
Rosaline sedang berdiskusi dengan fotografer dan managernya mengenai hasil fotonya barusan. Hari ini dia berangkat dari rumahnya sejak pagi, karena memang ada kelas kuliah dari pagi hingga siang. Kemudian selesai kuliah Rosaline langsung pergi ke studio untuk menjalani pemotretan.
“Hasil fotomu memang selalu memuaskan” puji sang fotografer pada Rosaline.
“Aku pikir hasilnya akan buruk. Akhir-akhir ini aku terlambat tidur. Aku takut mata pandaku akan mempengaruhi hasilnya” ucap Rosaline.
“Tapi wajahmu terlihat biasa saja, tidak ada mata panda. Bahkan sama sekali tidak terlihat seperti orang kelelahan” ucap fotografer.
“Mungkin karena efek makeup makanya tidak kelihatan. Padahal sebenarnya hari ini aku sedikit lelah” jawab Rosaline.
“Wajahmu itu tidak bermasalah, Raline. Kamu hanya terlalu khawatir. Oh ya, kalau kamu kelelahan, apa perlu aku menjadwal ulang pekerjaanmu?” ucap Lisa.
“Tidak perlu dijadwal ulang, kak. Biarkan saja” ujar Rosaline tersenyum.
“Aku yakin walaupun wajahmu ditumbuhi jerawat, masih banyak pria yang akan mengejarmu” canda fotografer.
“Mana mungkin. Yang ada aku akan kehilangan semua kontrak kerjaku karena wajahku tidak mulus lagi” ucap Rosaline cemberut.
Ketiganya lanjut membahas masalah pemotretan dan sesekali diselingi bercanda. Saat mereka sedang mengobrol, Rosaline menerima panggilan telfon dari nomer yang tidak dikenal. Dia menjauh sebentar dari fotografer dan managernya untuk mengangkat telfon.
Setelah beberapa saat telfonan dengan seseorang, di akhir pembicaraannya Rosaline mengatakan, “Baiklah. Aku akan segera kesana setelah pekerjaanku selesai.” Kemudian Rosaline menutup telfonnya dan kembali ke tempat tadi.
“Apa aku masih perlu melakukan pemotretan lagi?” tanya Rosaline pada fotografer.
“Tidak ada. Semua sudah beres.”
“Ada apa, Ral? Apa kamu ada urusan?” tanya Lisa.
“Iya, aku harus pergi. Apa kak Lisa tidak apa-apa kalau aku pergi duluan? Aku sedang terburu-buru” ucap Rosaline.
“Tidak masalah. Biar aku yang menghandle urusan disini. Pergilah, tidak perlu pikirkan aku” Lisa menepuk pundak Rosaline dan tersenyum, meyakinkan bahwa dia tidak masalah ditinggal.
Rosaline tersenyum dan menjawab, “Terima kasih, kak. Kalau begitu aku akan pergi. Terima kasih untuk hari ini.”
🐤🐤🐤
Menggunakan taksi, Rosaline pergi ke tempat tujuan yang diberitahukan oleh si penelfon tadi. Tak lupa Rosaline mengabari keluarganya kalau dia akan pulang terlambat dan tidak bisa makan malam bersama di rumah. Ini pertama kalinya dia tidak bisa makan malam bersama setelah kakek dan neneknya berada di rumah.
Taksinya berhenti di sebuah gedung apartemen mewah. Rosaline segera masuk ke dalam apartemen setelah membayar ongkos taksi. Dia melangkahkan kakinya ke lantai yang dituju. Tibalah dia di depan pintu apartemen. Rosaline bimbang antara akan menekan bel atau memencet kode angka untuk membuka pintu. Karena Rosaline tadi juga disuruh untuk langsung masuk ke dalam apartemen, akhirnya ia memilih untuk memencet kode aksesnya dan segera masuk ke dalam.
Keadaan di dalam ruangan tampak gelap, seperti tidak ada tanda-tanda keberadaan orang. Mungkin penghuninya sedang tidur, karena begitu pesan dari si penelfon. Rosaline merogoh tas, berniat mencari ponselnya untuk dijadikan penerangan mencari saklar lampu. Namun sebelum dia menghidupkan flashlight di ponselnya, tiba-tiba lampu di ruangan itu nyala sendiri. Rosaline kebingungan, dan dia tambah dikagetkan lagi oleh seseorang dari belakang. Rosaline terlonjak kaget. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap sebal orang yang sudah mengagetkannya.
“Jeff! Kamu benar-benar keterlaluan. Bagaimana jika aku terkena serangan jantung?!” Rosaline geram dengan tingkah pria itu.
“Aku pastikan hal itu tidak akan terjadi” ucap Jeffrin terkekeh. “Aku tidak tahan ingin menjahilimu.”
“Dan tingkahmu ini tidak lucu, Tuan Jeffrin. Bagaimana bisa orang sakit masih sempat-sempatnya ingin....” Rosaline menggantung ucapannya. “Tunggu.” Dia memperhatikan penampilan Jeffrin dari atas sampai bawah. Pria itu mengenakan kemeja berwarna navy yang digulung selengan, celana kain bewarna hitam, rambut yang ditata rapi, penampilannya seperti orang yang baru saja pulang kerja. Alih-alih terlihat seperti orang yang sakit, Jeffrin justru tampak seksi dan maskulin dengan tampilannya saat ini. Sangat berbeda sekali dengan informasi yang Rosaline dapat dari si penelfon.
“Bukankah kamu sedang demam? Tadi asistenmu Andrew menelfonku. Dia bilang kamu sedang sakit dan hanya sendirian di apartemen. Makanya dia memintaku datang kemari untuk membantu merawatmu, karena dia harus ke luar kota dan tidak bisa mengurusmu di sini.”
Jeffrin hanya diam menatap Rosaline. Tetapi matanya mengatakan bahwa dia sudah bersekongkol dengan Andrew untuk membohongi Rosaline.
“Jangan bilang....” melihat tak ada respon dari Jeffrin, Rosaline bisa menebak kalau dia telah dibohongi Jeffrin dan Andrew. Rosaline mendengus kesal karena merasa dipermainkan. Sepanjang perjalanan dia sangat khawatir dengan keadaan Jeffrin. Bahkan Rosaline tidak memedulikan rasa lelahnya dan berusaha segera datang ke apartemen karena takut jika Jeffrin membutuhkan sesuatu tetapi tidak ada yang bisa membantunya.
Tak ingin meluapkan kekesalannya pada Jeffrin, Rosaline memilih untuk pamit. “Karena kamu baik-baik saja, aku akan pulang.”
“Apa kamu marah?” Jeffrin mencekal lengan Rosaline, mencegahnya beranjak pergi.
“Menurutmu?”
“Sepertinya iya.”
Jeffrin tersenyum melihat tingkah Rosaline yang sedang ngambek. “Tapi aku tidak akan minta maaf.”
“Terserah. Aku akan pulang sekarang” Rosaline berusaha melepaskan cekalan tangan Jeffrin dari lengannya. Namun Jeffrin semakin mengeratkan genggamannya, dia tak mau Rosaline pulang.
“Apa kamu tidak mau tanya alasanku membohongimu?”
“Apakah harus?”
Melihat sikap jutek Rosaline, membuat Jeffrin gemas dan mencubit pipi gadis itu. “Aku ingin memberikan kejutan untukmu. Aku tahu caranya salah, tapi jika tidak berbohong, mungkin kamu tidak akan mau ke apartemenku.”
Alarm waspada Rosaline mulai menyala mendengar perkataan ambigu Jeffrin. Kedua tangannya reflek disilangkan di depan dada untuk melindungi diri. “Kk-kamu tidak merencanakan sesuatu yang aneh, kan?”
Jeffrin malah tertawa dengan tingkah konyol Rosaline. “Kamu pikir aku akan menerkammu di apartemenku? Jika itu yang kamu takutkan, maka tenang saja, aku tidak akan melakukannya.”
“Wajar bukan kalau aku takut. Bagaimana aku tidak curiga? Kamu sudah bohong padaku, kita hanya berduaan disini, berbeda gender, berbeda umur, di lantai ini juga hanya ada apartemenmu, dari segi fisik jelas aku akan kalah jika kamu menerkamku. Siapa yang tahu dibalik wajah menyebalkanmu itu ada niat terselubung” cerocos Rosaline dengan wajah bersemu merah. Dia mundur untuk menjauh dari Jeffrin.
“Raline, kamu itu lucu sekali. Kamu terlalu berpikir berlebihan. Mana mungkin aku tega melakukan hal buruk padamu” Jeffrin tak kuasa menahan tawanya. Lalu dia berjalan mendekati Rosaline untuk menjahilinya lagi. “Tapi ide bagus juga kalau aku....” Jeffrin tersenyum nakal ke Rosaline. Dia semakin menipiskan jarak diantara mereka berdua.
Rosaline mencondongkan badannya ke belakang untuk menghindari Jeffrin. Dia tidak bisa mundur lagi karena sudah terpentok bagian belakang sofa dan Jeffrin dalam posisi mengurungnya. “Aa-apa yang mau kamu lakukan, Jeff...”
Jeffrin mendekatkan wajahnya ke Rosaline. Senyum nakalnya mambuat Rosaline merinding. Saat wajahnya semakin mendekat, Rosaline hanya menutup matanya dan pasrah.
Sedangkan Jeffrin merasa puas karena berhasil menjahilinya. “Imutnya...”gumamnya dalam hati.
Jeffrin mengakhiri kejahilannya dengan mengecup singkat kening Rosaline. “Sudahlah, aku tidak tahan melihat wajahmu yang panik. Ayo, ikut aku. Akan kutunjukkan alasan mengapa aku membohongimu.” Jeffrin menarik tangan Rosaline untuk mengajaknya ke ruang makan. Rosaline menurut saja dengan perintah Jeffrin, karena ia sudah terbiasa dengan sikapnya yang suka memerintah.
Rosaline baru menyadari apartemen Jeffrin yang sangat mewah dan luas. Apartemennya hanya memuat barang-barang penting, namun tidak mengurangi kesan elegant. Ruangannya juga tertata rapi. Sepertinya memang Jeffrin orang yang perfeksionis dan memikirkan dengan matang konsep tempat tinggalnya agar merasa nyaman.
Setibanya di ruang makan, Rosaline terkejut. Jeffrin sudah menyiapkan makan malam untuk dua orang. Di atas meja ada sebuket bunga mawar merah yang tampak cantik. Selain itu juga ada lilin di bagian tengah meja yang belum dinyalakan. Rosaline balik menatap Jeffrin, ingin minta penjelasan darinya.
“Jeff, kamu yang menyiapkan semuanya?” tanya Rosaline.
“Iya. Apa kamu suka?”
“Tentu aku sangat suka. Ini benar-benar kejutan” ujar Rosaline senang. “Apa kamu juga yang memasak steaknya sendiri?”
“Hm, aku belajar memasak beberapa hari dengan chef di restaurantku. Lalu aku mempraktikkannya sendiri hari ini. Aku ingin membuat segalanya spesial untukmu.”
Rosaline tersanjung diperlakukan semanis ini. Jeffrin rela melakukan hal semacam ini hanya demi menyenangkan dirinya. “Tapi untuk apa semua ini, Jeff?”
“Aku ingin merayakan keberhasilanmu mendapatkan kontrak ambassador. Anggap saja ini perayaan kecil dariku untukmu. Tadinya aku ingin mengajakmu makan malam di luar atau membelikanmu hadiah mahal. Tapi pasti kamu tidak akan setuju, kan? Jadi aku rasa akan lebih romantis kalau kita berdua candle light dinner di rumah seperti ini. Lagi pula aku tidak ingin ada orang yang memfoto kedekatan kita dan membuatmu terlibat skandal kencan lagi” jawab Jeffrin tulus.
Rosaline bisa melihat kesungguhan di mata Jeffrin. Selama ini Jeffrin memang perhatian dengannya. Rosaline pikir cepat atau lambat Jeffrin akan menyerah dengan perasaannya, tetapi nyatanya Jeffrin masih serius mengejarnya sampai sekarang. Rosaline tidak yakin dengan perasaannya terhadap Jeffrin. Tetapi yang pasti, dia tidak bisa jika harus menyakiti pria sebaik Jeffrin.
“Terima kasih, Jeff. Dan juga maaf...” Rosaline tersenyum memandang Jeffrin. “Maaf masih belum bisa membalas perasaanmu” lanjutnya dalam hati.
“Maaf untuk apa?” Jeffrin mengerutkan keningnya.
“Maaf karena sudah merepotkanmu” jawab Rosaline berbohong.
Jeffrin mengelus rambut Rosaline. “Tidak masalah. Apapun akan kulakukan untukmu.” Lalu dia mengambil buket bunganya dan diserahkan ke Rosaline.
“Sangat indah” ucap Rosaline sambil menghirup wangi bunga mawarnya.
“Masih kalah indah denganmu” ucap Jeffrin. Dan ucapannya itu berhasil membuat Rosaline merona.
“Sebaiknya kita makan sekarang. Aku sudah lapar” ucap Rosaline malu-malu, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Keduanya pun akhirnya makan malam bersama dengan suasana suka cita. Jeffrin menceritakan masalah pekerjaannya. Rosaline juga menceritakan keseharian aktivitasnya sebagai mahasiswa sekaligus model. Mereka berdua saling bertukar cerita tanpa kecanggungan.