
Pukul 11 lewat 30 menit, sudah mendekati jam makan siang. Namun Thalita masih tampak begitu fokus dengan pekerjaannya, yang kemarin sempat terbengkalai karena kehadiran Sang Ibu.
Ah, mengingat kejadian semalam, Thalita mau tidak mau juga ingat dengan apa yang dia dan suaminya lakukan malam tadi.
Katanya sih, Evan memintanya melakukan itu sebagai bentuk usaha Thalita untuk membebaskan Axel dari penjara. Jadi, demi memenuhi keinginan Sang Ibu — Marlia— Thalita mau tidak mau menggoda Evan dengan tubuhnya seperti apa yang diinginkan oleh lelaki itu.
Tapi, bukannya berhasil, mereka malah kembali bertengkar karena Evan merasa Thalita telah gagal dalam hal memuaskan Evan seperti apa yang pria itu minta.
"Kamu gagal. Jadi, aku nggak ada alasan buat ngabulin permintaan kamu membebaskan Axel."
Thalita menggigit bibirnya kesal. Bagaimana bisa, Evan yang kemarin dia layani mengatakan hal demikian? Sementara Thalita ingat, kalau suara mereka malam itu dipenuhi oleh desah napas Evan yang menyebut namanya.
"Kamu berhasil karena aku yang ngajarin. Jadi, permintaan kamu kali ini aku anggap gagal. Ngerti?"
Thalita memijat kepalanya. Mendadak, dia merasa pusing. Apakah ini semua karena dia yang kurang tidur? Apa karena ini sudah memasuki jam makan siang? Dia jadi tidak fokus untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.
Tok! Tok! Tok!
"Maaf, Bu Lita."
Thalita baru akan bangkit dari posisi duduknya, ketika pintu ruang kerjanya dibuka oleh Sekar.
"Di luar, ada yang nyariin Bu Lita. Katanya, beliau temannya Papa Bu Lita," beritahu Sekar, sesaat dia menutup pintu ruangan Thalita lagi dari dalam.
"Teman Papa saya?" ulang Thalita bingung, seperti berpikir keras. "Siapa?"
"Beliau bilang, namanya Bu Rosalin," sahut Sekar, kembali membuat Thalita terlihat bingung. Seumur-umur, baru kali ini dia mendengar nama itu di telinganya.
Sedikit mengangguk, Thalita pun menyuruh Sekar untuk meminta orang tersebut masuk ke ruangannya.
Setelah Sekar keluar, Thalita segera berjalan ke arah jendela ruang kerjanya yang menghadap restoran. Membuka tirai ruangan itu, demi mengantisipasi hal yang tidak diinginkan di ruang kerjanya.
Tepat setelah Thalita membuka tirai, pintu ruangannya kembali terbuka yang menampilkan sosok Sekar bersama seorang wanita paruh baya.
Begitu bertemu muka dengan Thalita, Rosalin langsung tersenyum lembut ke arahnya.
"Hai, Lita. Apa kabar?"
Thalita masih merasa bingung dengan kehadiran Rosalin. Namun, dia melirik ke arah Sekar untuk mempersilakan asisten pribadinya itu keluar dari ruangan tersebut.
Setelah ditinggal berdua dengan Rosalin, Thalita yang bukan tipe wanita ramah pun, mendekat ke arah wanita itu tanpa senyuman.
"Maaf, Anda ini siapa ya?" tanya Thalita tampak sedikit waspada, yang mana lagi-lagi Rosalin tampak tersenyum melihatnya.
"Saya Rosalin. Saya ini teman dekat almarhum Papa kamu, Johan." Sahut Rosalin, kemudian berjalan ke arah sofa tamu ruangan Thalita dan meminta izin pada yang empunya.
"Saya boleh duduk?" tanya Rosalin, dibalas anggukan kepala cepat dan raut wajah bingung oleh Thalita.
"Seberapa dekat?" tanya wanita itu lagi, lantas mendekat ke arah sofa yang berseberangan dengan Rosalin.
Sedikit bergumam - gumam kecil, Rosalin memperhatikan sekeliling ruangan tersebut.
"Cukup dekat. Dan bahkan…. Pernah sangat dekat."
Pandangan Rosalin kini tertuju pada figura kecil yang ada di meja kerja Thalita. Kebetulan figura yang menampilkan foto Thalita saat masih kecil bersama ayahnya itu menghadap ke arah Rosalin duduk saat ini.
"Sangat dekat?" ulang Thalita merasa heran.
"Tapi, kenapa saya nggak tau, ya? Papa juga nggak pernah cerita," kata Thalita masih bersikap defensif, dengan tidak bersikap ramah terhadap Rosalin.
Tidak segera menjawab, Rosalin justru berdiri dan berjalan ke arah meja kerja Thalita.
Diambilnya figura kecil tersebut dan mengusap wajah ayah Thalita dengan senyumannya yang lirih.
"Gimana dia mau cerita, kalau di pikirannya saat itu cuma ada kamu?"
Thalita yang tidak begitu mendengar, ikut berdiri dari posisinya. Dia berjalan ke arah Rosalin dan mengambil kembali figura itu untuk diletak di atas meja.
"Maaf, tolong jangan sentuh apapun yang bukan milik Anda."
Thalita yang awalnya sudah tidak bersahabat, terlihat semakin dingin menatap Rosalin.
Namun, bukannya tersinggung, Rosalin
justru tertawa kecil melihatnya. Dia memandang Thalita dengan lembut, hingga matanya menyipit seperti bulan sabit.
Tanpa segan, Rosalin mengangkat tangannya ke udara dan menyentuh sebelah rambut Thalita yang menjuntai menutupi pipi.
"Tau kenapa Johan memberikanmu nama Thalita?"
Kembali tersenyum, Rosalin juga menatap Thalita dengan sorot mata rindu dan sarat akan kerinduan yang besar.
"Karena sejak mendapatkan kamu, dia merasa hidupnya semakin berharga."
🍂
Di rumah sakit, jam sudah menunjukkan pukul 12. Artinya, Evan sudah bisa keluar untuk makan siang dan mengistirahatkan semua otot serta otaknya yang sejak pagi sibuk bekerja.
Tok! Tok! Tok!
Evan baru saja akan membuka jas kerjanya, ketika pintu ruangan pria itu diketuk oleh seseorang.
"Dinda, ini kan udah jam makan siang. Apa masih ada pasien lagi?"
Evan yang posisinya masih membelakangi pintu, mengira kalau yang masuk ke ruangannya sekarang adalah Dinda, perawat yang sering hilir mudik mengantarkan berkas pasien ke ruangannya.
"Van,"
Mendengar suara itu, Evan yang tadi sedang membentangkan jas putihnya di bahu kursi, pun sontak menoleh.
Di sana, dia melihat wanita yang beberapa hari ini cukup mengganggu pikirannya.
Mila tampak seperti orang yang resah. Evan memperhatikannya dari atas hingga bawah, sampai akhirnya dia mengerjap dan mengalihkan pandangannya.
"Maaf, sekarang sedang jam istirahat. Apa perawat di depan tidak ada yang memberitahu?"
Kembali lagi, Evan berbicara formal kepadanya. Seolah kedatangan Mila ke tempat itu semata hanya ingin memeriksa kesehatannya.
"Aku mau bicara sama kamu," kata Mila memberanikan diri, setelah kemarin sempat ditolak oleh Evan.
Dengan tampang malas, Evan menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Saya sedang istirahat. Bisa tinggalkan ruangan ini?" tolak Evan lagi lebih tegas, masih tidak menatap ke arah Mila.
Sesaat, wanita itu tidak merespons. Dia masih saja diam di tempatnya sampai akhirnya keberanian kembali dia dapatkan.
"Mau makan berdua sama aku? Ada yang mau aku bicarain sama kamu," kata Mila, kali ini berhasil membuat emosi Evan terpantik.
Sedikit menggebrak meja, Evan menyandarkan sebelah tangannya di sana.
"Anda mau membuat selera makan saya hilang?"
"Van!"
Brak!
"Keluar dari tempat ini sekarang!" usir Evan keras, tak ayal pintu ruangannya terbuka dan mengundang seseorang —yang tadi kebetulan sedang lewat di depan ruangannya— masuk.
"Van, ada apa? Kok kamu—"
Dia Jenna. Dokter yang merupakan teman baik Evan di rumah sakit itu, terdiam memandang Evan yang sedang menatap tajam seorang wanita yang baru Jenna sadari berada di sebelahnya.
Tanpa mengindahkan kehadiran dokter wanita itu, Evan terus menatap Mila yang juga tengah memandangnya dengan sorot mata kesedihan.
"Maaf, Anda ini siapa, ya?" tanya Jenna hati-hati, pada Mila yang perlahan mengedip.
Entah apa yang ada di dalam pikiran itu. Yang pasti, Jenna melihat perempuan itu langsung menunduk sambil meneteskan air matanya.
"Ah, maaf kalau pertanyaan saya menyinggung. Hanya saja—"
Tanpa mendengarkan ucapan Jenna sampai habis, Mila yang sudah berderai air mata pun segera berpaling dan meninggalkan Jenna yang terbengong di tempatnya.
Dengan sorot mata keheranannya, gadis itu menatap pintu ruangan Evan dan si pemilik ruangan secara bergantian.
"Itu siapa, sih?"
...Bersambung...
Maaf ya, semuanya. Udah nggak update selama 2 hari.
Selama 2 hari ini saya emang lagi nggak sehat. Nggak bisa pegang hape. Pasti langsung oyong dan muntah. 😣
Ini juga dah agak lumayan bisa pegang hape. Tapi tetap gak bisa melakukan banyak hal.
Jadi, mohon pengertiannya ya, semua....
I love you 🥺