
Evan kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Kepalanya terasa lebih sakit daripada sebelum dia pergi membeli kopi. Mungkin, berita yang dia dapatkan dari istri Bayu yang membuatnya menjadi demikian. Kabar kalau istrinya pernah hampir menikah dengan seseorang, membuat perasaan Evan menjadi tidak nyaman.
"Gavin…," gumam Evan seperti menimbang mana pria yang Ricka bilang adalah sepupu dari wanita itu.
"Terus apa namanya waktu lo datang lagi ke rumah gue cuma buat gangguin Gavin yang udah nikah sama Tante Kal?! Sementara lo tau, disana juga ada Kakak gue, Ricko, yang lo tinggalin gitu aja di saat pernikahan kalian udah di depan mata!?"
Ah, iya…. Evan ingat dengan kalimat wanita itu saat Ricka bertengkar Evan lihat untuk pertama kalinya dengan Thalita di rumah sakit.
Itu adalah alasan kenapa waktu itu Evan sangat marah dan memaksa Thalita untuk melayaninya di malam hari. Cikal bakal permasalahan panjang antara Evan dan Thalita, yang semakin melebar hingga menjadi masalah dengan keluarga perempuan itu.
"Dia itu dasarnya aja udah binal! Kamu jangan tertipu dengan sikapnya sama kamu! Itu cuma pura-pura!"
Evan berdecak. Dia tidak ingin percaya dengan semua ucapan ayah mertua ataupun adik iparnya. Hanya saja, tuduhan yang waktu itu dilemparkan oleh Ricka terhadap Thalita sama sekali tidak disangkal oleh wanita itu. Yang artinya, Thalita memang pernah ingin merebut seorang pria bernama Gavin, yang merupakan sepupu kandung dari Ricka sendiri.
Tok! Tok! Tok!
"Dokter,"
Evan masih memejamkan matanya dengan kepala mendongak di atas kursi kerja, tatkala pintu ruangannya terbuka dan menampilkan seorang perawat yang malam ini juga ikut bertugas bersamanya.
"Saya kira dokter dimana," desah perawat itu, setelah sebelumnya hanya mengintip di depan pintu.
"Ada pasien di UGD, dok. Kecelakaan ringan," beritahu perawat itu pada Evan, yang mana segera membuat pria itu bangkit dan berjalan keluar dari ruangannya.
Walaupun tampang Evan terlihat kusut, tapi dia tetap bersikap profesional dengan menjalankan tugasnya sebagai dokter. Dengan pikirannya yang kacau, sama dengan ekspresi wajahnya saat ini.
"Dokter,"
Saat Evan masuk, seorang perawat yang ada di sana langsung berdiri menyambutnya.
Di depan perawat itu ada seorang perempuan, yang duduk membelakangi pintu UGD dalam dimana Evan muncul sesaat lalu.
Tanpa bicara, Evan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan orang yang katanya pasien itu dan agak terkejut melihat siapa yang ada di depannya.
"E—Evan?"
Dia Mila. Wanita yang akhir-akhir ini juga mengganggu pikiran Evan dengan kemunculannya. Bukan karena perasaan cinta yang masih bersemi, namun perasaan benci yang begitu besar hingga mempengaruhi pikiran warasnyap terhadap Thalita.
Dia adalah sosok wanita yang membuat Evan menjadi skeptis terhadap semua wanita. Ya, kecuali Laila tentunya, satu-satunya orang yang dianggap sebagai korban selain dirinya.
Mengabaikan sapaan kaku itu, Evan mengerjap dan mulai melihat keadaan Mila.
Kening terlihat memar, dan tangan kanan menutupi lengan kirinya yang mengeluarkan banyak darah.
"Ibu ini habis mengalami kecelakaan, dokter. Lengannya robek, dan saya sudah menyiapkan alat untuk menjahit lukanya,"
Seakan tahu dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Evan, perawat yang tadi ada di ruangan tersebut segera menunjukkan peralatan yang tadi dia katakan ke arah Evan.
Sambil mengangguk, Evan pun berdiri dari tempatnya.
"Silahkan duduk di sini, Bu," ujar Evan datar, lagi-lagi bersikap tidak kenal dengan Mila sebelumnya.
Dengan tampang murung, Mila naik ke atas bangkar rumah sakit itu dan duduk di atasnya.
"Tahan sedikit, ini mungkin terasa agak sakit,"
Evan berbicara tanpa melihat Mila sama sekali. Dia hanya fokus pada Evan yang mulai menyuntikkan sesuatu di lengannya sebelum akhirnya menjahit luka yang ada di lengan wanita itu.
Sepanjang pengerjaan, tidak sekalipun Evan menaikkan pandangannya. Tatapannya datar, seakan tidak terpengaruh sama sekali dengan tatapan Mila yang terus tertuju padanya.
"Baiklah, ini ada resep yang harus Ibu tebus di apotek. Ada salep dan juga obat minum,"
Lalu, Evan menatapnya seakan bertanya, "apa ada yang lain lagi?" namun dengan maksud seolah mengusir.
"Baiklah, dokter. Terima kasih,"
Terpaksa mengikuti keinginan Evan, Mila yang memang merasa tubuhnya sangat sakit pun akhirnya berdiri. Berjalan tertatih ke luar UGD, menuju apotik di bawah bimbingan salah satu perawat yang tadi bersama Evan.
🍂
Di perjalanan, Mila terlihat merenung. Tadi, dia memang sengaja datang ke rumah sakit tempat Evan bekerja. Niatnya ingin menemui pria itu. Namun, karena terbentur alasan, Mila jadi ragu untuk masuk. Pikirnya, mungkin Evan akan semakin marah terhadapnya andai dia datang lagi menemui pria itu.
Di tengah kesibukannya menunggu di luar rumah sakit, tiba-tiba saja Mila dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang yang langsung menarik rambutnya dengan kasar.
"Heh! Pelacur! Ketemu juga kamu akhirnya, ya!"
Mila yang tidak sadar sepenuhnya, hanya bisa mengerutkan dahi melihat siapa yang sudah menjambak rambutnya.
Saat sadar dengan siapa yang tengah memandang hina dirinya itu, seketika itu pula lah wajah Mila memucat.
"Setelah sekian lama dicari, akhirnya muncul juga! Dasar ular! Licin banget kamu, ya!?"
Kedua mata Mila melebar, tatkala orang tersebut mulai menarik rambutnya kasar, dan disusul oleh pukulan oleh seseorang lainnya yang juga tiba-tiba muncul entah dari mana ikut menghina Mila dan menyakitinya.
"Eh! Dasar cewek murahan! Ternyata lo, cewek simpanan bokap gue?! Dasar cewek sialan! Cewek murahan! Cewek….!"
Mila yang sebenarnya tidak siap dengan keadaan itu, hanya diam menerima cercaan serta makian dari dua wanita tersebut. Dia bahkan seperti tidak bisa berbuat apapun, saat dia mulai terjatuh dan dipukuli oleh dua perempuan itu.
Di tengah kekacauan itu, Mila pikir dia akan mati atau paling tidak sekarat karena serangan dua orang tersebut. Namun beruntung, meski sudah terlanjur babak belur dan terluka di beberapa bagian, Mila mendengar ada beberapa orang yang datang dan menolongnya.
Dan begitulah ringkas kejadian Mila bisa sampai di UGD tempat Evan bekerja, dimana dia sendiri sebenarnya tidak menduga kalau pria yang sedang dipikirkannya beberapa hari ini akan turun langsung untuk menangani semua luka Mila.
Pelan, Mila menyentuh sikunya yang saat ini tengah diperban. Rasa hangat tangan Evan seperti masih menempel di sana, dan membuat Mila seakan bisa menyentuhnya.
Diam-diam, Mila merasa sedikit beruntung atas pertemuannya dengan istri serta anak dari pria yang dikencaninya saat ini. Karena dengan begitu, dia jadi bisa melihat Evan yang beberapa waktu ini hanya bisa Mila tatap dari kejauhan.
"Kita udah sampai, Bu,"
Suara dari sopir taksi yang ditumpangi Mila, seketika membuat wanita itu tersadar. Dia mengerjap beberapa kali, dan melihat keadaan sekitar. Ternyata, taksi yang dia naiki sudah tiba di depan halaman rumahnya.
Sedikit menggeleng, dia pun mengeluarkan uang dari dalam tas selempangnya dengan susah payah. Memberikannya pada sopir taksi tersebut dan turun dari sana.
Sempat Mila terdiam sejenak di halaman sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam. Akhir-akhir ini, Rosalin —ibunya Mila— selalu menunggunya di rumah. Tidak seperti beberapa waktu yang lalu, dimana dia selalu terlihat sibuk dengan kegiatan luar dan tampak tidak mempedulikan Mila di rumah.
Bagaimana jika nanti Rosalin melihat kondisi Mila yang sekarang? Bisa-bisa wanita itu akan berisik dan melemparkan beberapa pertanyaan yang pasti akan sulit untuk dijawab oleh Mila sendiri.
Lama berpikir di luar, Mila yang sebenarnya sudah sangat lelah pun, akhirnya mau tidak mau masuk ke dalam. Mencoba menyediakan alasan, andai nanti Rosalin peduli dan bertanya tentang penampilannya saat ini.
......Bersambung......
Mohon untuk terus dukung cerita ini, ya....! ☺️
Cukup dengan klik like (👍🏻) dan tinggalkan jejak komentarnya (💬).... 😊
Terima kasih 🌹