleh teman-temannya itu benar. Kalau dipikirkan sekali lagi, Thalita juga tidak wajib mengatakan perihal pernikahannya. Meskipun memang terasa aneh saat mengetahui kabar pernikahan bos mereka itu dari gosip salah satu karyawan restoran yang sempat mendapati Thalita dan seorang pria tengah memilih-milih cincin pasangan, tetap saja Sekar merasa kalau Thalita memang tidak memiliki kewajiban untuk memberitahukan semuanya pada mereka. Malah mungkin akan terlihat wajar jika wanita itu terus diam sampai nanti di hari H pernikahan benar-benar terlaksana, mengingat sebelum ini mereka tahu kalau Thalita sempat hampir menikah dengan mantan tunangan Thalita sebelumnya.
......Bersambung......