Mr. Evan's Brides

Mr. Evan's Brides
Bab #26



Sepanjang perjalanan tadi Thalita menangis. Menahan sakit di tangannya, juga menahan perasaannya yang entah kenapa terasa begitu sesak. 


Alih-alih merasa masa bodoh dengan semua sakit yang ada di tubuhnya sebagaimana biasa dia melewati itu, tiba-tiba dia teringat pada Evan.


Entah kenapa, di saat seperti ini membuatnya ingin mengadu pada lelaki itu. Mencurahkan semua kekesalannya juga mengatakan kalau Axel baru saja menyakiti lengannya dan hampir mematahkannya seperti beberapa tahun yang lalu. 


Dia ingin Evan memarahi Axel. Mengancamnya untuk tidak menyakiti Thalita lagi, meskipun itu hanya sekedar gertak sambal biasa. Dia butuh pertolongan dari laki-laki itu. Walaupun mungkin bukan pertolongan tulus selayaknya Evan memang menjaga dan mencintai Thalita. 


Dia tidak tahu kenapa dia ingin bersikap manja seperti itu. Setelah sekian tahun bertahan sendirian, mendadak Thalita ingin ada seseorang di pihaknya. Seperti apa yang dia harapkan dulu saat melihat Gavin yang membelanya secara tidak sengaja, dia ingin Evan juga melakukan hal yang serupa. Walau sekarang sudah tidak mungkin, karena kini Evan pun turut memusuhinya dan memandangnya seperti sampah. 


Sekarang, dia ada di apartemen. Mencoba menenangkan diri, dengan menikmati waktu kesendiriannya di tempat itu. Tidak peduli kalau sekarang kondisi kamarnya sudah berantakan bak kapal pecah, Thalita tetap memejamkan mata, membayangkan wajah Evan yang mungkin bisa sedikit menenangkannya di tengah kekacauan yang ada. 


Tadi, begitu sampai di apartemen, Thalita sempat kebingungan karena kode pintunya yang berbeda. Setelah bertanya ke bagian keamanan, ternyata beberapa waktu lalu ibu serta saudaranya —Axel— datang ke tempat itu dan meminta bantuan kepada petugas keamanan.


Entah apa yang dilakukan oleh dua orang itu di rumahnya. Yang jelas, begitu masuk, Thalita cukup syok melihat keadaan rumah yang begitu berantakan.


Mengabaikan itu, Thalita masuk ke dalam kamar. Mencari kotak obat yang biasa diletakkan di dekat nakas, dan mengoleskan minyak yang dianggap ampuh untuk mengurangi nyeri yang dirasakan oleh lengannya. 


Masih teringat jelas sentuhan tangan hangat pria itu di tubuhnya. Senyuman serta suara lembutnya yang menenangkan Thalita untuk menerima Evan malam itu. 


Dengan tangan bergetar dan meringis menahan sakit, Thalita memeluk tubuhnya. Memejamkan mata, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur membayangkan senyum Evan yang bisa dikatakan baru malam itu Thalita lihat begitu memesona. 


Ingatan itu terus menerus berputar di memori Thalita. Seakan berat untuk dihapuskan, dan berharap kalau ingatan pendek itu akan menjadi ingatan abadi di pikirannya. Dia ingin tinggal di ingatan itu, dan tidak mau keluar lagi. 


...🍂...


Thalita tersentak bangun dari tidurnya saat mendengar dering ponselnya yang samar-samar dia dengar. Begitu bangkit, dia juga terkejut dengan keadaan kamar yang sudah gelap gulita. 


Buru-buru Thalita menyalakan lampu nakas untuk melihat letak tasnya saat ini. Saat menemukannya, dia mengambil ponsel yang sudah tidak berdering itu dan melihat jam yang ditunjukkan saat ini. 


23.47


Thalita mengedip beberapa kali. Perasaan saat dia pulang tadi, jam masih menunjukkan pukul 12 siang. Dia bahkan belum makan siang saat pulang dari restoran. Dan sekarang, dia terbangun saat jam hampir menunjukkan pukul 12 malam? 


Mendesahkan napas panjang, Thalita melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab di ponselnya. 


2 kali dari Evan dan 12 kali dari ibu mertuanya. 


Apa mereka mencemaskannya? Batin Thalita menduga. 


Saat hendak menghubungi Laila kembali, tiba-tiba wanita itu mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Ditingkahi dengan suara gedoran yang kencang, membuat wanita itu tanpa sadar bangkit dan berlari ke arah pintu apartemen. 


Dengan bertelanjang kaki, Thalita berjalan di kegelapan rumah yang disirami oleh seberkas cahaya dari luar. Membuka pintu tersebut tanpa bertanya, dan melihat seorang pria bertubuh tinggi sudah menyanggakan kedua tangannya kedua daun pintu. 


"K—Kak Evan?"


Kedua mata Thalita membola, melihat suami yang memakinya dan mengabaikannya tadi pagi, sudah berdiri di sana dengan raut wajah keras dan juga merah. 


"Hah?" respons wanita itu polos, melihat Evan yang langsung mendesah kasar dan membuang pandangan ke arah lain. 


Kemudian, tanpa berbicara, Evan segera meraih sebelah tangan Thalita. Menariknya keluar apartemen, dan membuat wanita itu terkejut hingga terpekik dengan keras. 


"Akh!"


Thalita kembali meringis, mencoba menarik tangannya yang saat ini Evan pegang. Itu adalah tangan kirinya, yang mana sudah dipelintir keras oleh Axel siang tadi. 


"Sakit," rintih Thalita pelan, kembali merasakan nyeri di sekujur tangannya. 


Melihat itu, Evan hanya diam memandang dengan alis yang berkerut. Pikirnya, mungkinkah dia sudah menarik perempuan itu begitu keras? 


Sedikit mendecak, Evan kembali mengulurkan tangannya hendak menarik Thalita. Tapi wanita itu, dengan cepat menghindar sambil mundur beberapa langkah. 


"Kenapa?" tanya Evan tidak mengerti, melihat Thalita yang hanya diam menundukkan kepalanya. 


Jangan lupa, perempuan itu juga masih memegangi tangan kirinya yang tadi Evan tarik. 


"Aku bakal pulang sendiri," ucap Thalita begitu pelan, enggan menunjukkan wajahnya pada Evan. 


"Pulang bareng aja. Sama aja kan?" decak Evan masih dengan ekspresi wajah kesalnya, memandang Thalita. 


Wanita itu tidak beranjak. Dia hanya bergeming, seperti patung di depan laki-laki itu. 


"Ayo!"


"Enggak!" bantah Thalita saat Evan hendak menyentuh bahunya. 


"Lita!"


Thalita masih diam. Hatinya terasa sakit, karena lagi-lagi dia bersikap bodoh di depan pria itu. Bukannya pulang ke rumah saat sore hari agar Evan dan ibu mertuanya tidak curiga, dia malah membuat pria itu datang menjemputnya ke apartemen seperti ini. 


Dilihat dari panggilan teleponnya tadi, Evan pasti terpaksa menjemputnya sekarang. Lihat saja raut mukanya saat ini, dia pasti kesal karena mungkin Laila —ibu mertua Thalita— yang sudah memaksa Evan untuk ke tempat ini. 


Sementara itu, Evan yang melihat Thalita bersikap demikian, pelan-pelan mulai memperhatikan wanita itu. Dari ujung kepala, hingga ujung kakinya. 


Astaga, Evan bahkan tidak sadar kalau istrinya itu sedang dalam penampilan yang kacau sekarang. Baju berantakan, sampai kaki yang tidak memakai alas, membuatnya benar-benar bertambah kesal. 


Dia sudah tahu apa yang terjadi pada Thalita siang tadi. Karena tidak kunjung pulang ke rumah saat jam menunjukkan angka 10 malam, Evan berniat untuk menjemput Thalita atas permintaan ibunya. Padahal, atas apa yang terjadi kemarin malam, membuat Evan berpikir untuk menjaga jarak dulu dengan perempuan itu. Dia takut, tidak bisa berpikir jernih tentang kondisi Thalita dan apa yang sudah terjadi di masa lalu Evan sebelumnya. 


Tapi, mengingat itu sudah melewati jam pulang restoran, akhirnya Evan pun meringankan langkahnya untuk menemui Sang Istri. Meski setelah itu, apa yang dia dengar dari asisten Thalita di restoran malah membuat emosinya berbelok dan menungkik semakin tajam. 


Tidak ingin berdebat, Evan lagi-lagi menarik napas panjang. Berjalan melewati Thalita ke dalam apartemen, dan mencari kamar wanita itu berada. Setelahnya, dia keluar sambil membawa tas, sepatu serta blazer yang tadi pagi dikenakan wanita itu untuk pergi bekerja. 


......Bersambung......