ME vs OM OM

ME vs OM OM
Rosaline Berbeda Dari Yang Lain



Inti acara akhirnya sudah selesai. Semuanya berjalan dengan kondusif dan lancar hingga sejauh ini. Kini yang tersisa hanyalah sesi terakhir acara, yaitu sesi tanya jawab.


"Apa ada yang ingin bertanya" ucap Rosaline menghadap pada para audiens.


Terlihat banyak mahasiswa dan mahasiswi yang mengangkat tangannya. Menandakan bahwa mereka sangat antusias untuk bertanya kepada Jeffrin. Rosaline memilih salah satu mahasiswi yang duduk di barisan depan untuk mengajukan pertanyaan, kemudian mempersilahkannya.


"Saya ingin bertanya, dan saya harap tuan Jeffrin bersedia menjawabnya. Pertanyaan saya adalah, apa tuan Jeffrin Ferdinand sudah memiliki kekasih atau tunangan?" tanya salah seorang mahasiswi itu dengan santainya. Dia tidak sadar kalau pertanyaannya sama sekali tidak berhubungan dengan yang sudah dibahas pada acara itu.


Seketika suasana di ruangan tersebut menjadi heboh. Hal semacam ini sudah sering terjadi saat Jeffrin diundang sebagai narasumber.


Jeffrin melirik ke arah Rosaline. Dilihatnya gadis itu hanya menampilkan ekspresi yang datar dan tingkah yang biasa saja. Rosaline bahkan memalingkan wajahnya ke arah luar ruangan dan tidak memperdulikan lebih lanjut pertanyaan dari mahasiswi tadi.


Ini kali pertama bagi Jeffrin melihat seorang perempuan yang tidak merasa antusias mengetahui tentang info pribadinya.


Mau tidak mau, Jeffrin pun menjawab pertanyaan itu. "Meskipun pertanyaannya di luar konteks, saya akan berbaik hati menjawabnya. Apakah saya memiliki kekasih atau tunangan? Jawabannya, saat ini saya masih single"


Para audiens perempuan pun merespon dengan heboh setelah mendengar pengakuan Jeffrin. Namun hal itu tidak berlaku bagi perempuan yang sekarang duduk di sebelahnya. Rosaline seakan tak peduli dengan jawaban tersebut.


Jeffrin melirik lagi ke arah Rosaline. Dia merasa heran kenapa sikap gadis itu sangat tenang. Gadis itu benar-benar berbeda dari yang lain dan semakin membuat Jeffrin merasa tertarik.


Apa gadis ini benar-benar tidak ingin tahu tentangku? Atau dia hanya berpura-pura saja? - batin Jeffrin.


Setelah dijawab, Rosaline mempersilahkan audiens untuk bertanya lagi. Dan tidak lupa memperingatkan agar jangan menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi kepada narasumber. Kemudian dia memilih satu mahasiswa yang duduk di deretan tengah.


"Saya tidak ingin bertanya hal-hal pribadi kepada narasumber. Karena saya lebih tertarik untuk bertanya hal-hal pribadi kepada moderatornya" ucap lelaki itu dengan santai dan tanpa dosa, yang sontak membuat Rosaline terkaget dan membelalakkan matanya. "Saya ingin bertanya. Apa Raline sudah mempunyai orang yang disukai atau malah sudah memiliki seorang kekasih?"


Rosaline yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa tercengang. Tidak menyangka bahwa dirinyalah yang akan menjadi bidikan pertanyaan dari audiens.


Suasana ruangan menjadi tak kalah heboh dari sebelumnya.


Jeffrin pun juga turut menoleh ke arah Rosaline. Dia ingin mendengar jawaban dari gadis yang sudah berhasil membuatnya merasa penasaran dan tertarik.


Rosaline hanya bisa menghela nafas. Menggelengkan kepalanya yang terasa sedikit pening akibat mendengar pertanyaan tidak jelas tersebut. Dia merasa malu mendapatkan pertanyaan yang seperti itu, apalagi di hadapan banyak orang seperti sekarang.


"Maaf, tapi saya tidak akan menjawab pertanyaan pribadi" jawabnya singkat dan ramah. Tak lupa memperlihatkan senyumannya. Seperti biasa, Rosaline memang selalu baik hati dan tidak mempermasalahkannya lebih lanjut.


Setelah pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas itu, akhirnya sesi tanya jawab bisa kembali berlanjut dengan normal.


🐀🐀🐀🐀🐀


Kini acaranya sudah benar-benar selesai. Karena tugasnya dirasa sudah berakhir, Rosaline pun segera pamit dari hadapan Jeffrin, Andrew, dan dosen yang mendampingi acara.


Melihat Rosaline yang sudah keluar dari ruangan, Jeffrin dan Andrew segera berpamitan untuk undur diri. Mereka mencari sosok Rosaline yang beberapa saat lalu sudah keluar lebih dulu.


Tak butuh waktu lama akhirnya mereka pun menemukannya.


"Nona Raline...tunggu sebentar" teriak Andrew yang berada tidak jauh dibelakangnya.


Rosaline pun menoleh ke belakang. Mendapati sosok Andrew dan Jeffrin yang kini datang ke arahnya.


"Ada perlu apa ya? Bukankah acaranya sudah selesai?" tanya Rosaline terheran.


"Acaranya memang sudah selesai. Dan sudah tidak ada hubungannya lagi. Tetapi kami masih ingin bisa berhubungan dengan nona Raline. Apakah nona Raline bersedia untuk makan siang bersama kami berdua?" ucap Andrew ramah kepada Rosaline.


Kemudian Andrew melirik ke arah bosnya yang berada disampingnya. Jeffrin pun seakan mengerti dengan kode tatapan asistennya itu. Dan mereka berdua pun mulai saling berbicara dalam hati melalui tatap mata.


Bos, kau sudah berhutang banyak padaku. Kau harus menaikkan gajiku. Jika perlu belikan aku satu unit mobil - ucap Andrew dalam hati.


Sambil menatap asistennya, Jeffrin pun menjawab, "Akan aku pertimbangkan. Tenang saja - ucapnya dalam hati.


Dan pembicaraan singkat keduanya melalui tatapan dan dari dalam hati itupun selesai. Diakhiri dengan anggukan kecil secara bersamaan.


Kini giliran Rosaline yang terbingung dengan ucapan Andrew. Dia merasa bingung kenapa mereka mengajaknya makan siang bersama. Dia hanya seorang moderator dan mahasiswi biasa, tetapi kenapa terkesan diperlakukan seperti klien bisnis yang harus dijamu makan siang.


Ada apa dengan kedua om om ini? Kenapa tiba-tiba mengajakku makan bersama? Mereka berdua aneh sekali.... - ucap Rosaline dalam hati.


"Ehh...makan siang bersama? Tetapi aku pikir itu tidak perlu. Kalian tidak usah repot-repot. Dan juga, sepertinya aku tidak pantas untuk mendapat tawaran ini" jawab Rosaline dengan senyum canggungnya.


"Bos saya tadi mengatakan kalau nona Raline sudah bekerja dengan baik. Apalagi ini adalah pengalaman pertamamu. Jadi kami ingin mengundang nona Raline untuk makan bersama. Yah, katakalah untuk keberhasilan acara hari ini dan merayakan keberhasilan pengalaman pertamu sebagai moderator" jawab Andrew.


Dan alasan yang terpenting adalah si Jeffrin ingin lebih dekat denganmu - batin Andrew.


Mendengar ucapan Andrew barusan, membuat Jeffrin menolehkan kepalanya perlahan ke arah asistennya itu dan menatapnya dengan tajam. Seolah ada laser yang terpancar di matanya.


Apa yang baru saja kau katakan? Kenapa kau menyeret namaku? Apa kau juga ingin ku seret ke pedalaman Zimbabwe, huh? – ucap Jeffrin geram dalam hati sambil menatap Andrew.


Andrew yang melihat tatapan laser bosnya itu menelan ludahnya dengan berat. Dia sepertinya sudah salah bicara. Tetapi inilah cara yang terbaik jika ingin terus maju.


Rosaline masih berpikir harus bagaimana. Jika tidak mau, maka Rosaline akan merasa tidak enak hati terhadap mereka karena sudah menolak. Tetapi jika diterima, dia tidak sedekat itu untuk bisa makan siang bersama mereka berdua.


Akhirnya setelah dipikirkan baik-baik, Rosaline pun membulatkan jawabannya. Ditatapnya kedua orang yang ada di depannya.


"Aku sangat berterima kasih karena tuan Jeffrin sudah mengapresiasi usahaku. Sungguh aku merasa sangat tersanjung. Dan juga, aku sangat berterima kasih karena sudah diberi kesempatan untuk mendapatkan tawaran seperti ini. Tetapi aku juga minta maaf, karena aku tidak bisa menerima tawaran untuk makan siang bersama kalian" ucap Rosaline dengan lembut dan tersenyum.


Jeffrin terkejut dengan respon Rosaline. Jika itu orang lain, mereka pasti akan dengan senang hati menerima tawaran itu. Karena itu adalah kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Tetapi kenapa gadis ini justru menolaknya? Padahal selama ini Jeffrin tidak pernah ditolak oleh orang lain dan tidak pernah mau dibantah jika sudah berkehendak. Sungguh gadis itu benar-benar berbeda dari yang lain dan sudah berhasil menarik perhatian Jeffrin.


Andrew juga tidak menyangka kalau Rosaline akan menolak penawarannya. Selama ini banyak orang yang mendambakan untuk bisa dekat dengan bosnya itu. Tetapi saat sekarang ada kesempatan, gadis ini malah membuang kesempatannya.


"Kamu yakin tidak mau makan bersama dengan kami? Apakah ada yang salah dengan kami hingga kamu tidak bisa menerimanya?" tanya Andrew pada Rosaline dengan wajah terheran. Dia masih tidak percaya kalau ada perempuan yang mampu menolak bosnya.


"Ya. Aku sangat yakin. Tidak ada yang salah dari kalian. Bagiku kalian berdua sungguh orang yang baik sekali karena sudah bersikap ramah padaku. Hanya saja aku tidak merasa pantas untuk menerima tawaran ini. Jadi sekali lagi aku minta maaf" jawab Rosaline dengan tenang dan membungkuk sopan untuk meminta maaf.


Aku tidak mau menerimanya karena aku tidak ingin berurusan lebih lanjut dengan kalian. Tolong mengertilah – batin Rosaline.


Kemudian Rosaline tersenyum kepada keduanya dan mengatakan, "Aku rasa tidak ada hal lagi yang perlu kita bicarakan. Jika begitu aku pamit undur diri. Selamat tinggal..."


Jeffrin masih memikirkan penolakan yang baru saja dia terima. Dia merasa terguncang karena mendapatkan penolakan dari seorang gadis yang umurnya jauh dibawahnya. Entah kenapa dia merasa tidak terima jika perintahnya ditolak seperti itu.


Jeffrin menyeringai tipis. Seketika aura dingin terpancar dari tubuhnya. Tatapannya sudah tidak lagi sesantai sebelumnya.


Andrew yang berdiri disampingnya seketika merasakan hawa aneh mulai menjalar dan membuatnya bergidik merinding. Ya, dia sudah paham bahwa hawa ini pasti berasal dari bosnya.


Gadis ini...berani-beraninya dia menolakku - batin Jeffrin.


Rosaline pun beranjak dari tempatnya tadi berdiri untuk meninggalkan mereka. Dia membalikkan tubuhnya untuk berlalu. Namun baru berjalan dua langkah, sebuah tangan kekar mencekal lengan kirinya dan membuat langkahnya terhenti.


πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯


.


.


.


EPILOG


- Sesaat setelah berpamitan dan keluar dari ruangan untuk mencari Rosaline -


"Aku sudah mengumpulkan beberapa informasi tentang gadis itu" ucap Andrew.


"Terserah" jawab Jeffrin.


"Informasi yang ku dapatkan dari para mahasiswa di kampus ini, sepertinya dia tidak sedang dalam menjalin hubungan dengan siapapun"


"Bukan urusanku"


"Aku akan mengajaknya pergi makan siang bersama kita"


"Kau ini jangan bertingkah sembarangan"


"Jadi kau tidak mau makan siang bersamanya?"


"Siapa bilang aku tidak mau"


"Umur kalian berdua terpaut cukup jauh. Apa kau tidak mempermasalahkannya?"


"Umur hanyalah soal angka. Tidak perlu diributkan"


"Apa sekarang kau sedang mengakui kalau kau sudah tertarik dengan gadis itu?"


"Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan"


"Jika kau tidak tertarik dengannya, maka biar aku saja yang maju"


"Kau pilih ku kirim untuk menggali sumur di Afrika atau pilih seumur hidup menjadi biksu di China?"


"Jadi kau menerimanya?"


"Aku tidak pernah bilang menolaknya"


"Baiklah...baiklah. Aku akan berusaha yang terbaik untukmu"


"Cepat hentikan ocehanmu atau akan ku pasangkan resleting di mulutmu"