
Thalita termenung di ruang kerjanya siang ini. Tidak seperti waktu terakhir, sejak pertemuan antara Rosalin dan Marlia di ruang kerja Thalita, wanita yang mengaku sebagai teman dari almarhum ayahnya Thalita itu tidak pernah muncul kembali. Entah memang karena sadar diri kalau kedoknya sudah terbongkar, yang jelas Thalita sedang tidak ingin memikirkan itu.
Rentetan kejadian yang dialaminya beberapa hari membuat Thalita bingung dengan jalan hidupnya. Maksudnya, mungkinkah Tuhan itu benar-benar ingin membuat dia bahagia, atau hanya sekedar untuk mencicipinya saja?
Pasalnya, setiap kali Thalita merasa senang akan sesuatu, saat itu juga hal buruk pasti akan datang menimpanya. Mulai dari pernikahannya dengan Evan yang bukannya membuat keluarganya bisa menyayangi Thalita, Marlia justru semakin membencinya yang mana hingga detik ini ibu kandungnya itu seakan enggan untuk mau mengangkat panggilannya.
Lalu, hadirnya seorang wanita yang dia kira adalah teman ayahnya yang baik dengan memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu, justru wanita yang Marlia bilang sebagai penyebab hancurnya rumah tangga kedua orang tua Thalita.
Ditambah dengan sikap Evan yang saat ingin menyentuh Thalita pasti akan sangat lembut, dan setelahnya akan bersikap dingin seperti biasa, membuatnya berpikir, apakah sebenarnya pria itu hanya menginginkan tubuh Thalita saja?
Sejenak, Thalita menarik napas. Mengenai Evan, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Dia merasa satu sisi pria itu sangat menyayanginya. Atau bahkan mencintai, barangkali?
Namun di sisi lain, Thalita seakan melihat sikap biasa Evan terhadap dirinya yang seakan tidak peduli terhadapnya.
"Kak, aku mau hamil," bisik Thalita tadi malam, tepat saat wajah Evan hanya berjarak berapa senti dari wajahnya.
Terlihat jelas raut keterkejutan di mata Evan yang melebar, sebelum dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sabar, kalau sudah waktunya pasti akan dikasih,"
Lalu, Evan menjauh. Turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi tanpa bicara apapun lagi. Membuat Thalita yang mendapati sikap seperti itu berpikir, mungkinkah sebenarnya Evan tidak menginginkan anak darinya?
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Bu."
Sekar yang mengetuk pintu ruangan Thalita menyadarkan wanita itu dari lamunan.
"Ya, ada apa?" tanya wanita itu, melihat Sekar yang seperti tersenyum kaku.
"Itu, Bu. Ada… tamu," jawabnya masih terlihat ragu.
"Siapa?"
"Hm," sambil melirik ke arah lain, wajah Sekar terlihat tidak enak untuk mengatakannya.
"Itu…,"
"Sayang,"
Sontak, Thalita refleks berdiri dari tempatnya, saat melihat sosok Edwin muncul dari arah belakang Sekar dan masuk ke ruangannya.
"Apa kabar? Udah lama kita nggak ketemu, ya?" ujar Edwin santai dan tersenyum dengan begitu lebar.
🍂
"Mau apa Anda kemari?" tanya Thalita defensif, masih dengan posisi berdiri di balik meja kerjanya.
Sedangkan Edwin masih tertawa, dia menoleh ke arah Sekar yang juga masih berdiri di sampingnya sambil memasang ekspresi yang sama dengan Thalita.
"Ngapai kamu masih di sini? Pergi sana!" usir Edwin mengagetkan Sekar, yang mana wanita itu tidak langsung menuruti perintahnya begitu saja.
"Bu Lita," panggil Sekar pada Thalita, yang mana wanita itu memasang tampang bertanya pada bosnya itu.
Thalita yang tersadar dengan situasinya, dengan ragu menganggukkan kepala. Membuat Sekar tidak percaya, hingga menaikkan kedua alisnya.
"Kamu nggak dengar saya bilang apa?! Keluar sana!" usir Edwin lagi lebih keras, kali ini membuat Sekar pun merasa jengkel.
Dengan memasang tampang kesal, perempuan muda itu berjalan ke arah jendela ruangan Thalita yang tembus ke dalam restoran. Membuka tirai yang sejak tadi menutup ruangan itu, sebelum akhirnya pamit pada Thalita yang hanya terdiam melihatnya.
Mungkin Sekar melakukan itu agar bisa memantau pergerakan Edwin di ruangan Thalita.
"Ck! Dasar perempuan sampah," desis Edwin kasar, begitu Sekar melewatinya keluar dari pintu.
"Mau apa lagi Anda datang kemari? Bukannya Axel udah dibebaskan dari penjara?" tanya Thalita datar, masih bersikap siaga dengan Edwin yang tersenyum kepadanya.
Perlu diingatkan kembali, kalau beberapa hari lalu Evan sudah memenuhi permintaan Thalita untuk membebaskan Axel dari tahanan. Meskipun urusannya sedikit rumit, tapi pria itu sudah menepati janjinya pada Thalita yang sudah membayar kepuasan dari laki-laki itu.
"Iya, karena itu. Papa kemari cuma mau ngucapin makasih aja kok sama kamu," ujar Edwin tertawa kecil, lantas berjalan ke arah meja kerja Thalita.
"Anda bisa mengirimkan pesan singkat, atau bicara via telepon kalau memang itu perlu," kata Thalita dingin dengan ekspresi wajah kaku dan waspada.
Bagaimana tidak, Marlia yang notabenenya adalah ibu kandung Thalita dan juga Axel saja seperti tidak ada niatan untuk mengucapkan terima kasih pada Thalita. Konon lagi wanita itu harus percaya dengan rencana Edwin untuk datang ke tempatnya?
Edwin tidak langsung menjawab. Dia hanya tertawa kecil sambil terus berjalan ke arah Thalita.
"Kamu kok jadi kaku gitu sih, Sayang? Siapa yang ngajarin? Suami kamu yang kurang ajar itu?" ujar Edwin masih terkekeh.
"Udah Papa duga, dia itu bukan laki-laki yang baik buat kamu. Mamamu aja yang terlalu keras kepala pas mau jodohin kamu sama dia," kata Edwin sudah berdiri di depan meja Thalita dan menatap lekat wajah wanita tersebut.
"Dia itu cuma laki-laki brengsek yang taunya cuma bikin keluarga kita jadi berantakan. Papa yakin, kalau dia juga nggak bener-bener serius sama kamu,"
Tangan Edwin terangkat. Kemudian, menyentuh sedikit rambut depan Thalita dengan cara seorang pria menggoda.
Refleks, Thalita menepis tangan itu dan menjauh satu langkah.
"Jangan bicara sembarangan tentang suami saya! Keluarga kita memang udah berantakan sejak awal!" tegas Thalita, yang entah mendapatkan kesadaran dari mana tentang keluarga yang tidak baik.
Terlihat agak tidak percaya, Edwin yang semula kaget kemudian tertawa.
"Udah berani kamu, ya?" desis pria itu, membuat Thalita mengatupkan bibirnya rapat.
"Kenapa? Kamu kira laki-laki itu beneran peduli sama kamu?" ujar Edwin dengan nada sarkastik dan penuh ejekan. "Jangan sombong kamu! Dia itu bersikap demikian karena tau kamu udah nggak perawan! Dia marah karena kami udah ngasih perempuan sampah kayak kamu ini ke dia! Kamu nggak sadar?!"
Thalita seperti tertohok dengan ucapan Edwin yang langsung menuding tepat di depan wajahnya.
"Ayolah, kamu juga kemarin nggak mau disuruh buat operasi selaput dara karena kamu juga menikmati kondisi ini, kan? Ngaku aja,"
Edwin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap remeh pada Thalita.
"Kamu sengaja biarin kondisi kamu tetap kayak gitu, supaya kamu bebas melakukan hubungan **** sama banyak cowok lain di luar sana, kan? Terus, pas nanti mereka nanya kenapa kamu udah nggak perawan lagi, kamu tinggal nuduh Axel yang waktu itu udah mendorong kamu dari tangga. Ya kan? Nggak usah ngelak lagi deh kamu,"
Bibir Thalita rasanya sudah bergetar menahan emosi. Ingin dia memukul wajah Edwin yang tampak menyeringai kepadanya.
Masih dengan kondisi wajah tersenyum, Edwin mengitari meja kerja Thalita dengan santai sambil terus beromong kosong.
"Bukannya udah Papa bilang, kamu itu nggak usah sok suci. Bagaimanapun juga, sampah akan tetap menjadi sampah. Kamu nggak usah—"
Plak!
Tanpa sadar, Thalita melayangkan pukulan di wajah Edwin. Membuat keduanya kaget untuk sesaat, namun detik berikutnya Edwin malah tersenyum menatap Thalita.
"Woah…. Papa kangen banget sama tamparan tangan kamu, Sayang," ucap Edwin dengan wajah merah, lalu merendahkan suara. "Itu buat Papa jadi semakin suka sama kamu,"
Dalam hitungan detik, Edwin sudah langsung mendorong tubuh Thalita ke kursi kerjanya. Mengungkung tubuh wanita itu yang terkejut dan refleks berteriak dengan suara yang sangat keras.
"TOLOOOONG!"
Dengan cepat, Edwin yang notabenenya lebih besar dari Thalita pun segera menutup mulut wanita itu dengan tangannya. Menahan kedua tangan Thalita menggunakan sebelah tangan, kemudian dengan gencar mencium leher Thalita yang terbuka.
Dalam hal ini, Thalita berusaha melawan. Dia menendang pangkal paha Edwin dengan keras, lalu berusaha untuk lari tatkala pria itu sontak melepaskan semua cengkramannya dari tubuh wanita itu.
"Heh! Anak kurang ajar!"