ME vs OM OM

ME vs OM OM
Tante Rosaline



Di sebuah rumah yang terlihat mewah sedang terjadi sedikit kekacauan. Seorang gadis kecil sedang duduk tenang di tempat tidurnya, tidak mau untuk diajak makan malam. Gadis kecil itu memilih untuk tetap asik bermain game yang ada di tablet miliknya. Sekarang sudah lewat jam makan malam, dan gadis itu belum makan apapun, bahkan beranjak dari kamarnya pun tidak.


“Nona kecil, nona sekarang makan dulu. Nona belum makan sejak tadi siang” bujuk pengasuhnya. Dia duduk di pinggir kasur milik gadis itu.


Tidak ada respon dari gadis itu. Dia sama sekali tidak bergeming. Kemudian pengasuh gadis itu keluar dari kamar. Di depan kamar gadis kecil itu berdiri seorang lelaki yang masih remaja.


“Bagaimana? Apa sudah berhasil membujuk Adeline?” tanya lelaki itu.


Pengasuh itu hanya menggelengkan kepala. Mukanya menunjukkan penyesalan karena sudah gagal membujuk.


“Bahkan aku sudah membujuknya dengan segala cara tapi masih tetap tidak berhasil. Sebenarnya ada apa dengan Adeline hari ini?” ucap lelaki itu.


“Saya juga tidak tahu tuan Kei. Nona kecil dari tadi hanya memainkan tabletnya saja sejak bangun tidur”


Lelaki yang bernama Kei itu mengangkat bahunya, menghembuskan nafas panjangnya. Kei sudah sejak tadi membujuknya agar mau makan, tetapi Adeline hanya menggelengkan kepalanya saja. Mereka semua yang ada di rumah itu juga bingung dengan sikap aneh Adeline hari ini.


“Baiklah, aku akan terus mencoba menelfon kakakku agar dia bisa segera sampai ke rumah. Kamu temani Adeline terus di kamarnya” perintah Kei. Kemudian pengasuh itu menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan kembali masuk ke dalam kamar.


🐤🐤🐤🐤🐤


Di luar rumah, sebuah mobil hitam sedan terparkir di depan garasi. Seorang pria yang berawakan gagah dan wajah yang terlihat tampan mempesona dengan pakaian kerjanya keluar dari mobil itu.


Pintu rumah dengan cepat langsung terbuka, dan tampaklah Kei keluar dari pintu untuk menyambut pria yang masih berada di depan garasi.


“Kenapa kamu lama sekali pulangnya kak? Aku menelfonmu berkali-kali tapi ponselmu tidak aktif”


“Ponselku mati. Aku sedang ada urusan diluar. Memangnya kenapa?” jawab pria itu.


“Gadis kecilmu Adeline sedang berulah sekarang. Dia dari tadi tidak mau diajak makan. Aku, pengasuh, dan yang lain sudah berusaha membujuknya dari tadi. Tapi tetap saja tidak berhasil. Dia masih saja memilih bermain dengan tabletnya. Kami semua disini sangat kacau, takut jika ada apa-apa dengannya. Dan dia terakhir makan tadi siang saat pergi dengan mama. Sedangkan mama juga sekarang tidak berada di rumah. Kamu segera temuilah Adeline. Aku takut dia akan sakit jika terlambat makan” Kei mengatakan dengan menampakkan wajah yang khawatir.


“Aku akan menemuinya” pria itu melewati Kei dan langsung menuju kamar gadis kecilnya.


🐤🐤🐤🐤🐤


Pria itu kini sudah masuk ke kamar gadis kecilnya untuk mengecek keadaannya. Pengasuh Adeline yang paham dengan kehadiran pria itu pun langsung meninggalkan mereka berdua. Pria itu mendekat menuju tempat tidur dan duduk disampingnya. Adeline menoleh karena merasa ada tangan besar yang mengelus kepalanya, lalu dia tersenyum.


“Sweetie, kenapa kamu tidak mau makan? Apa kamu tidak lapar?” tanya pria itu.


Adeline hanya menggeleng saja menjawab pertanyaannya. Dia lalu meletakkan tablet yang dari tadi dibuatnya bermain sejak bangun tidur.


Adeline menundukkan kepalanya, menggelengkan kepalanya. Dia paling tidak suka jika melihat ayahnya sedih.


“Kalau begitu sekarang Adeline makan dengan ayah. Dengarkan nasihat ayah, lain kali Adeline tidak boleh bersikap seperti ini lagi dan membuat semua orang khawatir. Mengerti?” pria itu mengecup Adeline, lalu mengusap kepalanya.


‘Gadis kecil...dengarkan nasihat kakak. Adeline jangan pernah mengulangi lagi perbuatan yang seperti tadi, karena itu sangat berbahaya dan membuat orang lain khawatir ’


Adeline teringat ucapan orang yang tadi sudah menolongnya, yang mengatakan untuk jangan membuat orang lain khawatir. Ucapan ayahnya dan penolongnya benar-benar sama persis dan terngiang di ingatan Adeline.


Adel tidak mau membuat orang lain khawatir lagi – gumam Adeline dalam hati.


Kemudian gadis kecil itu menganggukkan kepalanya dengan semangat. Senyum ceria di wajahnya menghangatkan hati ayahnya. Dia akan mengikuti nasihat tante penolongnya dan ayahnya untuk tidak akan membuat orang lain khawatir terhadapnya lagi.


Pada waktu yang sama, seorang wanita paruh baya muncul di depan kamar Adeline. Dia adalah omanya Adeline, mama dari William.


“William, ada apa dengan Adeline? Kata pengasuhnya dan Kei, Adeline tidak mau makan...” tanyanya.


“Ya, tapi itu tadi. Sekarang dia sudah mau untuk makan denganku. Kami akan segera ke meja makan” pria yang bernama William itu beranjak dari duduknya. Dia ingin menggendong Adeline, tapi Adeline menahan gendongannya. Adeline kembali ke tempat tidurnya, mengambil sesuatu dari balik selimut tidurnya. Terlihat dia sedang membawa sesuatu yang berbentuk pakaian model oversize blazer. Ditunjukkanlah pakaian itu ke ayahnya.


William melihat gadis kecilnya memegang pakaian. Dia merasa bingung karena tidak paham maksud gadis kecilnya itu.


“Bukankah itu pakaian untuk orang dewasa? Untuk apa menunjukkan pada ayah?” tanya William terheran.


Adeline menganggukkan kepala, mengiyakan jika itu pakaian orang dewasa. Kemudian dengan wajah innocentnya dia berkata, “Punya tante cantik dan baik hati”.


Wiliam membelalakkan matanya mendengar ucapan barusan. Tidak percaya jika Adeline bisa berbicara seperti itu. William bingung dan tidak tahu siapa yang dimaksud tante cantik dan baik hati itu. “Tante?” tanyanya.


Adeline menganggukkan kepalanya lagi dan berkata, "Tante Rosaline" senyuman lebar pun terpancar di wajahnya. Matanya pun juga berbinar saat mengucapkan nama itu.


Mamanya yang tadi ada di depan pintu, kini mulai mendekati mereka berdua. Kemudian mamanya menjelaskan semua kejadian tadi siang saat di hotel. Lalu William mulai paham yang dimaksudkan Adeline.


Adeline merasa kalau tante yang menolongnya tadi sudah baik padanya, sampai memberikan pakaiannya supaya Adeline tidak kedinginan. Bahkan Adeline sampai memujinya cantik. Adeline anak yang tidak pernah mau dekat dengan orang asing. Tapi sekarang ini, sepertinya dia sangat menyukai tante yang baru ditemuinya tadi.


William menatap ke arah Adeline. Gadis kecil itu sedang memeluk erat pakaian penolongnya. Dia bahkan juga tidak berhenti tersenyum menatap ayahnya dan omanya bergantian.


Apa Adeline sesuka itu dengan orang yang sudah menolongnya tadi? – batin William.