
Saat jeda acara
Sejak Rosaline datang, kehadirannya telah mencuri banyak perhatian. Keadaan Rosaline sekarang yang kebetulan sedang sendirian, kesempatan ini digunakan oleh para pria untuk mendekatinya. Dengan ramah Rosaline menanggapi mereka yang mengajaknya mengobrol. Walaupun Rosaline terlihat tidak kikuk dan mudah berbaur dengan tamu undangan, tetapi sebenarnya ia bukanlah orang yang suka berada di acara seperti ini.
Setelah Rosaline berhasil menyingkir dari para pria yang berlomba mencari muka dihadapannya, Rosaline bisa bernafas lega.
“Sepertinya malam ini kamu punya banyak penggemar, Ros...”
Rosaline menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Dia tersenyum manis dan menjawab, “Kak Glenn! Apa kabar?”
“Aku baik. Bagaimana denganmu? Aku lihat kamu semakin sibuk saja...”
“Aku juga baik. Yah begitulah, aku harus pintar-pintar membagi waktu” balas Rosaline. “Oh iya, di mana kakakku? Apa Kak Glenn melihatnya?”
“Rayen sedang membicarakan urusan pekerjaan. Mungkin sebentar lagi dia kemari.” Glenn memperhatikan penampilan Rosaline yang menawan. Tak dipungkiri bahwa Glenn juga diam-diam berdebar berdekatan dengan gadis secantik Rosaline. “Malam ini kamu sangat cantik, Ros...” ucap Glenn kagum.
“Jadi sebelum ini aku tidak cantik?” ucap Rosaline cemberut.
“Tidak-tidak, bukan itu maksudku. Bagiku kamu selalu cantik setiap hari dan setiap saat. Tapi khusus malam ini kamu sangat luar biasa” ucap Glenn yang tidak ingin Rosaline salah sangka. Dan pujian dari Glenn membuat Rosaline tersipu.
“Aku pikir wig dan softlens yang kamu pakai lumayan membantu. Jika aku belum pernah melihatmu sebelumnya, aku pasti akan percaya bahwa ini adalah wujud aslimu...”
“Benarkah? Apa menurutmu orang lain juga akan percaya?” tanya Rosaline.
Glenn mengangguk. “Hm, tentu. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Kamu bisa melanjutkan kehidupanmu sebagai Raline dengan tenang” jawab Glenn. “Sepertinya kamu juga berusaha keras supaya penyamaranmu tidak terbongkar, Ros. Sampai-sampai kamu berpenampilan begini. Apa semua ini hasil karya stylistmu?”
Memang Rosaline sudah menceritakan tentang alasan penyamarannya pada Glenn, dan dia tidak menyesal. Karena Glenn adalah pria yang baik dan pengertian. Nyatanya sekarang Glenn juga paham mengapa Rosaline bernampilan seperti itu.
“Tebakanmu tepat. Jika penampilanku hanya biasa-biasa saja, orang-orang mungkin akan curiga. Aku harus membangun image yang berbeda antara Ros dan Raline...”
Glenn memegang pundak Rosaline, dan memberikan senyum hangat padanya. “Dengar, Ros. Mau bagaimana tampilan luarmu, itu tidak penting. Karena dirimu yang sejati yang telah membuatmu paling mempesona. Dan aku adalah pria beruntung yang mengetahui warna sejatimu. Maka dari itu ingatlah, selain keluargamu, ada aku yang akan selalu menjagamu...”
Kata-kata Glenn menyentuh hati Rosaline. Mungkin itu hanya sebuah ucapan sederhana, tetapi bagi Rosaline itu bagaikan angin segar yang menyejukkan hati.
Glenn sendiri tak percaya bahwa mulutnya bisa mengeluarkan kata-kata manis untuk Rosaline. Bukan sekedar bualan, ia memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Jangan menatapku seperti itu. Tatapanmu menyebalkan, Ros...” Glenn salah tingkah dan mencoba menutupinya dengan mencubit kedua pipi Rosaline. Glenn tak tahan karena mata indah Rosaline terus menatap dirinya hingga membuat jantung Glenn berdetak cepat.
Rosaline berdecak kesal. Glenn benar-benar pandai merusak moment. “Aku bukan anak kecil, jangan mencubitku.” Rosaline mencoba melepaskan tangan Glenn dari pipinya.
“Siapa bilang kamu masih kecil. Bahkan kamu sekarang sudah bisa menggoda para pria di luar sana” Glenn tertawa.
“Kak Glenn, berhentilah menggangguku” Rosaline memutar bola matanya. Glenn kebiasaan suka curi-curi kesempatan mencubit pipinya.
Kedekatan Rosaline dan Glenn menimbulkan tanda tanya bagi orang-orang yang melihatnya. Mereka penasaran, apakah ada hubungan khusus antara Rosaline dan Glenn. Para pria iri terhadap kedekatan Glenn bersama Rosaline. Tentu mereka juga tidak berani mendekat jika ada Glenn di sisi Rosaline. Semua orang tahu siapa Glenn. Mereka cukup sadar diri karena tidak sebanding dengan keluarga Glenn.
“Menyingkirlah darinya, Glenn!” Tiba-tiba Rayen datang dan memisahkan Rosaline dari Glenn. “Aku ‘kan menyuruhmu menjaga adikku, bukan malah mengganggunya.”
Rayen memeriksa wajah Rosaline setelah dicubit teman menyebalkannya. “Are you okay, baby?”
“I’m fine, brother” kata Rosaline dengan tersenyum.
“Tenanglah, tidak ada yang lecet. Aku hanya mencubitnya lembut” Glenn terkekeh melihat betapa khawatirnya Rayen.
Mata Rayen menyorot tajam Glenn, seakan memberi peringatan agar jangan berani mengganggu Rosaline. “Awas kalau kau masih mengganggu Ros lagi. Akan kupatahkan tanganmu.”
“Cih, dasar...” Glenn menanggapi santai. Dia tahu kalau Rayen tidak serius marah dengannya. Itu sekedar reaksi berlebihan dari seorang kakak yang overprotektif kepada adiknya.
Pandangan Glenn beralih pada sosok pria di belakang Rayen. “Oh Jeff! Kau belum kenalan dengan Ros, kan? Kemarilah!” ucapnya. Jeffrin pun menuruti dan mendekat.
“Ahh iya. Ros, perkenalkan, dia juga teman dekatku selain Glenn” ucap Rayen.
Saat Jeffrin dan Rosaline saling berhadapan, keduanya terpaku dalam diam.
Bak tersambar petir ketika Rosaline melihat Jeffrin berdiri di depannya. Setengah mati Rosaline berusaha menenangkan dirinya. Dunia serasa sangat sempit. Rosaline tidak menyangka kalau pria yang selama ini dekat dengannya adalah teman dekat Rayen. Dia gelisah jika penyamarannya akan ketahuan. Rosaline menelan ludahnya berat dan berkata dalam hati. “Jja-jadi selama ini mereka bertiga berteman? Astaga, cobaan apa lagi ini. Bagaimana kalau seandainya Jeffrin mencurigaiku? ”
Lain halnya dengan Jeffrin, ia malah menatap datar gadis di depannya. Namun tak ada yang tahu apa isi pikiran pria tampan itu saat menatap adik temannya. Tatapan mata Jeffrin menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan.
“Nah, Ros ini Jeffrin. Dia CEO dari Avicena Group” ucap Rayen. “Dan Jeff, ini Ros, my precious baby girl.” Rayen akhirnya mengenalkan kedua orang itu secara resmi.
“Jeffrin” Jeffrin mengulurkan tangannya.
Rosaline masih mematung, pikirannya berkecamuk. Dia masih belum menyadari uluran tangan Jeffrin.
“Baby?” panggil Rayen.
“Ros? Kamu tidak mau kenalan dengan pria tampan di depanmu?” ucap Glenn dengan tangan yang dilambaikan ke depan wajah Rosaline. Membuat Rosaline tersadar dari lamunannya.
Mata Glenn memberi isyarat ke arah tangan Jeffrin yang terulur. Pandangan Rosaline mengikuti arah mata Glenn. Kini Rosaline baru paham, dan menyambut jabat tangan Jeffrin.
“Rosaline, panggil saja Ros” ucapnya tersenyum. Rosaline harus pintar berakting di depan Jeffrin. Rosaline hendak menarik tangannya, namun sayangnya malah ditahan Jeffrin.
Jeffrin merasakan perasaan aneh ketika memegang tangan Rosaline. Sebut saja Jeffrin sedang kurang waras, tetapi dalam jarak yang dekat, wajah ‘Ros’ dan ‘Raline’ tampak mirip. Bahkan suaranya juga nyaris sama. Yang membedakan adalah warna rambut, warna bola mata, dan gaya berpenampilan. Tanpa sadar Jeffrin masih belum mau melepaskan tangan Rosaline.
“Ada apa denganku? Kenapa aku malah terpikirkan Raline ketika dekat dengan Ros? Sadarlah Jeff, Ros bukanlah Raline. Berhenti membandingkan keduanya” ucap Jeffrin dalam hati.
Hingga sebuah suara menginterupsinya. “Mau sampai kapan kau menggenggam tangan adikku, Jeff?”
Rayen melayangkan tatapan sinis ke Jeffrin. Akhirnya Jeffrin melepaskan jabat tangannya. Rosaline pun kini bisa bernafas lega. Andai Jeffrin tahu bahwa Rosaline gusar dan jantungnya berdebar kencang karena Jeffrin menahan tangannya.
“Tumben kamu diam, Ros. Apa kamu sudah tersihir dengan pesona Jeffrin? Karena sepertinya kakak tertuaku ini juga tertarik denganmu” Glenn menggoda Rosaline.
Sungguh Rosaline ingin sekali memaki Glenn. Bisa-bisanya Glenn menggodanya di saat yang tidak tepat. Tetapi yang bisa Rosaline lakukan hanya merespon Glenn dengan senyum jengkel.
“Jangan mengada-ada! Berhenti menggoda Ros!” sindir Rayen dengan melirik sebal Glenn.
“Yah ‘kan siapa tahu...” Glenn mengedikkan bahunya.
Rayen tak sengaja menangkap basah Jeffrin yang matanya terus memandang intens Rosaline. Seolah Jeffrin akan segera menerkam Rosaline hidup-hidup. “Dan berhentilah mencuri pandang ke arah adikku, Mr. Jeffrin Avicena!” kata Rayen membuat Jeffrin tersadar dan mengalihkan pandangannya ke temannya itu.
Jeffrin menyeringai. “Kau tidak terima?”
“Aku hanya tidak mau kau mengincar Ros” jawab Rayen.
“Hmph, aku tidak--“ baru saja Jeffrin akan mengucapkan kata yang kurang enak, Glenn sudah mengarahkan tatapan yang mengancam padanya. Jeffrin teringat agar tidak berkata ketus di depan gadis itu. “Aku tidak akan mengganggu gadis kecilmu.”
Rosaline melotot tak terima. Apa Jeffrin sedang mengejeknya? Karena suaranya terdengar begitu. Sikap Jeffrin sekarang terhadap Rosaline juga terkesan menyebalkan, sangat berbanding terbalik dengan saat dirinya menyamar sebagai ‘Raline’.
“Seenaknya saja dia bicara. Yang kau sebut gadis kecil ini adalah perempuan yang kau sukai, Jeff!” gerutu Rosaline dalam hati.
“Good. Aku pegang kata-katamu, Jeff” ucap Rayen. Lalu ia beralih menatap Rosaline. “Apa kamu nyaman berada di sini, Ros? Kalau tidak, kamu bisa istirahat di kamar dulu. Jika acaranya sudah selesai aku akan memberitahumu dan kita pulang bersama.”
Tawaran yang menggiurkan bagi Rosaline. Rayen memang paling mengerti dirinya. Benar Rosaline tidak nyaman, tetapi sebisa mungkin ia bertahan demi kakeknya.
“Tenang saja, aku tidak apa-apa. Lagi pula aku masih ingin menikmati acaranya” ucap Rosaline.
“Kamu sakit, Ros?” tanya Glenn penasaran. Dan Rosaline menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
“Lalu? Kenapa Rayen menyuruhmu istirahat?”
“Ros tidak terlalu nyaman berada di tempat yang banyak orang asing seperti ini” Rayen menjawab pertanyaan Glenn.
Glenn mengangguk tanda mengerti. “Oh...begitu rupanya.”
Jeffrin cukup kaget mendengar fakta tersebut. Sekali lagi, sifat Rosaline ini juga mirip dengan ‘Ralinenya’.
“Apa benar begitu?” tanya Jeffrin memastikan ke Rosaline.
“Emm yah, benar” jawab Rosaline. Untuk apa Jeffrin bertanya, ini semakin membuat Rosaline gugup. Dia harus mencari cara untuk kabur dari hadapan Jeffrin agar tidak ditanya-tanya lagi.
Rosaline menatap Rayen. “Kak, aku ingin keluar sebentar mencari udara segar. Aku akan kembali lagi saat acaranya sudah mulai. Tidak masalah, kan?”
“Mau kakak temani?”
“Tidak usah, Kak Rayen di sini saja. Kita tuan rumah, tidak etis jika kita berdua bersamaan meninggalkan tempat ini” ujar Rosaline meyakinkan Rayen.
“Hm, baiklah. Hati-hati, jangan keluyuran terlalu jauh” ucap Rayen dengan mengusap lembut pipi adiknya.
“Bagaimana kalau aku yang menemanimu?” ucap Jeffrin santai.
Kaget mendengar ucapan Jeffrin, seketika Rayen dan Rosaline melotot ke arah Jeffrin dan bersamaan mengatakan, “TIDAK PERLU!”
Glenn bisa mengerti reaksi Rayen yang panik, karena memang dia khawatir bila adiknya dekat dengan Jeffrin. Tetapi Rosaline, atas dasar apa ia bersikap begitu? Terasa aneh untuk ukuran orang yang baru pertama kali bertemu dan kenal, Rosaline menolak Jeffrin dengan ekspresi sepanik itu. Setahu Glenn, meskipun Rosaline menolaknya, ia akan menolak dengan cara halus.
Mendadak Glenn kepikiran sesuatu hal yang sedikit gila, tetapi ini adalah alasan logis dari kepanikan Rosaline. “Apa jangan-jangan Ros dan Jeffrin sudah saling kenal sebelumnya?” ucapnya dalam hati.
Tetapi setelah Glenn pikir-pikir lagi, rasanya tidak mungkin. Rosaline ‘kan lama tinggal di luar negeri, Jeffrin juga selalu sibuk dengan urusan perusahaan. Jadi tidak ada kesempatan bagi keduanya untuk pernah bertemu. Apalagi lingkup kerja dan pergaulan keduanya sangat berbeda. Segera Glenn menepis prasangka konyolnya.
Jeffrin diam sesaat, lalu tersenyum kecil karena kakak beradik itu tampak panik akibat perkataannya. “Tenanglah, aku hanya bercanda.”
Dalam pikirannya, Jeffrin agak curiga dengan respon yang diberikan Rosaline.