
Sungguh, Thalita benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Laila itu tidak sebaik kelihatannya. Bagaimana bisa, wanita paruh baya itu memaksa Thalita dan juga Evan untuk pergi berbulan madu pada hari itu juga? Padahal keinginan Thalita adalah ingin beristirahat satu harian penuh di atas kasur dan menghabiskan waktu dengan bergelung di bawah selimut. Ya, meskipun sebenarnya itu juga sulit untuk dia lakukan, mengingat sekarang dia sudah tidak berada di daerah kekuasaannya sendiri —apartemennya— yang mana dia harus lebih memperhatikan sikapnya di depan suami dan ibu mertua.
"Kamu bisa tidur dulu. Perjalanan kita masih perlu sekitar dua jam lagi untuk sampai,"
Evan mendaratkan bokongnya di kursi penumpang tepat di samping Thalita, dan menarik perhatian wanita itu yang semula menatap jauh ke arah luar jendela pesawat.
Sore ini Evan terlihat begitu santai. Celana dongker yang panjangnya hanya sampai lutut, dipadupadankan dengan kaos putih yang mengintip di balik kemeja lengan pendek tipis yang tidak dikancing Evan sama sekali. Kalau berjalan, dia sudah terlihat seperti selebritis yang sering Thalita lihat di drama asia. Kulitnya bersih, tubuhnya tinggi semampai, lengan yang terlihat seperti memiliki otot kawat, berhasil membuat pria itu menjadi pusat perhatian. Bahkan sebagai seorang wanita, sedikit iri dengan tubuh suaminya itu yang terkesan begitu terawat.
Thalita mengalihkan pandangannya kembali ke arah luar jendela. Sore ini, rencananya dia akan mengikuti perintah Sang Ibu Mertua untuk pergi bulan madu. Dan karena paksaan itulah makanya sekarang dia dan Evan sedang berada dalam penerbangan menuju Singapura.
"Aku nggak tau harus pergi ke mana. Jadi aku putusin kita bakal ke Singapur, karena itu yang lebih dekat,"
Jujur, Thalita tidak tahu arti kata dekat yang sebenarnya menurut pandangan Evan. Meskipun Thalita sudah menyerahkan semua keputusan pada pria itu tentang tujuan bulan madu mereka, tetap saja dia tidak habis pikir Evan lebih memilih membawanya pergi keluar negeri daripada penerbangan domestik yang notabenenya masih mempunyai beberapa tempat yang tak kalah bagus untuk dijadikan sebagai tempat bulan madu. Seperti Bali, contohnya? Toh, waktu penerbangan ke sana juga sama lamanya dengan waktu penerbangan mereka menuju Singapura.
Benar-benar Thalita tidak bisa habis pikir.
Malas memikirkan hal lain, Thalita pun termenung hingga tidak sadar kalau dia sudah tertidur untuk waktu yang sedikit lama. Begitu terbangun, dia terkejut karena ternyata dia sudah bersandar pada sebelah bahu kokoh Evan yang tampak datar memandang lurus ke depan.
"Kamu kebangun? Padahal masih ada setengah jam lagi sampai nanti pesawatnya landing,"
Terkejut, Thalita buru-buru menegakkan tubuh. Padahal, Evan tidak melihat wajahnya sama sekali. Tapi, kenapa pria itu bisa tahu kalau dia sudah terbangun?
"Ma—maaf, Kakak pasti keganggu, ya?" ucap Thalita terbata, merapikan sedikit rambutnya dan menatap tidak enak pada Evan.
Sesaat, Evan tidak menoleh. Namun, dalam hitungan detik berikutnya, dia melihat ke arah Thalita dan memandangnya tanpa ekspresi sama sekali.
"Udah biasa," ujar Evan santai, kembali menegakkan tubuhnya menatap lurus ke depan.
"Ini nggak lebih parah kok, dari yang tadi malam. Jadi, santai aja," kata Evan tiba-tiba, lagi-lagi mengagetkan Thalita hingga membuat kedua bola mata cantik wanita itu melebar.
"Ta—tadi malam?" ulang Thalita menahan napas, lalu mengingat kembali kejadian tadi malam sebelum dia tidur.
Apa yang sudah dia lakukan?
Tidak berani bertanya, Thalita memutar memori otaknya sekali lagi. Mengingat posisi tidur Thalita tadi pagi yang sangat berantakan, sedikit banyaknya membuat wanita itu sadar dengan kesalahan yang sudah dia perbuat terhadap Evan tadi malam.
"Ma—maaf, Ka—Kakak pasti nggak nyaman banget ya, sama aku?"
Thalita meringis kecil saat mengatakan kalimat itu. Hatinya benar-benar merasa tidak enak, kalau sampai Evan merasakan demikian terhadapnya. Sudahlah dia mengecewakan pria itu perihal malam pertama, sekarang dia harus ditimpa kenyataan kalau dia benar-benar sudah mengganggu tidur pria itu tadi malam.
"Hmph! Dejavu banget, ya…." dengus Evan terdengar di telinga Thalita, namun dengan pandangan yang masih lurus ke depan.
"Aku baru tau, kalo hobi kamu itu bilang maaf. Emang, itu nyenengin banget, ya?" kata Evan lagi, kali ini menolehkan kepala ke arah Thalita dan menumpukan dagunya di atas sebelah tangan untuk menatap wajah Thalita lekat.
Dengan senyum menawan Evan yang hanya beberapa kali Thalita lihat dalam kurun waktu beberapa bulan ini, membuatnya merasa sedikit grogi.
"Ajarin aku, dong. Aku pengen nyoba juga,"
Lagi-lagi, Evan tersenyum. Tapi, senyum yang seperti mengejek Thalita kalau hobi yang tadi Evan tuduhkan kepadanya itu sebenarnya sangat tidak menyenangkan sama sekali. Melainkan konyol.
Thalita hanya diam. Sedikit menundukkan kepala dan memutuskan pandangan dari Evan. Membuat pria itu yang melihatnya langsung mengernyit seperti berniat untuk menggodanya dengan mengangkat sebelah tangannya hendak menyentuh rambut Thalita.
"Tolong! Apa di sini ada dokter?! Tolong!"
"Seseorang sedang pingsan! Apakah ada dokter di pesawat ini? Mohon untuk datang ke bagian badan pesawat!"
Pengumuman itu terdengar lagi. Membuat Evan yang tidak mengerti hal itu langsung bergerak, tanpa berpikir sama sekali.
Thalita yang melihat suaminya tiba-tiba beranjak dan pergi meninggalkannya pun sempat merasa kaget. Lalu, mencoba mengikuti Evan, yang sudah menghilang di balik tirai pembatas.
Di sana, di antara jarak duduk penumpang, Thalita melihat seorang pria paruh baya tengah tergeletak lemas. Wajahnya tampak pucat dimana Evan terlihat sudah mulai memanggil pria tersebut sambil menepuk pundaknya berapa kali.
Lalu, di tengah kerumunan yang cukup berjarak dari Evan, Thalita juga melihat pria itu berusaha membuka mulut pria paruh baya itu dan menahan tengkuknya agar mulut pria itu tetap terbuka.
Selanjutnya, Thalita juga melihat Evan yang begitu tenang berbicara dengan salah satu pramugari pesawat itu sebelum akhirnya memompa dada pria yang tengah terbaring itu dengan kedua tangannya.
Entah kenapa lama Thalita menyaksikan hal tersebut, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan kembali ke tempat duduknya.
Tubuh Thalita rasanya bergetar. Dia ingat kalau ayahnya —ayah kandungnya, Johan— meninggal dengan cara yang Thalita lihat sesaat lalu. Kala itu, dia yang masih duduk di bangku sekolah dasar tengah berjalan-jalan dengan ayahnya. Tujuan mereka adalah Singapura waktu itu. Sama seperti sekarang. Menaiki sebuah pesawat, dimana beberapa saat sebelum mendarat, ayahnya yang tadinya pergi ke toilet tiba-tiba terjatuh hingga tidak sadarkan diri.
Waktu itu, nasib tidak berpihak pada Thalita. Dari sekian banyaknya penumpang pesawat, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menolong ayahnya Thalita. Seperti halnya yang Evan lakukan saat ini. Melihat perjuangan pria itu menolong pria paruh baya yang pingsan di sana, membuat perasaan Thalita bercampur aduk. Antara kesal, sedih dan juga iri. Dia kesal, kenapa dulu tidak ada orang yang bisa menolong ayah Thalita. Mustahil dari sekian banyaknya penumpang, satu orang pun tidak ada yang berprofesi sebagai tenaga medis. Dia sedih, karena kejadian itu mengingatkan Thalita atas kepergian ayahnya serta kesombongan orang-orang yang dulu enggan menolong ayahnya yang meregang nyawa. Dia iri, karena saat ada orang yang mengalami hal yang sama dengan ayah Thalita, Evan ada di situ dan bertindak selayaknya dokter yang pantang melihat orang yang sekarat.
Entah berapa lama Thalita termenung menatap kaca jendela. Antara sadar atau tidak, dia melihat pesawat yang mereka naiki saat ini tengah turun seperti siap akan mendarat.
"Ah, akhirnya Bapak itu bernapas juga,"
Thalita terkejut, mendengar dan merasakan Evan sudah kembali duduk di sebelahnya. Dilihatnya dengan seksama Evan dengan napas yang sedikit tersengal mengelap tangannya yang basah menggunakan tisu.
"Gimana keadaan Bapak yang tadi?" tanya Thalita menatap Evan, yang langsung melihat pria itu menoleh.
"Udah baikan. Sekarang mereka cuma perlu nunggu Bapak itu sadar aja, sampai nanti mereka panggil ambulans untuk bawa Bapak itu ke rumah sakit," jelas Evan bersandar, kemudian memejamkan kedua matanya perlahan.
Melihat itu, Thalita kebingungan. Dilihatnya pesawat sudah mulai mendarat dan Evan yang seperti orang yang tengah tertidur.
"K—Kak Evan," panggil Thalita pelan, seperti ingin menyentuh bahu Evan. "Kita udah landing," beritahu wanita itu lagi, melihat Evan menarik napas panjang.
"Kita nggak langsung terjun dari pesawat begitu kita berhenti kan, Ta?" ujar pria itu masih memejamkan matanya, tak sadar membuat Thalita mengerjap.
Iya, ya? Meskipun sudah mendarat, mereka kan masih perlu menunggu lagi sebentar untuk bisa mengantri keluar dari pesawat itu.
Tidak ingin mengganggu, Thalita cuma diam dan membalikkan tubuhnya kembali ke arah jendela.
......Bersambung......
^^^Sekedar informasi buat para yeorobun~, karena sekarang saya udah mulai masuk kerja lagi, jadi Mr.Evan's Brides **saya update tiap malam aja, ya....^^^
Janji, bakal terus update kok, Insya Allah nggak bakal keputus update-annya.... ✌
Soalnya kalo pagi itu agak ribet, harus beres-beres berangkat kerja, terus sampek tempat nggak bisa buka hape buat sekedar update. Jadi, mohon pengertiannya dan dukungan yang serta merta selalu membuat saya semangat untuk mengetik ya, Yeorobun~
Hehe,
terima kasih, 😉**