
• Di sisi lain, di sebuah kediaman •
“Adeline, apa yang sedang kamu lakukan?”
Adeline menunjukkan hasil gambarnya kepada omanya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Digambar itu terlihat seorang anak kecil sedang digandeng oleh seorang perempuan dewasa di sebuah taman yang penuh bunga. Tak lupa Adeline juga menambahkan gambar awan dan burung yang menghiasi langit.
Omanya yang merasa bingung dengan gambar Adeline hanya mengernyitkan alis. Ini pertama kalinya Adeline menggambar seperti itu. Gambar seorang gadis kecil itu adalah penggambaran diri Adeline sendiri. Dan gambar seorang perempuan dewasa itu masih belum diketahui siapa.
Biasanya Adeline hanya akan menggambar dirinya bersama dengan anggota keluarganya saja atau salah satu dari anggota keluarga. Dan tentu omanya sudah hafal dengan karakter gambar Adeline itu.
Melihat reaksinya yang kebingungan, pengasuh Adeline yang berada di samping mereka berdua menjelaskan maksud dari gambarnya. ”Nyonya Martha, nona Adeline menggambar dirinya bersama nona muda yang saat itu menolongnya”.
Nyonya Martha berusaha mengingat sejenak. “Apa maksudmu Rosaline?”
“Benar nyonya. Nona Adeline sudah beberapa hari ini suka menggambar dirinya berdua dengan nona muda itu. Nona Adeline juga pernah sekali menggambar dirinya dan nona Rosaline bersama dengan tuan William” ucap pengasuh itu dengan senyum canggungnya.
“APAAA?!” Nyonya Martha terkejut dan membelalakkan mata.
Mendengar ucapan dari pengasuh itu membuat hati nyonya Martha bergetar. Selama ini Adeline tidak pernah sekalipun mau menggambar orang asing diantara keluarganya. Bahkan Adeline juga belum pernah menggambar dirinya sendiri bersama pengasuhnya. Tetapi hari ini, nyonya Martha mengetahui bahwa Adeline mau menyandingkan gambar dirinya dan ayahnya bersama dengan orang lain yaitu Rosaline.
Nyonya Martha bertanya kepada gadis kecil itu. “Adel, kenapa kamu menggambar tante Rosaline?” ucapnya lembut dengan mengelus kepala.
“Adel ingin bertemu tante” jawabnya dengan wajah yang terlihat sedih dan mata yang sayu.
Melihat respon Adeline seperti ini semakin membuat hati nyonya Martha merasa teriris. Gadis kecil itu bahkan tidak pernah peduli dengan keberadaan orang asing sebelumnya. Tetapi kali ini, Rosaline benar-benar sudah memasuki kehidupan Adeline.
“Sayang, kemarin kan Adel hanya kebetulan saja bertemu. Jadi mana mungkin kita bisa bertemu lagi dengan tante Rosaline. Apalagi oma juga tidak tahu wajahnya seperti apa. Jadi oma juga tidak bisa membantu Adel untuk mencari tante Rosaline” ucap nyonya Martha lembut dan penuh pengertian.
Adeline merespon dengan wajah sedihnya. Matanya sudah mulai memerah, tetapi belum mengeluarkan isinya.
Nyonya Martha yang tidak tega jika harus melihat Adeline menangis, dengan cepat dia mencegahnya dan mengatakan, ”Adel sayang...oma mohon jangan menangis. Baiklah begini saja. Jika nanti Adel bertemu lagi dengan tante Rosaline, oma janji akan membiarkan Adel untuk bermain seharian dengannya. Bagaimana, hum?” Nyonya Martha tersenyum hangat sambil mengelus kedua pipi dan mencium sekilas kening cucunya.
Mendengar ucapan dari omanya, membuat Adeline perlahan memulihkan senyum di wajahnya. Matanya yang merah kini sudah berkurang dan tergantikan dengan matanya yang mulai berbinar karena mendengar ucapan itu.
Kemudian Adeline mengangkat tangan kanannya, menjulurkan jari kelingkingnya ke arah omanya.
Nyonya Martha yang melihat respon Adeline yang seperti itu pun langsung paham. “Adel ingin oma berjanji?” tanyanya dengan terkekeh.
Adeline menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Nyonya Martha pun membalas uluran jari kelingking cucunya. “Oma berjanji” ucapnya dengan tersenyum.
• Disaat yang bersamaan •
Keduanya memasuki sebuah rumah dua lantai yang tampak cukup besar dan mewah.
“Selamat datang tuan muda kecil...” sapa seorang pelayan perempuan dari rumah itu saat membukakan pintu.
“Selamat siang bibi. Apa Lin kecil ada di rumah?” tanya laki-laki kecil itu ramah dan tersenyum. Suaranya pun terdengar sangat manis khas anak kecil.
“Ya tuan. Nona kecil sedang bersama pengasuh dan omanya di dalam kamar. Mari silahkan masuk. Saya akan antarkan ke kamar nona kecil” ucap pelayan rumah itu sembari mengantar anak laki-laki itu ke kamar orang yang dia cari. Pengasuh dari anak laki-laki itu hanya menunggunya di ruang tamu.
🐤🐤🐤
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu.
“Nyonya, maaf mengganggu. Sekarang tuan muda kecil Zeno sudah berada disini dan menunggu di depan kamar” ucap pelayan itu dari depan pintu.
Dibukalah pintu itu. Terlihat seorang pengasuh yang membuka pintunya. Orang yang dicari Zeno adalah Lin kecil. Dan Lin kecil adalah panggilan kesayangan darinya yang diberikan untuk Adeline.
Pasangan oma dan cucu itu terlihat masih manautkan jari kelingking mereka. Kemudian jari itu terlepas ketika melihat sosok Zeno di depan pintu kamar Adeline.
“Selamat siang oma Martha dan Lin kecil” sapa ramah laki-laki kecil itu sambil sedikit membungkukkan badannya, kemudian tersenyum kepada mereka.
“Ahh...kamu sudah datang rupanya. Selamat siang juga Zeno. Bagaimana kabarmu, apakah baik-baik saja? Kemari masuklah” Nyonya Martha bertanya pada Zeno dan kemudian mempersilahkan dia masuk untuk duduk di sofa yang ada di kamar Adeline.
Setelah Zeno duduk, dia menjawab pertanyaan Nyonya Martha. “Zeno baik-baik saja oma...” jawabnya dengan senyum.
“Astaga, maafkan oma karena belum siap saat kamu sudah datang Zeno. Oma hampir lupa karena terlalu asik mengobrol dengan Adeline” ucapnya sambil menatap Zeno. Kemudian nyonya Martha beralih menatap ke arah Adeline. “Adel, kamu mau kan jalan-jalan bersama dengan kakak Zeno?” tanyanya dengan lembut.
Adeline merespon dengan anggukan yang semangat dan senyum lebar di wajahnya.
Kemudian nyonya Martha beranjak dari sofa untuk menghampiri Adeline yang masih duduk di meja belajarnya tempat mereka tadi mengobrol, dan mengelus rambut Adeline. “Baiklah. Kalau begitu Adeline siap-siap dibantu oleh pengasuh. Oma juga akan bersiap dahulu kemudian kita akan berangkat bersama” ucapnya.
Adeline menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Mendengar itu, Zeno langsung beranjak dari sofa untuk menunggu mereka di ruang tamu bawah. “Kalau begitu Zeno akan menunggu dibawah oma...” ucapnya dengan menatap nyonya Martha. Kemudian Zeno beralih menatap Adeline. “Lin kecil, kakak tunggu dibawah ya. Lin kecil jangan membuat kakak menunggu lama-lama” ucap Zeno dengan menampilkan gigi susunya yang rapi.
Adeline pun merespon dengan mengangguk dan ikut menampilkan gigi susunya. Pipinya yang tembam dan kemerahan itu tertarik ke samping dan membuat wajah Adeline tampak sangat menggemaskan.
Nyonya Martha dan pengasuh Adeline pun ikut tersenyum hangat melihat interaksi menggemaskan kedua anak kecil itu.