ME vs OM OM

ME vs OM OM
Pertarungan Di Dalam Keluarga



• Di Heinan Medical Center (HMC) •


Seorang gadis membuka matanya perlahan setelah tidur panjangnya. Dia baru saja bermimpi tentang masa lalu yang ingin sekali dia lupakan tetapi tak mampu. Kepalanya masih terasa sedikit pusing. Badannya juga terasa lemas. Entah sudah berapa lama dia tertidur.


“Baby, apa kamu butuh sesuatu?” ucap Rayen yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur Rosaline. Dia merasa senang karena adiknya sudah sadar.


Rosaline menoleh ke arah suara yang dikenalnya. “Brother? Bukankah kamu sedang diluar negeri?” ucapnya terheran.


“Itu tidak penting lagi. Sekarang kamulah yang lebih penting...”


“Memang ada apa denganku?” Rosaline merasa bingung dengan situasi sekarang. Kemudian dia melihat keadaan sekitar, dan sepertinya ini bukanlah kamarnya. “Aku dimana?”


“Di rumah sakit”


Mendengar ada suara orang lain lagi yang dikenalnya, Rosaline langsung menoleh ke arah sisi lain. Dilihatnya sang ayah sedang duduk di sofa dan terlihat dalam keadaan kacau. “Daddy??!” gadis itu begitu kaget melihat kehadiran ayahnya juga.


“Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian berdua bisa berada disini? Bukankah kalian semua ada diluar negeri?”


“Kamu pingsan di kamar, dan kondisimu juga masih belum sehat. Karena itulah badanmu menjadi bertambah lemah dan akhirnya pelayan membawamu ke rumah sakit” jawab Rayen.


Gadis itu mencoba mengingat lagi kejadian saat itu. Rosaline ingat dia tidak bisa tidur, suasana hatinya benar-benar kacau, kemudian turun ke bawah dan mengambil sebotol wine di mini bar dapur. Untung saja semua pelayan di rumah itu sudah tidur, sehingga tidak ada yang tahu kalau dia dalam keadaan seperti itu. Lalu terakhir kali yang di ingat, dia menelfon Lauren, setelah itu dia tidak bisa mengingat lagi.


“Tu-tunggu dulu. Dari mana para pelayan tahu kalau aku pingsan di kamar? Seingatku mereka sudah tertidur”


“Lauren menelfonku. Dan aku langsung menghubungi orang rumah untuk mengecek keadaanmu” ucap Rayen.


“LAUREN MENELFONMU?!” Rosaline panik mendengar jawaban Rayen. Dia takut jika Lauren berbicara yang macam-macam pada kakaknya. “Apa dia.....”


“Bagaimana keadaanmu sweetheart? Apa badanmu masih terasa sakit?” Tuan Anthoni mendekat ke Rosaline. Dia sengaja memotong perkataannya, karena dia tidak ingin membahas lebih lanjut masalah yang membuatnya sangat emosi. Jika dilanjutkan, mungkin bisa saja dia benar-benar akan membunuh pria yang sudah menyakiti putrinya. Tentu Lauren sudah menceritakannya pada Rayen, dan tanpa diberitahu pun tuan Anthoni juga tahu kalau putrinya masih belum bisa melupakan pria itu.


“Aku baik-baik saja ayah. Ngomong-ngomong, sudah berapa lama aku tidak sadar?”


“Hampir 2 hari” jawab tuan Anthoni.


“2 HARI?!”


“Hm, benar” Tuan Anthoni tidak memberitahu alasan kenapa dia bisa sampai tidak sadar selama itu, karena sebenarnya Rosaline juga diberikan suntikan obat penenang agar gadis itu tidak merasa tertekan. Jika dia bangun dengan cepat, maka dia akan kembali mengingat pria itu.


“Daddy, brother, I’m sorry...” ucap Rosaline menyesal. Dia sadar jika sudah membuat keluarganya cemas.


“It’s okay, sweetheart” Tuan Anthoni tersenyum hangat menatap anaknya.


“Baby, mulai sekarang lakukanlah apapun yang ingin kamu lakukan selama itu bisa membuatmu senang. Sekarang kakak juga sudah mengijinkanmu menggunakan kendaraan sendiri. Apa kamu senang?” ucap Rayen tersenyum. Dia tidak ingin membuat adiknya merasa tertekan dan memperburuk kesehatannya.


“Benarkah?! Apa kakak serius??!” Rosaline tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Ada angin apa hingga membuat kakaknya berbuat seperti itu.


“Tentu saja baby...”


“Kakekmu bahkan sudah mengirimkan mobilmu ke rumah” ucap tuan Anthoni.


“Grandpa? Untuk apa grandpa membelikanku mobil baru? Di rumah masih ada mobil yang menganggur. Aku kan bisa menggunakan itu” Rosaline merasa bingung kenapa kakeknya juga ikut terlibat dalam urusan ini.


“Sebenarnya aku, ayah, grandpa, tante Sandra, dan om Martin mengadakan taruhan. Dan siapapun yang menang nanti bisa membelikanmu hadiah mobil. Dan ternyata yang menang adalah grandpa. Jadi yah begitulah, kami semua harus menerima kekalahan...” Rayen merasa menyesal karena tidak bisa membelikan hadiah untuk adiknya.


“Seriously? Jadi kalian semua berlomba-lomba untuk membelikanku mobil? Ini cuma urusan sepele dan kalian sudah bertingkah seperti anak kecil dengan mengadakan taruhan. Astaga, pertarungan yang sangat konyol. Kalian semua benar-benar membuatku tidak habis pikir...” Rosaline tertawa geli melihat tingkah keluarganya. Entah kenapa keluarganya bisa bertindak sekonyol itu hanya demi dirinya. Namun tindakan konyol itu berhasil membuat hatinya menghangat. Rosaline merasa beruntung dan bersyukur mempunyai keluarga yang selalu mendukungnya dalam keadaan apapun.


Melihat tawa di wajah Rosaline, membuat Rayen dan tuan Anthoni merasa lega dan senang. Selama gadis itu terbaring di rumah sakit, semua keluarganya merasa sangat khawatir. Mereka tahu tentang masalah Rosaline yang teringat lagi tentang pria itu, dan sudah menduga hal seperti ini pasti akan terjadi. Maka dari itu mereka memikirkan cara bagaimana mengalihkan pikiran Rosaline agar membuatnya bahagia lagi. Grandpa Rudy memberi ide agar Rayen mengijinkan Rosaline untuk berkendara sendiri. Ide itu pun disetujui semuanya, lalu mereka berebut untuk membelikan mobil baru untuk gadis itu. Dan setelah diadakan pertarungan jarak jauh yang cukup sengit, alhasil grandpa Rudy yang menang.


🐤🐤🐤


• Di sebuah restaurant •


“Brother William, Adeline, lama tidak bertemu. Senang berjumpa dengan kalian lagi...” ucap Billy, sepupu yang beberapa tahun lebih muda dari William.


Seperti biasa, William tidak menghiraukan sapaan dari sepupunya itu. Sedangkan Adeline, gadis kecil itu benar-benar mengabaikan suara orang yang memanggilnya. Saat William dan Adeline datang, keluarganya sudah mulai acara makannya, karena memang pria itu sengaja datang terlambat.


William dan Adeline langsung duduk di kursi yang kosong. Sebenarnya dia tidak begitu suka jika harus ikut acara makan malam keluarga besar seperti ini. Apalagi jika harus bertemu dan berkumpul dengan keluarga pamannya. Namun karena mamanya memaksa, mau tidak mau dia datang.


“Thomas, ayah akan segera kembali ke negara ini lagi...” ucap tuan Theo, ayah dari William.


“Kenapa ayah tidak memberitahuku kalau dia akan kembali” ucap tuan Thomas. Dia merasa tidak terima jika adiknya itu lebih dekat dengan ayahnya. Bahkan ayahnya juga menyerahkan perusahaan keluarga mereka untuk di pimpin sementara oleh tuan Theo. Padahal faktanya, tuan Thomas adalah anak yang tertua. Namun ayahnya justru lebih memilih adiknya. Maka dari itulah sebenarnya dia tidak begitu menyukai tuan Theo, karena baginya, tuan Theo dan keluarganya sudah mengancam posisinya sebagai pewaris.


“Mungkin ayah sudah tahu kalau aku pasti akan mengabarimu...”


Setelah pembicaraan singkat itu, suasana makan kembali hening.


“Will, Adeline sudah bertambah besar dan semakin cantik...” ucap tuan Thomas basa-basi.


William mengabaikan perkataan pamannya. Dia lebih memilih melanjutkan makan. William sangat tidak suka jika pamannya membahas tentang Adeline.


“Sepertinya anak perempuanmu tidak akan datang. Apa hubungan kalian masih tidak baik?” tuan Thomas menampilkan seringai tipis di wajahnya.


“Fionna sedang sibuk. Dia sudah ijin untuk tidak datang” tuan Theo menatap datar kakaknya.


“Begitukah? Syukurlah kalau memang itu alasannya. Aku kira dia punya alasan lain” ucap tuan Thomas dengan melirik ke arah istrinya Theo, yaitu Martha.


Nyonya Martha hanya bisa diam saja. Dia tidak ingin memperburuk suasana dan dia sangat sadar diri dengan posisinya. Di sisi lain, William sudah menahan rasa geramnya kepada pamannya karena ucapannya itu. Dia sudah tahu kalau hal seperti ini pasti akan dibahas olehnya.


“Aku belum mengajukan proposal apapun ke Heinan Group. Aku masih menunggu waktu yang tepat, karena sepertinya tuan Anthoni sekarang juga masih mempunyai kepentingan lain”


“Ahh, karena sekarang kita membahas tentang Heinan Group, aku jadi ingat kalau anak perempuan tuan Anthoni berada di negara ini” ucap Billy, anak dari tuan Thomas.


“Untuk apa membahas putri dari tuan Anthoni? Apa kamu tertarik dengannya? Memangnya kamu tahu wajahnya seperti apa?” tuan Thomas terkekeh mendengar ucapan anaknya.


“Aku memang belum tahu dia seperti apa. Tetapi jika melihat wajah tuan Anthoni dan anak lelakinya, aku yakin kalau putrinya juga pasti sangat cantik” jawab Billy santai.


“Jadi berita yang beredar 2 tahun lalu tentang putri dari Heinan Group yang berada di negara ini memang benar?” ucap tuan Theo penasaran.


“Ya paman. Aku pikir itu hanya sekedar gosip saja, tetapi ternyata memang benar. Beberapa hari lalu saat aku menjenguk teman di rumah sakit HMC, aku melihat seluruh lantai kamar VVIP dijaga sangat ketat, dan setelah aku tanya pada karyawan rumah sakit, ternyata alasannya karena putri dari Heinan Group sedang dirawat disitu” jawab Billy.


Tuan Thomas menatap remeh ke anaknya. “Jika sudah tahu dia ada disini, lalu apa yang ingin kamu lakukan? Berencana mendekatinya? Apa kamu tidak tahu kalau keluarga Heinanverero sangat protektif dengan anak perempuan itu, huh?”


“Tentu aku tahu, dan aku juga tidak berencana mendekatinya. Tetapi jika tuan Anthoni ingin menjodohkannya denganku, aku tidak akan menolak. Siapa juga yang mau menolak putri dari Heinan Group, hanya orang bodoh yang menolaknya. Toh keluarga kita lumayan berkelas. Apalagi aku juga masih single, dan yang terpenting....aku tidak mempunyai beban aib apapun” Billy menyeringai licik menatap William.


William meletakkan sendok dan garpunya dengan agak keras, membuat suara nyaring di ruangan privat itu dan mengagetkan semua orang. Tentu saja William sangat tahu maksud dari perkataan sepupunya. Karena situasi sudah mulai tidak kondusif, William beranjak dari tempatnya dan menggendong Adeline.


“Aku sudah selesai. Adeline juga harus segera istirahat. Kami permisi pulang” ucap William dengan suara dinginnya dan langsung meninggalkan ruangan itu.


“William, tunggu mama...” Nyonya Martha mengejar anaknya yang sudah meninggalkan ruangan makan.


Seketika suasana di ruang makan privat itu menjadi canggung. Mereka terkejut dengan sikap William yang tiba-tiba saja pergi di tengah acara makan malam.


“Apa begitu caramu mendidik anak? Apalagi dia nanti akan menjadi pewarismu. Benar-benar tidak tahu aturan” tegur tuan Thomas kepada adiknya. Dia merasa tidak nyaman dengan situasi yang seperti ini.


Tuan Theo merasa tidak terima dengan ucapan kakaknya. Faktanya, William bersikap seperti ini juga karena Billy yang mencari masalah terlebih dulu. Jika saja Billy tidak menyinggung masalah sensitif itu, maka William pasti tidak akan pergi.


Apa yang harus kulakukan terhadap anak itu? Dia nantinya akan menjadi pewarisku, tetapi kenapa dia justru acuh dan tak peduli sama sekali dengan bisnis keluarga. Sebenarnya apa yang ada di pikiran anak itu... – ucap tuan Theo dalam hati.


🐤🐤🐤


Setelah acara makan malam yang kacau, semua orang kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, tuan Thomas langsung mencengkram kerah baju anaknya dan menatapnya tajam. “Apa yang kau pikirkan anak bodoh? Mengapa kau mengatakan sesuatu yang keterlaluan seperti itu?!”


Billy terkekeh dan menyingkirkan tangan ayahnya. “Come on, father. Aku kan hanya mengatakan fakta. Lagi pula aku masih mengucapkannya dengan bahasa yang sopan. Aku bahkan tidak menyinggung apapun tentang gadis kecil itu...”


Melihat suami dan anaknya bertengkar, istrinya pun memisahkan dan menengahi keduanya. “Thom, jangan terlalu keras dengan anakmu. Billy kan hanya mengatakan apa adanya saja”


“Kenapa kamu terus saja membela anakmu meskipun dia berbuat salah? Lihatlah, sekarang dia sudah semakin kurang ajar dan berani memperlihatkan ketidaksukaannya secara terang-terangan di depan keluarga Theo!” ucap tuan Thomas mengomeli istrinya.


“Papa seharusnya bangga padaku. Meskipun sikapku kurang ajar, tetapi setidaknya aku tidak membawa aib di keluarga kita. Tidak seperti William yang memalukan nama keluarga besar Eriston. Untung saja dia cukup tahu diri dan tidak mau terlibat dengan perusahaan kita. Coba sekarang papa pikirkan. Kak Fionna punya karier sendiri, lalu Kei sama sekali tidak tertarik dengan bisnis. Jadi ini akan semakin memudahkan jalan kita untuk mendapatkan Eriston Group. Aku masih punya peluang besar untuk memenangkan hati kakek supaya dia mewariskan perusahaannya kelak kepadaku”


Tuan Thomas tidak tahu apakah harus memuji ucapan anaknya yang konyol atau menertawakannya. Ternyata bocah kurang ajar itu juga mempunyai pikiran yang tajam. “Jadi, kamu sebenarnya sudah memikirkan segalanya...”


“Aku tidak sebodoh yang papa pikirkan. Meskipun kakek belum membagikan semua sahamnya, tetapi papa dan paman Theo sama-sama sudah memiliki sedikit saham perusahaan. Jadi kita tidak perlu khawatir lagi. Toh tidak menutup kemungkinan bahwa akhirnya kitalah yang akan memenangkan pertarungan ini...” ucap Billy menyeringai.


“Billy benar. Sudah seharusnya kita mulai memikirkan untuk mengambil alih perusahaan. Saingan kita satu-satunya adalah William. Tetapi karena anak itu juga sudah punya bisnis sendiri, maka kecil kemungkinan dia akan ikut bergabung dengan Eriston Group. Jadi tugas kita sekarang adalah menguatkan posisi Billy di dalam perusahaan dan memastikan Billy menikah dengan putri dari keluarga pengusaha” ucap istri dari tuan Thomas sembari duduk di sofa.


“Papa ingat kan, paman Theo bisa berada di posisi sekarang karena saat itu dia berhasil berkolaborasi proyek dengan Avicena Group. Jika kebetulan kita bisa berkolaborasi dengan Heinan Group dan berhasil membuatnya berinvestasi pada proyek kita, aku yakin itu akan menyenangkan hati kakek dan semakin memuluskan rencana kita...” Billy dengan bangga menjelaskan semua rencananya.


Tuan Thomas tidak menyangka bahwa anak dan istrinya sebenarnya sudah memikirkan sampai sejauh ini. Istrinya adalah anak dari seorang pengusaha, jadi tidak mengagetkan jika dia memiliki pola pikir seperti itu. Jika tuan Thomas berhasil berkolaborasi proyek dengan Heinan Group, maka ini akan menjadi peluang emas untuknya.


“Kalau begitu aku akan memikirkan cara untuk bisa berkolaborasi proyek dengan Heinan Group. Jika beruntung, mungkin kita juga bisa berkesempatan untuk bertemu dengan putri Heinan Group yang misterius itu...” ucap tuan Thomas dengan seringai di wajahnya.


🐤🐤🐤


• Di sisi lain – Di kediaman Tuan Theo Eriston •


“Dimana William? Apa dia tidak menginap di rumah kita?”


“William kembali ke rumahnya, dia tidak ingin Adeline mendengar hal-hal yang buruk...” ucap nyonya Martha lembut, mencoba menenangkan suaminya.


“Kamu lihat kan tadi apa yang dilakukan oleh anak itu? Dia seenaknya meninggalkan acara makan malam. Apa salahku hingga bisa memiliki anak seperti itu? Bukankah selama ini aku selalu memberikan yang terbaik untuknya dan menuruti keinginannya?”


“Memang benar kamu sudah memberikan yang terbaik untuknya dan menuruti keinginannya. Tetapi kamu juga terlalu keras menekan anak itu untuk selalu menjadi yang terbaik hingga membuatnya menjadi anak yang seperti sekarang ini. Kamu harus sadar Theo, William bukanlah anak yang bisa dipaksakan sesukamu...”


Tuan Theo memijit keningnya yang terasa pening. “Aku melakukan semua itu agar dia bisa mendapatkan masa depan yang baik. Fionna dan Kei sudah mempunyai tujuannya sendiri, jadi satu-satunya harapanku sekarang adalah William. Aku bekerja sangat keras di perusahaan untuk memenangkan hati ayah, hingga akhirnya aku bisa mendapatkan posisi ini. Tetapi untuk apa aku melakukan semua ini jika akhirnya William sama sekali tak peduli untuk menjadi pewarisku...”


“Kalau begitu dekatilah dia secara perlahan. Hubungan kalian menjadi kurang baik semenjak peristiwa itu. Cobalah untuk lebih mengerti William. Anak itu sebenarnya sangat rapuh, jangan lagi kamu menambah bebannya. Apalagi William masih hidup dalam rasa bersalahnya selama ini...” Nyonya Martha mengelus lembut punggung suaminya.


“Astaga, mengapa anak itu masih saja menyalahkan dirinya sendiri. Harusnya dia sudah melupakan semuanya dan melanjutkan hidupnya. Apa dia sudah tidak peduli lagi dengan hidupnya sendiri? Ini sungguh membuatku semakin frustasi...” ucap Tuan Theo sambil mengusap kasar wajahnya.


“Theo, apa jangan-jangan selama ini kamu masih belum bisa menerima sepenuhnya kehadiran Adeline? Atau selama ini jangan-jangan kamu juga merasa malu dengan William?”


Mendengar perkataan istrinya, membuat tuan Theo terkejut. Dia tidak habis pikir kenapa istrinya bisa berpikir seperti itu. “Martha, omong kosong apa yang kamu ucapkan? Untuk apa aku malu dengan William, aku sangat menyayangi dia. William adalah anugerah yang terindah untukku, begitupun juga dengan Fionna dan Kei. Dan untuk Adeline, aku pun juga menyayanginya. Jadi jangan pernah lagi meragukanku” Tuan Theo menggenggam tangan istrinya.


Kemudian tuan Theo menundukkan kepalanya dan berlutut di depan istrinya yang sedang duduk diatas tempat tidur. “Martha, maafkan aku yang sudah pernah menyakitimu. Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu. Maafkan aku jika selama ini terlalu memaksakan William. Aku hanya sedang merasa emosi karena kakakku selalu menekanku dan memojokkan posisiku. Kamu tahu kan, aku sangat mencintai kamu, William, Kei, dan Fionna. Kalian semua adalah sumber kebahagiaanku, begitupun juga dengan Adeline. Aku hanya tidak tahu apa yang harus kulakukan terhadap anak itu. Aku selalu memberikan kesempatan yang terbaik untuk William, tetapi dia justru mengabaikan dan mimilih bekerja di perusahaannya sendiri, sementara dia seharusnya bisa mewarisi Eriston Group”


Nyonya Martha berlinang air mata mendengarkan perkataan suaminya. Suara suaminya terdengar lirih dan putus asa. Lalu dia memegang wajah suaminya agar pria itu menatap dirinya. “Mungkin sekarang sudah waktunya kamu untuk lebih mempercayai putramu, biarkan dia memilih jalannya sendiri. Berikanlah William waktu. Jika memang sudah saatnya, dia pasti akan menjadi anak yang membanggakan untukmu...”


Tuan Theo tidak mengatakan sepatah kata pun dan langsung memeluk istrinya. Dia juga terus memikirkan perkataan istrinya.


William anak yang terlalu dingin dan penyendiri. Sampai kapan aku harus menunggu keajaiban datang agar anak itu bisa berubah... – ucap tuan Theo dalam hati.