
Evan memiringkan kepalanya sedikit melihat pie susu yang baru saja dia keluarkan dari dalam oven. Siang ini, dia libur. Hal yang sangat jarang dia lakukan semenjak menjadi dokter di rumah sakit.
Biasanya, kalau hari libur, dia pasti akan tetap ke rumah sakit. Menggantikan beberapa dokter yang menurutnya butuh liburan, seolah dia adalah sebuah robot yang tidak perlu merasakan libur.
“Kenapa? Ada yang salah?”
Laila muncul dari belakang Evan dan melihat kue pie susu yang di tangan anak itu secara bergantian.
“Kok bentuknya nggak secantik buatan Mama, sih?”
Evan menoleh dan mengerutkan dahinya ke arah Laila. Kemudian, dia melihat kembali ke arah beberapa pie susu yang tadi sempat dicontohkan ibunya padanya.
“Bukan cantiknya yang perlu. Yang penting rasanya,”
Laila mengambil pie susu yang masih terasa panas itu menggunakan dua jari. Meniupnya sedikit cepat, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
“Udah lumayan. Cuma kayaknya susunya kurang banyak aja,” komentar ibu tersebut, melihat ke arah putranya.
“Tapi oke lah, untuk pemula kayak kamu.”
Menyemangati, Laila menepuk sebelah bahu Evan dan tersenyum padanya.
Wanita itu terlihat salut dengan kegigihan anaknya melakukan apa yang sebelumnya tidak pernah Evan lakukan. Memasak bukanlah passion dari anak tersebut. Tapi, semenjak istrinya —Thalita— hamil, pria itu jadi mau menginjak dapur dan mempelajari beberapa resep makanan yang menurutnya akan disukai oleh Thalita.
“Kalo dilihat-lihat, hubungan kamu sama Lita semakin hari semakin baik, ya? Mama senang, lihatnya,”
Saat sedang mencetak sisa adonan kue pie ke dalam cawan, Evan melihat ke arah Laila yang tengah menatapnya.
“Biasanya juga baik, Mama aja yang nggak tau,” kilah pria itu mengalihkan pandangan lagi ke arah kuenya, tatkala melihat Laila menaikkan sebelah alis.
“Kamu kira Mama nggak tau?” bisik wanita itu setengah meledek, kemudian tersenyum.
“Kamu itu anak Mama. Gimana pun, sedikit banyaknya Mama pasti tau apa yang terjadi sama kamu,”
Laila melipat kedua tangannya agak sombong, melihat Evan yang diam-diam tersenyum.
“Gimana soal keluarganya? Apa masih mengganggu?”
Sejak awal, Laila sudah curiga dengan semua tingkah laku keluarga besannya. Hanya saja, saat dia bertanya pada Evan, anaknya itu meminta Laila untuk bersikap tidak tahu apa-apa. Karena katanya Thalita yang mungkin akan merasa malu dan tertekan kalau Laila membahas hal ini, jadilah wanita itu bersikap seolah semuanya terlihat baik-baik saja.
“Sejak aku laporin kemarin, anak itu kelihatan nggak bakal cari masalah lagi, sih. Semoga itu bener-bener bikin dia kapok dan nggak ngulangin apa yang dia perbuat sama Lita,” kata Evan sejenak terdiam, sebelum melanjutkan aktivitasnya.
Sama seperti anaknya, Laila pun tampak memandang Evan untuk beberapa saat. Kemudian menarik napas panjang dan membuangnya berat.
“Mudah-mudahan aja. Soalnya Mama nggak bakal rela, kalo sesuatu yang buruk terjadi sama Lita. Apalagi sekarang dia lagi mengandung cucu Mama. Mama bener-bener nggak bisa maafin, kalo mereka bikin ulah lagi!” geram Laila membayangkan keluarga Marlia, yang selama ini diketahui sebagai sumber masalah bagi menantunya.
🍂
Di lain tempat, Thalita yang melihat jam sudah menunjukkan pukul satu siang pun, bersiap untuk pulang ke rumah. Tadi, Evan menelpon dan bilang akan segera menjemput Thalita di restoran. Meskipun Thalita sudah berusaha menolak dengan bilang akan pulang sendiri menggunakan taksi, tetap saja pria itu ngotot seperti halnya yang dia lakukan pagi tadi saat akan mengantarkan Thalita pergi ke restoran.
“Lita!”
Thalita baru akan berjalan ke arah pintu ruangannya, ketika daun pintu tersebut terbuka dengan kasar dan menampilkan sosok pemuda yang beberapa waktu ini tidak dilihatnya.
“A—Axel?”
Sial! Mau apa lagi anak itu datang ke mari? Sontak, perasaan takut langsung menyerbu Thalita.
“Bu Lita! Pak Axel—!”
Saat sedang adu pandang dengan adik tirinya, Thalita mendengar dan melihat seluet sosok Sekar yang muncul dari belakang pria itu. Sepertinya dia kecolongan saat Axel menerobos masuk ke ruangannya tadi.
“Mau apa lo ke mari?”
Dengan tatapan waspada, Thalita menyentuh perutnya.
“Emang kenapa? Gue udah nggak boleh datang kemari lagi?”
“Dari awal lo emang nggak diperkenankan untuk ada di tempat ini!” tegas Thalita tajam, melihat Axel yang menaikkan sebelah alisnya dan tertawa begitu remeh.
“Sombong banget lo! Mentang-mentang sekarang udah ada yang belain?”
“Pak Axel! Sebaiknya Anda pergi sekarang! Sebentar lagi suami Bu Lita bakal datang dan mungkin akan menghajar Anda!”
Sekar berkicau di belakang Axel dengan kalimat mengancam. Membuat pria itu menoleh, dan menatap jengkel ke arahnya.
“Lo tuh apa-apa, sih? Rese banget! Sok ikut campur!”
Tangan Axel terangkat, seperti hendak memukul ke arah Sekar, sebelum akhirnya mendengar Thalita berteriak.
“Axel! Cukup!”
Seketika, tangan Axel menggantung, melirik ke arah kakak tirinya.
Terlihat Thalita seperti ketakutan. Namun, dia tutupi dengan sikap sok berani menentang Axel.
“Mending lo pergi sekarang! Karena sebentar lagi, suami gue pasti bakal datang kemari. Dan kalo Sampek dia ngeliat lo lagi disini, bisa-bisa lo nggak bakal lepas kali ini!” ancam Thalita gantian, yang bukannya membuat Axel takut, malah membuat pemuda itu tertawa.
“Lo—? Lo ngancem gue?” kekehnya sepele, menunjuk ke arah Thalita sambil tertawa.
“Kira-kira, dong, kalo mau bohong! Lo pikir, gue bakal percaya sama lo, hah?! Dia itu cuma nganggep lo sampah! Mana mungkin dia bakal datang dan belain lo lagi! Kemarin itu, dia marah karena Mama sama Papa itu ngasih lo ke dia! Bukan karena dia suka atau sayang sama Lo!”
Tatapan Thalita kian menajam ketika Axel berjalan ke arahnya.
Dengan lembut pemuda itu menyentuh sebelah pipi Thalita yang sepertinya tidak bisa bergerak lagi karena ada meja yang sudah menyentuh pinggangnya.
“Jujur deh, lo pasti juga sadar kan, kalo dia itu nggak ada rasa sama sekali ke lo? Cuma gue yang selalu bisa terima kehadiran lo di sini. Dan kalo lo mau, gue janji nggak bakal buat Mama terima lo juga di rumah. Asal, ya…. Lo mau balik lagi jadi Kak Thalita yang dulu gue kenal,”
Axel menyeringai sinis, ketika mata Thalita memerah memandangi matanya.
Dengan kasar, wanita itu menepis tangan Axel dan berdecih.
“Jadi samsak lo, maksudnya?” sinis Thalita, lagi-lagi membuat Axel tertawa.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang meningkahi tawa pemuda itu. Sampai akhirnya tawanya mereda, dan dia pun mundur satu langkah.
“Gue tunggu keputusan lo,” ucap Axel kembali mundur, masih dengan senyuman remeh di bibirnya.
“Ingat, cuma gue satu-satunya tempat dimana lo bisa kembali,” imbuhnya lagi, masih juga mundur sampai dia mencapai pintu.
“Karena sebenarnya….,” Axel menoleh ke arah kiri, dimana Sekar tengah berdiri dan balas menatapnya dengan sengit. “Nggak ada yang bisa bener-bener peduli terhadap lo.”
......Bersambung ......