Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #22



"Cewek sinting ini, istrinya dokter Evan?!"


Ricka tampak masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan baik dari Evan maupun suaminya sendiri —Bayu— yang mengatakan kalau Thalita itu adalah istrinya Evan. 


Wanita itu tidak percaya, karena dia sendiri sebenarnya cukup kenal dengan Evan sebagai salah satu dokter terbaik di rumah sakit itu tempat dia magang beberapa waktu yang lalu. 


"Siapa yang kamu bilang sinting?"


Evan berbalik dan menatap dingin Ricka yang duduk di depannya. 


Sekarang, dia, perempuan itu, Thalita dan Bayu sudah duduk di bangku taman rumah sakit untuk meluruskan masalah perempuan yang terjadi di antara mereka sesaat lalu. 


"Dokter tau nggak, sih, dia ini siapa?" tunjuk Ricka pada Thalita, yang hanya diam saja duduk berseberangan dengannya. 


"Dia ini emang sinting, dokter! Orang gila! Penjahat! Psikopat dan tukang ganggu suami orang!"


"Aku nggak ganggu suami orang!"


"Oh, ya? Terus apa namanya waktu lo datang lagi ke rumah gue cuma buat gangguin Gavin yang udah nikah sama Tante Kal?! Sementara lo tau, disana juga ada Kakak gue, Ricko, yang lo tinggalin gitu aja di saat pernikahan kalian udah di depan mata!?" sembur Ricka penuh emosi, sampai dia berdiri dari kursinya dan menuding wajah Thalita. 


Sepersekian detik, atmosfer yang ada di antara empat orang itu mendadak terasa asing. Kesunyian menghantam dengan kenyataan yang sepertinya sulit untuk Thalita sangkal. 


"A—aku…. Aku nggak tau kalo waktu itu Gavin udah nikah sama Tante Kal. Ka—kalau aja aku tau kan, aku… aku bakal—"


"Datang lebih cepat?" sambar Ricka tajam, menatap Thalita begitu dingin. "Itu yang mau lo bilang?"


Rasanya tubuh Thalita mulai bergetar. Dari mulai tangan hingga bibir, semua tidak bisa dia tutupi lagi. 


Demi Tuhan. Kenapa harus sekarang dia bertemu dengan adik dari mantan tunangannya itu? Setidaknya, tolong jangan di depan Evan. Rasanya, Thalita tidak akan sanggup menanggung akibat dari pertemuan ini nantinya. 


"Aku minta maaf, Ka. A—aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar nggak bermaksud untuk mengganggu keluarga kalian. Waktu itu… waktu itu aku benar-benar mutusin buat nyerah kok. Aku—"


"Nyerah kok, makin mancing situasi, sih," timpa Ricka cepat, membuat Thalita mengangkat pandangannya. 


"Lo sengaja coba bunuh diri biar dapat perhatian dari Ricko, kan?"


"Ka!"


Brak! 


"Cukup!"


Ricka yang baru saja menggebrak meja besi di antara mereka, mendongakkan sedikit wajah melihat sosok tinggi Evan yang sudah berdiri di depannya. 


"Sepertinya, kamu udah cukup keterlaluan," tegur Evan pada Ricka, membuat wanita itu mendengus. 


"Kayaknya, dokter yang terkenal dingin ini udah kemakan omongan si cewek sinting, ya?"


Evan menarik napas panjang dan semakin menajamkan pandangannya. 


"Saya rasa, menghina orang seperti itu bukanlah tindakan yang bagus dari seorang dokter, Bu Ricka," sindir Evan dingin, kemudian menoleh ke arah Bayu yang masih duduk diam di samping Ricka. 


"Kayaknya, dokter Bayu juga tau akan hal itu," sambung Evan kemudian, melihat Bayu yang mulai melirik ke arahnya. 


"Serius deh, dok! Dia itu nggak seperti yang dokter lihat sekarang! Dia itu berbahaya! Dia cuma pura-pura kelihatan lemah biar dapat simpatik aja dari dokter!"


"Ricka," 


Tadi Evan, sekarang giliran Bayu yang menegur istrinya itu. 


Dengan beberapa gerakan wajah, Bayu mengisyaratkan Ricka untuk diam sekarang. 


"Mas, kamu nggak tau apa yang udah dilakuin perempuan ini di keluarga kami!? Gara-gara ulahnya yang nggak bertanggung jawab itu, Ricko sampai sakit berapa hari! Dia sampai trauma menjalin hubungan sama orang lain! Dia krisis kepercayaan gara-gara perempuan nggak tau diri ini! Orang tua kami juga harus menanggung malu, karena dia ninggalin Ricko tepat satu hari sebelum hari pernikahan mereka!"


Brak! 


"Saya bilang cukup! Apa kamu nggak ngerti bahasa Indonesia?"


Brak! 


"Evan,"


Bersamaan dengan Evan yang memukul meja dan mencondongkan tubuhnya ke arah Ricka seakan mengancam, Bayu pun berdiri dan menarik perempuan itu ke arahnya. 


Evan melirik tajam pada sosok Bayu yang kini sudah berdiri di depannya menggantikan posisi Ricka. 


"Kayaknya, ini cuma kesalahpahaman antara mereka. Kita nggak perlu ikut campur dalam hal ini," 


Bayu mungkin berniat untuk melerai Ricka yang mencecar Thalita. Tapi entah kenapa, Evan merasa cara Bayu itu seperti ingin mengabaikan masalah ini begitu saja. 


"Nggak ikut campur, kamu bilang?" dengus Evan, kemudian menegakkan tubuhnya. 


"Kalau saya tampar wajah istri kamu ini dan menghina dia dengan keras, apa kamu juga akan bersikap tidak ikut campur?" sindir Evan melipat kedua tangannya di dada, membuat Bayu mengernyitkan dahi tidak suka. 


"Apa maksud kamu?"


Bayu maju satu langkah, semakin mendekat ke arah Evan yang tegak menatapnya. 


"Kamu tau seberapa banyak kerugian yang udah dilakuin istrimu itu terhadap istri saya?" ujar Evan menatap Bayu, intens tanpa rasa takut sedikitpun. 


"Jadi, maksud kamu, istri saya memang pantas untuk menerimanya?" tantang Evan kemudian, dengan wajah seakan menyiapkan seribu balasan untuk Bayu. 


"Kalau saya hina dia sekarang, dan memukul dia di depan orang lain, terus—"


"Evan!"


Greb! 


Suara pekikan langsung terdengar dari Ricka, tatkala Evan dengan cekat meraih leher baju Bayu dan menariknya mendekat. 


"Kamu tau kalau aku itu nggak punya kesabaran yang banyak. Karena itu, jangan cari pembelaan apa pun, cuma untuk membela istri kamu yang kurang ajar!" desis Evan pada Bayu, menarik kasar pria yang merupakan seniornya itu. 


Sementara Bayu, meskipun tubuh Evan sedikit lebih tinggi darinya, dia tidak terlihat kaget ataupun takut menatapnya. Dia justru terlihat tenang, sambil menarik lengan pria itu dari kaosnya. 


"Mereka sama-sama bersalah. Kamu juga tau, kalau aku nggak bisa biarkan kamu menyakiti dia,"


Dia yang Bayu maksud itu adalah Ricka. Istrinya yang masih sangat muda, dimana wanita itu sudah berlari entah kenapa meninggalkan dua pria beradu otot itu bersama dengan Thalita yang terbengong. 


"K—Kak Evan. Ja—jangan berantam, Kak. Kak,"


Thalita yang sebenarnya sudah merasa lemas, mencoba meraih lengan Evan. Tapi, merasakan urat tangan suaminya yang keras itu, membuat Thalita merasa ragu, apakah dia bisa melerai Evan atau tidak. Salah-salah, dia bisa jadi sasaran pukulan Evan, mengingat dia sudah membuat masalah begitu besar hari ini. 


"Apa-apaan ini, hah?!"


Di tengah kegundahan hati Thalita, dia mendengar suara gema seseorang yang berteriak cukup keras dari jarak yang cukup jauh. Dimana suara itu berhasil menghentikan Evan dan juga Bayu, yang sepertinya akan saling pukul jika orang itu tidak muncul sekarang juga. 


🍂


"Siapa itu Ricko?"


Thalita mendongakkan kepalanya yang sejak tadi menunduk, melihat Evan yang baru saja menutup pintu lemari selepas mengambil sebuah handuk kecil dari dalamnya. 


"Hah?"


Evan yang tampaknya baru selesai mandi, mendesahkan napasnya menoleh ke arah perempuan itu. 


"Tadi istrinya dokter Bayu marah-marah sambil bawa nama Ricko. Siapa dia? Apa benar, dia mantan tunangan kamu?" tanya Evan menyelidik, menatap lekat wajah Thalita dari balik rambutnya yang basah. 


Terlihat sedikit resah, Thalita menganggukan kepalanya ragu sebelum kembali menunduk. 


"Terus, Gavin itu siapa?" tanya Evan lagi, dijawab dengan begitu pelan oleh perempuan itu. 


"Sepupunya Ricko."


"Mantan pacar kamu juga?"


"Bukan!" bantah Thalita cepat, tanpa sadar mengangkat kedua tangannya ke udara. 


Melihat Evan yang diam menatapnya, Thalita kembali sadar, dan menundukkan kepalanya lagi. 


"Gavin, bukan siapa-siapa."


"Terus, kenapa kamu mau ngerebut dia? Kamu suka, sama dia?" tanya Evan lagi, kali ini dengan nada yang sedikit menyudutkan. 


Beberapa saat, Thalita tidak menjawab. Dia hanya diam, sampai akhirnya menghembus napas berat dari mulutnya. 


"Suka,"


"Sampai sekarang?" 


Tanpa sadar, nada suara Evan naik satu tingkat. Tubuhnya yang tadi hanya berputar sembilan puluh derajat, kini berputar setengahnya lagi agar menghadap sempurna ke arah Sang Istri. 


Namun, bukannya menjawab, Lagi-lagi Thalita hanya diam, seperti tengah merenungi sesuatu. 


Sebenarnya, kenapa Thalita dulu sempat mengejar-ngejar Gavin, semata karena di mata Thalita, pria itu adalah sosok yang bisa melindunginya. Meskipun kasar dan juga cuek, tapi Gavin memiliki sifat melindungi dalam dirinya. Apalagi orang yang sudah Gavin anggap sebagai orang yang dia sayang. Siapapun bisa melihat kalau pria itu akan berusaha menjaga orang tersebut sepenuh hati dan tenaga. Thalita yakin, dengan sikap yang seenaknya itu juga, kelak dia tidak akan merasa takut lagi dengan apa-apa saja yang ada di dunia ini. 


Tidak takut dengan Axel ataupun Edwin, karena Gavin pasti akan selalu melindunginya, dan juga tidak takut kehilangan cinta dari Marlia karena Gavin pasti akan sangat menyayanginya. 


Bagi Thalita, dia tidak membutuhkan banyak orang untuk menaruh perhatian serta kasih sayang padanya. Dia hanya perlu satu orang, sebagai tempat dia bersandar yang bisa mengusap kepalanya lembut dan memberikan pelukan hangat padanya, kala dunia bersikap dingin padanya. 


Sementara itu, di tengah pikiran yang melayang-layang, Thalita tidak menyadari perubahan raut wajah Evan yang tampak kian mengeras. 


Pria itu geram, karena diamnya Thalita dia anggap sebagai bentuk jawaban kalau wanita itu masih mengharapkan pria bernama Gavin itu sampai detik ini. 


"Kamu…!"


Berjalan cepat, Evan mengagetkan Thalita yang duduk di atas ranjang dengan menyentuh kedua lengan wanita itu. Membuat Thalita mendongak, menatap pria itu dengan mata yang melebar. 


"Udah selesai datang bulan, kan?"


...Bersambung...


***maaf ya, yeorobun.... tadi malam gak sempat update karena ujan deras yang disertai petir. jadi takut buat aktifkan data dan mutusin buat update pagi ini.


insya Allah nanti malam kalo gak ada kendala update lagi seperti biasa ☺***